Lihat Lebih Dekat Keenam Tas Artycapucines Terbaru Persembahan Louis Vuitton

Istimewa bak sebuah mahakarya, tiap tas Louis Vuitton Artycapucines berikut menjadi buah pemikiran kreatif enam orang seniman kenamaan. Simak proses panjang di baliknya.

Tepat hari ini, Louis Vuitton kembali meluncurkan proyek Artycapucines yang kini telah memasuki edisi ketiga. Setelah sebelumnya sukses melansir proyek kolaborasi edisi pertama pada tahun 2019 dan edisi keduanya pada tahun 2020 lalu, rumah mode asal Prancis tersebut kembali mewujudkannya tahun ini dengan menggandeng enam orang seniman baru. Adapun nama-nama besar yang terpilih tahun ini, meliputi Gregor Hildebrandt, Donna Huanca, Huang Yuxing, Vik Muniz, Paola Pivi, dan Zeng Fanzhi. 

Layaknya proyek-proyek Artycapucines sebelumnya, keenam seniman tersebut diberikan kebebasan oleh Louis Vuitton untuk berkarya dan menginterpretasikan kembali salah satu rancangan tas paling klasik Louis Vuitton, tas Capucines. Tas Capucines sendiri pertama kali diluncurkan oleh Louis Vuitton pada tahun 2013 dan mendapatkan namanya sesuai nama sebuah jalan di kota Paris, Rue des Capucines, yang juga menjadi tempat Louis Vuitton membuka butik pertamanya di tahun 1854. Hasilnya, tak hanya indah dan memanjakan mata, tiap tas Artycapucines yang dihasilkan—sebanyak 200 buah per seniman—mendemonstrasikan inovasi serta know-how atelier Louis Vuitton. 

ELLE berkesempatan untuk melihat lebih dekat proses kreatif keenam seniman tersebut kala merampungkan kreasi Artycapucines di studio masing-masing. Simak proses panjang di balik keenam kreasi unik berikut.

GREGOR HILDEBRANDT

Tas Capucines karya Gregor Hildebrandt merefleksikan kecintaan seniman asal kelahiran Jerman tersebut terhadap piringan hitam dan teknik ‘rip-off’ khasnya, di mana ia mempergunakan debu magnetik dari pita rekaman tua untuk menciptakan gambar hitam-putih yang mencolok. Karya orisinal yang ia kreasikan khusus untuk proyek ini dicetak dengan cermat di atas kulit tas berwarna putih: versi ‘positif’ hitam-putih pada bagian depannya dan versi ‘negatif’ putih-hitam pada bagian belakang. 

Logo LV khas Louis Vuitton yang juga menjadi ciri khas kreasi tas Capucines dibuat Hildebrandt dengan menggunakan logam gunmetal hitam yang kemudian dilapisi dengan piringan hitam asli. Sementara itu, dasar tas dan tali bahunya dikreasikan dengan menggunakan kulit patent bertekstur yang mengingatkan siapapun pada kilau gelap pita VHS yang kerap dipergunakan sang seniman dalam karya-karyanya. 

Interior tas yang seluruhnya dilapisi materi kulit halus berwarna pink cerah menjadi kejutan manis ketika tas tersebut dibuka. Tak lupa, Hildebrandt turut membubuhkan logo label rekaman miliknya, Grzegorzki Records, pada bagian dalam tas Capucines tersebut.

DONNA HUANCA

Lukisan Cara de Fuego dan Muyal Jol menjadi ilham di balik kreasi Capucines milik Donna Huanca. Kedua lukisan tersebut menjadi wujud penyelidikan seniman kelahiran Chicago tersebut menyoal interaksi lukisan dengan tubuh perempuan. Efek sentuhan berbasis cat pun diwujudkan Huanca pada tas Capucines miliknya lewat teknik cetak 3D yang diaplikasikan di atas kulit tas berwarna putih, sebelum tiga teknik bordir yang berbeda—termasuk point bouclette—digunakan untuk meningkatkan bagian desain tertentu. 

Sulaman tersebut kemudian dilukis dengan tangan secara selektif untuk semakin menonjolkan efek sapuan kuas asli Huanca dan menampilkan kedalaman tekstur yang lebih signifikan dengan permainan warna biru dan putih. Kulit Capucines Taurillon nan klasik menjadi pilihan Huanca untuk melapisi logo LV yang terbuat dari logam dan menjadi bahan utama tali yang menemaninya. 

Sementara itu, lingkaran logam yang menjadi bagian dari pegangan tas, dirancang Huanca menyerupai cincin tindik tubuh berukuran besar untuk mengekspresikan hubungan estetikanya dengan tubuh perempuan.

HUANG YUXING

Tas Capucines persembahan Huang Yuxing dikreasikan berdasarkan lukisan miliknya, The Colossus Hidden Deep in the Hills (2019). Garis besar lanskap bergaya baru ini—termasuk siluet oval miliknya yang begitu khas—pertama-tama dicetak pada kulit putih-kelabu lalu disulam dengan benang abu-abu untuk semakin menonjolkan keindahannya. 

Ilustrasi pegunungan bak pelangi yang melintasi tubuh tas dibuat menggunakan sulaman tufting-stitch dengan beragam kedalaman berbeda untuk menghadirkan tekstur tambahan dan efek gerak pada rancangan tersebut. Tetesan cat yang tidak disengaja—salah satu karakteristik khas Huang yang lainnya—direproduksi dan disoroti melalui sulaman point bouclette dengan benang metalik. 

Logo LV yang dibuat dari enamel warna-warni menjadi pelengkap tas Capucines persembahan Huang yang berukuran lebih kecil—ukuran BB. Bagian dalam tas yang berwarna hot pink tampil serasi dengan warna pinggiran tas yang dilukis dengan tangan secara cermat dan hati-hati.

VIK MUNIZ

Terinspirasi oleh serial karya seni Quasi Tutto miliknya yang diluncurkan pada tahun 2019—yang menyoroti potongan-potongan kertas kecil—tas Capucines berukuran BB persembahan Vik Muniz mencuri perhatian lewat efek trompe l’oeil miliknya yang kaya tekstur dan sarat keceriaan. 

154 ikon mungil yang menghiasi tas—mulai dari teko, nanas, gajah, hingga bunga Monogram Louis Vuitton—dirangkai secara acak di seluruh permukaan tas. Beberapa di antaranya dihasilkan menggunakan pencetakan inkjet timbul, sementara lainnya mendemonstrasikan teknik marquetry yang mempergunakan kembali kulit-kulit arsip dari atelier Louis Vuitton. Pendekatan ini tentunya selaras dengan praktik artistik bertanggung-jawab seniman kelahiran São Paulo tersebut.  

Berbeda dengan bagian luar tas yang didominasi warna putih, bagian dalamnya dilapisi kulit kuning cerah nan halus. Cincin logam pada pegangan tas, hadir berdetail kulit yang menciptakan tekstur seperti kanvas. Kulit yang sama juga digunakan pada dasar tas dan untuk membungkus logo LV yang khas.

PAOLA PIVI

Terinspirasi oleh salah satu karyanya, One Cup of Cappuccino Then I Go (2007), tas Capucines gubahan Paola Pivi menyoroti kebolehannya mengolah kulit lewat teknik marquetry. Ilustrasi macan tutul yang disulam pada tas tersebut tampil agung, sebelum dicetak ulang untuk menghasilkan tampilan dan tekstur layaknya bulu sungguhan. 

Tiap bagian ilustrasi tersebut disematkan secara terpisah, meliputi 30 cangkir dan tatakannya yang terbuat dari kulit patent mengilap bak porselen, serta busa cappuccino yang mengembang—terbuat dari kulit anak domba berwarna emas dan berhiaskan kertas emas.

Tas Capucines rancangan Pivi turut meliputi dua kantong bergaya safari pada bagian permukaan tas—menjadi yang pertama bagi Capucines—serta kancing penutup logam bergrafir logo Louis Vuitton. 

ZENG FANZHI

Sensorik dan dramatis, interpretasi ulang lukisan potret diri Vincent Van Gogh yang dilahirkan pada tahun 2017 oleh Zeng Fanzhi menjadi inspirasi utama tas Capucines miliknya. Proses kompleks mentransfer gambar yang hidup ke permukaan kulit tas diawali dengan pembuatan pola—yang membutuhkan 3 perajin nan terampil dan waktu 10 hari untuk menyelesaikannya—sebelum beragam macam teknik bordir, termasuk chenille-yarn tufting, bisa diaplikasikan. 

Permukaan 3D dan tekstur yang dihasilkan bordir tersebut memimik sapuan kuas Zeng dengan sempurnanya, tak terkecuali lapisan warna pada 42 benang berbeda warna serta lebih dari 700.000 jahitan bordir. Aplikasi yang sama turut tampak pada penutup tas serta logo LV khas Capucines yang tampil serasi berhiaskan sapuan kuas khas seniman asal Wuhan tersebut.

Bahan satin hitam nan lembut melapisi interior tas Capucines rancangan Zeng. Sebagian darinya dicetak dengan motif sapuan kuas yang serupa dengan permukaan tas bak mahakarya tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.