Couture Roundup: Best Looks Paris Haute Couture Fall 2017

The peak of luxury in the fashion world

Couture untuk beberapa orang mungkin tampak seperti penggunaan kain dan embellishment yang berlebihan. Namun, bagi sebagian orang, terutama pencinta mode sejati, couture dikatakan sebagai sebuah mahakarya dan lebih dari sekedar pakaian mahal. Couture merupakan sesuatu yang mampu mentransformasikan penggunanya. Musim ini, ibukota Prancis sekali lagi menghadirkan keindahan busana haute couture, mengambil pakaian biasa dan mengubahnya menjadi living fantasies.

Desainer top dari rumah-rumah mode kenamaan dunia telah mempresentasikan koleksi mereka pada Paris Haute Couture Fashion Week Fall 2017. Couture Week adalah perhelatan paling fashionable dalam industri fashion dan memungkinkan Anda untuk masuk ke dunia fashion nan magical. Bukan merupakan sesuatu yang subtle, couture dapat dikatakan lebih mengarah kepada individual. Busana yang ditampilkan adalah buatan tangan yang memerlukan keterampilan tinggi oleh tim yang berpengetahuan luas, dengan imajinasi artistik nan ambisius, dan menciptakan sebuah karya nan spektakuler yang membutuhkan waktu yang ekstensif dalam pengerjaannya. Terlebih lagi, couture merupakan perwujudan paradigma di mana fashion akan selalu menjadi sebuah karya seni yang hampir tidak mungkin diproduksi secara komersial. It’s an enchantment.

Dalam masa percobaan ini, brand asal Amerika Serikat, Rodarte dan Proenza Schouler memutuskan untuk mempresentasikan koleksi ready-to-wear musim spring 2018 di Paris mengikuti jadwal kalender couture untuk pertama kalinya. Seperti diobservasi oleh Business of Fashion, “Dengan menunjukkan koleksi spring 2018 pada jadwal couture, yaitu dua bulan lebih cepat dari desainer lainnya, mereka merupakan koleksi pertama yang akan diincar oleh buyers. Dengan presentasi di Paris, mereka juga terpapar pada seluruh buyer internasional baru yang tidak menghadiri New York Fashion Week, dan media yang tidak stress pada janji temu kembali.” Vetements telah mengambil pendekatan ini pertama kalinya pada tahun 2016 silam. Dan sejak saat itu, Fédération de la Haute Couture et de la Mode telah mendegradasikan satu hari untuk presentasi ready-to-wear.

Meskipun tren athleisure sedang populer pada runway ready-to-wear, fantasi fashion untuk busana couture masih hidup dan berkembang. Hal ini dibuktikan dalam kemampuan desainer untuk mengabadikan mimpi sartorial, yaitu melalui pencipta kan busana modern yang tidak hanya fantastis namun juga dirancang secara teliti.

Dalam kasus Dior, musim ini menandai ulang tahun ke-70 dari rumah mode Prancis tersebut. Sang Creative Director, Maria Grazia Chiuri membawa sebuah pengalaman petualangan global dengan interpretasi travel Monsieur Dior ke California, Tokyo, dan beberapa daerah di Amerika Selatan pasca Perang Dunia II. Ini merupakan sebuah koleksi yang memiliki daya tarik internasional namun tetap konsisten dengan DNA Parisian. Lineup yang terdiri dari siluet nipped-waist dan full-skirted mendominasi dalam nuansa bervariasi dari warna abu-abu khas Dior. Sedangkan vibe internasional hadir dalam manifestasi gaun material chiffon dan tulle, embroidery nan delicate, serta print lukisan tangan yang mencerminkan perempuan penjelajah romantis Dior.

Sedangkan Chanel membawa romantisme nan dreamy dengan sebuah replika raksasa dari menara Eiffel, sebuah simbol yang tidak hanya menjadi centerpiece dari koleksi couture Karl Lagerfel yang terinpirasi dari kota Paris. Pada presentasi tersebut, Karl juga menerima penghargaan sebagai bentuk pengakuan atas prestasi luar biasa dirinya. Karya Karl secara kategoris mencerminkan kekuatan dan keanggunan fashion ibukota Prancis tersebut dan musim ini ia melanjutkan tradisi itu dengan koleksi yang berbicara dalam kesempurnaan struktur, sebuah konsep yang melekat pada menara Eiffel dan klasifikasi couture itu sendiri. Yang terjadi kemudian adalah lineup yang terdiri dari tweed coat siluet bel nan sculpted, jaket boddice yang fitted, serta rok yang dihiasi bulu warna-warni.

Jika daywear memiliki peran substansial dalam presentasi Dior dan Chanel, Giambattista Valli sebaliknya memfokuskan koleksinya pada busana malam nan mewah yang cenderung didambakan oleh pelanggannya. Gaun micro-mini yang dihiasi kristal dan macramé embroidery hadir, di samping gaun tulle ballet yang dipotong dengan siluet high-low membuka jalan bagi kreasi gaun tiered material tulle bernuansa pink yang menjadi grand finale.

Sementara Atelier Versace mengambil pendekatan less is more dalam presentasi haute couture musim ini. Hanya menampilkan 19 look yang dipresentasikan secara private pada tokonya di Avenue Montaigne. Membawa warrior goddess vibe, ragam busana nan sexy tampil dengan indah dalam embroidery nuansa bronze metalik, detail rantai silver, dan manik-manik Baroque yang rumit.

Di tempat lain, Schiaparelli mengeksplorasi material yang transparan dan frothy. Alexandre Vauthier menyalurkan dark glamour a la Studio 54, dan Elie Saab memberikan tribute pada “brave warrior queens” yang terinpirasi dari serial TV terkenal Game of Thrones dengan koleksi gaun malam dekaden yang cocok untuk ratu modern masa kini.

Berikut best looks Paris Haute Couture Fashion Week fall 2017 hasil kurasi Tim ELLE Indonesia:

Comments

Share this article: