Ketika Najwa Shihab Bertemu Desi Anwar

ELLE Indonesia Interview Najwa Shihab Desi Anwar

Kutipan “Whoever controls the media, controls the mind” menggambarkan besarnya pengaruh peran media dan jurnalis. ELLE Indonesia duduk bersama Desi Anwar dan Najwa Shihab serta menyimak inspirasi dari kedua jurnalis senior Indonesia tersebut.

Najwa Shihab mendirikan perusahaan media Narasi TV pada akhir tahun 2017, setelah 17 tahun berkarier sebagai jurnalis. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Melbourne Law School ini memulai perjalanannya dengan menjadi karyawan magang di RCTI. Melanjutkan karier di stasiun Metro TV, Najwa melalui banyak proses kerja hingga memiliki program Mata Najwa di mana ia menjadi produser dan pembawa acara tersebut.

Sementara itu, wartawan senior Desi Anwar kini menduduki posisi Director di CNN Indonesia dan membawakan program harian ‘Insight with Desi Anwar’. Sebelumnya, Desi Anwar berkarier di Metro TV dengan berbagai program acara seperti ‘Face 2 Face with Desi Anwar’, ‘TeaTime with Desi Anwar’, dan ‘Economic Challenges’.

Desi turut menjadi kolumnis untuk Majalah Tempo, koran The Jakarta Globe, dan surat kabar The Jakarta Post. Ia memulai karier sejak tahun 1990 sebagai reporter di RCTI. Desi Anwar juga mendirikan portal berita online Astaga.com dan telah menerbitkan buku-buku bertema fotografi dan travelling.

 

Kedua wartawan ini bertemu pada satu lokasi. Telah saling mengenal dan bersahabat sejak lama, tidak perlu berbasa-basi, Najwa Shihab dan Desi Anwar saling menyapa ramah kemudian berdiskusi soal profesi jurnalis dan perjalanan masing-masing di industri media.

Elle indonesia interview najwa shihab desi anwar

Najwa: Mengapa Mbak Desi memilih bekerja di media?

Desi: Sepertinya nasib menempatkan saya di sini selama hampir 30 tahun. Saat itu usia saya 26 tahun dan sudah mulai menulis untuk media The Jakarta Post. Teman saya bilang, ada stasiun televisi baru hendak diluncurkan. Tahun 1990, RCTI masih tayang hanya di Jakarta. Pertama kali di RCTI, saya diajak bergabung di program Seputar Jakarta. Judulnya ‘Seputar Jakarta’ karena waktu itu hanya TVRI yang boleh menayangkan berita. Saat itu kita semua enggak ada yang punya pengalaman jurnalistik. Zaman orde baru,  media di Indonesia didominasi TVRI saat itu lebih kepada corong pemerintah. RCTI kemudian berkembang menjadi televisi nasional. Mereka yang jenuh dengan tayangan-tayangan berita di TVRI, menemukan kesenangan baru dengan nonton RCTI. Bisa dibiang karier saya tumbuh bersama perkembangan stasiun televisi RCTI dan industri pers di Indonesia.

Desi: Najwa mengapa memilih kerja di media, padahal lulusan Fakultas Hukum?

Najwa: Pertama kali saya jadi wartawan ketika magang di RCTI, mbak Desi mentornya waktu saya pelatihan di RCTI. Hari pertama saya bekerja sebagai wartawan televisi, saya langsung yakin, I think I found my passion. Saya waktu itu semester akhir FHUI. Waktu magang niatnya benar-benar hanya sekadar mengisi waktu luang. Tapi justru di hari pertama saya belajar menjadi wartawan, tidak butuh waktu lama untuk jatuh cinta pada profesi wartawan. Keseruan ketika mengejar narasumber, bahkan saat-saat menunggu yang mungkin bagi sebagian wartawan terasa membosankan. 18 tahun kemudian, saya masih merasakan kesenangan yang sama. Saya sungguh mencintai pekerjaan ini.

Najwa: Mbak Desi menjadi wartawan sejak tahun 1990, zaman di mana pemberitaan dan media sosial belum seramai ini. Bagaimana Anda sebagai wartawan bergerak mengikuti zaman?

Desi: Dalam berbagai zaman, jurnalis harus berada di barisan terdepan. Karena itu, wartawan harus selalu menjaga relevansi. Termasuk dengan media sosial dan internet. Maraknya media sosial bisa jadi bikin banyak orang meninggalkan televisi dan majalah. Meskipun mungkin benar, sebagai wartawan kita harus selalu menjaga kredibilitas. Semua orang bisa punya stasiun televisi dan bikin majalah sendiri. Namun dengan maraknya kebohongan berita palsu, saya yakin masyarakat akan selalu membutuhkan pers. Di CNN Indonesia misalnya, kita tidak bisa mengambil gambar atau berita dari twitter, facebook, atau instagram, tanpa mengetahui keakuratannya. Semua sumber berita harus bisa dilacak. Wartawan pasti selalu dibutuhkan karena kita senantiasa menyajikan berita yang akurat, kredibel, dan mengikuti kaidah jurnalistik.

Najwa: That’s the core of jurnalistic. Apapun bentuk mediumnya dan zamannya berganti, kita wartawan sebagai pencari kebenaran akan selalu berpegang pada aturan-aturan yang sama.

Desi: Ya, itu sangat dibutuhkan di tengah maraknya platform-platform yang tidak bertanggung jawab. Mungkin orang merasa prinsip ini tidak penting, apalagi mereka media-media yang menunjukkan keberpihakan politik. Semua pada akhirnya kembali ke publik, mereka yang memilih medianya masing-masing.

Najwa: Anda memberitakan banyak topik sepanjang karier. Jika boleh memilih, topik mana yang paling Anda nikmati?

Dulu saat masih di RCTI, saya suka berita-berita politik. Di Metro TV, mulai tertarik ekonomi karena politik dan ekonomi saling berkaitan. Well, sejak reformasi 20 tahun, yang dibutuhkan Indonesia yakni cara berpikir masyarakat yang mesti berubah. Revolusi mental memang penting. Sebab jika tidak, maka sulit negeri ini maju dan kuat. Belakangan, saya senang menemui orang-orang kreatif yang inspiratif dan produktif. Bukan hanya mengonsumsi, mereka juga mampu memproduksi. Punya ide-ide cemerlang dan mau kerja keras untuk mencapai keinginannya.

Elle indonesia interview Najwa Shihab Desi Anwar

Najwa: Apa syarat mutlak untuk menjadi jurnalis?

Desi: Jurnalis yakni mereka yang bekerja di media dan memberitakan apa yang terjadi secara akurat, berimbang, dan kredibel. Profesi jurnalis merupakan pekerjaan yang punya beban tanggung jawab. Wartawan harus punya rasa ingin tahu yang tinggi. Ketidakpedulian tidak mungkin bisa bertahan pada jalur jurnalisme. Peduli isu lingkungan, peduli masalah sosial, peduli persoalan ekonomi, peduli mengenai politik, peduli pada masalah internasional. Jadi mau tidak mau, wartawan pun harus suka baca. Jika tidak suka baca, profesi ini menjadi sangat sulit dijalani. Bukan hanya baca apa yang ada di twitter dan instagram, tapi baca buku-buku dan jurnal penelitian. Baca buku fiksi, novel, politik, hukum, ekonomi, semuanya harus dibaca demi kekayaan pengetahuan seorang jurnalis. Sehingga, aset paling penting seorang wartawan bukan penampilan menarik, entah cantik atau tampan, tapi apa yang ada di dalam kepala.

Desi: Najwa juga banyak mewawancarai orang. Siapa narasumber yang paling punya kesan baik?

Najwa: Saya banyak mewawancarai politisi dan pejabat negara. Misalnya Pak Jokowi. Dari mulai beliau jadi Walikota Solo, mencalonkan diri jadi Gubernur, ketika jadi gubernur, mencalonkan diri jadi presiden, dan jadi presiden. Jadi sebetulnya, tidak selalu orangnya tapi momennya pun menjadi berkesan. Saya ingat waktu saya wawancara Pak Boediono, Wakil Presiden Republik Indonesia. Saat itu pak Boediono ramai dibicarakan karena namanya disebut-sebut dalam surat dakwaan kasus Bank Century. Saya banyak cari caraagar beliau mau diwawancara. Menunggunya sampai satu tahun lebih. Cukup tertantang karena beliau sangat pendiam dan memang tidak terlalu terbuka kepada wartawan. Saking sulitnya wawancara beliau, saya sampai haus melulu sepanjang wawancara. Hahaha! Pada akhir wawancara di luar studio, beliau bilang, “Thank you Najwa. May I hug you?” lalu beliau memeluk saya. Sepertinya beliau lega karena ada tempat untuk mencurahkan perasaannya di tengah kasus Bank Century. Saya juga mewawancarai Pak Habibie ketika beliau sedang bersedih ditinggal istrinya meninggal. Saat itu lebih kepada curhat dibanding wawancara. Di luar ranah politik, saya sangat ingat momen mewawancarai orangtua Ade Sara, mahasiswi Jakarta yang disiksa dan dibunuh pacarnya. Saya tidak bisa lupa bagaimana saya menyaksikan orangtua yang memaafkan pembunuh anaknya. Yang juga saya ingat adalah mewawancarai penderita HIV Aids yang berjuang bertahan hidup demi anak-anaknya. Saya beruntung bisa mewawancarai banyak orang dalam berbagai situasi. Tidak melulu pejabat negara atau politisi, tapi juga orang-orang biasa dengankisah luar biasa.

Desi: Dari acara Mata Najwa, konon publik mengenal Najwa tegas dan tajam saat bertanya. Seberapa jauh Anda berani dalam bertanya kepada narasumber?

Najwa: Jika ke pejabat publik, saya berani untuk bertanya apapun asal pertanyaannya memang urusan publik. Urusan publik itu urusan kita, artinya urusan saya dan urusan penonton. Dan di situsayabertugas mewakili pemirsa untuk bertanya mengenai kinerja mereka. Karena itu harusrisetsebelum wawancara. Periksa semuarekam jejaknya, apa yang pernah dia katakan pada kasus yang sama. Wartawan bertugas menguji keakuratan pernyataan narasumber. Itulah sebabnya saya suka mencecar banyak pertanyaan, lalu balik bertanya, dan beradu argumen. Semuanya demi menguji seberapa jauh kebenaran pernyataan narasumber.

Desi: Jurnalis bergerak sangat cepat dengan tingkat stress yang tinggi. Mungkin karena itu, jurnalis sering kali lupa untuk merefleksi, apa yang sebenarnya kita cari dari pekerjaan ini. Apa yang memotivasi Najwa dalam profesi jurnalis?

Najwa: Dunia selalu berubah dan saya begitu antusias pada perubahan-perubahan. Sebagai jurnalis, saya ingin berada di tengah-tengah perubahan. Bagaimana secara kreatif mengolah berita penting menjadi menarik untuk publik. Saya semakin bersemangat untuk menjangkau lebih banyak orang di saat kini nyaris semua orang terhubung dengan dunia digital. Saya yakin, semua jurnalis luar biasa senang jika karyanya berdampak dan berpengaruh pada banyak orang .

Desi: Dalam perkembangannya, tanpa adanya industri media dan peran jurnalis, saya yakin tidak mungkin ada reformasi dan demokrasi di Indonesia. Media berada pada posisi kuat yang mampu mengubah perspektif dan keinginan seseorang. Pengetahuan yang disajikan para jurnalis menjadi informasi yang menentukan tingkah laku dan pilihan-pilihan masyarakat. Najwa betul. Dengan kekuasaan yang dimiliki media, kita harus secerdas mungkin menjadi jurnalis yang objektif, independen, dan menunjukkan keberpihakan pada kepentingan publik. Saya menyadari sulitnya menjadi netral di tengah banyak kepentingan, kepentingan pemilik media dan pengiklan. Namun, seorang jurnalis sepatutnya memihak masyarakat luas, berpihak pada kebenaran, dan membela mereka yang tertindas.

(Artikel selengkapnya dapat dibaca dalam majalah ELLE Indonesia edisi Mei 2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *