Cerita Nicholas Saputra Tentang Cintanya Pada Akting dan Dunia Film

A man who needs no introduction. Aktor Nicholas Saputra berbagi cerita mengenai kecintaannya pada seni akting dan dunia film.

Nicholas Saputra memulai kariernya saat ia ditemukan seorang wartawan majalah remaja di daerah Senayan, Jakarta. Nico saat itu tengah bermain baseball dan diajak foto untuk majalah tersebut. Setelah itu, datang tawaran syuting iklan yang lantas mempertemukan dirinya dengan orang-orang yang terlibat dalam film Ada Apa Dengan Cinta. Namun jauh sebelum itu, ketertarikan pada akting sudah terjadi lama. Masa kecil, Nicholas Saputra memiliki teman yang tinggal persis di samping rumahnya. “Kakaknya teman saya itu mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Rumahnya sering banget dijadikan tempat ngumpul anak-anak IKJ. Suatu waktu saya dengar mereka cerita soal syuting dan proses kreatif film. Saat itu pula langsung tertarik dan ingin tahu lebih jauh. Dan saya mulai jatuh cinta pada akting sejak hari pertama saya syuting film Ada Apa Dengan Cinta,” cerita Nicho.

Nicholas Saputra memperlihatkan dedikasi dan totalitasnya pada peran-peran yang ia mainkan. Misalnya di film Soe Hok Gie, saya perhatikan Nico betul-betul mendalami peran, termasuk meniru cara berjalan Gie. Film Ada Apa Dengan Cinta sukses membuat karakter Rangga menempel pada Nico. Rangga itu Nicholas, Nicholas itu Rangga. “Ada kedekatan sangat erat antara saya dengan karakter yang saya mainkan. Sebagai aktor, saya harus membuat karakter itu bisa ‘dipercaya’. Dan karena itu, kontribusi saya selalu maksimal dalam setiap film. Sebaliknya, setiap peran selalu membentuk kehidupan saya,” ujarnya. Soe Hok Gie, mahasiswa pencinta alam dan aktivis itu menjadi inspirasi Nicho sehingga Nico menjadi sangat gemar traveling. Karakter Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta berhasil menjadikan Nicholas Saputra laki-laki penggemar literatur yang kritis.

Lulusan Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Indonesia ini kian menyenangi film saat ia jadi mahasiswa arsitektur. “Ada kemiripan antara film dan arsitektur. Cara berpikir dari tiada menjadi ada. Setelah saya belajar metodologi pemikiran arsitektur, saya jadi lebih mudah memahami sebuah cerita dalam naskah. Dan ketika saya kuliah, saya lebih cepat paham karena sebelumnya udah pernah main film di Ada Apa Dengan Cinta. Oh rangkaian scene-nya harus begini, pas di sini emosinya harus naik,” Nicholas Saputra antusias bercerita.

(Foto: Raja Siregar / dok. ELLE Indonesia)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *