EXCLUSIVE! Dari Rooftop Greenwich Miliknya, Robert De Niro Berbincang dengan ELLE Indonesia

Dari bawah angkasa New York, di antara gedung pencakar langit Manhattan, di tengah keriuhan bergengsi Tribeca Film Festival, GIVANIA DIWIYA menelusuri kisahnya.

Besar dengan titel aktor berpredikat dua Oscar, definisi Robert De Niro rasanya melebihi dari sekadar seorang seniman. Karena lebih dari suksesnya ia memerankan mafia rookie dalam trilogi legendaris The Godfather karya Francis Coppola, hingga menjadi petinju Jake Lamotta dalam magnum opus Martin Scorsese dalam Raging Bull, Bob (panggilan seluruh crew The Greenwich Hotel dan semua yang kemudian berjabat tangan dengannya saat itu) adalah wujud nyata dari individu multitasking yang mampu mengoptimalkan multi talentanya menjadi opportunity. Seperti yang kita tahu, Bob kemudian menyandang titel produser, sutradara, hingga wirausahawan. Mungkin sense bisnis lah yang memicunya untuk berkarya melintasi limit, atau berkat tinggal di kota New York yang menciptakan karakter berkepribadian ambisius khas metropolitan ini, yang membuatnya mampu memproduseri film Rent yang distingtif dan bold mengangkat kisah kaum minoritas penuh diversity, hingga melahirkan Tribeca Film Festival yang memproduksi 600 juta dolar setiap tahunnya. “Saya bersyukur saya lahir dan dibesarkan di desa kecil Greenwich di New York, tapi sesungguhnya segala kemampuan itu berkembang secara natural,” ungkapnya secara rendah hati ketika ditanya apa yang membentuk dirinya hingga berada di posisi sekarang ini, di mana ia kami wawancarai di rooftop The Greenwich Hotel, properti karya ikonisnya yang berdiri megah di wilayah kelahirannya.

Robert De Niro memang terlahir dengan warisan DNA Italia yang delicate, dan dibesarkan di kota metropolis Big Apple yang membuatnya terpacu untuk menjadi seseorang yang restless dalam berkarya. Tak perlu dipertanyakan lagi bahwa ia mengerahkan berkali lipat usahanya untuk meraih hasil akhir yang tepat, seperti rela menaikkan berat badan sebesar 20 kilogram untuk sebuah peran (yang mengantarkannya meraih penghargaan best actor pertamanya dalam Golden Globe), atau menginvestasikan waktu empat tahun untuk membujuk chef Nobu Matsuhisa membuka restorannya di New York (yang berakhir dengan rantai beruntun 37 cabang lainnya tersebar di seluruh dunia). Tapi ada satu sifat yang terpancar darinya, menembus semua permainan peran yang kita tonton dari layar lebar, dan melampaui ekspektasi kami saat berbincang langsung dengannya. Ia humble layaknya seorang Italian yang mencintai kesederhanaan, namun sekaligus visioner yang melihat segalanya dalam momen presisi layaknya New Yorker. “Keduanya selalu menjadi bagian dari diri saya, dan saya bahagia memiliki dua elemen itu. Bahkan bila melihat paspor saya, saya hampir bisa pergi ke sana setahun sekali.” Bahkan saat kami menanyakan bagaimana cara ia untuk terus menjadi contoh positif dan membagi positivity pada para karyawan yang mengacunya, ia terkejut, terhenyak, kemudian melepas senyum lebarnya sambil berkata, “Saya tidak tahu bila ada yang menganggap saya seperti itu, semoga saya bisa selalu seperti itu, terima kasih banyak.”

Also Read: Menyelisik Kerajaan Bisnis Robert De Niro yang Tersebar di New York dan Melintasi Benua

AMERICAN DREAM

Saat judul film yang dibintanginya mencapai angka 100, atau saat bisnis yang dirintisnya semakin berekspansi dari ranah properti menjadi arena liquor dengan merek Vdka 6100 yang ia tatar ulang dari desain kemasan, positioning, hingga komunikasi pemasarannya, tentu dibutuhkan strategi untuk mampu menstabilkan diri di antara hiruk pikuk yang menuntut. Namun saya mendapati apa yang membuatnya selalu berhasil melanjutkan setiap prosesnya, “Kita tidak pernah yakin bahwa apa yang kita kerjakan berjalan secara lancar, karena tak selamanya keadaan berjalan begitu. Selalu ada perubahan yang harus kita sesuaikan dengan diri kita, terkadang ia tak terduga, tapi itulah bagian dari prosesnya. Strateginya lebih kepada mengelola situasi di mana banyak orang terlibat di dalamnya.” Setelah melewati penutupan restoran Ago di New York, atau salah satu restoran Nobu di Paris yang gagal, Bob jelas memiliki elemen pendewasaan dalam pola pikir berbisnis.

Justru berangkat dari pola pikir yang logis dan membumi ini, ia mewujudkan bagaimana usaha untuk mencapai kestabilan mengatasi berbagai macam rintangan dan tantangan lintas industri bisa diraih melalui empati. Tidak, ini tidak terdengar klise. Karena bukan empati namanya bila ia mendirikan The Greenwich Hotel dan menggagas Tribeca Film Festival untuk tujuan menghidupkan kembali spirit warga Amerika pasca insiden 9/11. Bahkan pada tahun 2009, Bob dan dua rekannya yang menjadi otak di balik Tribeca Film Festival, didaulat masuk menjadi daftar filantropis yang berperan besar membangkitkan ekonomi kawasan TriBeCa yang tadinya lesu setelah mengalami insiden 9/11 tersebut. Adalah empati namanya saat dia lah yang memutuskan untuk terjun melibatkan diri membentuk brand Vdka 6100 basis New Zealand sedari awal, walau ia berjarak 14.369 kilometer dari kediaman Bob. Bukan hanya memiliki strategi untuk mencurahkan diri dan determinasi pada setiap yang dilakukannya, kesuksesan Bob dengan semua titel profesi yang melekat padanya terwujud berkat personanya yang begitu relatable dengan kami, atau kita pada umumnya. He’s a real people, he’s one of us.

Watch the Behind The Scene Video Here: ELLE Indonesia Mempersembahkan Robert De Niro sebagai ELLE Man dalam ELLE Indonesia Men Issue 2017

EVERYBODY’S HERO

Bercengkrama dengan seorang Robert De Niro terasa layaknya berbincang dengan teman lama. Karena ia selalu bisa membagi ilmunya dalam berbagai leburan topik. Seperti saat ia antusias ketika disinggung tentang pasar Asia yang emerging dan ever-evolving, “Saya senang berbisnis di Jepang dan Tiongkok, walau saya belum mengeksplorasi Indonesia, tapi secara teknik, saya pernah mengunjungi Bali, dan saya sangat penasaran dengan kehidupan kepulauan lainnya.” Antusiasmenya terhadap pasar masif Asia Tenggara juga berhasil ia eksekusi melalui peluncuran restoran Nobu di Malaysia pada tahun 2014, dan disusul dengan pembukaan restoran Nobu di Manila tahun selanjutnya, untuk menampung demand terhadap rebel dari kalangan restoran fine dining, sekaligus sang peraih titel ‘the hippest food chain in the world’ ini. Tentu ekspansi bisnisnya menuju belahan dunia lainnya tak luput dari daya juangnya dalam mewujudkan ambisi untuk menghubungkan setiap individu, menembus semua lapisan society. Karena pembukaan Nobu di Kuala Lumpur atau Manila juga tak luput dari upaya mengembangkan sayap para chef internal Nobu yang telah bekerja dekade lamanya dengan Bob atau pun Nobu Matsuhisa. Seperti apresiasi terhadap Ricky Estrellado berkebangsaan Filipina yang menjabat sebagai Executive Chef di Nobu New York, atau terhadap Philip Leong sebagai head chef Nobu Kuala Lumpur setelah mendedikasikan diri bergabung bersama Nobu sejak 2005.

Filosofi itu pula yang melandasinya untuk selalu memulai setiap langkah pertama dalam karya bisnisnya di kota New York. “Kota ini menghubungkan semua orang,” yakinnya. Seperti lini bisnis kuliner lain yang dirintisnya dalam Tribeca Grill dan Locanda Verde yang berlokasi di The Greenwich Hotel, atau kehadiran Tribeca Cinemas yang ia hidupkan kembali pada tahun 2004, yang membuat society dengan berbagai background bisa berkumpul dan saling beraspirasi dalam harmoni. “Ada kedamaian dan harmoni, di mana semua orang bisa rukun bersama. Karena pada akhirnya kita ini terdiri dari individu independen dengan nasionalisme yang berbeda-beda, jadi gagasan yang saya punya adalah untuk tidak memecah belah itu. Di sini kita bekerja bersama, toleransi terhadap sesama,” tutur Bob menerbangkan pesan yang diemban semua karya bisnis yang dipimpinnya. Tak salah bila ia dianugerahi penghargaan Lifetime Achievement Award berkat kontribusi masifnya pada dunia perfilman, yang membuatnya mengerjakan setiap bisnisnya sepenuh hati demi merealisasikan mimpinya untuk menampung, menggerakkan, dan memberi kejayaan terhadap komunitas atau setiap individu yang berjuang. Sky is the limit, right, Bob?

 

PHOTOGRAPHY: Turi Løvik Kirknes

STYLING: Jennifer Michalski-bray

PHOTOGRAPHY ASSISTANT: Tammy Henderson

STYLING ASSISTANT: Theodora Chytoudi

POST PRODUCTION: Alina Kovban

PHOTOGRAPHED AT: The Greenwich Hotel, New York

 

This article is originally published in ELLE Indonesia “Men Issue” on November 2017.

Comments

Share this article: