Seni Leadership Menurut ‎CEO Dwi Sapta Group, Maya Watono

The art to drive the team.

Sebagai second generation pada perusahaan agensi yang nyaris berdiri selama 35 tahun, Maya Carolina Watono sendiri mengakui bahwa ia belajar banyak dari sang ayah yang merupakan founder Dwi Sapta Group, Adji Watono. Akan tetapi perempuan lulusan The University of Western Australia ini mengakui bahwa ia dan sang ayah tentunya memiliki beberapa perbedaan pada gaya kepemimpinan. “Sedikit banyak tipe kepemimpinan saya memang memiliki persamaan dengan pak Adji, di mana nilai-nilai yang telah ia tanamkan sejak awal saya ambil dan menjadi akar bagi kepemimpinan saya seperti faktor kekeluargaan, excellent service to client yang tetap dijaga hingga saat ini. Tetapi berbicara perbedaannya, saya tipe yang attention to detail sedangkan Pak Adji lebih memikirkan big picture dan vision dalam perusahaan.”

 Menjadi seorang CEO tentu bukan perkara mudah bagi Maya, mengingat perusahaannya bekerja di bidang yang sangat wild dalam wujud kreativitas yang dipadu dengan basis intregrated marketing communication yang lengkap di dalamnya. Namun tidak lantas pula ia dengan ringannya menyandang nama Watono semudah yang Anda bayangkan. “Saya selalu menganggap leader adalah jendralnya dalam sebuah tim. Jika terjadi sesuatu dengan anak buahnya maka ia harus berani bertanggung jawab, sekaligus berani berbuat dan juga set a good example bagi semua orang di dalamnya,” ujar Maya.

Dwi Sapta sendiri saat ini tumbuh dengan sembilan buah anak perusahaan dan memiliki karyawan sekitar 500 orang, jika dilihat dari angka tersebut tentu bukan perkara mudah bagi Maya untuk memimpin jalannya perusahaan dengan karyawan yang heterogen ditambah juga jumlah divisi yang cukup besar. Menurut Maya ada empat hal yang menjadi fokus bagi pola kepemimpinannya di Dwi Sapta Group, yaitu set a good example bagi para karyawannya, fokus menjaga teamwork yang ada, commitment to excellent, serta bekerja dalam integritas yang tinggi.

Berhasil membawa Dwi Sapta menjadi Indonesia Agency of The Year tahun 2015 versi majalah MIX  sebagai salah satu diantara banyak prestasi lainnya, Maya juga mengaku bahwa tantangan terbesarnya adalah membuat semua orang yang bekerja di Dwi Sapta happy bekerja di dalamnya. “Challenge-nya adalah makes everybody happy sehingga mereka bekerja dengan totalitas dan juga tetap achieve target dan goal. Harus diakui untuk mengintergrasikan hal itu, tidaklah mudah karena masing-masing orang berbeda pemikiran dan juga objektivitas.” Lantas bagaimana sebagai seorang leader dalam menerima kebijakan yang dibuatnya tidak membawa hal yang memuaskan bagi para karyawannya? “Saya pribadi merasa keputusan dari pemimpin tidak harus disukai oleh banyak pihak, tetapi yang pasti di sini setiap keputusan sudah mempertimbangkannya impact-nya untuk jangka short term, mid term, dan long term. Sehingga setiap keputusan muncul karena ada alasan yang kuat dan yang terpenting saya akan selalu berkomitmen untuk menjalankannya agar tercipta trust satu sama lain.

Dengan konsistensi yang selalu terjaga serta mengasah nilai-nilai yang berlaku dalam perusahaan, Maya sendiri mengakui bahwa proses learning dan involving dengan anggota tim sangat dibutuhkan agar semua orang memiliki visi dan misi yang sama.  “Lini bisnis di sini banyak dengan divisi yang beragam. Tetapi yang selalu saya pegang adalah bagaimana mendorong seluruh tim juga kita harus selalu ingat the end goal and result dari Dwi Sapta di mana one team one goal. Pintu saya selalu terbuka untuk berdiskusi sehingga suatu issue bisa cepat ditangani melalui open discussion sebagai bagian dari support system, dengan tidak melupakan apa saja reward-nya sehingga semua orang tetap termotivasi mencapai goal.”

 Di tahun 2014 silam, Dwi Sapta Group mencapai angka 13% dari target bisnis yang telah dicanangkan sebesar 15%, meski belanja iklan media mengalami pergeseran yang cukup berarti. Disinggung hal tersebut, Maya sendiri optimis mengenai pencapaiannya bisnisnya bersama para tim di tahun 2016 dengan target growth 15%. “Tetapi Indikator kesuksesan Dwi Sapta sendiri bukan hanya pertumbuhan yang terus bertambah, tetapi juga reputasi terjaga dan terintegritas pada seluruh lininya. Apa artinya sustainable growth tanpa adanya professionalisme?”

 

TEXT: Giovani Untari

PHOTOGRAPHY: Herry Ananta

STYLING: Elvira Sundari

DRESS & BLAZER: Carven

 

Comments

Share this article: