Cara Menjadi Seorang Ambisius yang Positif dalam Berkarier

Fallin Silaban meredefinisi bahwa kata ‘ambisi’ tak berkonotasi negatif.

Berkaca dari lagu Run The World yang dilantunkannya, siapapun setuju Beyonce adalah sosok penyanyi yang ambisius. Kalimat terkenalnya ; “When I do something, I try and do it as far as I can”, menginspirasi banyak perempuan terutama para penggemar penyanyi berpendapatan tertinggi di dunia tersebut. Ya, salah satu dampak dari sifat ambisius adalah kesuksesan.

“Biasanya orang-orang ambisius mencapai tingkat pendidikan serta pendapatan lebih tinggi, mempunyai karier lebih bergengsi, dan menurut laporan penelitian, orang yang ambisius memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi dari mereka yang bahkan tidak memiliki ambisi dalam hidupnya,”ungkap Neel Burton, psikiater dan penulis buku Heaven and Hell: The Psychology of the Emotions. “Banyak dari prestasi yang ditoreh manusia adalah produk atau hasil dari ambisi yang tertanam,” tambahnya lagi.

Namun, walau nampaknya seorang ambisius memiliki semua yang ia inginkan, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa pribadi yang ambisius cenderung kehilangan variabel yang justru penting dalam kehidupannya yakni kebahagiaan dan umur panjang. Penelitian ini dilakukan oleh seorang profesor bernama Timothy Judge dari Notre Dame University. “Seorang ambisius harusnya bahagia dengan segala pencapaiannya, namun nyatanya mereka hanya setingkat lebih bahagia dari orang yang kerap menunda pekerjaan. Dengan segala tekanan yang ada di dalam dirinya, mereka juga akan lebih cepat meninggal daripada orang yang tidak ambisius,” ungkap Timothy.

Hal ini terjadi pada Elissa (34) seorang head marketing dari perusahaan swasta bonafide. Tak ada perempuan yang menolak memiliki karier seperti dia dengan gaji dan tunjangan yang sangat menggiurkan. Ambisinya pada pekerjaan sangat luar biasa. Elissa bisa saja memperpanjang jam kerjanya demi menyelesaikan tugas atau untuk menemui klien. Memakai waktu liburnya untuk weekend meetings, dan meninggalkan hobi membaca novel sebelum tidur karena tergantikan dengan kegiatan membalas tumpukan email pekerjaan. Ambisinya yang begitu kuat pada setiap proyek yang dijalani, tak jarang mengubah Elissa menjadi sosok yang mendominasi hingga membuat rekan kerjanya merasa tak nyaman bahkan terganggu dengan perilakunya tersebut. Ia pun kerap melakukan segala cara hingga menimbulkan persaingan tidak sehat dengan rekan kerja lainnya. Pada akhirnya, ambisinya dalam pekerjaan mengantarkan Elissa pada kehidupan monoton seputar pekerjaan semata. No friends, no ‘me time’, and no happiness.

Bandingkan dengan Sonia (33) seorang chief brand officer. Ia terbilang sukses di karier, karena di umurnya yang masih relatif muda, ia mengemban jabatan penting di sebuah perusahaan asing. Sama seperti Elissa, Sonia adalah sosok ambisius bila menyangkut masalah pekerjaan. Ia merancang goal dan melengkapi dirinya dengan skill yang beragam. Di lingkungan pekerjaannya Sonia memang dominan walau ia tidak mendominasi. Ia pandai menempatkan diri tanpa membuat rekan kerjanya merasa insecure dengan kinerjanya. Persaingan sehat pun muncul manakala Sonia ingin hasil pekerjaannya lebih baik dari orang lain.

Tidak ada yang salah dengan menjadi seorang yang ambisius. Namun ada beberapa catatan yang kadang terlupa mengingat Anda terlalu sibuk dengan berbagai goal yang ingin Anda wujudkan. “Dengan membagi fokus ambisi, para perempuan ambisius akan meraih keseimbangan dalam berhubungan baik dengan rekan kerja, keluarga ataupun pertemanan,” ungkap Professional Certified Life and Business CoachMonica Magnetti. 

Menjadi seorang ambisius, Anda tetap harus berdamai dengan diri sendiri. Memiliki waktu untuk menenangkan diri, memanjakan diri, atau waktu khusus untuk mengintropeksi diri. Ini karena seorang ambisius harus mempertimbangkan apakah yang mereka lakukan menuju ke arah self-improvement.  Menjadi seorang ambisius berarti Anda mampu menghormati, mengerti dan memotivasi rekan kerja untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik.

 

TEXT: Fallin Silaban

Comments

Share this article: