Melihat Rahasia Sukses Sophia Amoruso dan Roman Kirsch dalam Bisnis Mode E-Commerce

See how they turn pennies into billions!

image source: sky.com

Perkembangan teknologi dan internet menjadi fenomena spektakuler yang masal dalam dunia perbisnisan elektronik, atau lebih dikenal dengan istilah e-commerce. Kehadirannya memudahkan sistem promosi, penjualan produk, dan perluasan pasar, baik di dalam maupun luar negeri. Para pebisnis e-commerce telah menjadi agen perubahan yang signifikan dari sistem jual-beli dalam industri mode.

Di era e-commerce ini, butik-butik mode yang tak bisa lagi bergantung dengan sistem penjualan tradisional di toko harus beralih ke sistem penjualan online. Bermodalkan kualitas produk dan pelayanan terbaik, mereka turut bersaing menarik perhatian pembeli dengan menyediakan mode pakaian teranyar dalam berbagai tren mode yang sedang happening. Tak sedikit pebisnis mode yang sukses membesarkan brand modenya hingga berhasil memperoleh keuntungan di luar ekspektasi melalui e-commerce. Menilik pengalaman para ahli di bidangnya, dua pebisnis mode e-commerce di bawah ini punya rahasianya.

 

  1. Sophia Amoruso – Founder Nasty Gal Vintage

Karier seorang Sophia Amoruso berawal dari bisnis menjual pakaian-pakaian vintage di tahun 2006. Berbagai rintangan dalam hidupnya membuat Sophia memulai semuanya dari nol. Dengan mengandalkan eBay dan sosial media MySpace, Sophia memulai bisnis modenya dengan menjual kembali pakaian-pakaian vintage yang ia beli dengan harga murah, lalu menyulapnya menjadi set pakaian dengan signature Nasty Gal Vintage. Tanpa sengaja penulis buku #GIRLBOSS ini turut memperkenalkan nama Nasty Gal Vintage sebagai identitas khasnya saat itu.

Sophia membuat nothing to something melalui kekuatan terbesarnya yang sangat berpengaruh dengan bisnisnya ini, yaitu styling. Ia tak hanya sekadar berbisnis, tetapi juga sekaligus memberikan “penuntun” bagi para pembelinya tentang bagaimana cara memakai pakaian yang dijualnya agar terlihat fashionable. Sophia mengatakan, “Because I was styling every piece of clothing I was selling head to toe, from the hair down to the shoes, I was showing girls how to style themselves. And though you’ll rarely hear me advocate giving anything away for free, this realization was one of the most profound and welcome I’ve had with the business.” Dengan memiliki nilai tinggi terhadap pakaian yang dijualnya, ia perlahan membangun loyalitas para pembelinya dan dapat stand out dari brand lain yang saling berlomba di eBay pada saat itu.

image source: pinterest.com

Kunci kesuksesan lainnya dari Sophia adalah bagaimana ia melihat dan mendengar permintaan pelanggannya. Ia memperhatikan dengan seksama apa yang diinginkan dan yang tidak disukai para pelanggan generasi millennial. “Each week I grew faster, smarter, and more aware of what women wanted. And each week my auctions did better and better. If it sold, cool— I’d instantly go find more things like it. If it didn’t, I wouldn’t touch anything like it with a ten-foot pole ever again,” tuturnya.

Sophia juga memanfaatkan media sosial dan potensi besar dari hasil styling-nya untuk mempromosikan pakaian Nasty Gal Vintage tanpa mengeluarkan banyak budget. Contohnya dalam pemilihan model untuk pakaian-pakaianya, ia lebih memilih menggunakan jasa perempuan-perempuan muda non-model yang ia temui di sosial media MySpace dan membayarnya secara cuma-cuma. Ia mengatur semuanya sesuai dengan hasil yang ia inginkan, dari mulai styling pakaian, gaya berpose, hingga penentuan lokasinya. Metode promosi yang digunakan Sophia juga berlandaskan words-of-mouth dengan membawa para followers-nya di MySpace (hingga beralih ke Facebook) untuk mengunjungi bisnis mode e-commerce miliknya di eBay yang kini telah berganti menjadi situs independennya yaitu nastygalvintage.com. Potensi ciri khas styling, impact metode promosi terhadap loyalitas pembelinya mengantarkan Nasty Gal Vintage menjadi e-commerce bisnis mode yang mandiri dan sukses seperti sekarang.

 

  1. Roman Kirsch – Founder dan CEO Lesara

image source: telegraph.uk

Founder dan CEO perusahaan e-commerce mode Lesara.com, Roman Kirsch, telah membuktikan keberhasilannya dalam bisnis retail mode yang kini telah mendunia. Bisnis mode e-commerce yang telah dibangunnya sejak bulan November 2013 ini telah memiliki kantor pusat di Berlin, Jerman dan  Guangzhou, Tiongkok. Penglihatannya terhadap besarnya potensi bisnis mode dalam e-commerce di masa depan meyakinkannya untuk beralih ke bidang mode setelah sebelumnya berkelut dalam perusahaan e-commerce di bidang desain milik pribadinya bernama Casacanda.

Dalam bisnis fast fashion online-nya, Roman mengoptimalkan keefisiensian mulai dari efisiensi pemilihan material produknya hingga efisiensi data untuk mengetahui permintaan pembelinya. Penggunaan e-commerce sebagai media penjualan dan pengiklanan Lesara dimanfaatkannya untuk memangkas biaya yang berkenaan dengan produksi dan pemasarannya. Roman mengatakan, “We don’t invest in expensive supermodel campaigns, but rather invest in great experiences tht promote word-to-mouth through social media.” Dengan meminimalisir biaya produksinya, Roman dapat menjalankan moto bisnisnya, yaitu untuk dapat mengikuti trend mode teranyar tak harus mengeluarkan banyak uang. Efisiensi produksinya memungkinkan Roman untuk menjual produknya secara massal dan dengan harga yang affordable.

Untuk memperluas dan membesarkan perusahaan e-commerce-nya, Roman harus keluar dari zona nyamannya dan menggunakan metode yang tepat untuk bisnisnya. “I was always entrepreneurial and learned quite quick when starting my first business at 14 that the only thing that makes you grow as an individual is to go out of your comfort zone and learn from your mistakes,” tuturnya. Ia mengubah mindset-nya terlebih dahulu dalam berbisnis dengan tidak mengikuti mindset bisnis “khas” orang Jerman pada umumnya yang mengutamakan kesempurnaan dan cenderung untuk mengambil jalur aman. Baginya, hal terpenting dalam bisnis fast fashion adalah dengan mengutamakan produksi massal yang cepat.

 

Comments

Share this article: