Chelsea Islan: No More A Rising Star. She’s The Star!

Sebagai perwakilan industri film nusantara generasi baru, Chelsea Islan telah menambatkan namanya pada daftar aktris high profile melalui film groundbreaking, Headshot, sekaligus mengerahkan energinya untuk program edukasi dan empowerment pada generasinya.

Izinkan saya memperkenalkan ulang Chelsea Islan, aktris generasi baru yang wajahnya telah muncul hampir setiap hari di layar kaca bersama Sophia Latjuba, Dwi Sasono, Deva Mahenra dalam serial komedi Tetangga Masa Gitu, yang namanya juga turut muncul di sederet film tanah air mulai dari Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar (2014), Dibalik 98 (2015), Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015), dan sederet film penuh reputasi tahun lalu; 3 Srikandi, Headshot, Rudy Habibie, serta film-film besar mendatang pada tahun ini. Chelsea masihlah Chelsea kala saya pertama kali berbincang dengannya dua tahun lalu pada masa film Dibalik 98; penuh letupan antusiasme kala ditanya mengenai film dan sejarah. Yang membedakannya adalah bahwa kini ia telah ditunggu sederet jadwal meeting yang mengantre ia hadiri, dan temuan saya akan fakta-fakta baru bahwa Chelsea memiliki minat dan potensi yang melebihi dari sekadar film dan sejarah Indonesia. Ambisinya dalam menyuarakan nasionalisme, youth empowerment, dan karakter individu yang berprinsip positif, secara linear ia kemas dalam karyanya pada karier berakting, berprofesi di balik layar (yang ternyata menjadi passion terbesarnya), serta aksi-aksi sosial yang menggugah. Dinamis, determinatif, dan ambisius, Chelsea mulai mengukir jalannya untuk mencapai misi-misi personal non-self-oriented yang diembannya melalui film, persahabatan, dan gagasan kemanusiaannya. Dan saya menikmati menyaksikan perjalanan langkahnya yang semakin pasti.

Setelah pulang dari pemotretan cover ELLE di Paris, Anda juga baru saja kembali dari Bangkok untuk shooting. Bagaimana Anda menghadapi berada di jalanan terus menerus?

Beberapa bulan ini memang agak sibuk, bepergian ke Paris lalu Bangkok, perjalanannya jauh dan melelahkan, namun yang membuat saya termotivasi adalah aktivitas yang dijalani setiap hari. Seperti di Paris menyaksikan fashion show Chanel Cruise 2018 dan bertemu serta berfoto dengan banyak figur publik global, salah satunya Keira Knightley – saya suka sekali dengan Keira! – sekaligus melihat keseluruhan koleksinya. Sebuah kehormatan pula untuk bisa diundang kembali kedua kalinya ke Paris, dan menjadi salah satu orang pertama yang menyaksikan produk baru Chanel sebelum mendunia. Begitu pula dengan sesi pemotretan yang berbeda. Kami berkeliling kota Paris mulai dari berjalan kaki menyusuri gang-gang hingga toko antik!

Gaya hidup bepergian seperti ini bukan kejutan bagi Anda, dengan catatan histori lahir di New York lalu pindah ke Jakarta untuk studi. Namun saat traveling kian intens untuk perihal bisnis dan pekerjaan, bagaimana cara Anda masih memiliki spirit traveling yang sama?

Saya menikmatinya karena sehari-hari saya terpacu dengan kegiatan yang akan dilakukan. Agar mampu menjalaninya dengan happy memang harus selalu berpikiran positif, dan paling penting adalah orang yang traveling bersama kita.

Adakah satu hal yang selalu Anda bawa untuk mengingatkan Anda pada rasa ‘home faraway from home’?

Rosario saya.

 

Dengan profesi yang membutuhkan Anda bepergian secara konstan, bagaimana cara Anda mempertahankan hubungan dengan persahabatan Anda?

Pergi vacation bersama, hingga diskusi mengenai ide-ide seperti cita-cita, mimpi, atau bahkan merancang kolaborasi seperti fotografi. Sesi quality time saya dengan orang terdekat adalah bertukar pikiran, do something, and make a change. Namun untuk membuatnya awet, kejujuran adalah yang paling penting. Dalam persahabatan, kita harus bisa nyaman menjadi diri sendiri. Bila dia selalu membuat Anda bahagia, maka dia adalah sahabat yang benar – yang bisa saling mencurahkan hati dan mendengarkan isi pikiran, seimbang menghargai satu sama lain.

Adakah pengalaman traveling bersama sahabat yang Anda tak akan pernah bosan untuk ceritakan berulang-ulang?

Saya biasa bepergian dengan sahabat mengeksplorasi Indonesia. Seperti saat masih SMA, beramai-ramai dengan teman satu sekolah diving di Tulamben, Bali. Itu adalah salah satu liburan yang paling mengesankan karena bisa menyelam menyaksikan ekosistem dalam laut hingga ship wrecks! Saya sangat suka dengan laut.

Karakter seperti apa yang bisa menyatukan seorang Chelsea Islan dengan sahabatnya?

Ekspresif, friendly, dan bisa menjadi diri kita sendiri saat bersama.

Sifat-sifat seperti apa yang bisa Anda ambil serta pelajari dari sahabat, untuk mampu mengembangkan karakter positif dalam diri?

Seperti yang bisa saya pelajari dari Reza (Rahadian), hubungan saya sudah seperti kakak-adik dengannya. Saya belajar bagaimana caranya menjadi aktris yang profesional tapi tetap tidak lupa dengan jati diri kita sendiri. Saya juga belajar banyak tentang industri ini darinya. Setelah bermain bersama dalam tiga film (Guru Bangsa Tjokroaminoto, Rudy Habibie, 3 Srikandi), saya banyak bertukar pikiran dengannya tentang karier akting. Tapi saat di luar bekerja, kami bisa saling tertawa serta happy! Dan bila dengan BCL, tiga kata yang bisa mendefinisikan hubungan kami adalah fun, open minded, dan sisterhood.

Berbicara tentang akting, film terakhir Anda, Headshot, mendapat tanggapan masif dari dunia film internasional. Anda pun mendapat apresiasi akting dari Marc Foster, sang sutradara Kite Runner dan Quantum of Solace. Apa yang bisa Anda pelajari dari achievement ini?

Ya, itu adalah ajang pertama saya hadir di acara Toronto Film International untuk screening Headshot! Luar biasa bisa melihat langsung antusias dan animo publik di sana bahwa mereka menyukai film Indonesia. Mereka begitu salut dengan film Indonesia. Saya berpikir, wow, ternyata film Indonesia bisa, kita bisa punya kualitas yang bahkan membuat kelas internasional merasa bangga. Darinya saya belajar untuk bisa lebih humble lagi dalam membawa nama Indonesia. Dengan semua pujian terhadap Headshot, saya lebih bersemangat untuk berkarya lagi.

 

Dari yang saya baca, Anda juga mengeksplorasi ranah balik layar, seperti menciptakan film pendek Junk Society dan Deep Inside. Anda memang seambisius ini, ya?

(Tertawa) Dari kecil saya jatuh cinta dengan filmmaking, industri perfilman, dan directing. Bisa dibilang, dari kecil saya sudah hobi menjadi ‘sutradara’, sementara akting saya dapatkan karena saya bermain di teater. Junk Society adalah awal dari segalanya. Saat itu saya berusia 16 tahun dan memberanikan diri untuk membuat film pendek. Bersama dengan teman-teman dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ), kami menggarap film pendek ini dengan cerita yang saya buat, saya yang menjadi sutradara, dan merangkap casting director pula. Saya puas dengan hasilnya dan rasanya membuat film pendek. Akhirnya, saya mengambil sekolah film di School of Audio Engineering (SAE) Institute selama satu bulan untuk belajar filmmaking dan directing. Tugas akhir saya adalah Deep Inside, film pendek saya yang kedua sebagai penulis, sutradara, casting director, sekaligus video editor.

Film Junk Society Anda mengisahkan tentang perkumpulan anak muda yang mencintai seni. Namun apa pesan yang ingin Anda suarakan darinya?

Ya, sumber inspirasi film ini berasal dari teman-teman dan anak muda yang mencintai seni, namun berbenturan lantaran society yang tidak mendukung. Seperti paksaan untuk mengambil studi hukum, dokter, yang padahal tidak sesuai dengan passion mereka. Film pendek ini saya buat agar menjadi eye opener supaya individu haruslah bekerja sesuai dengan passion masing-masing. Namun saya tetap mengemasnya layaknya film indie-artsy, jadi mampu menyentuh audiens generasi muda.

Dalam berprofesi menjadi sutradara, adakah mentor yang diacu?
Hanung Bramantyo (Rudy Habibie), Riri Riza, Garin Nugroho (Guru Bangsa Tjokroaminoto), dan untuk genre thriller serta action adalah Mo Brothers (Headshot). Saya mengagumi karya mereka dan sudah pernah bekerja sama dengan mereka, dan dari yang saya pelajari, walau mereka memiliki taste yang berbeda-beda, saya mendapat benang merah bahwa setiap sutradara punya visi dan misi yang berbeda. Dari mereka, saya juga mendapat ilmu mengenai kemampuan directing, dan pengambilan sinematografi.

Saat menjalani minat profesi sebagai sutradara, apa mimpi yang ingin Anda wujudkan?
Saya ingin membuat film pendek lagi, untuk menceritakan lebih tentang youth empowerment, tentang anak muda yang berjuang untuk negara. Saya suka dengan film-film yang sarat nasionalisme layaknya Soe Hok Gie dan Laskar Pelangi.

Di luar industri film Indonesia, Anda juga aktif terjun pada kampanye-kampanye sosial seperti #BeraniMimpi serta breast cancer awareness dengan sang ibu. Apa misi yang ditargetkan dalam keterlibatan Anda di sini?
Saya senang terlibat dengan campaign #BeraniMimpi bersama Wahana Visi Indonesia, karena program ini bertujuan untuk membantu edukasi anak-anak di Papua, seperti saya juga ingin membuat perpustakaan di sana. Maka dari itu, saya juga menggagas komunitas sendiri yang berjudul Youth of Indonesia (@youthofid) bersama dengan beberapa teman dan co-founders lainnya. Kami fokuskan pada edukasi, nasionalisme, dan youth empowerment. Concern saya memang di sana, saya ingin terlibat, ingin berkontribusi untuk negara ini. Karena menurut saya, sebagai anak muda, saya harus bisa menyuarakannya karena saya adalah bagian dari generasi penerus bangsa. Karena saya peduli.

Dengan segala kesibukan Anda, kami pun masih akan menonton Anda di bioskop untuk film Ayat Ayat Cinta 2 pada Desember tahun ini, bukan?
Ya! Saya sedang intens untuk latihan biola, reading, dan persiapan untuk shooting bulan ini. Excited!

 

PHOTOGRAPHY: Enzo Orlando

STYLING: Suhadi Budiman

WARDROBE: Chanel

MAKEUP & HAIR Ryan Ogilvy

PHOTOGRAPHY ASSISTANT: Pablo Mendy

FASHION ASSISTANT: Dennisa Tonbeng

VIDEOGRAPHER: Septa Una

PHOTOGRAPHED AT: Les Merveilles de Babellou, Paris

Comments

Share this article: