Metamorfosis Lorde dalam Kedewasaan Musik dan Karakter

Hallelujah! Setelah empat tahun yang panjang, pahlawan pop Lorde bermuara kembali ke tangga lagu dengan perspektif yang kian dewasa, musik yang lebih eksperimental, dan perjuangan karya kedua yang dijamin akan menghilangkan istilah one-album-wonder darinya, kini dan selamanya.

Musim gugur tahun lalu, sekitar satu bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-20, Ella Yelich-O’Connor, yang menulis dan menciptakan musik di bawah nama Lorde, mengalami momen breakdown. “Saya menangis terus menerus, terkena serangan panik,” ia mengingatnya. “Saat itu saya sedang di L.A. dan saya berpikir, oke, saya akan pergi manicure sekarang, tapi saya justru menangis di butik manicure. Rasanya salah. Yang saat itu saya rasakan, saya tidak bisa melakukan ini. Cukup. Di sini memang menyenangkan, tapi saya harus pulang ke rumah sekarang.” Biasanya dalam momen kritis, Ella akan menelepon sang ibu, penyair kelahiran Selandia Baru, Sonja Yelich. Atau salah satu teman masa kecilnya di Auckland kampung halamannya. Atau, Anda tahu, Taylor Swift atau Kanye West, dua orang di dunia ini yang sekiranya mengerti tekanan yang sedang ia alami, yang juga merupakan persahabatan yang Ella bentuk selama empat tahun terakhir, selama masa kebangkitan sosok remaja Kiwi pemalu, pencipta musik dari kamar kecilnya, yang kini bertransformasi menjadi bintang pop peraih Grammy yang diincar paparazzi kala menghadiri pesta-pesta glamor. Tapi Ella memiliki determinasi untuk berjuang di jalannya sendiri, dengan fokus menciptakan musik yang harus berbeda, atau paling tidak selevel impresif dengan yang sebelumnya.

“Semua orang bilang bahwa musisi tidak akan bisa mengulang menciptakan karya yang sama impresifnya,” ujarnya. “Sebenarnya Anda tahu bahwa Anda mampu, tapi…” ia mendapati dirinya bertanya-tanya, “Bisakah saya menciptakan karya yang baru namun publik tetap bisa mengenali hati saya di sana?”

Bila ini terdengar seperti kegelisahan yang standar, coba renungkan kembali apa yang ia hadapi. Tentu membutuhkan sebuah talenta, namun juga keajaiban distingtif untuk bisa menciptakan Pure Heroine (2013) – koleksi tracks electropop epic yang terjual sebanyak tiga juta kopi secara global. Itu adalah hibrida esensi individu muda yang berasal dari suburban, dan sebenarnya relatable bagi siapa pun, baik yang masih sangat muda atau tinggal di suburban. “We live in cities you’ll never see onscreen/Not very pretty, but we sure know how to run things/…and you know we’re on each other’s team,” nyanyiannya dalam Team. “Dia bagi saya bagaikan contoh sosok yang memimpin ke mana arus kita,” sebut Pharrell Williams saat Pure Heroine rilis, setelah mendaulat Lorde dan Kendrick Lamar sebagai pewaris jiwa seniman untuk generasinya. “Anak-anak yang memiliki sudut pandang,” Pharrell melanjutkan. Dia menyebut Lorde sebagai ‘penyanyi-penulis lagu versi terkini’: “Individu 16 tahun yang menulis musiknya sendiri dan bersuara tentang society.”

Inilah jenis pujian yang telak menjadi tekanan, terutama bagi musisi yang sangat muda. Tekanan yang sama levelnya dengan yang dialami Katy Perry dan Rihanna – persona pop profesional yang harus bisa mengelola temperamen dalam mengatasi dampak citra larger-than-life yang terlanjur mereka ciptakan. Namun Lorde merupakan seorang introver. “Untuk bisa menciptakan profesi dan pekerjaan saya ini, saya tidak bisa menganggap bahwa saya seseorang yang terkenal.”

Awalnya, ia masih terbang berulang-ulang antara Selandia Baru dan Los Angeles. Namun saat menetap lama di Los Angeles, ia tidak merasa cocok dengan scene tersebut. “Semua orang bekerja menciptakan musik di L.A., sebenarnya sangat bagus, tapi tidak bila Anda seorang pemalu dan kutu buku yang introver,” ujarnya sambil tertawa. “Bagi saya itu terlalu social. Saya menciptakan karya pertama saya di Selandia Baru sendiri – I was just my own unit. Di L.A. rasanya seperti, ‘Oh, proyek apa yang sedang Anda kerjakan?’ lalu saya akan merasa, ‘Saya harus segera pergi dari sini.’” Ia juga hanya membutuhkan partner in crime yang tepat, dan ia menemukan Jack Antonoff, produser dan songwriter pemenang Grammy di balik band Fun. dan Bleachers (dan kekasih dari teman baru Ella, Lena Dunham), yang telah bekerja sama dengan Grimes, Taylor Swift, yang lalu menulis bersama dan memproduksi mayoritas Melodrama. Ella juga membutuhkan kota yang tepat. New York, tempat yang Patti Smith deskripsikan pada tahun 2010 sebagai tempat bagi yang muda dan yang berjuang. “Tak ada musisi lagi di New York,” ujar Ella. “New York serasa kota hantu musik; spooky. Seperti kota pelopor musik yang ditinggalkan. Namun menyenangkan untuk bisa tinggal dan berkarya di sini karena semua orang sudah meninggalkannya.”

Pilihan kota miliknya, kolaborasi intimate dengan Jack, dan masa evolusi dari remaja yang struggling – semuanya membuat Ella bisa mendengar suara baru yang segar lagi. “Saya menantikan fase yang selanjutnya. Saya sadar bahwa saya bukan remaja lagi,” tuturnya. “Lalu rasanya seperti turun hujan yang sangat lebat – tiba-tiba saya mengalami revolusi emosi!” Musik baru yang ia garap ia anggap aneh. Suara-suara bising dari electronic, melodi yang berelaborasi, dan dentingan piano tak menentu yang menciptakan chorus dramatis. Single utama Green Light adalah tentang momen saat Anda sudah nyaris berhasil untuk bisa move on dari seseorang – “Honey, I’ll come get my things but I can’t let go/I’m waiting for it, that green light, I want it” – adalah ‘karya musik paling membingungkan dengan permainan piano yang gila’, simpul Ella.

Tapi ia tidak sepenuhnya benar. Maret lalu, Lorde merilis Green Light, sekaligus satu ballad Liability, di Saturday Night Live. Kesan Pure Heroine era Lorde lama hilang, digantikan dengan suara yang lebih dewasa. Inilah seniman dengan suara full-throated slash petualang dalam musik, bila kekuatan kreatifnya dilepaskan. Kedua lagunya pun ternyata disambut dengan paketan pujian. “Publik ternyata bisa memahami lebih cepat dari yang saya perkirakan,” ia berkata dengan senyum penuh makna. “It was an amazing feeling.”

Bertatap langsung dengan Ella, ia nyatanya adalah seorang manusia elegan dan membumi. Tapi ia juga bisa tampak tak terduga dan mudah takut. Bagaimana cara seorang musisi yang bilang bahwa perihal selebritas adalah ganjil, bisa menyeimbangkan tuntutan menjadi seorang Lorde yang emosinya harus stabil layaknya Ella? “Selandia Baru,” jawab sang pemilik mata biru lautan. “Itulah mengapa saya sangat menggebu-gebu bila akan pulang ke rumah. Kebanyakan teman saya di sana adalah orang-orang yang mengenal saya sebelum saya terkenal. Saya bersyukur bahwa saya tidak pernah merasa menjadi orang terpintar, terkeren, atau terlucu di lingkungan. Saat saya berada di sana, saya hanyalah diri saya. Mereka akan bilang, ‘Ella hanya tampak seperti penyihir tua aneh dengan rumah yang bagus.’”

Saat ditanya apa yang telah ia rencanakan untuk satu dekade ke depan mengarungi kehidupan dewasa baru yang kadang bisa menakutkan, Ella menjabarkannya secara thoughtful. Pertama-tama, ia ingin membawa Melodrama untuk tur dua tahun seperti yang sudah ia canangkan. “Karya rekaman yang segera rilis ini bisa menjadi saksi momen kelahiran kembali.” Setelah itu? “Saya mungkin akan kembali ke Selandia Baru,” dia tampak terhibur. “Lalu menunggu beberapa tahun. Ya, saya rasa saya akan pulang untuk sementara dan menciptakan karya di sana.” Ia tersenyum. “Walau  siapa yang tahu, saya akan beranjak 22 tahun. Mungkin saja saya ingin tinggal di Tokyo.”

PHOTOGRAPHY: Mark Seliger

STYLING: Samira Nasr

TEXT: Lizzy Goodman

 

Article was originally published in ELLE Indonesia Cover Story June 2017 issue.

Comments

Share this article: