Kepuasan Diri, Kritik dan Mimpi di Mata Didit Hediprasetyo

Satu dekade sudah karier profesionalnya. Lahir dengan popularitas, Didit Hediprasetyo memiliki caranya sendiri untuk mengharumkan nama Indonesia. ELLE berkesempatan untuk berbincang dengannya menyoal kepuasan diri, kritik, dan mimpi.

Menembus pasar internasional tentu menjadi impian para desainer Tanah Air. Berkarya di Paris, kota tempat kelahiran mode yang tidak mudah sama sekali untuk ditembus, memiliki arti tersendiri bagi seorang desainer. Dan yang membanggakan, setidaknya ada seorang desainer Indonesia yang berhasil melakukan semuanya.

            Alih-alih memulai bisnis mode di Jakarta lalu go international ketika sudah lebih mapan, desainer satu ini lebih memilih untuk mengawali kariernya langsung di kota romantis tersebut. Kerja kerasnya pun berbuah manis ketika ia diundang untuk mempresentasikan koleksi adibusananya bertepatan dengan kalender prestisius Paris Couture Week, menjadikannya satu-satunya desainer Indonesia yang berhasil menembus ajang bergengsi tersebut. Nama desainer tersebut adalah Ragowo Hediprasetyo Djojohadikusumo.

            Nama Didit Hediprasetyo atau Didit, sebagaimana ia lebih dikenal, telah diketahui publik bahkan sebelum ia mulai terjun kedunia mode. Sang ayah, Prabowo Subianto, merupakan mantan Komandan Jenderal Kopassus serta Panglima Kostrad yang kini menjabat sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia. Ibu Didit, Siti Hediati Haryadi (disapa Titiek Soeharto), merupakan putri dari Presiden ke-2 Republik Indonesia, Jendral Besar TNI (Purn) H. M. Soeharto.

            Meski terlahir dari salah satu keluarga paling berpengaruh di Indonesia, Didit kecil tampaknya tak memiliki minat untuk terjun ke dunia politik ataupun militer. Sejak kecil, Didit mengaku memiliki banyak cita-cita. Ia sempat bermimpi menjadi pelukis, desainer kostum teater, hingga menjadi seorang arsitek.

            Menaruh hati dalam dunia mode dan kreatif, Didit kemudian memutuskan untuk mengenyam pendidikan di Parsons School of Design, diNew York, sebelum kemudian melanjutkannya di Parsons Paris. Tak hanya belajar seni mengolah busana, Didit turut menuturkan bahwa ada begitu banyak hal penting yangia pelajari selama menuntut ilmu. Orang-orang yang ia temui, teman-teman yang menginspirasi, serta kisah hidup para guru, diaku Didit sebagai pelajaran terpenting yang ia terima selama duduk di bangku sekolah.

PARISIAN DREAM

Pada 2007 silam, Didit merampungkan studinya dan menerima gelar Bachelor of Fine Arts. Tak hanya itu, ia turut mengantongi penghargaan bergengsi Silver Thimble Award yang ia dapatkan satu tahun sebelumnya— ketika masih berstatus sebagai pelajar—saat memasuki dunia kerja.

            Tak seperti kebanyakan mahasiswa yang kemudian pulang usai menyelesaikan pendidikan di luar negeri, Didit memutuskan menetap dan berkarier di Paris di manatak seorang pun mengenal namanya atau mengaitkannya dengan nama keluarganya. Meski pilihan tersebut bukanlah pilihan yang mudah, ia mengaku sangat berterimakasih atas limpahan dukungan yang diterimanya dari teman-teman hingga komunitas industri kreatif di Paris yang mempercayakannya.

            Didit mempresentasikan koleksi adibusana perdananya untuk musim semi/panas 2010 di Hôtel de Crillon, Paris. Helatan yang digelar pada Januari 2010 tersebut menawarkan deretan gaun berkorset dan jajaran rok serta celana pendek bersiluet fit. Sejak itu, Didit rutin memamerkan koleksi adibusananya, bertepatan dengan kalender prestisius Paris Couture Week.

            Tak butuh lama hingga akhirnya dunia mengapresiasi karya-karya seorang Didit Hediprasetyo. Dikenal lewat permainan draperinya yang berstruktur dan embellishment miliknya yang rumit, Didit mampu memberikan napas sophisticated pada tiap kreasi adibusananya yang menawan hati. Meski tampil presisi dan refined, kesan effortless tetap berdiam dalam tiap potong garmen rancangannya.

Didit Hediprasetyo Spring/Summer 2020.

            Garis rancang Didit mampu mengaksentuasi detail-detail kasatmata dan memiliki resonansi dengan gur perempuan masa kini yang membuat karya-karya adibusananya begitu realistis. Tak hanya digandrungi oleh para pencinta mode Tanah Air, karya-karya universal Didit turut menjadi favorit para pengamat mode dunia. Salah satu faktor penting di balik proses kreatifnya adalah narasi. “Saya selalu memulai koleksi dengan sebuah narasi. Biasanya dimulai dari distrik di sebuah kota, seperti Ubud di Bali, Kyoto di Jepang, Brooklyn di New York, Tuileries di Paris, atau di sebuah gurun di Maroko,” jelasnya pada ELLE.

Didit Hediprasetyo Spring/Summer 2019.

            Kendati terbilang sukses, menjadi seorang desainer Asia di Paris bukan perkara mudah. Sejumlah tantangan harus dihadapi Didit, termasuk perihal elemen budaya dan wastra Indonesiayang kerap ia suntikkan ke dalam karya-karyanya. “Sesuatu yang berunsur etnik selalu dihubungkan dengan sejarah dan budaya masa lampau. Tantangannya adalah bagaimana membuat unsur tersebut menjadi relevan dan modern,” ujarnya. Sebagian dari jawaban Didit terhadap tantangan tersebut tersimpan dalam rangkaian koleksi adibusana miliknya untuk musim semi/ panas 2014. Lewat koleksinya tersebut, Didit mendemonstrasikan kepiawaiannya mengawinkan materi songket dengan motif houndstooth, serta menjadikannya tampil harmonis.

DECADE OF DISCOVERY

Satu dekade Didit menghiasi panggung mode dunia dengan karya-karyanya. Ada begitu banyak perubahan dan proses pendewasaan diri yang telah ia tempuh, baik menyangkut kepuasan diri maupun kritik.

            Nilai kepuasan bisa berbeda-beda ukurannya bagi tiap orang. Terlebih di era digital masa kini, barometer kepuasan menjadi lebih bervariasi. Ada desainer yang senang ketika show mereka menjadi viral, saat koleksi busananya menjadi pujaan di karpet merah, atau mencapai suatu titik kesuksesan komersial tertentu. Namun hal- hal tersebut tak mengusik kenyamanan Didit Hediprasetyo. “Saya sedang belajar berproses untuk tidak mencari kepuasan dari validasiyang bersifat eksternal,” ujarnya dengan penuh ketenangan.

Didit Hediprasetyo Fall/Winter 2017.

            Sama halnya ketika berhadapan dengan kritik. Menjadi seorang desainer—atau profesi apa pun—artinya harus siap dihujani banyak kritik. Belum lagi dengan perkembangan teknologi yang membuat dunia semakin ‘kecil’. Melontarkan opini pun menjadi sesuatu yang begitu mudah. Tentu ada segelintir nama-nama besar yang dikenal mudah terpancing oleh kritik. Namun Didit bukan salah satunya. Ia tak ambil pusing dan lebih memilih untuk selalu berkarya. “Whether you pushed me or pulled me, drained me or fuelled me, stayed by my side or left me, you are part of my growth, and I thank you. Ini adalah salah satu kutipan terbaik yang pernah saya terima,” jawabnya.

Didit Hediprasetyo Fall/Winter 2017.

            Kini, di usia karier sepuluh tahun, Didit mantap melanjutkan langkahnya. Bagi Didit, perjalanan begitu berharga karena kenangan orang-orang yang ia temui dari berbagai macam budaya.“Para pengrajin songket di Sumatra,para penyulam di Paris, para stylistdi New York, dan para penulis diJakarta,” kenangnya. Meski tak dapat berharap tentang bagaimana kelak dirinya dikenang, Didit senantiasa mengingat hubungan baik dengan orang-orang di perjalanan kariernya, terlebih mereka yang menghargai karyanya dan melihat Didit sebagai dirinya sendiri.

Didit Hediprasetyo Fall/Winter 2017.

            “Saya sangat bersyukur atas kesempatan selama sepuluh tahun ini untuk berkarya dan memperkenalkan bahan kerajinan tangan Indonesia di Paris,” tambahnya. Meski tak berniat meninggalkan dunia mode sampai kapan pun, ia membeberkan satu mimpi yang ingin ia kejar. “Di masa mendatang, saya berharap dapat menekuni kurasi kerajinan tangan lainnya di Indonesia, seperti furnitur dan industri home living,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.