Menentang Konformitas Lewat Topi-Topi Rancangan Philip Treacy

Philip Treacy mendedikasikan seluruh hidupnya untuk merevolusi aspek fungsi dan cara pandang manusia terhadap topi. Kepada ELLE, sang desainer memperbincangkan masa depan aksesori kepala.

Siapa yang dapat melupakan momen pernikahan Pangeran William dengan Kate Middleton pada 2011 silam? Peristiwa bersejarah yang menarik perhatian dunia tersebut disaksikan oleh setidaknya dua miliar pasang mata di seluruh dunia. Segala aspek pernikahan tersebut menjadi buah perbincangan, tak terkecuali topi yang dikenakan Putri Beatrice. Dirancang oleh Philip Treacy, kreasi unik tersebut mampu mengalihkan perhatian dunia dan bahkan melahirkan ribuan meme.

Selain Putri Beatrice, Philip Treacy telah menjadi orang kepercayaan bagi banyak figur penting untuk menghiasi kepala mereka dengan rancangan beraninya selama beberapa dekade silam. Mulai dari anggota kerajaan, Madonna, Lady Gaga, Daphne Guinness, Grace Jones, hingga sejumlah rumah mode besar seperti Chanel, Valentino, Alexander McQueen, dan Givenchy; semuanya pernah bergantung pada sang millineruntuk memenuhi berbagai kebutuhan—sebagai pelengkap busana seremonial hingga bentuk ekspresi diri.

Lewat profesinya, Treacy mengaku memiliki banyak kesempatan untuk mengubah bagaimana cara orang melihat topi di abad ke-21. “Saya memiliki audiens di seluruh dunia yang terbuka untuk melihat topi dengan perspektif yang baru,” ujarnya kepada ELLE Indonesia.

HUMBLE BEGINNINGS

Philip Treacy boleh jadi memiliki nama-nama besar dunia sebagai klien setianya, namun kisah miliknya berawal sederhana di sebuah desa kecil bernama Ahascragh, Galway, di bagian barat Irlandia. Ia tinggal bersama kedua orangtuanya serta tujuh orang kakak dan adik di sebuah rumah yang terletak di seberang gereja. “Sewaktu kecil, saya suka menyaksikan pernikahan di gereja tersebut. Bagi saya peristiwa itu hampir sama dengan sebuah fashion show. Mereka yang datang tampak begitu glamor dalam balutan pakaian terbaik, di saat kami tidak memiliki banyak glamor di tempat saya berasal,” kisahnya.

Philip Treacy ® Kevin Davies

Treacy mulai belajar menjahit ketika ia berusia lima tahun. Ia ingat betul pengalaman menjahit pertamanya bersama seorang guru di sekolah. Sebagai murid laki-laki ia seharusnya belajar pengerjaan kayu, namun Philip kecil lebih tertarik belajar menjahit—suatu pelajaran yang awalnya khusus dijalani murid perempuan. Ia pun mulai membuat gaun-gaun dan topi miniatur untuk digunakan boneka-boneka saudarinya.

“Ibu saya memelihara ayam, angsa, burung pegar, dan bebek. Maka saya memiliki semua bahan untuk membuat sebuah topi di rumah kami,” kenangnya. Meski tak pernah diperbolehkan untuk menyentuh, sang ibu juga memiliki sebuah mesin jahit. Treacy mengaku begitu terkesima melihat jarum kecil naik-turun kemudian menggabungkan potongan kain menjadi satu. Laki-laki ini kemudian mengoperasikannya secara diam-diam ketika sang ibu keluar rumah untuk memberi makan unggas-unggas peliharaannya. “Saya hanya memiliki waktu lima menit. Apabila ibu memergoki, artinya saya berada dalam masalah besar!”

Meski menyenangi kegiatan yang kerap diidentikkan sebagai pekerjaan perempuan, Treacy mengaku bersyukur mendapat dukungan penuh dari keluarganya. “Saya ingat waktu itu di rumah salah satu tetangga kami dan seseorang mengatakan kepada ayah saya, ‘Apa menurutmu tidak aneh anak laki-laki gemar membuat gaun untuk boneka?’ dan ayah saya menjawab, ‘Apa pun yang membuatnya bahagia’. Orang-orang harus melihat dari mana saya berasal untuk memahami betapa mendalam arti dari hal tersebut untuk saya,” kenangnya.

A HEAD FULL OF DREAMS

Demi mewujudkan cita-citanya, Philip Treacy meninggalkan tanah kelahiran lalu hijrah ke Dublin pada 1985. Di sana, ia mengenyam pendidikan mode di National College of Art and Design dan menghabiskan waktu enam minggu untuk magang di bawah pimpinan milliner Inggris terkemuka, Stephen Jones. Treacy lalu meraih beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di Royal College of Art, London, pada 1988.

Satu tahun kemudian, Treacy bertemu dengan editor mode kenamaan, Isabella Blow. Topi rancangannya yang unik menarik perhatian Issie—panggilan akrab Isabella Blow. Issie pun meminta Treacy merancang sebuah topi untuk pernikahannya dan mengundang Treacy untuk tinggal bersamanya dan sang suami di rumah mereka di Belgravia, London. Treacy lantas pindah pada 1990, dan menghabiskan banyak waktu untuk membuat topi di lantai basement dan berbagi rumah dengan Lee Alexander McQueen, desainer kelahiran Inggris yang turut diorbitkan oleh Issie.

Karier Philip Treacy sebagai seorang milliner mencapai titik baru ketika Issie memperkenalkannya kepada Karl Lagerfeld. Di usia 23 tahun, Treacy mulai menjalin kerja sama dengan rumah adibusana Chanel dan Karl Lagerfeld. “Bekerja dengan Karl Lagerfeld untuk Chanel Couture adalah mimpi yang jadi kenyataan. Karl merupakan seseorang yang unik dan memiliki pandangan yang luar biasa. Ia adalah seorang desainer sejati. Karl mendesain segalanya, termasuk kancing. Saya merasa sangat beruntung diberikan kebebasan kreatif untuk belajar mengolah ide secara cepat darinya. Keberanian dan kreativitas Karl sangatlah menginspirasi,” tuturnya.

Nama Philip Treacy pun kian meroket. Pada 1991, ia membuka butik pertamanya di London dan menghelat gelaran modenya sendiri, bertepatan dengan London Fashion Week, dua tahun kemudian. Tak hanya merancang untuk diri sendiri, ia turut menjadi senjata pamungkas sejumlah rumah mode besar, tak terkecuali rekan desainer serumahnya, Alexander McQueen.

Kreasi topi Philip Treacy untuk Alexander McQueen koleksi musim dingin 2009, The Horn of Plenty.

Baik yang berbentuk lobster, sangkar burung, atau yang dipenuhi kupu-kupu sekalipun, rancangan topi-topi Treacy dikenal menentang konformitas. Meski rancangannya kerap menuai tanda tanya, Treacy mengaku selalu terinspirasi oleh bentuk alami dan garis- garis indah yang ada di alam. Ia juga gemar mengimbuhkan pengaruh kontemporer ke dalam karya-karyanya. Baik karya seni patung, atau apa pun yang ada di dunia saat itu. “Saya berusaha senantiasa melakukan sesuatu yang baru dan segar. Selalu ada hal baru yang menginspirasi saya,” jelasnya.

THE FUTURE OF HATS

Philip Treacy percaya bahwa di dunia ini orang- orang paling menarik adalah mereka yang mengenakan topi. “Saya mendandani hampir semua orang. Mulai dari Marilyn Manson,

hingga anggota Kerajaan Inggris—and that is a long way in between!” ujarnya. Treacy memang merancang untuk banyak orang, mulai dari desainer mode, bintang pop, politisi, perempuan berumur, hingga remaja. Meski demikian, Treacy mengaku awalnya hanya mendesain topi untuk perempuan usia tertentu. Sebab saat itu banyak perempuan muda telah meninggalkan topi yang dinilai terlalu terikat pada peraturan. “Saya berharap diri saya telah menentang cara- cara lama dalam melihat topi. Topi tak lagi menjadi simbol kepatuhan, melainkan tindakan pemberontakan yang sangat individual. Saya terus-menerus menentang persepsi mengenai fungsi topi yang seharusnya dan peran apa yang harus dimainkannya,” ucapnya.

Treacy turut mengungkapkan bahwa dirinya tak pernah terikat oleh aturan apa pun ketika berkarya. Ia mengaku hanya bermodalkan pedoman. “You will know through your own judgement when a hat is right. Yang terpenting adalah kebahagiaan dan kepercayaan diri sang pemakainya. Apakah mereka tersenyum ketika mereka melihat diri mereka di cermin? Apakah Anda melihat kilau di mata mereka? Saat itulah Anda tahu Anda telah melakukan segala sesuatunya dengan benar,” jelas Treacy.

Di masa lalu, produksi masal diperkirakan menjadi masa depan produk-produk luks. Namun kini, di saat begitu banyak produk kerajinan tangan mulai punah, Philip Treacy mengungkapkan gagasannya akan masa depan topi. “Kepiawaian pekerjaan tangan akan menjadi kemewahan di masa depan,” ujarnya. Craftmanship adalah bekerja dengan tangan Anda dan seluruh detail kecilnya. Sebagian diri Anda tertanam dalam tiap topi yang Anda buat. Tangan manusia begitu sensitif dan lembut, dan sebuah komputer tidak akan mampu menilai kelembutan sebuah bulu atau keseimbangan estetikanya,” ujarnya. Meski memakan lebih banyak waktu, Treacy meyakini rasa puasnya tak akan dapat tergantikan oleh apa pun ketika topi kreasinya selesai dibuat.

“Saya menyukai gagasan misterius masa depan; Anda tidak akan tahu apa yang akan terjadi minggu depan, dan itu adalah sebuah fashion attitude. Para pencinta mode begitu terobsesi dengan sesuatu di suatu momen, lalu mereka pindah ke hal lain. Itulah sifat alami mode—it’s all about change,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.