Mira Lesmana: Di Balik Gempita Jumlah Penonton Film Indonesia

mira lesmana opinion elle indonesia women in cinema 2020 - cover luna maya - photography chris bunjamin - styling ruben william steven

Apakah pekerja perempuan di perfilman Indonesia telah merasa cukup aman berada di ‘ruang kerja’nya? Oleh MIRA LESMANA.

Empat tahun terakhir, jumlah penonton film Indonesia meningkat tajam. Diawali di tahun 2016 dengan kesuksesan Ada Apa dengan Cinta 2, My Stupid Boss dan Warkop DKI Reborn yang masing-masing meraih lebih dari tiga juta penonton. Jumlah penonton film Indonesia tercatat 16,2 juta pada tahun 2015, namun di tahun 2016 menembus 34,5 juta penonton.

Di tahun-tahun berikutnya, penonton film nasional meningkat hingga mencapai lebih dari 50 juta penonton di tahun 2019. Sejak 2016, lahir film-film di atas satu juta penonton yang diproduseri oleh perempuan. Selain saya (Ada Apa Dengan Cinta 2 – 2016), ada Lala Timothy (Wiro Sableng – 2018), Anggia Kharisma dan Gina S. Noer (Keluarga Cemara – 2019), Shanty Harmayn dan Tia Hasibuan (Perempuan Tanah Jahanam – 2019) dan Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020) yang diproduseri Anggia Kharisma.

Selain itu, 4 perempuan memperlihatkan keunggulannya sebagai sutradara yang juga meraih jutaan penonton; Upi (My Stupid Boss – 2016), Meira Anastasia sebagai Co-Director (Milly & Mamet – 2018 dan Imperfect – 2019), dan Gina S. Noer dalam film Dua Garis Biru (2019). Sineas perempuan bukan hanya sukses di antara besarnya jumlah penonton dalam negeri, pencapaian artistiknya di dunia internasional juga mengagumkan. Beberapa di antaranya Mouly Surya (Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak – 2017) dan Kamila Andini (Sekala Niskala – 2017) yang menuai berbagai penghargaan di festival internasional bergengsi.

elle indonesia women in cinema 2020 - photography by ifan hartanto - styling sidki muhamadsyah - rayya makarim - mouly surya - kelly tandiono
Rayya Makarim, Mouly Surya, Kelly Tandiono

Tidak bisa dipungkiri, kehadiran pekerja film perempuan telah memberikan banyak gagasan baru, sudut pandang yang unik, serta pencapaian artistik yang tinggi. Sebuah ruang berkarya yang diharapkan terus berkembang agar ‘kekayaan’ sudut pandang film Indonesia terus meningkat. Pertanyaannya, apakah pekerja perempuan di perfilman Indonesia telah merasa cukup aman berada di ‘ruang kerja’nya?

Pertanyaannya, apakah pekerja perempuan di perfilman Indonesia telah merasa cukup aman berada di ‘ruang kerja’nya?

Desas-desus adanya pelecehan seksual di tempat pembuatan film mulai merebak di antara cast dan crew film di Indonesia. Sejak 2017, saya telah mendengar langsung cerita dari beberapa pekerja film perempuan yang mengalami pelecehan seksual di lokasi kerja. Kisah yang sungguh membuat hati geram dan ingin bisa segera bertindak.

Membaca berbagai kasus pelecehan seksual di belahan dunia manapun, hampir semua korban mengalami trauma dan ketakutan untuk bicara. Ketakutan bahwa tidak ada yang mempercayai cerita mereka, kegelisahan bahwa proses pengaduan justru membuat mereka dipermalukan, dan kekhawatiran terhadap kemungkinan penyerangan balasan dari sang pelaku. Ditambah lagi kebanyakan pelaku duduk di posisi yang memiliki ‘power’ sehingga membuat banyak korban merasa terancam pekerjaannya.

Korban-korban pelecehan seksual di Indonesia, termasuk di industri perfilman, mengalami nasib yang sama. Dan yang terburuk, hukum di Indonesia saat ini tidak berpihak pada korban. Membuka nama pelaku, apalagi bila tidak memiliki bukti konkret, bisa membuat korban justru terjerat hukum pencemaran nama baik.

Baru-baru ini, melalui Twitter, seorang aktor perempuan Indonesia memberanikan diri bersuara tentang pelecehan seksual yang dialaminya. Berita ini membuka kembali ruang diskusi di antara pekerja film perempuan, termasuk saya, dan memunculkan pertanyaan besar: “Apa yang bisa kita lakukan jika hukum belum berpihak dan pemakluman terjadi dimana-mana?”

elle indonesia women in cinema - jajang c noer - julie estele - widyawati sophiaan - ifan hartanto
Jajang C. Noer, Julie Estelle, Widyawati

Sejak 2017, atas nama rumah produksi Miles Films, saya telah memasukkan klausul pelecehan seksual dalam kontrak crew dan cast film yang kami produksi. Ini langkah pertama untuk menyatakan bahwa rumah produksi setidaknya menyediakan ruang kerja yang aman bagi pekerjanya. Selain membangun awareness antarsesama pekerja film untuk memastikan tidak ada ‘predator’ di ruang kerja. Sekaligus memberikan jaminan keamanan apabila seseorang mengalami atau menyaksikan tindakan pelecehan seksual.

Gerakan #MeTooMovement memberikan banyak pencerahan bahwa usaha dan suara kolektif bisa membawa hasil dalam melawan pelecehan seksual di ruang kerja. Para perempuan membangun ‘warning system’ bersama. Nama-nama para predator, secara rahasia, diedarkan ke sesama pekerja perempuan untuk memastikan ia tidak berada dalam ruang kerja kita. Harapannya, kaum laki-laki pun ikut serta mendukung gerakan ini.

Perfilman Indonesia harus sehat agar bisa terus melaju. Sebab itu, a healthy and safe working environment is key. Seluruh pekerja film sepatutnya menutup akses bagi para pelaku pelecehan seksual. Para perempuan harus merasa aman agar bisa terus andil membangun film Indonesia dalam ruang kerja yang kondusif. Dengan begitu, gempita peraihan jumlah penonton dan pencapaian artistik di perfilman Indonesia tidak sekadar menjadi hiruk-pikuk yang menutupi tindakan memalukan dari para pekerjanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.