3 Ekshibisi di Jakarta dan Bandung yang Tak Boleh Anda Lewatkan Bulan Ini

From Nala Nandana to Eddi Prabandono!

  1. I Am Too Untranslatable di Ruci Art Space, Jakarta

Eve – Jabbar Muhammad

Moment – Theresia Agustina Sitompul

Ekshibisi yang dikuratori Roy Voragen, I Am Too Untranslatable, digelar oleh Ruci Art Space pada 14 Juli – 13 Agustus 2017 di Jakarta. I Am Too Untranslatable merupakan sebuah eksplorasi tubuh dari sudut pandang 4 seniman dan medium seni yang berbeda.  Terdapat Jabbar Muhammad yang menampilkan karyanya “Eve” dalam bentuk seni lukis, Deden Durahman “Peer” dan “Peerless” dalam bentuk fotografi, Theresia Agustina Sitompul “Decrease Increase”  dan “Moment” dalam bentuk instalasi, dan Kelvin Atmadibrata “Benched” dalam bentuk seni pertunjukan. Beragam latar belakang yang dimiliki setiap senimannya tak menjadi penghalang bagi karya-karyanya untuk menembus batas stereotipe tubuh di masyarakat. Contohnya seperti karya dari Jabbar “Eve” yang menampilkan sebuah konsep dualisme maskulinitas dan feminitas dalam seseorang. Perspektif lain mengenai tubuh juga disuguhkan oleh Theresia dalam “Decrease Increase” dan “Moment” yang menunjukkan konstruksi gender tubuh perempuan di masyarakat.

 

  1. Obscure di Salihara Gallery, Jakarta

Archaeology of The Future – Eddi Prabandono

Dead End – Andy Dewantoro

Salihara Gallery menampilkan hasil karya dua seniman Indonesia, Andy Dewantoro dan Eddi Prabandono, bertajuk Obscure yang dikuratori oleh Asikin Hasan. Obscure bermakna sebagai sebuah keambiguan hidup yang dapat terjawab secara subjektif bergantung pada interpretasi penikmatnya. Ekshibisi yang berlangsung pada 29 Juli-20 Agustus 2017 ini juga menghadirkan sebuah prediksi personal mengenai masa depan, contohnya lewat karya Eddi Prabandono berjudul “Archeology of The Future” yang menampilkan berbagai tanda-tanda lalu lintas yang telah menjadi artefak karena tak lagi digunakan. Kemudian karya-karya Andi Dewantoro bernuansa kelam seperti “Dark Room” dan “Dead End” yang menggambarkan suatu kesunyiaan mencekam.

 

  1. Gendhuk di Kolekt, Bandung

Abstraksi – Nala Nandana

Abstraksi – Nala Nandana

Sebuah ekshibisi tunggal seniman asal Bandung, Nala Nandana, ini diadakan pada 4-11 Agustus 2017 di galeri seni Kolekt, Bandung. Lewat karya-karyanya dalam ekshibisi ini, Nala menyuguhkan hasil interpretasi pemahamannya tentang pola pikir serta imajinasi anak berusia 3 tahun. Secara subjektif Nala mengobservasi anak perempuannya sendiri, Leah, yang kemudian direfleksikan dalam bentuk seni di berbagai medium. Gendhuk, sebuah istilah panggilan pada anak perempuan dalam bahasa Jawa, merupakan tajuk yang Nala pilih dalam ekshibisi ini. Filosofi dan analogi pada setiap karyanya dituangkan dari mulai medium kertas hingga medium campuran seperti pasir. Salah satu karya yang ditampilkan, “Abstraksi”, menunjukkan potongan gambar anak kecil dengan potongan-potongan gambar lainnya disertai cipratan tinta. Kemudian terdapat pula karyanya berjudul “Untitled” yang merupakan hasil foto ultrasonografi bayi dalam kandungan.

Comments

Share this article: