Pengalaman Adinia Wirasti Mengunjungi Pameran Chanel Mademoiselle Prive di Shanghai

ELLE Indonesia bersama Adinia Wirasti pergi ke pameran Chanel Mademoiselle Prive di Shanghai. Sang aktris menuliskan kisahnya kepada kami.

Saya (Adinia Wirasti) sangat terkejut melihat sebuah gedung industrial bisa begitu berkelas. It’s a very good merge between timeless beauty and the rawness of an industry. Ketika bicara tentang sebuah ide atau gagasan, pada akhirnya kita selalu memikirkan hal-hal tersebut. Kita ingin mengembangkan ego sebagai seorang seniman, termasuk menjadi idealis, setia pada jati dari, atau mau tergilas industri. Tetapi sebenarnya, ada pilihan ketiga: berada di tengah-tengah. Walau kita harus memikirkan banyak hal untuk mencapai hal itu. Menjadi seorang seniman bukanlah perkara mudah. Saya yakin Chanel, sebagai sebuah brand yang memiliki perjalanan panjang, sudah melewati begitu banyak trial-and-error. Saya yakin, Chanel telah belajar dari tiap perjalanan yang telah mereka lalui.

Anda dapat menyadarinya ketika memasuki ruangan pertama, kedua, dan ketiga. Di ruangan pertama, Anda dapat mencium wewangian yang khas. Sebuah aroma yang dapat menstimulasi memori Anda. Kadang-kadang kita datang ke suatu tempat, Anda mencium wangi yang pernah Anda cium dulu sekali. Penuh nostalgia, tapi mungkin tidak di tempat itu. Ketika itu terjadi, kita langsung kembali ke memori tersebut. That’s how powerful our mind is.

Untuk melihat instalasi yang relatif sederhana, somewhat bisa terasa dramatis dan sangat teatrikal. Semuanya berlandaskan memori dan storytelling. Jadi, memasuki sebuah ruangan dapat menjadi sebuah stimulan untuk bertutur-cerita. Tidak hanya tentang Chanel, namun dapat juga menstimulasi sisi artistik dalam diri kita masing-masing.

Saya begitu menyukai ide penataan ekshibisi ini yang berputar dan memiliki pusat di tengah. Karena bulat, Anda melihat segalanya dari luar dan memasuki bagian paling dalamnya yang menjadi akar ide tersebut. Pada ruangan pertama, Anda dapat melihat sebuah botol parfum tanpa label dan merk. It’s purely the scent. Di ruangan kedua, sketsa-sketsa mendiang Karl Legerfeld menjadi porosnya. Ia berangkat dari sebuah ide atau gagasan yang digambar dan nantinya akan menjadi baju. It’s a brilliant idea. Kita dapat melihat prosesnya hingga akhirnya menjadi suatu barang yang dipersembahkan kepada dunia.

Di ruangan ketiga, saya menyadari bahwa semua ini mengisahkan perjalanan fashion yang begitu panjang dan bagaimana akhirnya mereka dapat bersaing di industri fashion yang mungkin di mata anak-anak muda tidak lagi mereka pahami. Hampir pada tiap produk yang dipajang, tertulis rentang waktu yang dihabiskan untuk menciptakan dan menyelesaikan produk tersebut. Sebuah kotak rokok berhias stud misalnya, membutuhkan 1,350 sekian hari hingga akhirnya tercipta. Ini berarti, memang sesuatu yang berharga harus diperhatikan sedemikian rupa dan membutuhkan waktu. Kita membutuhkan sebuah proses untuk mencapai suatu tujuan. Tetapi ketika goal tersebut telah tercapai, lalu apa lagi? Anda tentu ingin belajar lagi, bukan? Kita harus mulai dari awal lagi. Dari sebuah gagasan, berproses dan berproses hingga akhirnya memadat menjadi apapun itu, sebuah perhiasan, baju, ataupun parfum. Di satu sisi, terasa begitu cinematic.

 

Bagian favorit saya tentunya ruangan high jewelry. Saya suka ide pada ruangan haute couture karena mereka menunjukkan dengan sempurna bagaimana mereka berangkat dari sebuah sketsa yang belum ada bentuknya, yaitu sketsa orisinil Karl. Lalu, kita dapat juga melihat bahan-bahan basic yang dipakai, teksturnya seperti apa, ketebalannya bagaimana, tanpa warna apapun, hingga akhirnya menjadi sebuah baju. Saya rasa instalasi tersebut menunjukkan proses lahirnya sebuah karya.

Tetapi favorit pribadi saya adalah ruangan high jewelry, because girls like diamonds! It’s as easy as that! Saya menyukai bahwa perhiasan-perhiasan Chanel begitu independen, dimana Anda tak membutuhkan seseorang untuk membantu Anda mengenakannya sendiri. Terlebih di saat-saat seperti ini, kita sebagai seorang perempuan harus hustle and bustle. Isunya tak lagi soal perempuan yang harus punya sebuah panggung untuk berkarya. Kita telah memiliki panggung tersebut. Sekarang tinggal kita menggunakan saja panggung tersebut untuk berkarya dengan maksimal.

Photography: Doc. Agus Santoso

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *