Banana Appeal: Apa Ukuran Miliknya Benar-benar Penting?

Putri Silalahi terlibat dalam perbincangan tiga perempuan di antara tiga hal yang sama-sama mereka sukai: french song, french pastry, dan penis.

Hari Rabu sore, saya menikmati sepotong mille-feuille di sebuah pâtisserie di kawasan Gunawarman, Jakarta Selatan, bersama seorang perempuan berusia 27 tahun yang atas alasan privasi, meminta untuk namanya disamarkan. Panggil saja dia Laras.

Sementara itu, lagu La Vie en Rose mengalun perlahan di belakang.

ELLE (E): Thank you for agreeing to do this.

Laras (L): No problem! I love talking about penis.

E: Hahaha. Tujuan artikel ini sebetulnya ingin mencari tahu, apakah ukuran penis itu benar-benar krusial untuk kepuasan kita di ranjang.

L: Of course it is.

E: Why?

L: Karena dalam seks itu ada dua aktor utama: penis dan vagina. Kalau salah satu aktornya tidak kompeten, seluruh film hancur berantakan.

E: Okay, that’s fair. Tapi bukankah ada banyak cara untuk mengakali persoalan ini, misalnya dengan meletakkan bantal di atas bokong sang perempuan jadi rongga vagina akan terasa lebih semp━

L: Oh please. Kita berdua sama-sama tahu kalau trik itu dibuat untuk mengakali pikiran kita. It’s a mind trick, not the real thing. Kita berdua sama-sama tahu kalau kenikmatan seks datang saat penis menyentuh titik-titik tertentu di dalam vagina, berulang-ulang kali. Nah, bagaimana mau nikmat kalau ia tidak cukup ‘besar’ untuk menggapai titik-titik ini? (tertawa)

E: Have you done it?

L: With a small penis? Of course! Makanya saya berani bilang kalau ukuran itu penting. Saya sudah coba semua trik yang ada di buku; menaruh bantal di atas bokong, menyilangkan kedua kaki, sampai kegel. Seks itu tidak seharusnya menambah effort ekstra dari kita.

E: Effort ekstra dari kita? Maksudnya?

L: Kita semua tahu kalau kita butuh waktu dan persiapan lebih untuk bisa orgasme. Vagina itu tidak seperti penis yang bisa begitu saja turned on dan kontan mencapai klimaks setiap kali bercinta. Seks dengan kondisi yang normal saja belum tentu bisa orgasme, apalagi harus ditambah dengan membuat penisnya terkesan lebih besar? I’m sorry, but who has the time for that?

E: How small is… ‘Small’?

L: Well… Seperti yang saya bilang tadi. Kenikmatan seks itu datang saat penis menyentuh titik-titik sensitif di vagina. Maka harus dipastikan kalau penisnya memang mampu melakukan hal itu. Ukuran penis itu mencakup dua hal: panjang dan lebar. Kalau memang tidak panjang, ya setidaknya lebar, atau sebaliknya. Nah kalau tidak dua-duanya, agak sulit ya?

E: Tapi kalau terlalu besar juga tidak nikmat, kan?

L: Yes, it hurts like hell. Tapi kalau pilihannya antara dua itu, saya lebih pilih terlalu besar dibandingkan terlalu kecil.

E: What if you love the person, but he’s just too small?

L: Hahaha. La Vie en Rose, but not La Vie en… Lust? I want to have both. Menurut saya hidup itu sudah rumit. Maka satu hal yang saya coba untuk tidak ditambah rumit adalah apa yang saya dapatkan di atas ranjang.

***

Keesokan harinya, di tempat yang sama. Kali ini, raspberry soufflé yang ada di atas meja, dengan lagu Je Cherche Un Homme mengalun di belakang. Saya duduk bersama Ayunda (juga nama samaran), perempuan berusia 31 tahun yang bekerja sebagai Marketing Director sebuah perusahaan elektronik ternama.

Ayunda (A): I don’t see it as a big issue. I married a small penis.

ELLE (E): What?

A: Pengalaman mengajarkan saya kalau ada hal lain yang lebih penting dari ukuran penis.

E: Seperti…

A: Foreplay. Penis besar kalau tidak bisa foreplay juga tidak berguna karena perempuan butuh foreplay untuk bisa mendapatkan kepuasan seks yang maksimal. Dan saya bukan cuma membicarakan soal foreplay di atas ranjang seperti tounge service, tapi juga bagaimana ia memperlakukan kita sebelum, saat, dan sesudah seks.

E: Ah, maksudnya bedroom manner juga penting?

A: Tentu saja. Satu hal yang saya asumsikan saat ini… Well, sebenarnya pengalaman saya sendiri mengajarkan kalau semakin besar penisnya, semakin besar pula egonya. Saya pernah bersama laki-laki yang ukurannya luar biasa, yang membuat saya langsung semangat begitu pertama melihatnya. Saya kontan berpikir kalau saya akan mendapatkan orgasme luar biasa fantastis. Tapi ternyata ia hanya peduli pada diri sendiri, sama sekali tidak memikirkan apa yang saya rasakan di ranjang. Lalu buat apa kita bercinta? Sementara itu, saat ini saya bersama laki-laki yang secara ukuran biasa-biasa saja, tapi ia memperlakukan saya bak putri raja di kamar tidur. Dari cara ia membangun suasana yang romantis, apa yang ia ucapkan di atas ranjang, sampai apa yang ia lakukan setelah kami bercinta, ini jauh lebih penting dari ukuran.

E: Apa mungkin ini karena cinta? I mean, if you love the person, then size doesn’t matter?

A: Tidak juga. Saya tahu benar kalau cinta hanya membuat seks membara di awal-awal saja. Saat kita sudah bersama seseorang untuk kurun waktu yang lama, pada akhirnya naluri seks akan menuntut variasi. Nah, pasangan saya cerdas urusan ini. Ia kerap datang dengan hal-hal baru untuk dicoba di atas ranjang, atau mendadak mengejutkan saya dengan mini vacation ke luar kota, atau sekadar menginap di sebuah hotel di tengah kota, cuma supaya kita bisa mendapatkan sensasi bercinta di tempat lain. It’s fun, and it’s all part of the foreplay.

E: Do you apply tricks, to make it feel…. Bigger?

A: Kebetulan posisi favorit saya adalah spooning, jadi saya menyilangkan kedua kaki di sisi, yang otomatis membuat rongga vagina lebih rapat.

E: I see.

A: Look, saya yakin tidak semua perempuan yang membaca interview ini akan setuju dengan saya. Tapi justru ini yang membuatnya menarik, karena kalau kita bicara seks, semua bergantung berdasarkan pengalaman masing-masing. One thing I know for sure is sex goes beyond a penis. It’s about emotions, and big penis doesn’t always come with that. Kita seperti raspberry soufflé ini. If we don’t warm up right, we don’t rise.

 

TEXT: Putri Silalahi

Comments

Share this article: