Burkini Bukan Antitesis Bikini

burkini

Penggunaan bikini memang tidak dilarang secara hukum di Indonesia. Namun, norma sosial seolah memberikan batasan-batasan yang buat perempuan merasa harus memenuhi standar tertentu untuk dapat berbikini. Chekka Riesca meresapi.

Memilih baju renang memiliki sekelumit tantangannya tersendiri bagi perempuan Indonesia. Selain komentar-komentar body shaming yang kerap terdengar lumrah dilontarkan, idealisme wujud bikini body pun cenderung menjadi patokan untuk menghakimi siluet tubuh perempuan yang variatif. Alhasil, terminologi bikini body bagai memenjara kaum perempuan dalam dikotomi bentuk tubuh yang ‘layak memakai bikini’, dan yang dianggap ‘kurang sedap dipandang’ jika memakai bikini.

Spirit body positivity menegasi pandangan konservatif: bahwa bikini hanya milik perempuan-perempuan bertubuh langsing layaknya model Victoria’s Secret, perempuan bertubuh kencang dan seksi, seperti gadis-gadis di halaman Sports Illustrated. Di saat supermodel plus size Ashley Graham gencar mengampanyekan body positivity dan menggandeng produsen beachwear untuk melansir bikini dalam cakupan ukuran yang luas, perempuan yang tidak memiliki perut serata papan cuci masih dianggap tidak pantas untuk mengenakan bikini ke area publik.

bikini body

Tujuh dekade berlalu sejak bikini pertama kali diciptakan (pada era ’30-an, ketika model baju renang two-piece yang memamerkan bagian perut atas menjadi sangat populer). Selama itu pula, perempuan masih harus terjebak dalam sejumlah perdebatan tentang apa yang boleh dikenakan saat pergi ke pantai atau melakukan aktivitas air? Groundbreaking.

Sesungguhnya, menurut saya pribadi, yang utama adalah rasa percaya diri. Memiliki tubuh besar sekali pun, penggunaan bikini akan nampak ideal bila mana dibalut dengan rasa percaya diri yang relaks – kelak menyampaikan pesan tersirat pada publik bahwa “Ini tubuh saya dan ini lah bikini body menurut saya.” Karenanya, saya kerap menantang diri untuk berhenti menghakimi bentuk tubuh sendiri (dan orang lain), serta dapat tampil nyaman dengan bentuk tubuh yang apa adanya. Owning yourself no matter what you wear, is the key.

Persoalan baju renang perempuan tidak berhenti sampai di problem larangan mengenakan bikini di wilayah-wilayah tertentu atau masalah perdebatan bikini body saja. Bagi perempuan yang menerapkan pendekatan berbusana yang sopan atau “modest” turut memiliki polemik tersendiri ketika memilih model baju renang. Seorang kawan pemakai hijab sempat bercerita betapa tidak menyenangkannya pergi ke kolam renang publik maupun pantai mengenakan baju senam, atau perpaduan legging dan kaus panjang lengkap dengan penutup kepala (yang tak kalah panjang) berbahan katun.

“Pada dasarnya, pakaian tersebut tidak diciptakan untuk berenang sehingga material yang digunakan juga tidak sesuai untuk aktivitas di air. Bayangkan, betapa tidak praktisnya berpakaian seperti itu di pantai atau di kolam renang hanya karena (ketika itu) tidak ada opsi baju renang modest untuk perempuan berhijab,” jelas Indi yang terpaksa berhenti berenang hingga burkini masuk ke pasar Indonesia.

Memaknai Burkini

Burkini pertama kali diperkenalkan oleh Aheda Zanetti pada tahun 2004. Zanetti tergerak untuk menciptakan baju renang yang sesuai dengan kaidah modesty, sebagaimana diatur oleh hukum Islam, seiring perkembangan isu kaidah baju renang perempuan. Model baju renang ini dirancang menutupi hampir seluruh bagian tubuh, kecuali wajah. Mulai dari ujung tangan ke ujung kaki, lalu dikonstruksikan dengan menggunakan material yang ringan dan nyaman layaknya sportswear pada umumnya.

Kendati burkini terlahir atas standar modesty menurut ajaran agama Islam, namun bukan berarti model ini eksklusif milik komunitas Muslim saja. Aheda Zanetti mendedikasikan desainnya bagi semua perempuan penganut gaya berbusana modest terlepas dari apa pun kepercayaan mereka. Burkini juga menjadi jawaban bagi perempuan penderita kanker kulit serta perempuan yang memilih untuk tidak mengenakan bikini. Ini adalah sebuah solusi membebaskan para perempuan untuk memilih model baju renang yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi pribadinya, dan tidak menjadi simbol agama tertentu.

Persoalan kembali muncul ketika otoritas menetapkan larangan mengenakan burkini hanya berlandaskan stereotype dan ketakutan irasional terhadap satu golongan agama. Pada tahun 2016, sejumlah pemerintah kota di Prancis memberlakukan larangan memakai burkini dan peraturan ini turut diadopsi oleh segelintir negara-negara di Eropa. Perempuan kembali terbentur oleh peraturan diskriminatif yang membatasi ruang gerak mereka—termasuk apa yang (boleh) mereka kenakan. Di saat burkini dicetuskan sebagai solusi pembebasan bagi kaum perempuan modest untuk melakukan olahraga air, ironisnya mereka masih harus berhadapan dengan peraturan konyol yang mencoba merenggut kebebasan mereka sebagai individu yang merdeka.

Drama tidak berhenti sampai di situ saja, karena masih banyak juga komentar-komentar yang merendahkan para pemakai burkini. Ejekan seperti “teroris” maupun “badut” kerap dilontarkan. Bahkan tak jarang burkini juga dijadikan sebagai lelucon terhadap mereka yang tidak memiliki bikini body. Padahal kendati keduanya memang sangat kontradiktif dari segi desain, burkini tidak terlahir sebagai antitesis bikini. Keduanya adalah produk yang diciptakan untuk menjawab kebutuhan perempuan yang berbeda-beda, sekaligus memberikan kebebasan untuk mengenakan apa pun yang ingin mereka pakai.

“Sesungguhnya, menarik ketika orang sibuk berkomentar bahwa perempuan berhijab tidak boleh berbikini. Tahukah kamu apa yang kami kenakan di balik balutan burkini? Sepasang bikini,” ujar Indi dengan gaya acuh tak acuh seraya merapikan kain hijabnya.

(Photo: GETTYIMAGES, IMAXTREE)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *