Open Relationship, Bisakah Kita Benar-benar Menerimanya?

Pamela Pollak menanyakannya pada tiga perempuan.

Relationship can be a lot of work. Saya yakin Anda sudah menyadari hal ini. Anda akan terkejut mendengar hal-hal yang telah dicoba (saya ulangi: ‘dicoba’) oleh perempuan di seluruh dunia untuk memastikan hubungan percintaan dan pernikahan mereka bisa melewati ujian waktu. Catherine Zeta-Jones dan Michael Douglas telah lama ‘berkampanye’ akan pentingnya memiliki kamar mandi terpisah untuk menjaga ‘sedikit misteri’ di antara mereka. Heidi Klum memeluk kepercayaan ‘dressing up’ (dalam istilah lain: role-play) sebagai bumbu penyedap di kamar tidur. Christina Aguilera mengimplementasikan ‘naked Sunday’, di mana ia dan suami menolak untuk mengenakan pakaian setiap hari Minggu, termasuk saat memasak (setuju, yang ini memang agak berbahaya). Dan bagi mereka yang lebih liberal secara seksual, mereka mengarah ke luar peraturan yang biasa. Martha Stewart pernah berbicara tentang mencoba threesome (yes, that Martha Stewart). Robin Thicke dan Paula Patton dikabarkan memiliki open marriage, yang berarti mereka sama-sama diizinkan untuk bercinta dengan orang lain. “Kita telah mencoba hampir semua hal,” kata Thicke saat penyiar radio populer Howard Stern bertanya apakah ia memang memiliki open marriage. “Tapi untuk menjaga perasaannya (Patton), saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini.”

 

Bagi kita yang berada dalam hubungan jangka panjang, mungkin pernah mengalami momen di mana kita berandai-andai. Hanya, berandai-andai, apa yang akan terjadi seandainya kita melawan peraturan, untuk membuat semua kembali terasa lebih exciting lagi. ELLE mewawancara banyak perempuan untuk artikel ini, dan guess what, mereka semua berkata bahwa━at one point or another━mereka pernah berpikir untuk melakukan apa yang dilakukan Martha Stewart atau Paula Patton. Satu perempuan di Jakarta, perempuan berusia 33 tahun yang pekerjaannya mendesain dan membuat wedding cake, mengaku kalau ia membiarkan suaminya pergi ke stripclub, kalau memang itu yang diperlukan untuk meningkatkan kehidupan seks di antara mereka.

 

Tapi ini pertanyaan untuk kita semua. Jika kita benar-benar melakukannya, jika kita memang benar-benar melakukan apa yang menjadi fantasi di kepala kita saat ini, apakah itu akan mereparasi semuanya? Apakah kita akan menemukan sexual awakening yang selama ini kita cari-cari? Atau apakah kita akan berakhir sakit hati?

 

Berikut kisah yang dituturkan kepada ELLE.

 

***

 

Perempuan #1

35 tahun, baker (spesialis wedding cake), menikah 6 tahun.

 

Q: Jadi Anda membiarkan suami pergi ke stripclub dengan izin Anda?

A: Ya. Tapi ada aturannya. Ia tidak boleh menyentuh apa yang ia lihat. Ia hanya menonton.

 

Q: Sejak kapan hal ini terjadi?

A: Mungkin lima tahun setelah pernikahan kami. Saya tidak yakin. Kami sudah tidak bercinta berbulan-bulan, dan satu malam ia bilang kalau temannya akan menikah dan bachelor’s party-nya diadakan di sebuah stripclub. Saya mengizinkannya pergi, dan malam itu, sepulangnya ia dari stripclub kami bercinta dengan luar biasa intens. Seks terbaik yang pernah kami lakukan, malah. Sejak itu saya berpikir: oh, what the hell.

 

Q: Apakah Anda pernah memintanya untuk berhenti?

A: Ya. Dan ia setuju. Tapi dengan cepat semua kembali menjadi membosankan lagi di atas ranjang.

 

Q: Jadi Anda oke dengan fakta kalau stripper sekarang menjadi semacam foreplay untuknya?

A: Ya! Saya harus mendesain dan membuat 20 kue dalam sebulan, jadi saya tidak punya waktu untuk belajar striptease! Saya oke dengan orang lain yang melakukannya, dan saya yang mendapatkan seks setelahnya.

 

Q: Apakah Anda pernah diam-diam berharap sebaliknya? Anda dan suami memiliki kehidupan seks yang uhm, normal?

A: Tentu saja. Terutama saat saya menonton film-film di mana mereka menunjukkan pasangan suami istri dengan kehidupan seks luar biasa. Atau di mana suaminya memberi usaha yang besar untuk membuat istrinya horny lagi di atas ranjang. Tapi saya segera mengingatkan diri saya sendiri: itu semua film, bukan realita.

 

***

Perempuan #2

34 tahun, Executive Producer di sebuah stasiun TV, pacaran 6 tahun

 

Q: Jadi saat ini Anda berada dalam open relationship?

A: Ya.

 

Q: Ini berarti Anda juga bisa mengencani orang lain…

A: Betul. Kadang lebih dari sekadar kencan, if you know what I mean (tersenyum).

 

Q: Tapi kalian mempublikasikan pada orang lain kalau kalian ini pacaran?

A: Oh tentu saja! Kami juga dekat dengan keluarga masing-masing. Kami adalah partner yang ideal dalam banyak hal. Kami memilih untuk tidak ‘monogami’, itu saja.

 

Q: Mengapa?

A: Karena kami tahu itu sulit, terutama dengan pekerjaan seperti kami. Kami bekerja di industri dengan tingkat stres tinggi, begadang semalaman karena deadline yang tak pernah berhenti. Hal-hal ini memberi tantangan tersendiri untuk hubungan kami.

 

Q:  Apakah Anda saling memberitahu siapa orang lain yang Anda kencani?

A: Well, kami memilih untuk tidak melakukannya. Tapi Anda tidak bisa menyembunyikan hal ini selamanya, you know? Saya pernah pergi ke bioskop dengan teman-teman saya, dan saat saya menaiki tangga menuju kursi saya, saya melihatnya mencium perempuan lain.

 

Q: Did it hurt?

A: Of course it did.

 

Q: Anda berdua pernah mencoba menghentikannya? Mencoba monogami?

A: Kami mencoba committed relationship sebelum ini. Been there, done that, dan tidak berhasil. Saya memilih untuk melakukan ini dan memilikinya sebagai pasangan selamanya, daripada berkomitmen, kemudian kami bertengkar dan saya kehilangan dia. Ia adalah laki-laki, partner, dan sahabat terbaik yang pernah saya miliki.

 

Q: Apakah Anda tidak khawatir kalau ia akan menemukan perempuan lain dari kencan-kencan ini, dan ada kemungkinan ia akan meninggalkan Anda?

A: Tentu saja. Tapi itulah mengapa saya juga melakukan hal yang sama, bukan?

 

***

 

Perempuan #3

41 tahun, fotografer, menikah 11 tahun.

 

Q: Jadi Anda dan suami sudah pernah melakukan threesome?

A: Betul.

 

Q: Yang menjadi pihak ketiganya, laki-laki atau perempuan?

A: Baiknya saya menjaga bagian ini tetap privat. Maaf.

 

Q: Tidak apa-apa. Tapi kabarnya Anda hanya melakukan ini sekali?

A: Betul. Saya tidak bisa melakukannya lagi.

 

Q: Mengapa? Yang terjadi tidak sesuai dengan bayangan Anda?

A: Sebetulnya semua itu sangat… sensual. Hot. Sesuatu yang baru, sesuatu yang kami berdua butuhkan. Kalau Anda sudah menikah lama, Anda perlu sesuatu yang inventif. Dan satu hal yang pasti, suami saya sangat menikmatinya.

 

Q: Lalu apa yang terjadi?

A: Ternyata saya tidak suka fakta kalau suami saya menikmatinya. Melihatnya mencium orang lain, disentuh dan menyentuh orang lain, melakukan hal-hal yang tadinya hanya ia lakukan pada saya kemudian ia lakukan pada orang lain, membuat saya seperti dikhianati. I felt I was cheated.

 

Q: Padahal Anda setuju untuk melakukan ini.

A: Ya (tersenyum). I am not so sexually liberal, after all.

 

Q: Bagaimana hubungan Anda dengan suami setelah itu?

A: Seperti yang saya bilang tadi, karena saya merasa dikhianati, saya tak bisa tidur di satu ranjang yang sama dengannya setelah itu. Berbulan-bulan. Kami baik-baik saja sekarang, dan kami setuju kalau itu (threesome) adalah sebuah keputusan yang buruk dan kami tak akan pernah mengulanginya lagi. Tapi ini bukan hal yang bisa Anda undo begitu saja, you know? Kepala saya tak bisa menghapus ingatan di mana suami saya melakukan hal itu dengan orang lain, meski kejadian itu sudah lewat bertahun-tahun. It sucks, but I have to accept it and move on.

 

TEXT: Pamela Pollak

Comments

Share this article: