Andini Effendi: Kemewahan Dalam Hal Sederhana yang Terlihat Sepele

andini effendi - elle indonesia december 2019

ANDINI EFFENDI mengutarakan opininya bahwa profesi sebagai jurnalis telah mengubah cara ia memahami hal-hal terbaik dalam hidup untuk ELLE Indonesia.

Mungkin seperti kebanyakan orang, saya selalu beranggapan bahwa kemewahan itu identik dengan sesuatu yang mahal. Yang bisa dinilai secara kasatmata dan dapat membuat orang lain mudah menilai status sosial seseorang.

Saya tidak menyangkal bahwa hidup saya sangatlah nyaman dan ‘mudah’. Saya bermukim di daerah yang terbilang strategis. Saya bekerja sesuai passion saya, and it pays the bills. Bukan hal yang sulit pula bagi saya untuk bepergian demi hobi travelling. Selain itu, ‘bucket list’ saya secara perlahan namun pasti, dapat saya tandai ‘done’. Dan selain itu semua, I have a strong network whom I consider my net worth. In short, I live very comfortably. Jika segalanya ini disebut ‘kemewahan’, saya tak ragu untuk menyepakatinya.

andini effendi - elle indonesia december 2019
photography ZAKY AKBAR styling SIDKY MUHAMADSYAH
clothes (Kiri: gaun MARC JACOBS, kacamata hitam GUCCI, sepatu bot CHANEL; Kanan: Gaun, kaus kaki, dan sepatu MARC JACOBS, tas pinggang CHANEL, kacamata hitam GUCCI)

Suatu ketika, saya pergi liputan untuk sebuah serial dokumenter mengenai kehidupan subkultur Indonesia. Saya menemui keluarga pengungsi Rohingya dan menempuh perjalanan cukup menantang untuk dapat ke luar dari Myanmar dan kini keluarga tersebut telah tiba di rumah mereka di Depok, Jawa Barat. Nur Hasan beserta istri dan tiga anaknya tinggal di sebuah rumah indekos yang keseluruhan luasnya lebih kecil dibanding kamar tidur saya. Ketiga anaknya tidak bisa bersekolah di sekolah negeri karena dianggap bukan Warga Negara Indonesia. Nur Hasan dan istrinya tidak dapat bekerja karena status mereka sebagai pengungsi. Bepergian dan berlibur bisa jadi tidak ada dalam kamus hidup Nur Hasan dan keluarganya. Jangankan ke luar negeri, ke Bogor saja mereka mesti melapor terlebih dahulu ke UNHCR.

Saya tersentak.

Mengetahui kenyataan bahwa memiliki sebuah kewarganegaraan ternyata menjadi kemewahan yang tak pernah kita sadari. Paspor hijau saya ternyata amat berharga manakala saya melihat kartu pengungsi UNHCR yang dipegang Pak Nur Hasan. Punya kebebasan untuk pergi ke mana pun kita mau, tanpa kemungkinan dicegat imigrasi, adalah salah satu bentuk kemewahan.

andini effendi - elle indonesia december 2019
Images: iSTOCK

Kisah lain yang membuka pikiran adalah ketika saya mengunjungi Pulau Rote bersama kedua sahabat saya, Aprilla Mokalu dan Ayuphita Silalahi. Saat di Pulau Rote, saya kerap sulit menemukan kamar mandi yang layak. Ketika di daerah cukup terpencil, kami sempat bergurau saat menemukan toilet yang ternyata tidak ada airnya. Hingga pada satu titik, kami tertegun penuh tanya. Barangkali hal tersebut lucu buat kami karena saya dan teman-teman berstatus sebagai tamu. Bagaimana dengan penduduk setempat yang setiap harinya sulit memperoleh akses air bersih dan ketiadaan sanitasi? Saat itulah saya dan kedua teman menyadari bahwa punya akses air bersih yang mengalir berlimpah merupakan sebuah kemewahan yang sebenar-benarnya.

Sebagai anak Jakarta, saya nyaris tak pernah menyadari kemewahan yang satu itu. Ayu, sahabat saya yang tinggal di Menteng dan cerdas sekaligus sophisticated itu, menyadari betapa air bersih termasuk barang mewah. Dan kini, ia bikin beberapa proyek air bersih di Pulau Rote.

andini effendi - elle indonesia december 2019
Images: iSTOCK

Suatu ketika saya meliput di Lombok Timur untuk mendalami kehidupan keluarga dan anak-anak buruh migran yang ditinggal ibunya. Salah satu tokoh dalam liputan kali ini adalah Yuli Afriana. Usianya 17 tahun. Anak kedua dari lima bersaudara yang dibesarkan tanpa sosok ibu. Yuli dan saudara-saudaranya putus kontak dengan sang ibu sejak adik bungsu Yuli masih bayi.

Yang bikin saya terkejut, Yuli merasa biasa saja dengan kenyataan ia tidak dibesarkan oleh sosok penting yang telah melahirkannya. Menurut mereka, selama ada sang ayah, maka semuanya baik-baik saja. Belakangan, Yuli memberi kabar bahwa ibu mereka ada di Indonesia. Saya bertanya, bagaimana perasaan ia setelah mengetahui kabar tersebut. “Biasa saja,” jawab Yuli sesingkat itu. Saya terkejut lantas berkomentar, “Kok bisa?”. Dengan suara tenang, Yuli berkata, “Kan ada Ayah. Adanya ayah itu sudah cukup banget untuk saya.” I am not going to lie. It is even difficult to hold my tears while retelling this part of the story.

andini effendi - elle indonesia december 2019
Designed by Freepik

Saya termenung. Betapa sesungguhnya arti mewah itu relatif bagi kebanyakan orang. Dan kerap yang disebut mewah adalah apa yang sering kali kita remehkan. Bagi kita yang kedua orangtuanya masih hidup dan sehat, kehadiran ayah dan ibu adalah kemewahan yang tidak ingin Anda tukar dengan apa pun. Even though I still enjoy wearing my red sole heels, flying abroad comfortably, dining good food, and many others this I consider luxurious, but my definition of luxury has absolutely changed.

Hal sederhana yang terlihat sepele bisa jadi amat mewah bagi sebagian orang. Dan manakala kita sepenuhnya merayakan dan menghargai apa-apa dalam hidup dengan syukur, maka saat itulah hidup mewah sedang kita jalani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *