Fitria Yusuf, Kenes Andari, Putri Marino Mentransformasi Gairah Traveling menjadi Profesional

Exotic, adventurous, beauty, and vivid. Para expeditionist, globetrotter, jet-setter ini tak hanya membuktikan gairah masif dalam menjelajah dunia sebagai sebuah gaya hidup, melainkan kemampuan mereka dalam memberdayakan traveling-drive yang membuat mereka menjadi acuan seorang traveler modern nan dinamis.

Fitria Yusuf

Anting, H&M. Choker, House of Jealouxy. Dress asimetris, Patrick Owen. Jaket, Rinda Salmun. Celana denim, Versace.

Kuba hingga Iran, Tokyo hingga Botswana. Fitria telah melakukan jet-setting lintas benua yang bahkan karakternya saling berbanding terbalik. Ia bisa melebur dengan alam yang melibatkan aktivitas petualangan ekstrim, hingga wisata metropolis yang luks namun thriving. Nyatanya sang pebisnis slash penulis buku best-selling Hermes Temptations yang diterbitkan hingga Amerika Serikat, telah tertular hobi traveling dari sang ibu yang berprofesi pramugari. Di usia dua tahun, Fitria kecil telah berpelesir ke Jepang, menekuni dunia baca dan sejarah, hingga memulai petualangan independennya ke berbagai destinasi eksotis dunia kala menginjak usia 20 tahun. Dari yang awalnya menjadikan traveling sebagai tujuan dari stress-relief dari pekerjaan, Fitria menemukan bahwa traveling adalah bagian dari dirinya, yang mampu membuatnya memperluas wawasan, membuka pikirannya, membentuk pribadinya menjadi toleran, dan menghargai perbedaan. Seperti perjalanannya ke Antartika yang membuatnya tersadar betapa pentingnya eco tourism, yaitu aksi menjaga lingkungan untuk kelestarian ekosistem yang akan berpengaruh pada keseimbangan iklim hingga suhu dunia.

Namun dari perjalanan lintas benua yang membuatnya bersinggungan langsung dengan alam dan budaya yang kian divergen, Fitria tetap melihat alam serta maritim Indonesia lah yang menjadi juaranya. Seperti perjalanannya ke Nihiwatu, Sumba, yang merangkum kekayaan alam, histori, dan kultur lokal Indonesia nan otentik. Ia pun selalu menginfusi perjalanannya dalam balutan nilai sejarah yang mampu menarik dirinya untuk berpelesir ke satu destinasi. Seperti bagaimana ia mengagumi Che Guevara yang membuatnya terbang ke Kuba, atau kecintaannya terhadap sastrawan Rumi yang mengantarkan langkahnya ke berbagai negara di Timur Tengah, mulai dari Iran hingga Turki. Tak hanya itu, ia pun mampu mengoptimalkan ilmu bisnisnya hingga memberdayakan media sosialnya tak hanya sebagai showcase passion terhadap gairah traveling nan inspiratif miliknya, namun juga sebagai platform untuk berkolaborasi dengan clientele dari seluruh dunia. She gets the best of both world!

 

Kenes Andari

Kalung, House of Jealouxy. Sleeveless top, H&M. Celana, Patrick Owen

“Setiap satu tahun, saya selalu pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Karena dari experience barulah kita bisa merasa hidup,” ujar penggagas rumah publikasi Lights Publicist yang menjadi manifestasi Kenes akan kecintaannya terhadap industri hiburan. Ia pun menuangkan gairah masifnya dalam traveling, musik, dan film menjadi satu kesatuan, baik melalui profesinya sebagai seorang publicist maupun sebagai individu yang teradiksi traveling (ia bisa dua kali bepergian ke luar Jakarta setiap satu bulan!) dan memburu musik festival bersama Winky Wiryawan. Tahun lalu, dia melakukan summer music festival marathon yang melibatkan pengejaran terhadap Red Hot Chili Peppers yang tampil di T in the Park di Skotlandia, Radiohead dalam (festival tiga hari tanpa matahari terbenam!) Secret Solstice di Islandia, hingga Coachella yang stylish di California. Setelah melakukan lari maraton di Tokyo tahun lalu, pertengahan tahun ini pun ia akan melakukan kembali lari maraton di Berlin bersama Ibnu Jamil yang dibarengi dengan aksi pendanaan sosial. “Saya tidak mengejar waktu finish, saya lari maraton untuk menikmati kota dan alamnya. Lari sambil menyaksikan skyscrapper, itu juga menjadi cara baru lainnya untuk traveling,” tambahnya.

