Born Slippy: 7 Gaun Tercantik untuk Tampilan Musim Panas nan Chic

The wardrobe equivalent of a best friend

Gaya berpakaian dari era 90’an dapat dikatakan sedang mengalami major come back. Setelah kalung choker berhasil menjadi aksesoris terpanas beberapa musim lalu, kini giliran slip dress yang mendapat sorotan. Gaun ini dapat diidentifikasikan dengan supermodel Kate Moss. Identik dengan gaya effortless dressing, gaun ini sangat cocok untuk digunakan pada musim panas ini.
Desainer-desainer pun telah menciptakan adaptasi ter-update mereka sendiri untuk gaun siluet klasik tersebut. Item nan easy-to-wear ini telah direplikasi secara berulang-ulang.

Beginnings of Slip Dress
Tentunya slip dress telah dilansir jauh sebelum dekade ’90-an. Nyatanya, iterasi ikonis yang terkenal sampai hari ini tersebut merupakan bentuk permainan dari pakaian dalam vintage. Tetapi, iterasi pertama slip dalam pengertian tradisional muncul pada Middle Ages. Disebut sebagai smock atau baju tidur di Inggris atau chemise di Perancis, slip merupakan garmen nan lightweight yang digunakan oleh perempuan masa itu di bawah gaun mereka. Dilanjuti dengan era Renaissance, slip digantikan dengan korset yang jauh lebih rumit dan ketat.

Underwear as Outerwear
Pada tahun 1700-an, Perancis dapat dikatakan sebagai pelopor tren “underwear as outerwear”. Ratu Marie Antoinette dan anggota dari pengadilan Perancis akan mengenakan semacam busana rekreasi (yang disebut sebagai chemise) untuk pertemuan santai di antara teman-teman perempuan terdekat. Dalam hal ini terdapat dua versi: the chemise a la reine yang diperuntukkan untuk ratu dan the chemise a la Guimard yang dinamakan dari ballerina terkenal, Madame Guimard. Gaun chemise dipotong secara loose dari material yang beragam dalam nuansa yang berbeda, dan hanya bentuknya yang dikreasikan dari tali pengikat atau sash pada bagian pinggang atau leher. Selain dari fakta bahwa busana itu digunakan dalam dua gaya dan kesempatan yang berbeda, secara esensi tidak ada perbedaan dari sebuah chemise dan pakaian dalam pada saat itu. Tidak mengejutkan, sebuah skandal muncul ketika beredarnya foto Marie Antoinette yang diambil oleh Elisabeth Vigee-Lebrun tersebar ke publik, dan ia hanya mengenakan chemise.

Freedom for Women
Meskipun popularitas chemise dan korset terus menjadi perlengkapan dalam pakaian perempuan selama lebih dari satu abad, akhirnya terjadi sebuah dobrakan pada awal tahun 1900-an. Perempuan masa itu mulai muak dengan pakaian ini. Melalui suffrage movement, mereka memperjuangkan kebebasan perempuan dalam semua aspek kehidupan mereka, termasuk juga sartorial.

Fall out of Undergarments
Sekitar tahun 1910, slip mulai menggantikan pakaian dalam. Siluet yang loose-fitting dan lightweight merupakan pasangan sempurna untuk gaun flapper yang sama mudahnya. Sebenarnya, kedua pakaian tersebut sangat mirip, sehingga pada tahun 1920 dapat dianggap sebagai masa kedua di mana tren underwear as outerwear kembali muncul. Gaun flapper merupakan iterasi awal dari slip dress modern.
Pada tahun 1930, slip dress dengan potongan bias mulai diperkenalkan, memberikan lebih banyak stretch dan kenyamanan.  Era ’40 dan ’50-an membawa feel glamor dengan desainer yang menambahkan embellishment seperti lace sebagai aksentuasi. Gaya inilah yang memberikan slip dress  sebuah daya tarik.

Slip dress pada dekade ’60-an tetap serupa, meski dipotong lebih pendek untuk mengakomodasi rok mini. Namun, pada tahun ’70-an, gaun ini mulai pudar popularitasnya. Tidak hanya pakaian dalam yang dirancang menjadi lebih ramping, desainer pun mulai menambahkan lapisan built-in pada busana. Hilangnya kegunaan praktis slip dress, gaun ini tidak terlihat selama dua dekade lamanya.

Slip Re-imagined
Baru pada dekade ’90-an lah, industri fashion mulai memiliki sebuah rasa nostalgia untuk slip dress. Walaupun tidak memiliki kegunaan praktis, daya tarik slip dress muncul dengan hasil tampilan yang menggoda ketika menggunakannya. Terinspirasi dari kemudahan yang ramping dan daya tarik seks nan feminin dari tahun ’40 dan ’50-an, desainer mulai merancang kembali slip dress dengan sentuhan modern. Versi awal era ini adalah potongan pendek yang siluet yang memeluk tubuh. Iterasi ini menjadi sangat populer dan meluas menjadi evening wear. Dapat digunakan dalam gaya yang berbeda, mulai dari grunge a la Courtney Love, simpel a la Kate Moss, sampai tampilan nan polished a la Posh Spice, slip dress meraih status sebagai gaun ikonis.

Eksplorasi gaya Anda dengan slip dress musim ini, mulai dari layering dengan kombinasi tekstur, motif dan prints, hingga dress over pants nan trendi. It’s the staple that will never die!

Berikut 7 slip dress terkini hasil kurasi tim ELLE Indonesia:

  1. VICTORIA, VICTORIA BECKHAM

    Paneled crepe de chine dress $257

  2. SALONI

    Ani lace-trimmed floral-print fil coupé chiffon mini dress $480

  3. GANNI
  4. BASSIKE

    Asymmetric crepe midi dress $159

  5. JONATHAN SIMKHAI

    Asymmetric striped silk crepe de chine dress $795

  6. ERES

    Cheri lace-trimmed cotton-jersey chemise $275

  7. Asymmetric striped silk-satin midi dress $710

Comments

Share this article: