Mode dan Feminisme di Mata Donatella Versace

Kegagalan dan pilu duka membentuknya menjadi sesosok desainer kuat dan tahan banting. Tak hanya merancang untuk memberdayakan sesama perempuan, Donatella turut bertumbuh dan berkembang bersamanya. ELLE menarasikan kisahnya mengubah wajah Versace.

Pada akhir bulan September lalu, dunia mode dibuat gempar ketika sebuah kabar berembus bahwa dua rumah mode Italia terbesar sepanjang masa, Versace dan Fendi, tengah mempersiapkan sebuah show rahasia. Berbagai foto dan video yang menampilkan secuplik undangan show pun membanjiri lini masa media sosial para pencinta mode dan membuat antisipasi para pengikutnya kian memuncak.

Untuk satu malam saja, Donatella Versace dari Versace, dan Kim Jones bersama Silvia Venturini Fendi dari Fendi, bertukar peran untuk merancang 25 tampilan yang memperkaya garis rancang rumah mode masing-masing. Bertajuk Fendace, helatan show tersebut menjadi manifestasi perayaan kebebasan, keseruan, dan juga persahabatan, tanpa adanya upaya “menundukkan” karakteristik rumah mode satu dan yang lainnya. Koleksi mode yang bertabur simbol Medusa khas Versace serta monogram Fendi ini turut dihidupkan oleh para muse kedua rumah mode tersebut, meliputi Naomi Campbell, Kate Moss, Amber Valletta, Gigi Hadid, Emily Ratajkowski, Lila Grace Moss, hingga Paloma Elsesser.

Kim Jones dan Donatella Versace di akhir helatan Fendace.

Tak butuh lama bagi kedua rumah mode Italia tersebut untuk menjadi buah bibir para pencinta mode, setidaknya hingga satu pekan berikutnya. Bagaimana tidak? Rasanya tak berlebihan untuk menyebut helatan acara tersebut sebagai sebuah show brilian yang akan terus dikenang dan akan tercatat dalam sejarah mode kontemporer. Meski menolak untuk menyebut koleksi Fendace sebagai koleksi kolaborasi, Donatella Versace tampaknya paham betul bahwa untuk bertahan dan memenuhi kebutuhan bergaya generasi baru—yang dipenuhi oleh gagasan-gagasan kolaboratif serta dialog-dialog yang mengedepankan komunitas— dirinya harus mampu untuk terus menerus beradaptasi.

MUSE TURNED DESIGNER

Siapa yang tak mengenal sosok ikonis Donatella Versace? Layaknya Karl Lagerfeld yang dikenal lewat gaya rambut kuncir kuda dan kacamata hitam khasnya, Donatella memiliki ciri unik yang membuatnya begitu mudah untuk diingat berkat rambut pirang dan celak matanya yang hitam kelam. Persona khasnya yang bak Italian bombshell menjadi angin segar di tengah terpaan tren minimalis yang sempat merajai panggung mode dunia. Tak hanya itu saja, siluet rancangannya yang begitu menonjolkan tubuh perempuan kerap dikredit sebagai medium pemberdayaan perempuan selama berdekade- dekade lamanya.

Namun siapa sangka Donatella tak pernah berencana untuk menjadi seorang desainer? Ketika sang kakak, Gianni Versace, mendirikan rumah mode Versace pada tahun ‘70-an, Donatella hanya berniat untuk bekerja kepada sang kakak di departemen public relations. Meski demikian, kehadirannya sebagai muse dan kritik terbesar sang kakak, menjadikannya begitu berharga di mata Gianni. Gianni bahkan meracik sebuah parfum yang didedikasikan khususbagi adik bungsunya tersebut, Blonde, dan mendirikan label Versus, label turunan Versace, hanya untuknya.

Hidup Donatella berubah 180 derajat ketika sang kakak ditemukan wafat terbunuh pada tanggal 15 Juli 1997. Meski tengah dalam suasana berkabung, Donatella pun menggantikan peran Gianni sebagai Direktur Artistik Versace dan melanjutkan bisnis yang dibangun sang kakak. Kurang dari tiga bulan sepeninggal Gianni, Donatella menghelat show adibusana pertamanya untuk musim semi/panas 1998. Show yang digelar untuk pertama kalinya tanpa kehadiran Gianni tersebut menjadi sebuah penghormatan terhadap sang mendiang.

Donatella gugup bahkan sebelum helatan show dimulai. Bagaimana tidak? Hampir seluruh pasang mata tertuju padanya untuk menyaksikan kelanjutan bisnis keluarga Versace. Sebelum show, Donatella menyempatkan diri untuk memberi tahu sejumlah jurnalis bahwa ia sadar akan kemampuannya yang tak dapat menyamai karier legendaris sang kakak selama dua dekade. Ia pun mengatakan siap ‘dihakimi’ untuk apa pun yang ia kerjakan, tapi tidak untuk dibandingkan dengan Gianni. Sebab apabila ia hanya dibandingkan dengan Gianni, ia percaya bahwa ia hanya bisa gagal.

Suasana haru biru menyelimuti helatan show Versace hari itu. Ketika Donatella muncul di panggung untuk memberi hormat pada penonton, ia hadir dikelilingi para model yang telah berjalan untuknya, termasuk Naomi Campbell dan Linda Evangelista. Matanya yang sembab berlinang air mata serta wajahnya yang seakan tertekuk mengisyaratkan kepedihan yang tak tertahankan. Konon, di balik panggung, Donatella menangis di pelukan Giorgio Armani sambil mengekspresikan kerinduannya pada sang kakak. Meski helatan show tersebut mungkin menjadi momen tersulit dalam hidupnya, pada titik itulah Donatella mulai menunjukkan giginya sebagai salah satu desainer paling berpengaruh yang masih hidup hingga hari ini.

GREAT STRIDES

Lima tahun pertama sejak kematian Gianni dan sejak Donatella mengepalai Versace, kondisi rumah mode tersebut terbilang tak stabil. Donatella mengaku merasa tersesat dan melakukan banyak kesalahan. Ada banyak penyesalan yang tersimpan dalam benak Donatella ketika memikirkan kembali momen-momen tersebut. Salah satu hal yang tentunya ingin ia ubah ialah untuklebih mempercayai dirinya sendiri dan tidak mencoba untuk menjadi Gianni.

Setengah dekade berikutnya, Donatella perlahan menemukan suaranya. Seiring kepercayaan dirinya yang bertambah, Donatella mulai menyisipkan pesan-pesan feminis dalam tiap karyanya dan mulai fasih memberdayakan perempuan. Pada tahun 2005 misalnya, ia mendapuk Madonna untuk membintangi kampanye iklan Versace yang dibidik oleh fotografer kenamaan, Mario Testino. Dalam kampanye iklan tersebut, Madonna berperan sebagai seorang CEO yang tampil prima dalam balutan head-to-toe VersaceDonatella percaya bahwa seorang perempuan bekerja tidak akan menanggalkan sisi glamornya hanya karena ia sedang berada di kantor.

Madonna bintangi kampanye iklan Versace di tahun 2005.

Tak hanya itu saja, Donatella turut percaya bahwa dunia membutuhkan lebih banyak perempuan di bidang politik dan untuk menduduki jabatan CEO. Perspektif ini pula yang mengubah wajah rumah mode Versace menjadi lebih feminin dan feminis. Di saat banyak desainer laki-laki biasanya memulai koleksinya dengan menggambar sketch, Donatella mengaku tidak memedulikannya sama sekali. Walau demikian, ia begitu meyakini fit yang sempurna. Ia berkarya langsung pada kain yang digantungkan pada tubuh dan mencoba segalanya yang ia rancang. Ia memastikan bahwa ketika para perempuan mengenakan Versace, mereka merasa lebih baik dan percaya diri secara instan.

Selain mengubah wajah Versace dan menjadikannya lebih dekat dengan isu-isu perempuan, Donatella turut mengawasi proses pemosisian ulang label difusinya, Versus. Ia bahkan tak ragu merekrut desainer-desainer yang lebih muda untuk membangkitkan kembali label yang didirikan oleh Gianni khusus untuknya. Pada tahun 2009, Donatella menunjuk Christopher Kane, diikuti oleh Jonathan Anderson di tahun 2012 yang sempat mendesain sebuah koleksi kapsul untuk label Versus.

Satu tahun kemudian, Versace mengumumkan telah menggandeng Anthony Vaccarello untuk menjadi desainer terbarunya yang akan melansir sebuah koleksi kapsul untuk label Versus. Kesuksesan koleksi tersebut mengantarkan Vaccarello pada kesempatan menjadi Direktur Kreatif permanen untuk Versus hingga kepindahannya di tahun 2016.

TRANSCENDING TIME

Tak terasa, 24 tahun telah berlalu sejak Donatella menyambung tugas sang kakak dan mengepalai Versace—ia bahkan memimpin rumah mode tersebut lebih lama dari Gianni. Di bawah kepemimpinannya, ia membawa Versace maju menembus batas-batas yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Pada tahun 2011, misalnya, Versace menjadi salah satu label premium pertama yang bermitra dengan peritel asal Swedia, H&M—sebuah langkah cerdas yang membuat Versace dikenal oleh konsumer generasi muda. Tak hanya itu saja, Donatella turut menjadi salah satu desainer ternama dunia yang menginisiasi aktivitas ekspansi ke Rusia dan Timur Tengah.

Di tengah banyaknya label luksuri yang gagal memenuhi kebutuhan bergaya pasar milenial melek teknologi, Versace memiliki senjata ampuhnya sendiri, yakni kemauannya untuk terus berevolusi. Donatella mengaku memandang mode dengan kacamata berbeda. Ia sadar ketika rancangan-rancangannya butuh perbaikan dan terbuka untuk menyesuaikannya seiring perkembangan zaman; menjadikannya sedikit lebih coolstreet, namun tetap glamor.

Donatella turut menjadi salah satu desainer yang kerap memanfaatkan teknologi untuk menghadirkan pengalaman fashion show yang tak terlupakan. Sebut saja reuni para supermodel yang ia helat pada gelaran mode Versaceuntuk musim semi/panas 2018, sebuah show yang turut memperingati 20 tahun kematian Gianni. Sadar akan para pengikutnya yang haus nostalgia dan kejayaan tahun ‘90-an, Donatella pun menampilkan kembali deretan supermodel ternama pada masa tersebut, meliputi Cindy Crawford, Naomi Campbell, Claudia Schiffer, Carla Bruni, dan Helena Christensen.

Trik serupa dilancarkannya kembali pada helatan show Versace untuk musim semi/panas 2020, ketika ia mendatangkan kembali Jennifer Lopez yang 20 tahun sebelumnya membuat dirinya viral saat mengenakan gaun Versace berpotongan leher rendah berwarna hijau. Di usianya yang ke-50, J.Lo seakan menyampaikan pesan Donatella kepada dunia bahwa hidup tak berakhir di usia 20 tahun!

Meski tak lagi terbilang muda—Donatella berusia 65 tahun ini—sang desainer rajin mendekatkan diri pada generasi muda dan tak lupa untuk menyesuaikan bisnis dan hidupnya seiring perkembangan zaman. Pada tahun 2018, Versace memutuskan untuk tak lagi menggunakan bulu dalam koleksi-koleksinya dan turut membangun sebuah headquarter hijau di Milan yang dikonstruksi dari materi- materi bertanggung-jawab. Upaya ini tentunya dikerahkan Donatella untuk menjadi lebih sustainable dan selaras dengan alam. Baik untuk urusan daur ulang limbah hingga cara mengurangi pemakaian listrik, aspek-aspek tersebut diaku Donatella telah menjadi elemen penting dalam karya-karyanya. Usahanya pun tak terbatas hanya ketika bekerja. Jet-setter ternama ini telah memutuskan untuk tak lagi menyewa pesawat pribadi dan memilih untuk terbang dengan pesawat komersil. Kemampuan beradaptasi bisa jadi merupakan nilai terpenting dalam pribadi Donatella Versace—selain kemurahan hatinya! Meski berulang kali khawatir dan kerap dihampiri kegagalan, Donatella terus bangkit dengan begitu anggunnya. Tak seperti kebanyakan desainer yang menciptakan jarak dan ‘berlindung’ di balik label besar mereka, Donatella tak ragu untuk mendekatkan diri dengan para penggemarnya, mendengarkan mereka, dan berevolusi bersamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.