3 Emerging Label Hasil Karya BFFs

Solidifying their friendships into a venture

BFFs—setiap orang pasti memiliki seorang (atau lebih) sosok sahabat atau best friend. Seseorang yang mengenal diri kita secara dalam, mulai dari rahasia terburuk kita, momen paling memalukan, sampai sosok yang dapat Anda andalkan dalam situasi apa pun. Mungkin Anda bertemu mereka di tempat kerja, atau tumbuh dalam lingkungan yang sama sejak kecil. Beberapa orang bahkan menikahi sahabat mereka. Sahabat sejati adalah seseorang yang dapat membuat Anda bahagia saat sedang sedih, maupun dalam keadaan senang.

Namun, menurut kami, mungkin yang paling penting adalah seorang sahabat dapat berbicara bahasa gaya batin Anda lebih baik dari siapa pun. Tidak dapat dipungkiri, industri fashion merupakan bisnis yang membawa ikatan. Seperti Yves dan Pierre, misalnya, di samping Valentino dan Giancarlo. Yes, fashion dan persahabatan seumur hidup adalah dua hal yang terkait secara tidak terelakkan.

Membawa tema friendship pada bulan Juli ini, tim ELLE Indonesia memutuskan untuk melihat pasangan yang tidak hanya menggemaskan, namun juga menginspirasi dari industri ini. Dari dua it-girls, art school graduates yang bertemu pada sebuah konser, sampai street style experts, baca terus untuk mengetahui lebih banyak bagaimana sosok-sosok BFF kreatif sartorial ini memulai dan mengembangkan passion for fashion mereka menjadi sebuah bisnis.

1. Pop & Suki

Ditemukan oleh Suki Waterhouse dan Poppy Jamie tahun 2016 silam, mereka bertemu dalam sebuah setting klub malam di Los Angeles. Suki merupakan seorang model, sedangkan Poppy adalah presenter TV. Keduanya kemudian beradu dalam sebuah dance-off. Ikatan tumbuh secara instan, di mana pada saat itu keduanya baru berpindah ke L.A. untuk mengeksplorasi dunia fashion dan hiburan.

Berjalan beberapa tahun, dua perempuan asal Inggris ini melansir sebuah brand dengan nama Pop & Suki. And it’s exploded right of the gate! Bukan hanya dikarenakan status keduanya sebagai it-girls, namun karena hasil desain mereka yang sangat menggemaskan. Pop & Suki menawarkan serangkaian aksesori yang fashion-forward dan on-trend. Mengusung palet warna utama millenial pink, dengan menawarkan personalisasi sebagai fokus kunci, Pop & Suki membawa desain nan streamline dan klasik namun memberikan efek yang cheeky-chic!

2. Mansur Gavriel

Salah satu tren tas terbesar pada tahun 2014 membawa sensasi yang mengejutkan. Membawa desain simple nan klasik, bucket bag yang dibuat dengan material kulit Tuscan ini tidak dilansir oleh rumah mode kenamaan dengan A-list desainer maupun logo yang telah dikenal.

Mansur Gavriel merupakan sebuah label yang dibuat oleh Floriana Gavriel dan Rachel Mansur. Keduanya bertemu dalam sebuah konser di Los Angeles pada tahun 2010 silam sebagai lulusan sekolah seni, di mana Rachel belajar ilmu tekstil pada Rhode Island School of Design, sedangkan Floriana menempuh ilmu fashion dan fotografi pada University of the Arts Bremen, di Jerman. Menemukan ketertarikan pada estetika yang sama, mereka memutuskan untuk membangun sebuah brand yang mengekspresikan visual universe mereka. Pada akhirnya, fiksasi kecintaan mereka dengan vegetable-tanned leather lah yang mendiktekan produk pertama brand tersebut. Bekerja dengan pabrik di Italia, mereka merancang tote klasik serta the it-bucket bag.

Kini, Mansur Gavriel telah berkembang menjadi sebuah studio di Lower East Side kota New York dan menjadi favorit fashion A-listers. A success story!

3. Attico

Brand basis Milan ini merupakan buah kreasi ikon street style Giorgia Tordini dan Gilda Ambrosio. Keduanya bertemu melalui mutual friend mereka di kota Milan dan langsung menemukan kecocokan instan. Mereka telah merencanakan untuk bekerjasama, namun realisasi baru tercapai pada bulan September tahun lalu. Sama-sama memiliki karier sebagai konsultan bagi brand-brand fashion, mereka telah mendalami aspek yang berbeda dari desain, styling, dan komunikasi. Saat ini mereka menaruh fokusnya untuk membangun Attico sebagai sebuah brand. 

Mengawali dengan satu item spesifik, yaitu robe, mereka ingin memperkenalkan Attico sebagai lifestyle brand, dan bukan hanya busana. Vintage design dan antique furniture merupakan inspirasi mereka, di samping film klasik dari dekade ’60 dan ’70-an.
Debut Attico tahun lalu yang mengambil setting private apartment di kota Milan, membawa palet warna vintage nan mewah menjadikan gaun sutra dengan aksen embroidery suatu pembicaraan yang hangat pada fashion week. Dan kini, mereka telah berkembang menjadi sebuah label yang sukses dengan basis konsumen nan bonafide.

Comments

Share this article: