Menelusuri Jejak Historis Louis Vuitton di Asnières.

Rumah keluarga dan atelier Louis Vuitton di Asnières menjadi situs istimewa rumah mode asal Prancis tersebut hingga hari ini. Simak pula wawancara eksklusif ELLE dengan Benoit-Louis Vuitton, anggota keluarga Louis Vuitton generasi keenam.

Meski kota Paris dikenal begitu berperan dalam sejarah panjang rumah mode Louis Vuitton, komune Asnières di barat laut kota Paris dinilai tak kalah penting. Sebab di tempat inilah Louis Vuitton mendirikan atelier miliknya pada tahun 1859, lima tahun sejak mendirikan label Louis Vuitton. Terletak di tepi sungai Seine, lokasi ini begitu strategis untuk mempermudah proses pengiriman bahan baku—termasuk kayu poplar, materi utama trunktrunk ikonis Louis Vuitton. Selain itu, salah satu jalur kereta api pertama di Prancis turut melewati Asnières, menuju Gare Saint-Lazare, yang terletak tak jauh dari toko pertama Louis Vuitton di Paris.

Lukisan Louis Vuitton muda.

Tak butuh lama bagi Asnières untuk menjadi jantung savoir-faire Louis Vuitton, menjadi tempat kelahiran begitu banyak trunk, koper, dan pesanan khusus lainnya untuk dikirimkan ke seluruh dunia. Kini, 160 tahun kemudian, tak ada tanda-tanda bagi atelier Asnières untuk melambat. Ia terus berkembang, menciptakan begitu banyak kreasi palin ikonis Louis Vuitton, meliputi produk kulit, hard-sided trunks, hingga beragam permintaan unik dan luar biasa dari seluruh belahan dunia. Dari flat trunk hingga wadah khusus penyimpan peralatan rekaman digital, kreasi-kreasi yang terlahir di sini merangkum masa lalu, sekarang dan masa depan, menikahkan warisan tradisional dengan inovasi modern.

Penampakan atelier Asnières pada tahun 1873.

Keinginan untuk berada dekat dengan atelier Asnières mendorong Louis Vuitton untuk menjadikan lantai dua atelier tersebut sebagai kediaman pribadi keluarga Vuitton. Di tempat inilah anak-anak keluarga Vuitton—termasuk Benoit-Louis Vuitton—lahir dan tumbuh besar; bermain di kebun, menghabiskan waktu di tepi sungai Seine, dan mempelajari bisnis keluarga Vuitton sebelum akhirnya turun tangan ketika dewasa. 

Bertepatan dengan sebuah kunjungan virtual ke Asnières, ELLE berkesempatan untuk berbincang dengan Benoit-Louis Vuitton, anggota keluarga Louis Vuitton generasi keenam. Simak wawancara kami berikut!

Ruang keluarga Louis Vuitton di Asnières.

Apa hubungan Anda dengan Asnières dan apa kenangan paling dini yang Anda miliki?

Saya lahir dan dibesarkan di rumah ini hingga berusia tujuh tahun, jadi Asnières memiliki tempat khusus di hati saya. Saya ingat kerap berlarian di kebun rumah ini ketika saya masih kecil. Ayah saya adalah direktur atelier ini, sehingga kami dapat melihatnya bekerja di siang hari. Ada begitu banyak kenangan di rumah dan atelier ini. 

Sebagai seorang anak kecil yang tumbuh besar di Asnières, adakah hal-hal yang mungkin tidak Anda hargai saat itu namun Anda sadari nilainya ketika tumbuh dewasa? Baik savoir-faire ataupun kemewahan yang mengiringi Anda?

Saya rasa saya tidak menyadari nilai pekerjaan, craftmanship dan tuntutan yang ada di keluarga Vuitton saat masih kecil. Ayah saya adalah seseorang yang keras. Ia mengajarkan saya untuk melakukan sesuatu dengan benar, baik itu membuat sebuah trunk atau membeli sesuatu. Ia mengajarkan saya untuk membeli apapun dengan benar, membeli produk berkualitas baik—yang sering kali tidak murah—namun dapat bertahan lama. Mentalitas ini juga tercermin dalam bisnis keluarga kami, kami tidak pernah mendiskon produk-produk kami. Ketika kami meluncurkan sesuatu—baik penunjuk waktu atau wewangian—kami memastikan bahwa kami sudah siap. 

Tumbuh besar di keluarga Vuitton, apa trunk favorit Anda dari koleksi arsip yang ada?

Kami memiliki begitu banyak trunk istimewa. Ada sebuah trunk kecil yang saya dapatkan dari ruang kerja Ayah saya ketika ia meninggal. Trunk tersebut terbuat dari kulit sapi dan merupakan cikal bakal Malle Fleurs Trunk yang kita kenal hari ini. Alih-alih mewarisi begitu banyak barang yang ia miliki, saya memilih untuk memiliki satu benda kecil di ruang keluarga saya yang merepresentasikan Ayah saya serta tradisi, jiwa, dan DNA Louis Vuitton. Trunk lain yang menjadi favorit saya adalah sebuah Bar Trunk yang saya pesan secara diam-diam untuk perayaan ulang tahun ke-60 Ayah saya. Bayangkan betapa sulitnya menyembunyikan pesanan tersebut ketika Ayah Anda adalah direktur atelier tersebut. Saya menyukai trunktrunk ini karena mereka memiliki hubungan erat dengan Ayah dan keluarga saya. 

Entoilage: proses pemasangan kanvas Monogram khas Louis Vuitton pada eksterior sebuah trunk.

Anda menyaksikan perkembangan atelier ini sepanjang hidup Anda. Apa satu hal yang tak pernah berubah dari sejak pembukaannya dan apa perubah terbesar yang pernah Anda saksikan?

Asnières adalah perpaduan tradisi dan inovasi. Dalam suatu hal, tak ada yang berubah, namun di sisi lain segalanya berubah. Kami mempertahankan banyak hal, seperti rumah ini, struktur bangunan atelier, dan tentunya semangat bisnis kami. Peralatan yang kami pergunakan masih sama, namun beberapa hal kami ubah untuk memastikan kami dapat terus bervolusi dan tetap relevan. Kami masih mempergunakan kayu dan cara pembuatan yang sama pada kreasi-kreasi trunk kami, namun pada waktu yang sama kami bereksperimen dengan materi-materi baru seperti carbon fibre

Menurut Anda, apa yang akan dipikirkan ayah, kakek, dan kakek buyut Anda apabila mereka masih hidup dan melihat Louis Vuitton hari ini? 

Saya rasa mereka masih akan mengenali atelier ini apabila mereka berkunjung hari ini. Namun saya rasa mereka akan berbangga hati melihat apa yang telah kita capai hari ini: fakta bahwa kami disruptif dan masih membuat trunk secara tradisional, hingga membuat gim video dan lini busana siap pakai. Saya rasa mereka akan terkejut melihat smartphone, Internet dan banyak hal lainnya. Tapi pada waktu yang sama, saya rasa mereka akan merasa bangga melihat kami memanfaatkan semuanya dan terus berinovasi. 

Apa masa depan Asnières?

Asnières adalah titik mula dari segala-galanya. Ada alasan mengapa semua orang terus kembali ke Asnières. Seluruh desainer Louis Vuitton, mulai dari Marc Jacobs, Nicolas Ghesquière, Kim Jones, Virgil Abloh, hingga Francesca Amfitheatrof datang ke tempat ini untuk memahami DNA keluarga kami. Asnières adalah perpaduan antara tradisi dan inovasi, Asnières sebaiknya tidak berubah namun terus berevolusi untuk terus hidup di masa depan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.