Cara Veronica Sari Utami Memimpin Tim Marketing Google Indonesia

The queen on team!

Ketahuilah bahwa ketika memasuki dunia profesional, ada sebuah hal yang terdengar sederhana namun tak semua orang bisa mengimplementasikannya dengan tepat. ELLE menemui Veronica Sari Utami, Head of Marketing Google Indonesia yang akan berbagi tentang sebuah seni bernama leadership.

Menurut Veronica ada tiga hal penting yang ia pegang sebagai seorang Head of Marketing dari Google Indonesia saat ini, yaitu visioning set the goal for team dengan cara memahami situasi bisnisnya seperti apa. Kedua memastikan bahwa setiap orang sanggup mencapai goal yang ada.  Dan yang terakhir adalah empowering dan engaging anggota tim termasuk dengan membangun relationship yang baik pada semua lini, mulai dari para stakeholders juga multifungsional timnya. Di Google Indonesia sendiri  proses marketing menurut Veronica terbagi menjadi dua tipe yaitu business of business marketing serta consumer marketing yang mengharuskan Veronica  selalu sigap dalam menjaga alur komunikas yang baik di dalamnya. Caranya?  Dengan menciptakan trust dan chemistry yang baik. “Sebagai seorang leader, membuktikan diri bahwa kita dapat dipercaya adalah hal yang penting bukan? Di sini saya selalu berusaha membantu dan stand by them jika ada anggota tim yang mengalami masalah. Semua orang memiliki frekuensi pekerjaan yang padat, namun komunikasi harus selalu berjalan. Untuk itu one-on-one dan team meeting juga kami lakukan agar tidak ada hal yang miss sehingga goal-nya selalu sama. Selain itu setiap enam bulan sekali juga melakukan regular meeting untuk mendengarkan masukan dan juga ways to improve selama enam bulan terakhir,” ujar Veronica.

Dengan pengalaman menangani dunia marketing, baik setelah ataupun sebelum berada di Google Indonesia, nyatanya ada sebuah prinsip kuat yang selalu ditanamkan oleh Veronica pada anggota timnya yaitu sebaik mungkin menjaga agar seluruh anggota timnya tetap memiliki personal life dan work life yang balance, meski ia sendiri pun memiliki jadwal yang sangat padat. “Personal life itu penting sekali karena saya punya keluarga. Untuk itu saya selalu memastikan agar mereka juga punya personal life yang baik. Jika mereka tidak memilikinya, maka saya akan mengkaji  apakah ada yang pekerjaannya overload dan kita akan mengatur ulang pekerjaannya itu dan memprioriaskan mana yang terbaik yg bisa kita lakukan karena kualitas personal life yang baik sangat memengaruhi pekerjaan” ujar perempuan lulusan Institut Teknologi Bandung tersebut.

Dalam memimpin tim marketing Google Indonesia, ada cerita menarik yang Veronica lontarkan saat sesi interview di mana secara kebetulan seluruh posisi yang ada dalam timnya diisi oleh kaum perempuan dan diakui hal tersebut menjadikan pekerjaannya menjadi lebih mudah. Meskipun ia tidak menampik di dalam seluk-beluk dunia kerja ia juga kerap menemukan orang-orang yang rebel di dalamnya. “So far selalu ada orang masuk kategori difficult to work with, tetapi dengan orang seperti itu saya  lebih banyak mendengarkan dahulu karena lewat mendengarkan, kita bisa melihat alasan mengapa ia melakukan hal tersebut. Kecenderungannya adalah orang seperti itu tidak bisa dibawa keras, disitulah seninya di mana kita harus belajar sabar.”

Ada beberapa permasalahan yang juga kerap ia temui saat menjadi leader termasuk dengan co-workers yang kurang kompetitif di dalam tim dan tentu bisa saja menghambat kinerja secara keseluruhan. Untuk hal tersebut Veronica mengaku bahwa dibutuhkan proses agar seseorang dapat memahami apa yang menjadi kekurangannya. “Menjadi tugas saya juga untuk menganalisa dimana opportunity berada, serta menolong mereka untuk bekerja lebih baik agar mereka mampu mencapai target yang ditentukan. Saya selalu memberi direct feedback, juga couching. Jika sudah tidak bisa lagi, maka kita akan mengusulkan untuk mencari orang ini mentor yang bisa membantu atau melalui corporate training,” ujarnya mantap.

Sebagai perusahaan yang memiliki reputasi besar di dalamnya, saat ini fokus Veronica dan tim sendiri selalu dihadapkan dengan besarnya keputusan dan kebijakan di dalamnya. Tentu saja bagai dua sisi mata uang, setiap hal terkadang disambut positif dan juga negatif oleh timnya. “Sebagai leader tentu tidak terlepas dari pro dan kontra, biasanya mereka juga akan mencoba berdebat dengan  saya tentang alasan di balik sebuah hal. Namun ada hal yang perlu diingat bahwa ada saatnya di mana kita tidak bisa entertain keberatan orang lain, meski saya tidak selalu menutup kemungkinan mereka untuk complain kepada saya. Selama saya masih ada waktu dan ruang gerak maka akan saya usahakan. Tetapi jika ada keputusan yang sudah final, okay i’m here for you but decision still go on, let’s move on,” tutur perempuan yang pernah masuk dalam Top 25 Youth Marketers To Watch versi majalah SWA pada tahun 2009.

Veronica adalah pribadi yang dinamis sekaligus tegas. Menjadi head of marketing sendiri baginya telah mengurai kesuksesan bagi ia pribadi juga timnya yang meliputi tiga hal yaitu business doing well secara number metrics math, the team is growing and moving well, and  last but not least to happy. “Tentu saya dan tim ingin pertumbuhannya selalu terasa setiap tahunnya,  tetapi goal kita adalah membawa produk-produk Google menjadi lebih relevan dengan masyarakat Indonesia. Sebelum menutup percakapan, Veronica turut membagi pemikiriannnya untuk para perempuan agar termotivasi menjadi leader seperti dirinya. “Be confident and honest for yourself, perempuan terkadang suka terlalu rendah hati padahal sebenarnya kita juga capable. As a leader when you confident, you can be more focus with yourself and your team.”

 

TEXT: Giovani Untari

PHOTOGRAPHY: Herry Ananta

STYLING: Elvira Sundari

Comments

Share this article: