Bagaimana Menanggapi Body Shamming?

body shamming

Bentuk tubuh masing-masing orang bukanlah suatu kelemahan yang perlu dijadikan kambing hitam. MELUR PINILIH menyikapi persoalan body shamming secara bijak.

Asas body-shaming yang sejak dulu diseru seolah belum tabu. Sebab, disadari maupun tidak, identitas manusia sebagai individu tidak selalu terbentuk atas dasar pilihannya sendiri. Penilaian orang luar acap kali andil dalam soal ini. Targetnya? Meski perempuan cenderung lebih sensitif, tak jarang kaum lelaki pun ikut terseret sebagai sasaran.

Candice Swanepoel, salah satu Victoria’s Secret Angels, belum lama mendapatkan body shamming setelah potretnya yang berbikini di pantai terunggah bebas ke media sosial. Kebetulan, di foto tersebut menunjukkan perutnya yang tampak lebih buncit. Meski hal tersebut wajar, mengingat ia baru saja melahirkan putra kedua tak sampaidua pekan  sebelum foto diambil. Namun, beberapa netizen rupanya masih berkomentar miring. Gusar dengan respon tersebut, ia pun menanggapi cukup tegas.

Dengan lantang, ia membela harkat dirinya (dan juga kaum perempuan pada umumnya) dengan mempublikasikan foto dirinya yang tengah hamil besar. Tertulis di caption-nya: “Jika kalian semua mau berpendapat negatif soal foto saya yang diambil 12 hari sesudah saya melahirkan, cobalah untuk berintrospeksi. Komunitas kita bisa menjadi sangat kejam satu sama lainnya. Dewasa ini, standar kecantikan terhadap perempuan sungguh mustahil (untuk dituruti). Namun, saya tak sungkan memamerkan perut yang telah mengandung seorang anak selama sembilan bulan. Saya malah bangga! Saya tidak harus menyembunyikan perut saya hanya karena orang-orang memiliki standar tertentu yang tidak lagi realistis terhadap para perempuan. Kami mampu meneruskan sebuah kehidupan (di dalam perut ini). Apa yang kamu bisa lakukan? Kepada para perempuan di luar sana, marilah saling mendukung!”

Klaim seperti “tembam” dan “gendut” sekilas terdengar seperti hal yang lumrah karena dogma yang mengidolakan figur ramping. Jadi, orang dengan tubuh kurang langsing otomatis tersisih (karena terlihat tak mematuhi apa yang kian diidolakan massa). Perasaan terisolasi bukan mustahil menjadi salah satu dampaknya, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Cepat atau lambat mungkin saja akan mengundang sindiran tak enak. Padahal, tiada seorang pun berhak melekatkan label pada seseorang lain. Apalagi jika cap tersebut dibuat-buat berdasarkan angka pada timbangan.

Bentuk tubuh masing-masing orang bukanlah suatu kelemahan yang perlu dijadikan kambing hitam. Hal tersebut adalah perbedaan yang lumrah, dan akan selalu ada. Layaknya gen yang tidak mungkin sama persis, bahkan pada kembar identik sekalipun. Siluet tubuh setiap individu pasti bervariasi dan mustahil disamaratakan. Meskipun terdengar klise, tapi perasaan nyaman terhadap tubuh masing-masing jauh lebih penting daripada hanya sekadar opini yang sifatnya tentu sangat subjektif.

Lalu, pertanyaan besarnya kemudian, apa yang terbaik bisa kita lakukan untuk ‘membalas’ pandangan body shamming?

body shamming

Mulai Prinsip Baru

Setelah Anda bisa lebih menghargai apa yang Anda miliki, selanjutnya penting untuk Anda ‘bercermin’ alias mengevaluasi diri. Coba tanyakan kembali apakah Anda betul-betul sudah berada di kondisi terbaik? Bukan lantaran apa yang orang lain tuntut terhadap Anda. Tapi lebih kepada agenda pribadi demi menjaga kesehatan jiwa dan raga. Apakah Anda sudah melakukan segenap upaya untuk hidup lebih sehat, yang murni dari diri dan untuk Anda sendiri? Sebab siapa tahu, selama ini Anda banyak mempraktikkan pola hidup yang kurang sehat baik secara sadar maupun tidak.

Disiplin Gaya Hidup

Dari sekian banyak misi  menjaga pola hidup sehat, menyempatkan untuk berolahraga adalah upaya yang harus diutamakan. Olah tubuh di sini bukan semata-mata dilakukan untuk meraih tubuh kurus. Tetapi dalam rangka menerapkan gaya hidup yang lebih sehat. Jika Anda berolahraga hanya demi memuaskan orang lain, hasilnya tak akan sebaik bila melakukannya demi kesejahteraan tubuh sendiri.

Menurut sebuah jurnal yang diterbitkan oleh Harvard Medical School, sesingkat apa pun latihan yang Anda lakukan sebenarnya masih lebih baik daripada sama sekali tidak. Jika tak sempat pergi ke pusat kebugaran, minimal Anda bisa melakukan jalan cepat selama 10 menit selama beberapa kali dalam sepekan. Tingkatkan terus durasi dan frekuensinya, sampai Anda cukup terbiasa untuk menjalaninya sebagai aktivitas rutin. Setelah terbiasa, disiplin melakukannya selama 30-60 menit setiap harinya.

Berolahraga secara berkala dapat meningkatkan stamina sekaligus mencegah munculnya berbagai macam penyakit. Alhasil, tubuh lebih sehat. Sebagai bonus, aktivitas olah tubuh juga bisa menjadikan tidur malam Anda lebih nyenyak. Istirahat cukup dan berkualitas adalah kunci dari manajemen stres agar hidup lebih bahagia. Perlu diingat, jangan sampai Anda hanya menjalankan gaya hidup yang statis atau lamban dari hari ke harinya. Misal, melewatkan nyaris seharian penuh dengan hanya duduk di depan komputer.

Timbang Asupan Tubuh

Atur kualitas menu harian Anda sehingga gizi yang diraih juga lebih seimbang. Cara ini lebih baik daripada susah payah mengurangi porsi atau frekuensi makan dan berujung kelaparan atau lebih buruk lagi “balas dendam”. Langkah pertama menyusun pola makan sehat: kurangi garam. Adapun jumlah konsumsi garam yang disarankan sebenarnya tak lebih dari satu sendok teh setiap hari.

Langkah kedua, Anda pun diizinkan menambah frekuensi makan hingga lima kali sehari. Tidak, Anda tidak salah membaca. Hanya dengan satu catatan untuk selalu diingat: rancang porsi makan yang lebih kecil. Trik ini masih lebih baik daripada makan tiga kali sehari dengan porsi melimpah.

Ketiga, jangan lupakan takaran gizi di dalamnya. Saat mengatur asupan dan pola makan, peran protein penting bagi tubuh Anda. Sebisa mungkin, utamakan sumber protein seperti ikan daripada daging merah. Saat memakan ayam, pilih bagian dada yang relatif lebih rendah lemak. Sebagai alternatif, Anda juga bisa mengonsumsi versi nabatinya seperti kedelai dari tahu dan tempe.

Keempat spesial untuk Anda yang biasa ngemil sore, substitusi keripik kentang yang biasa dimakan dan berbumbu MSG dengan kacang-kacangan ataupun popcorn yang disajikan tanpa adisi gula maupun garam.

Setelah protein di dapat, langkah kelima adalah perhatikan kesehatan pencernaan Anda. Perbanyak serat sebagai asupan sehari-hari. Di samping mengasup banyak sayur dan buah, Anda bisa mendapatkannya dari gandum utuh (atau sering disebut pula dengan whole wheat). Kini, bahan tersebut sudah banyak diolah menjadi roti, pasta, cereal, kue, dan lain sebagainya. Guna lebih melancarkan pencernaan, ada baiknya pula untuk mengganti nasi putih dengan nasi merah atau oatmeal.

Dalam satu hari, usahakan untuk mengonsumsi beberapa jenis buah yang berlainan warna (misalnya saja apel, pir, dan jeruk) dan minimal segelas sayur mentah (namun bisa diganti dengan sekitar dua gelas sayuran hijau). Ingin tahu cara mudah untuk makan sayuran (dan buah) lebih banyak? Just drink it! Masukkan saja sayur yang ada di dalam kulkas ke blender dan buat sebagai jus. Beberapa resep simpel yang bisa Anda jajal di rumah adalah kombinasi wortel dan tomat. Atau, lumatkan sayur kale dengan campuran sari buah mangga untuk cita rasa yang lebih lezat.

Jika Anda masih merasa sukar atau enggan mengganti menu sehari-hari dengan lebih bernutrisi, setidaknya kurangi asupan yang kurang sehat. Sebagai contoh, Anda dapat membatasi konsumsi minuman bersoda dengan kandungan gula tinggi. Pertimbangkan ini sebagai langkah keenam yang sangat mudah. Misalnya, ganti minuman dengan teh hijau yang bisa membantu melancarkan metabolisme. Selanjutnya, stop meneguk alkohol yang tinggi kalori seperti bir maupun anggur. Last but not least, hindari makanan yang diolah dengan cara digoreng.

Bangun Paradigma Positif

Sebuah studi oleh University College London menjelaskan bahwa diskriminasi soal berat badan tidak akan memotivasi seseorang secara positif. Malah rentan mengakibatkan penurunan kesehatan baik secara fisik maupun psikis. Hasil riset yang ada menunjukkan bahwa individu yang mengalami fat-shaming dari lingkungan sekitarnya justru mendapati angka timbangan yang terus naik. Penyebabnya? Bisa jadi karena tekanan emosional yang memicu hormon kortisol. Hal ini membuat nafsu makan pun lebih besar daripada biasanya. Inilah mengapa Anda harus mampu mengendalikan apa pun yang berpotensi memicu kemunculan stres.

Caranya, dengan selalu berpikir positif. Agar dapat senantiasa positif, hindari sikap defensif sebisa mungkin. Sadari dan pahami bahwa pasti ada hal-hal tertentu dalam hidup ini yang berada di luar kendali dan tidak bisa Anda ubah begitu saja. Pandanglah setiap jengkal dalam kehidupan Anda sebagai sebuah anugerah yang patut disyukuri karena hidup tak datang dua kali.

Jika Anda merasa mengalami tekanan psikologis, meski sekecil apa pun, tak ada salahnya untuk mencari dukungan dari keluarga dan teman-teman terdekat. Ceritakan perasaan Anda terhadap problematika yang sedang dialami. Baik untuk menanyakan pendapat mereka atau sekadar bercerita supaya hati terasa lebih lega. Dan bila memang perlu, jangan sungkan mencari dukungan dari tenaga profesional, seperti psikolog, yang cukup fleksibel untuk bisa diajak berdiskusi.

 

Dengan melakukan hal-hal simpel tersebut di atas untuk kemudian secara bertahap menjadikannya sebuah kebiasaan, Anda bisa “berdiet” dalam arti menerapkan gaya hidup sehat lahir dan batin, tanpa harus merasa terpaksa ataupun berupaya keras. Saat nantinya Anda merasa nyaman dan menjadi satu kesatuan yang utuh dengan jiwa raga pribadi, saat itulah kepercayaan diri yang sebenarnya tercapai.

Pada akhirnya, Anda tak perlu lagi terlampau terbebani akan apa yang orang lain pikirkan tentang diri Anda. Yang paling penting, Anda sehat luar dalam. And that’s all that matters!

 

(images Istockphoto text MELUR PINILIH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.