Mengungkap Sisi Lain Cara Delevingne dari Karya Novel Perdananya

ELLE mengungkap sisi fragile dan empowerment yang dimiliki Cara serta bagaimana ia mentransformasikannya menjadi sebuah novel.

Fotografer: Kai Z Feng    Stylist: Charlotte Stockdale    Teks: Jennifer Niven

Satu jam sebelum saya berangkat untuk melakukan sesi wawancara dengan Cara, tiba-tiba saya dikabarkan bahwa terdapat perubahan rencana dan lokasi.  Alih-alih melakukan sesi wawancara di sebuah tempat, saya harus mewawancarai Cara di dalam mobil yang akan mengantarkan Cara ke tempat tujuan meeting berikutnya. Agendanya dimulai dengan mobil yang menjemput saya untuk menuju  tempat pemotretan Cara, kemudian berganti mobil lagi yang akan  menjadi lokasi sesi wawancara saya dengan Cara. Vibe pada sesi wawancara ini semakin terasa Hollywood ketika saya dan Cara nantinya berpisah di tempat tujuan Cara, kemudian saya di sambut dengan mobil lain yang mengantarkan saya kembali pulang.  Memang, sesuatu seperti ini sangat mungkin terjadi jika pekerjaan Anda terlibat dengan selebriti.

Tatapannya bahkan terlihat lebih tajam layaknya seorang prajurit ketika saya temui.

Ketika saya sampai di tempat pemotretan Cara di Shadow Hills, Los Angeles, seketika saya membandingkan lokasi bergunung ini dengan Australian Outback. Bersama mobil yang mengantarkan saya, kami mengarungi jalanan yang mulai menajam dan menyempit hingga akhirnya disambut dengan pemandangan menakjubkan kastil Moorish dari kejauhan. Rasanya langit terlihat jauh lebih biru ketika berdampingan dengan putihnya kastil ini. Saya menungu di luar kastil Furst (tempat pemotretan Cara) ketika Cara masih melakukan sesi pemotretan untuk cover-story ELLE di dalam.

Sembari menunggu Cara di luar, saya terpikirkan para pembaca buku saya yang pasti menginginkan posisi saya saat ini untuk bertemu Cara yang juga menulis sebuah novel debutnya tentang pencarian jati diri sekelompok remaja berusia 16 tahun- (sedikit tentang saya, saya adalah penulis buku bestselling, salah satunya bertajuk Holding Up The Universe and All The Bright Places)-. Cara baru saja berusia 25 tahun dan telah menjadi seorang role model, ia adalah idola sekaligus seorang spokeperson yang menyuarakan berbagai isu sosial. Ia merupakan seseorang yang dikenal akan kejujurannya dan tidak suka dengan pelabelan terhadap status seseorang baik dalam hal karir maupun seksualitas. Ia juga menyuarakan berbagai isu sosial yang berkenaan dengan remaja dewasa ini seperti masalah kesehatan mental,  percobaan bunuh diri, self-harm, citra tubuh, identitas seksual, dan bullying –ia mengingatkan orang-orang tersebut bahwa mereka tidak sendiri.  Pesan yang sama juga saya sampaikan pada para pembaca buku saya. Saya tahu betapa pentingnya pesan tersebut dan para remaja pantas untuk mendapatkannya.

Saya selalu memiliki koneksi semacam ini dengan para remaja

30 menit kemudian akhirnya saya dipanggil ke dalam untuk menemui Cara. Ekspektasi saya adalah orisinalitas dirinya, sebagaimana ia sebagai seorang Cara yang telah menyuarakan dukungan bagi para remaja yang sedang berjuang di luar sana. Ketika bertemu ia langsung memeluk saya erat dan berkata “dude, maaf sekali atas perubahan jadwalnya“. Setelah bertemu langsung saya menyadari bahwa ternyata ia memiliki tubuh yang kecil, fine-boned, namun sosoknya lembut dan tentunya cantik. Tatapannya bahkan terlihat lebih tajam ketika saya temui. Terlihat layaknya prajurit dengan potongan rambutnya yang pendek, ia langsung mengingatkan saya dengan prajurit Joan of The Arc. Ada sisi kerapuhan dalam dirinya, mungkin karena tubuhnya yang kecil seolah membuat saya ingin melindunginya.  Tetapi ada sebuah perasaan yang muncul ketika baru satu menit bersama Cara secara langsung, yaitu kekuatan dan ketentraman yang menjadi dasar dari pribadinya. Kejujuran dalam kepribadian Cara membuat dirinya terlihat mencintai dirinya sendiri, bahkan ketika sedang dikelilingi banyak orang sekali pun. Saya bisa melihat aura itu dan membuat saya juga turut merasa berada di „rumah“ sendiri ketika bersamanya.

Supirnya telah membelikan Cara makanan dari In-N-Out-Burger yang sesederhana itu membuat Cara bahagia. Setelah masuk ke dalam mobil, Cara menguap dan memohon maaf atas kondisinya yang sedang jetlag dan lapar. Saya mempersilahkan Cara untuk makan terlebih dahulu, namun kemudian ia membuka tas dan memasukan makanannya ke dalam. Ia ingin fokus dengan sesi wawancara dan tidak ingin terganggu oleh makanannya. 1 hingga 2 mil perjalanan, Cara membicarakan mulai dari sejarah kastil Furst yang menakjubkan, perbandingan cuaca panas Los Angeles dan dinginnya Inggris, hingga kenikmatan burger In-N-Out yang luar biasa baginya.

Hal pertama adalah mengenai debut novelnya dengan genre mystery-romance berjudul Mirror,Mirror yang ia tulis bersama penulis bestselling asal Inggris, Rowan Coleman. Saya mengatakan pada Cara bahwa saya sudah membaca bukunya dan menurut saya bukunya menarik. “What? Jadi kamu sudah baca buku saya?”ia benar-benar kaget dan matanya langsung terbuka lebar. “Ayo coba berikan komentar mengenai buku saya, saya belum pernah bertemu siapapun yang sudah membaca buku saya.” Ia terlihat gembira dan sangat tersanjung. Kemudian saya mengatakan apa yang saya suka dari novelnya, yaitu plot-twist, karakter-karakter yang saling berkaitan, terutama tokoh utamanya, Red. Saya yakin Anda juga dapat merasakan betapa bersemangatnya Cara yang kemudian menceritakan bagaimana ia benar-benar passionate dengan tokoh Red. “Red adalah tokoh yang pertama akan memulai ceritanya, kemudian diikuti tokoh-tokoh lainnya. Cerita ini adalah tentang sebuah kelompok pertemanan yang ingin mencoba berbagai hal, bersamaan dengan proses menuju pencarian jati diri mereka di kota London.”. Novel ini awalnya terinspirasi dari…. – apa ya judulnya…- Alice…’Go Ask Alice? Go Ask Alice yang ditulis oleh Beatrice Sparks!. Tidak kelam seperti Go Ask Alice dan tentunya mengacu ke kehidupan modern sekarang ini, tetapi dengan kekhawatiran yang sama, yaitu kekhawatiran seseorang yang tidak mengetahui dirinya sendiri. Berbagai cobaan dan kesulitan-kesulitan yang para remaja hadapi adalah hal yang dialami setiap orang, dan saya pun merasa bahwa hal tersebut ada pada Mirror,Mirror.

Saya tidak mengatakan pada Cara bahwa awalnya saya merasa skeptis dengan Mirror,Mirror. Banyak buku-buku karya para selebriti yang ditulis oleh orang lain, dan selebriti-selebriti tersebut mengaku bahwa mereka merasa passionate dengan buku tersebut -tetapi pada kenyataannya tidak. Lalu bagaimana sang model internasional, aktris, dan musisi ini menjadikan novel yang ditulisnya sebagai salah satu prioritas? ‘Saya selalu memiliki semacam koneksi yang luar biasa dengan remaja. Semua bermula di media sosial ketika para remaja mengirimkan saya pesan seperti “Aku harus berurusan dengan berbagai tekanan seperti banyaknya pikiran, pertemanan, serta eating-disorders”. Hal seperti itu adalah hal yang membuat saya seketika merasa bahwa saya memiliki kesempatan untuk membantu dan benar-benar ada untuk mereka. Saya ingin membagi kisah saya dahulu bagaimana saya juga berjuang pada masa remaja saya.

Ada sesuatu yang saya sadari dari cara ia berbicara: passion dan empati. Saya bisa melihatnya di wajah Cara – ia juga merasakan hal itu. Ia mengetahui apa yang menjadi tanggung jawabnya dan hal tersebut tak bisa dibohongi.

Cara berpaling melihat kearah jendela mobil, mencoba memikirkan karya tulis yang paling berkesan hingga dapat mengubah pandangannya terhadap buku. Setelah berhasil mengingatnya, ia kembali menghadap saya: ‘buku yang paling sering saya baca adalah buku dari Lena Dunham berjudul Not That Kind of Girl. Kejujuran dan raw-humour yang disampaikan dalam novel ini membuat saya membacanya berkali-kali. Saya sangat menyukai kesuraman yang ada pada ceritanya, karena sangat sulit untuk menghadapi kesulitan dan berbagai rintangan yang seseorang alami seorang diri tanpa menceritakannya pada orang lain.

Cara mengetahui apa yang menjadi tanggung jawabnya dan hal tersebut tidak bisa dibohongi.

Ketika saya menanyakan apakah ia menulis karangan cerita ketika ia masih duduk di bangku sekolah, ia menjawab: ‘semua murid memang harus menulis karangan cerita dalam bahasa inggris, tetapi saya tidak menikmatinya karena saya mengerjakannya dengan terpaksa –dan sekarang, menulis adalah salah satu kegiatan utama saya. Saya menghabiskan waktu seorang diri di Jerman selama satu minggu, berjalan-jalan di sekitar pegunungan Alps, menulis dan duduk di atas bukit. Itulah hari-hari dan momen yang paling berkesan buat saya.’. Saya pun setuju: melarikan diri ke alam akan memberikan Anda sebuah keseimbangan yang Anda butuhkan untuk menciptakan sesuatu.

Lalu saya menanyakan bagaimana proses penulisan novelnya berjalan.Ketika ia memutuskan untuk mewujudkan keinginannya untuk menulis sebuah novel, ia bertemu dengan beberapa co-writer yang memiliki kemungkinan untuk digaetnya. Ketika ia bertemu Rowan, saat itu juga ia mengetahui bahwa Rowan memiliki potensi yang luar biasa. Reaksinya ketika akan menggaet penulis buku-buku bestselling ini menyala-nyala bagaikan kembang api.

Sahabat-sahabat saya sudah saya anggap seperti keluarga sendiri. Merekalah yang membantu saya hingga saya bisa seperti yang sekarang ini

Melanjutkan pembicaraan mengenai novelnya, Mirror,Mirror, saya kembali bertanya mengenai karakter yang paling ia identifikasikan dalam cerita ini. ‘Red; ia adalah seorang drummer dalam sebuah band dan sosok perempuan yang tomboy. Sejujurnya saya juga merefleksikan kepribadian saya sedikit demi sedikit pada setiap karakternya’ tutur Cara. Lalu Cara pun melanjutkan dan kali ini mengenai dirinya, ‘ketika saya masih remaja, saya tergabung dalam suatu band.  Sangat penting bagi seorang remaja untuk terlibat dalam suatu komunitas semacam itu di luar sekolah. Platform tersebut dapat menjadi ajang untuk lebih terlibat dan dekat dalam sebuah lingkup pertemanan, mengekspresikan diri, atau bertemu banyak orang baru yang bukan berasal dari circle pertemanannya. Momen itulah yang menentukan teman-teman dalam hidup seseorang kelak dikemudian hari.’

‘Apa hal yang paling sulit dalam proses peralihan seorang anak, ke masa remaja, hingga menjadi perempuan dewasa?’. Kemudian Cara kembali menjawab,‘ketika seseorang berada dalam prosesnya, semunya terasa sebagai momen yang paling sulit. Tetapi ketika melihat lagi ke belakang, tahapan yang telah dilalui itu terasa lebih mudah dari yang sedang dilalui saat ini. Banyak faktor tekanan dan juga gejolak hormon yang dialami remaja sehingga sulit untuk memberikan dirinya sendiri apresiasi atas pencapaian proses kedewasaannya. So much pressure! Dan itulah yang ingin saya sampaikan dalam novel saya.  Ditambah lagi dengan adanya media sosial dan tekanan bagi remaja untuk menjadi seseorang yang “sempurna” – walaupun sebenarnya mereka hanya mencoba untuk mencari identitas diri yang sebenarnya, tetapi tekanannya begitu besar.’

Cara telah menghabiskan banyak waktu dalam hidupnya menjadi sorotan publik. Saya ingin mengetahui adakah pengalaman yang telah membantunya memahami apa yang dilalui para remaja. Ia memanfaatkan waktu untuk menjawab pertanyaan ini, kemudian alisnya mulai berkerut ia menjawabnya, ‘remaja cenderung mencari sosok yang dapat ia idolakan. Melihat dampak dari seorang role model seperti saya membuat saya semakin sadar bahwa para remaja ini akan memiliki sosok yang kuat, positif dan mau melakukan kebaikan di luar sana.’

Cara juga mengatakan bahwa ia nyaman dengan dirinya apa adanya. ‘menerima semua dengan apa adanya adalah proses yang sehari-hari saya jalani.‘ tuturnya. ‘It’s about loving yourself, memastikan seseorang benar-benar menghargai dirinya sendiri. Anda tidak boleh menyalahkan diri sendiri atas apapun yang Anda hadapi.’

Lalu pesan apa yang Cara harapkan akan didapat oleh para pembacanya dari Mirror,Mirror? ‘Saya ingin para pembaca menyadari betapa indahnya hidup dengan berbagai macam rintangan yang luar biasa, tetapi yang tak kalah penting adalah bagaimana seseorang benar-benar mencintai dirinya.  Terkadang ada sesuatu yang tidak dapat seseorang dapatkan, maka dari itu seseorang harus memiliki kekuatan dalam dirinya untuk menerima kenyataan dan terus melanjutkan perjalanan hidupnya. Seseorang harus tahu bahwa mereka dapat menghampiri orang lain yang dapat membantunya. Terkadang ada kesalahpahaman yang kemudian membuat sesuatu menjadi kacau, tetapi jangan menyalahkan orang lain. Cobalah untuk memahami satu sama lain, dan coba untuk melihat latar belakang seseorang.’

Sesi pertanyaan berakhir dengan tepat ketika kami sampai di tempat parkir mobil di mini market Laurel Canyon Country.  Di sinilah saya dan Cara akan berpisah. Perjalanan terasa cepat dan saya tinggal memiliki satu pertanyaan lagi. ‘apakah pengalaman ini menginspirasi Anda untuk menulis lebih banyak?’ Tatapannya yang intens mereda dan wajahnya seketika bersinar.

‘Saya tidak dapat mengekspresikan emosi saya karena saya merasa malu dengan apa yang saya rasakan’

‘Ya, saya memiliki banyak hal yang ingin saya tulis. Ini adalah sesuatu yang ingin saya lakukan untuk orang lain, tetapi sebenarnya ini adalah sesuatu yang saya pribadi juga inginkan. Saya harus melihat dulu nantinya apakah saya bisa melakukan hal ini lagi. Dan saya berharap para pembaca saya dapat mengambil pesan positif dari buku ini, itu yang terpenting bagi saya.’

Jaket shearling dan celana, Chanel.

Kalung, CHAOS.

Mirror,Mirror oleh Cara Delevingne (Trapeze £12.99)  akan segera dirilis pada 5 Oktober.

Jennifer Niven adalah seorang penulis dari 9 buku, termasuk buku bestselling berjudul All The Bright Places and Holding Up The Universe.

 

 

Comments

Share this article: