Relationship

Wife Material? Do You Even Care?

26 Oct 2016 13:00 by: Giovani Untari

Pada tahun ’50-an, ada sebuah artikel yang begitu populer. Judulnya: The Good Wife’s Guide. Isi buku ini (lengkap dengan ilustrasi), menggambarkan cara-cara menjadi seorang istri yang sempurna, dari tips menyetrika kemeja kerja suami, hingga memanggang makaroni yang membuat suami mau lagi, lagi, dan lagi.

Fast forward to 2010. Sebuah buku kembali menjadi perbicangan di antara kaum hawa. Judulnya: Why Men Marry Bitches. Isi buku ini menggambarkan kalau laki-laki cenderung melihat perempuan yang ‘wild’ dan independen sebagai sosok istri yang ideal. Konsep Stepford Wives telah lama pergi, dan perempuan yang vokal dengan karier gemilang adalah yang dicari laki-laki.

Pertanyaannya: Di antara artikel dan buku ini, mana yang mendapat lebih banyak pembaca?

Profesor David Bainbridge dari Universitas Cambridge baru-baru ini mengeluarkan hasil studinya. “Pria lebih memilih perempuan pintar untuk dijadikan istri,” katanya. Oh wow, should we rejoice? Not yet. “Karena menurut mereka, perempuan yang pintar akan punya kemampuan untuk membesarkan anak-anaknya dengan baik.” Sementara itu, studi oleh American Sociological Review yang dipublikasikan CNN baru-baru ini berkata, “Laki-laki yang 100% bergantung pada istrinya secara finansial memiliki kans lebih besar untuk selingkuh, tiga kali lebih besar dari perempuan yang bergantung pada suami secara finansial.”

One, two, three,EXCUSE US?”

Are We Wife Material?

Pepper Schwartz, Profesor psikologi di University of Washington dan penulis buku The Normal Bar. Studi yang dilakukan Schwarz cenderung relevan dengan situasi masa kini, di mana perempuan tak lagi melihat konsep “wife material” sebagai prioritas saat melihat pernikahan, tapi apakah sebuah pasangan serasi satu sama lain. Jadi bukan hanya “wife material” yang menjadi pertimbangan, tapi apakah laki-lakinya  juga “husband material”. “Kita terus melihat revolusi pada perempuan di seluruh dunia ━ satu negara mungkin berevolusi cepat, satu negara mungkin butuh beberapa dekade, tapi intinya, revolusi ini terjadi setiap hari. Seiring waktu, dengan perempuan bergaji tinggi, ditambah dengan perlindungan fisik dan ekonomi dari pemerintah yang semakin baik, perempuan bisa memiliki semuanya. ‘One can have it all’. Jadi tak heran kalau hal ini mempengaruhi pandangan mereka akan pernikahan. Standar dan ekspektasi kita pun berubah, karena kita berkata: ‘I can have it all, so my husband will have to offer something else.’

Dalam studi psikologi sosial, ada satu teori klasik yang disebut dengan Exchange Theory. Memang sedikit “berdarah dingin”, tapi teori ini memprediksi kalau perilaku seseorang selalu didasarkan pada keinginan untuk menyetarakan antara “memberi” dan “menerima” (give and take). Daya yang dimiliki setiap orang, termasuk uang, penampilan, latar belakang, menjadi standar untuk mempertimbangkan sebuah “good deal” saat menjalin hubungan dengan orang lain. Contoh skenario “good deal” adalah saat seorang perempuan berkarier gemilang dan berpenghasilan tinggi menikah dengan seorang laki-laki yang bekerja sebagai penulis dan tidak masalah untuk bekerja dari rumah dan memberikan lebih banyak waktu untuk urusan rumah tangga.

Do We Care?

Anda mungkin seorang perempuan yang hari Jumat malam masih berkutat dengan email kantor, atau terpaksa melewatkan akhir pekan panjang dengan suami gara-gara konferensi di luar negeri. Atau Anda mungkin meninggalkan jenjang karier menjanjikan setelah memiliki anak. Aktivitas Anda cenderung sama; menyiapkan sarapan, mengantar anak ke playgroup, belanja ke supermarket, dan sore harinya menonton video Dora the Explorer di YouTube bersama anak sambil menunggu suami pulang. But you guess what? You’re happy.

Ini yang sebetulnya penting. Akan terus bermunculan artikel dan buku yang isinya berusaha menjabarkan tentang bagaimana menjadi istri yang baik, begitu pun dengan ribuan studi yang hasilnya akan bikin Anda terkejut ala film Insidious. Tapi bukan ini yang seharusnya menjadi fokus Anda. Pertanyaannya sebetulnya bukan, “Are you wife material?” atau “Do you care?”, tapi lebih kepada, “Is this your choice and are you happy about it?” Karena tak ada satu studi, buku, atau omongan orang yang bisa menjabarkan atau meramalkan pernikahan seseorang. Anda adalah Anda, dan sepanjang Anda terus menjadi diri Anda sendiri dan menemukan orang yang menghargai hal itu, semua berakhir O-K. Ingat kata Beyoncé: “Kalau Anda berakhir dengan seseorang yang tidak tepat buat Anda, tidak Anda nikmati, bersiaplah setiap malam Anda akan terus merasa, oh gosh, seandainya saya sedang menonton True Blood seorang diri di rumah.”

 

WRITER: Putri Silalahi

PHOTOGRAPHY: Shutterstock

BAGIKAN HALAMAN INI:

Updates
Horoscope
Aquarius
Wujudkan rencana seru bersama teman – teman
20 JANUARI – 18 FEBRUARI
Capricorn
Latih kemampuan untuk bisa presisi di pekerjaan
21 DESEMBER – 19 JANUARI
Libra
Recharge pikiran dengan melakukan hobi
23 SEPTEMBER – 22 OKTOBER
Sagittarius
Keep everything simple
23 NOVEMBER – 20 DESEMBER
Leo
Saatnya memberi keputusan
21 JULI – 21 AGUSTUS
Virgo
Hadapi godaan dengan sabar
22 AGUSTUS – 22 SEPTEMBER
Cancer
Akan terjadi perubahan signifikan
21 JUNI – 20 JULI
Pisces
Cek kembali strategi untuk mencapai goal
19 FEBRUARI – 20 MARET
Aries
Jangan ragu memulai hal baru
21 MARET – 20 APRIL
Taurus
Bersiaplah akan hal yang menguras energi
21 APRIL – 20 MEI
Scorpio
Mimpi Anda bisa jadi clue masa depan
23 OKTOBER – 22 NOVEMBER
Gemini
Istirahat cukup merupakan hal yang tepat
21 MEI – 20 JUNI