“Banyak orang yang semakin jauh ia pergi, semakin ia rindu akan rumahnya. Tapi, semakin banyak saya pergi, saya semakin tak ingin pulang!” cerita Kenes antusias mengaku kerap mengalami postholiday blues setelah menikmati traveling. Seperti sepulangnya ia dari Amerika selama tiga minggu, ia mengunjungi Bali terlebih dahulu walau hanya tinggal empat hari untuk menyesuaikan diri kembali dengan rutinitas harian. “Tapi itulah tujuan traveling, kita pergi melihat dunia luar untuk kembali fresh.” Bahkan ia menambahkan, bahwa stress-relief adalah hal terbaik yang didapat dari traveling setelah mendapat banyak pelajaran dari kebudayaan dan kebiasaan dari setiap tempat yang dikunjungi. Seperti insight yang ia tuturkan sepulang dari menyaksikan ekshibisi Leonardo Da Vinci di Singapura, siapa yang sangka bahwa sang pelukis ini mengawali karyanya dari profesi scientist. Ia mampu menciptakan lukisan The Last Supper secara presisi menggunakan ilmu matematika. Atau bagaimana Kenes belajar untuk tidak ‘malu bertanya sesat di jalan’ setelah mengamati warga California yang tak akan takut untuk membangun percakapan dengan orang asing. “Seperti mendapat pelajaran di luar studi formal, pengalaman yang sudah dilalui dari traveling, tak akan bisa dibeli dengan uang.”

 

Putri Marino

Kalung, Aidan and Ice. Shirt dress, Stella McCartney.

Traveling itu cinta,” ungkap aktris yang wajahnya mengisi layar kaca melalui acara My Trip My Adventure hampir setiap akhir pekan, dan bintang utama dua film layar lebar tahun ini, Posesif dan Jangan Salahkan Tuhan. “Seperti sebuah konsep, bila kita tidak merealisasikan konsep itu, maka ia hanya akan menjadi konsep. Bagaimana cara Anda melakukannya, itulah yang disebut traveling.” Persis layaknya yang Putri refleksikan pada prinsip traveling-nya: Jangan takut untuk keluar dari comfort zone. Selepas bekerja kantoran selama satu setengah tahun secara terjadwal, ia mengaku terdapat titik di mana rasa ingin mengeksplorasi sisi diri yang lain timbul. Ia lantas memberanikan diri untuk beranjak dari Bali menuju Jakarta, dan membuka diri akan kesempatan karier baru, yang tak ia sangka membawa gairah traveling miliknya mampu menjadi satu hal nan profesional. Bahkan lebih dari itu, melalui traveling yang membuat sisi kreatifnya berjalan lebih produktif, ia menghidupkan kembali IslandBabes.com yang sebelumnya vakum dua tahun, untuk menyuarakan inspirasi lewat karya fotografi dan tulisan berbentuk puisi pada para perempuan yang mengacunya.

Lahir dan dibesarkan di Bali, Putri telah terbiasa mengenal alam sejak sang ayah kerap mengajak Putri kecil berjalan kaki ke pantai, mendaki kaki gunung, atau menikmati danau. Ia bisa menyebutkan daftar destinasi Indonesia lengkap dengan keunggulannya, mulai dari Raja Ampat dengan 20% karang di dunia yang dimilikinya, Sumba dengan lanskap megahnya, Bali dengan budayanya, deretan gunung Rinjani, Mahameru, Merbabu, Cartensz, atau dalamnya laut Wakatobi hingga Labuan Bajo yang perkembangan pariwisatanya paling progresif. Atau Banda Neira yang paling membuatnya antusias (sekaligus yang ia daulat sebagai destinasi daratan dan lautan paling cantik se-nusantara!) dengan ragam spot diving di bawah laut, dan sejarah seperti benteng Belgica peninggalan Belanda hingga tempat pengasingan Bung Hatta. Bahkan suku pedalaman Mentawai (yang membuatnya menyusuri sungai sekitar 10 jam dan mencicipi ulat sagu, namun masih tetap masuk ke daftar kunjungan berulangnya) yang mengubah pola pikirnya untuk lebih bersabar dan open minded terhadap yang ia miliki. “Traveling semata-mata bukanlah sekadar sebuah destinasi, atau sarana untuk membandingkan kehidupan kita. Traveling adalah wadah untuk bersyukur, dan traveling adalah saat Anda mencintai lingkungan baru Anda, cinta dengan kebudayaan baru yang didapat, cinta dengan makanan barunya, dan cinta dengan warga lokalnya.”

 

PHOTOGRAPHY: Rakhmat Hidayat

STYLING: Kiky Rory

MAKEUP: Lala Barbie

HAIR: Makeover Makeup Academy

STYLING ASSISTANT: Erika Tania, Grace Kelly

PHOTOGRAPHED AT: Raffles Jakarta

DIGITAL IMAGING: Ragamanyu Herlambang

Comments

Share this article: