Sex & Tips

SEX-PECTATIONS: Saat Fakta Tak Seindah Fantasi

20 Nov 2016 10:00 by: Givania Diwiya Citta

Satu nasihat lama yang terus terbukti benar, termasuk urusan seks, adalah jangan pernah menilai sebuah buku dari sampulnya. Atau dalam bahasa ranjang: do not judge a penis by its cover. Anda mungkin pernah mendengar, atau mengalami sendiri, di mana Anda berakhir dalam kekecewaan akibat impresi mengesankan yang dibuat lelaki pada masa perkenalan.

Inilah mengapa Anda harus berhati-hati dengan pandangan, persepsi, atau omongan orang lain yang belum tentu benar, apalagi soal seks. “Oh, Raymond aktif di gym, pasti ‘itu’-nya besar.” Kata siapa? Tak ada alasan ilmiah untuk asumsi tersebut kecuali Anda memang sudah mengintip isi celana Raymond. Atau pada kasus lain, “David sangat romantis, saya selalu diberikan bunga mawar, dan bahkan kemarin saya dibelikan anting berlian. Pasti dia ahli di ranjang.” Again, Anda menghubungkan performa ranjang seorang laki-laki dengan kemampuannya membeli barang-barang mahal. So wrong.

Berikut ini adalah beberapa kisah (tragis, tapi penuh pelajaran) yang bisa memberi gambaran bagaimana sebuah ekspektasi seks tak hanya bisa berakhir di luar harapan, tapi juga kekecewaan. Kabar baiknya, selalu ada cara untuk mengatasinya, mulai dari sekarang.

 

*) semua nama disamarkan untuk menjaga privasi, tentu saja.

 

#1 “I can’t feel anything!”

Karmela, 30 tahun, bertemu dengan Aldo, 30 tahun di sebuah kompetisi maraton yang diadakan oleh sebuah merek minuman terkenal. Aldo, menurut Karmela, adalah figur sempurna dari seorang lelaki, tak hanya dalam hal kemapanan, tapi juga tubuhnya yang luar biasa seksi. “Seberapa sibuknya saya di kantor, saya selalu sempatkan olahraga, entah ke gym, ikut maraton, atau biking di Bali,” cerita Aldo waktu itu, yang kontan membuat Karmela semakin terpikat. Singkat cerita, Karmela pun beranggapan kalau sesi ranjang mereka akan panas, tahan lama, dan berlumur endorfin. Ketika saatnya datang, Aldo memberikan foreplay luar biasa, yang membuat Karmela tersenyum senang. All good here. Namun beberapa menit kemudian, saat Aldo melanjutkan sesi penetrasi. Karmela menatap bingung wajah Aldo yang seolah sangat menikmati permainan, sementara dia tidak merasakan apa-apa di bawah sana… “Oh, sudah masuk?” tanya Karmela. Aldo mengangguk dan mengerang penuh nikmat.

What’s Going On?

Tak ada hubungan antara rajin berolahraga dengan ukuran penis lelaki, karena tak ada pil, ramuan, alat, atau gerakan yang mampu memperbesar penis secara permanen (he’s born that way, baby). Beberapa artikel pernah menulis kalau penis adalah ‘otot cinta’ yang bisa dibuat kekar dengan latihan rutin. Nope. Ada beberapa jenis otot di dalam tubuh manusia dan penis tergolong dalam otot yang lembut, bukan yang bisa menjadi kekar gara-gara mengangkat barbel.

OK, What Should I Do?

Kabar baiknya untuk Karmela: lelaki rajin berolahraga, artinya ia memiliki energi ekstra. Seks adalah aktivitas yang sangat membutuhkan energi, jadi memiliki energi ekstra akan membantu performa dan durasi (maka jika Anda memiliki masalah dengan pasangan yang tak bisa bertahan lama di ranjang, berolahraga adalah solusi pertama yang harus dicoba). Aldo memang tidak terlalu kompetitif soal ukuran, tapi dia bisa memberi sesi yang lama dan konsisten, yang sangat membantu perempuan untuk bisa mencapai klimaks. Ada beberapa posisi yang bisa dilakukan untuk membuat penis terasa lebih ‘penuh’ di dalam vagina Anda, seperti meletakkan bantal di bawah bokong saat misionaris, atau mengangkat kedua kaki ke atas untuk mempersempit rongga vagina. Cara lain? Coba cari tahu soal Kegel.

 

#2 “O-M-G. Shut... Up.”

Robert, 32 tahun, adalah laki-laki 3C━cool, calm, and collected. Ini adalah salah satu alasan mengapa Intan, 31 tahun jatuh hati. “Saya ini orangnya mudah panik, jadi Robert itu seperti penenang buat saya.” Robert juga tergolong sebagai figur yang pendiam, yang berpikir dua kali sebelum mengatakan sesuatu. Mereka berkencan selama tiga tahun (waktu yang sebetulnya cukup lama untuk mengenal karakter seseorang), sebelum akhirnya menikah. Yang terjadi di dalam kamar tidur ternyata begitu mengejutkan. “Robert terus menerus bertanya apakah saya menikmati ‘servis’ yang ia berikan, dan di tengah permainan ia bahkan mulai bertutur tentang betapa ia mencintai saya, betapa ia merasa beruntung memiliki saya sebagai pasangan, bla, bla, bla, bagaimana saya bisa menikmati sesi bercinta kalau ia tak bisa berhenti bicara! Tadi malam ia bahkan membahas band favoritnya saat kami sedang doggy style!”

What’s Going On?

Apakah Anda Intan? Oke, tarik napas dalam-dalam. Robert mungkin mengalami yang disebut dengan anxiety disorder, sehingga percakapan yang ia lakukan adalah mekanismenya untuk menenangkan diri. Atau, melihat Anda kesal karena ia terus bicara justru adalah hal yang membuatnya terangsang (ya, ada kasus seperti ini).

OK, What Should I Do?

Masalah yang sering terjadi adalah perempuan kadang mendiamkan hal ini (dan malah curhat pada sahabat soal kebiasaan ini kemudian tertawa bersama-sama), daripada mencoba mengatakannya langsung pada pasangan mereka kalau perilaku ini mengganggu saat seks. Sementara itu, menurut psikolog dan sexual disorder expert Pamela Stephenson Connolly, “Saya sering menemukan perilaku ini pada lelaki yang sebetulnya memiliki masalah lebih dalam dari sekadar ‘berbicara saat seks’, maka Anda harus mencoba membawanya menemui ahli.”

 

#3 “Siapa... Anda?”

“Sangat mudah untuk jatuh cinta pada Reno,” cerita Sandy, 27 tahun, “Ia sosok yang mungkin dicari oleh semua perempuan. Tampan, mapan, dan sangat perhatian.” Reno pun lekas menjadi favorit keluarga Sandy, karena karakternya yang sangat santun. “Cara bicaranya juga halus, tidak seperti lelaki di luar sana. Pokoknya sempurna.” Maka saat yang dinanti tiba, ketika hubungan mereka akhirnya ‘tiba’ di atas ranjang, Sandy merasa sangat excited. “It's gonna be great!” pikirnya dalam hati, “It’s gonna be one of those romantic, vanilla sex I’ve always dreamed of.” Namun yang terjadi justru sebaliknya. Reno yang mengerti semua posisi bercinta seakan memiliki dunia sendiri, gerakannya juga terlampau kasar, ia seolah tak peduli pada apa yang Sandy rasakan. “Saya minta ia untuk bergerak lebih pelan, ia tetap acuh dan tidak mendengarkan saya. Bahkan setelah semua gaya dimainkannya dan seks selesai, ia pergi ke kamar mandi, tidak peduli saya orgasme atau tidak. At bed, he is entirely a different person!

What’s going on?

Seperti Anda, lelaki juga menyimpan fantasi, atau alter ego. Ada beberapa laki-laki yang bisa menjadi versi yang sangat berbeda di atas ranjang, yang bisa disebabkan oleh banyak hal. “Kadang mereka menonton film porno dengan gaya seperti ini, sehingga mereka pun menjadi seperti apa yang mereka tonton,” kata Rowan Pelling, pakar seks asal London yang juga menulis kolom di Daily Mail. Film atau majalah dewasa seperti ini dapat membuat lelaki berperilaku lebih berani di dalam kehidupan seks mereka yang sebenarnya. Mereka seolah berpikir, “I want the same freedom.”

OK, What should I do?

Satu hal yang harus disadari Sandy adalah ia tidak sendirian. Awal tahun ini, Today Show dan Men’s Health melakukan survei online terhadap 10,000 laki-laki dan perempuan di seluruh dunia, dan 25% dari seluruh perempuan yang mengikuti survei ini mengaku kalau mereka tidak menyukai perilaku pasangannya di ranjang tapi tak pernah mengatakan apa-apa karena ‘takut menyakiti perasaan’. Padahal, 80% laki-laki yang mengikuti survei ini berkata, “Apa pun yang Anda inginkan di ranjang, yang harus Anda lakukan adalah memintanya.” Jika Anda mengalami dilema seperti Sandy, yang harus Anda lakukan adalah mengungkapkannya dengan terbuka. Di survei yang sama, 64% perempuan yang telah memberikan saran kepada pasangannya mengaku kalau kehidupan ranjang mereka benar-benar menjadi lebih baik. So, speak up, Sandy.

 

 

But… Don’t Stop Sexpecting.

Cerita-cerita di atas tidak berarti Anda harus berhenti mengharap lebih dari kehidupan seks bersama pasangan. Sebagai perempuan modern, independen, dan berdaya, wajar kalau Anda menuntut untuk pengalaman spektakuler di kamar tidur. Menurut sex therapist Jonti Searll, yang harus Anda mengerti adalah untuk mencapai gol dan ekspektasi yang Anda harapkan, Anda membutuhkan strategi, dan hal ini tak bisa terjadi dalam semalam.

Sex therapist Dr. Elna McIntosh menambahkan kalau Anda harus lebih melihat ekspektasi ini sebagai hal jangka panjang, bukan pada hari atau perayaan tertentu. “Banyak perempuan kecewa karena seks yang dilakukan pada malam pernikahan, atau hari Valentine atau malam anniversary berakhir biasa-biasa saja,” kata McIntosh, “Padahal banyak hal-hal yang tak bisa Anda kontrol, seperti pekerjaanya di kantor pada hari tersebut atau kemacetan jalan yang mungkin bisa merusak mood.” Tapi saat Anda dan pasangan bersama berusaha untuk menemukan cara untuk mendapatkan seks yang lebih baik, sesi bercinta pada hari apapun, akan selalu menjadi spektakuler.

 

TEXT: Putri Silalahi

PHOTOGRAPHY: Shutterstock

BAGIKAN HALAMAN INI:

Updates
Horoscope
Aquarius
Wujudkan rencana seru bersama teman – teman
20 JANUARI – 18 FEBRUARI
Virgo
Hadapi godaan dengan sabar
22 AGUSTUS – 22 SEPTEMBER
Cancer
Akan terjadi perubahan signifikan
21 JUNI – 20 JULI
Capricorn
Latih kemampuan untuk bisa presisi di pekerjaan
21 DESEMBER – 19 JANUARI
Taurus
Bersiaplah akan hal yang menguras energi
21 APRIL – 20 MEI
Gemini
Istirahat cukup merupakan hal yang tepat
21 MEI – 20 JUNI
Sagittarius
Keep everything simple
23 NOVEMBER – 20 DESEMBER
Libra
Recharge pikiran dengan melakukan hobi
23 SEPTEMBER – 22 OKTOBER
Aries
Jangan ragu memulai hal baru
21 MARET – 20 APRIL
Scorpio
Mimpi Anda bisa jadi clue masa depan
23 OKTOBER – 22 NOVEMBER
Pisces
Cek kembali strategi untuk mencapai goal
19 FEBRUARI – 20 MARET
Leo
Saatnya memberi keputusan
21 JULI – 21 AGUSTUS