Raisa: Bekerja Menjadikan Saya Seorang Ibu yang Lebih Baik

raisa interview elle indonesia oktober 2019

Raisa akhiri hiatus pasca melahirkan anak pertama. Status sebagai ibu menandai babak baru dalam perjalanan karier sang penyanyi.

Sembilan tahun silam Raisa Andriana merayu publik dengan senandung tentang hati. Single Serba Salah, yang dirilis pertama kali melalui platform digital pada 2010, hadir menyuarakan emosi seseorang di dalam hubungan yang stagnan. Rangkaian kalimat sentimental menyoal rasa mendalam antar manusia, cinta dan patah hati, diiringi musik pop bernuansa dinamis segera membius telinga pendengarnya.

Tidak perlu menunggu lama untuk lagunya pecah di pasar dan menjadi anthem bagi romantika asmara nan sendu. Selama beberapa saat—mungkin masih kerap terdengar hingga sekarang—nama Raisa (panggilan akrabnya) bahkan menjadi idiom yang digunakan seseorang ketika dilanda perasaan serbasalah.

Tahun 2011 ia merilis album eponim perdana, sosoknya telah mengisi hati jutaan orang. “Saya seorang lirik-sentris. Buat saya pribadi, lirik dapat menyentuh kehidupan seseorang,” aku penyanyi kelahiran 6 Juni 1990 itu.

raisa interview elle indonesia oktober 2019
Busana: Prada

Saya bertemu Raisa selang beberapa minggu ia meluncurkan lagu Kembali, bulan Juli 2019 silam. Sudah cukup lama tidak mendengar karya barunya, sejak tujuh bulan lalu (November 2018) ia putuskan hiatus kala mempersiapkan diri menanti kelahiran Zalina Raine Wyllie (putri pertamanya bersama sang suami, Hamish Daud). Lagu itu pun menjadi pernyataan resmi Raisa kembali aktif di dunia yang telah membesarkan namanya.

“Tahun ini, saya akan merilis mini album. Rencananya berisi lima atau enam lagu baru,” ujarnya tersenyum berbagi kabar anyar. Saya beruntung dapat menemui Raisa hari itu. Sebab, agendanya untuk menyalakan eksistensi sudah dirancang padat. “Saya juga sedang mempersiapkan konser besar,” kata Raisa. Saya, tentu saja, tidak menahan diri untuk bertanya lebih jauh. Tetapi ia tersentak lalu melirik sang manajer label, Matthew, yang menemani duduk bersama kami, “Kapan kita akan mengumumkannya,” tanyanya. “Dalam minggu ini,” jawab Matthew.

Raisa berpaling kembali pada saya dan membuka rahasia, “Untuk tahun depan, saya akan menggelar konser menyambut sepuluh tahun perjalanan bermusik. Konser ini akan menjadi pertunjukkan yang sangat masif, di atas panggung berkapasitas lebih dari 2.000 orang.” Matanya yang bulat dan ramah itu seketika berbinar. Ia tampak bersemangat. Empat hari usai pertemuan kami, sebuah foto hitam putih bertuliskan ‘Raisa Live in Concert Jakarta 2020’ telah diunggah di akun Instagram pribadi Raisa.

raisa interview elle indonesia oktober 2019
Busana: Comme Des Garçons–The Papilion Duo

Mengenang satu dekade perjalanannya sebagai musisi, ingatan Raisa mundur ke tahun 2010 saat pertama menginjak studio rekaman. “Saya ingat tidak memiliki vocal director, hanya bersama tim produser. Kami seperti melakukan eksperimen, mencoba setiap komposisi nada yang dirasa tepat,” kisahnya. Jika sekarang mendengar lagu-lagunya terdahulu, Raisa seringkali cekikikan. “Pecahan nadanya masih sederhana, belum ada elemen kreatif di backing vocal,” katanya seiring tawa. Raisa menginjak ranah musik Indonesia dengan membawa bakat mentah.

Pendidikan vokal ia tempa hanya lewat ekstrakurikuler paduan suara semasa duduk di bangku sekolah. Raisa muda memang senang menyanyi, tetapi ia tidak berpikir hobinya bakal berkembang menjadi profesi. “Saya baru menganggap ini suatu pekerjaan ketika diminta tampil di sebuah acara dan mendapatkan bayaran untuk pertama kalinya,” ceritanya.

Waktu itu tahun 2007, Raisa yang masih menjalani tingkat akhir sekolah menengah atas mencari jalannya melalui menyanyi di acara-acara pernikahan dan ulang tahun, serta tampil di beberapa kafe Ibu Kota. Tiga tahun turun-naik pentas kecil, ia melangkah ke panggung yang lebih besar. Sempat bergabung menjadi vokalis sebuah band namun tidak berlangsung lama.

Lama berteman dengan Asta Andoko (gitaris RAN) membukakan pintu untuknya masuk dapur rekaman. Dibantu Rama Handyanto (pemain bass Soulvibe) dan Ario Seto (mantan pemain keyboard Soulvibe) yang bergabung dengan Asta sebagai produsernya, Raisa mengambil jalan solo. Kerja sama ini mencetak tiga lagu hit; Serba Salah, Apalah (Arti Menunggu), dan Coult It Be; serta menghasilkan album perdana bertajuk Raisa yang mengantarkannya meraih penghargaan Penyanyi Pendatang Baru Terbaik di ajang Anugerah Musik Indonesia tahun 2012.

raisa interview elle indonesia oktober 2019
makeup: BUBAH ALFIAN

Mengecap sukses di awal karier tidak lantas membuat Raisa merasa di atas awan. Ia berbangga hati namun menjaga diri dalam gravitasi. Ia sadar awalan baiknya turut mendapat campur tangan keberuntungan. Setiap pengalaman yang dituai sepanjang perjalanan, ia jadikan guru untuk mengasah kemampuan bermusik lebih tajam.

Seiring perjalanan, Raisa telah merilis tiga album studio dengan daftar panjang lagu-lagu hit. Kredibilitasnya kian diakui. Tercatat, ia berhasil mengantongi 20 piala penghargaan, salah satunya dari ajang internasional MNET Asian Music Awards (MAMA) yang mendaulatnya sebagai Best Asian Artist di tahun 2014.

Sebagaimana kebanyakan penyanyi pop pendahulunya, Raisa menitikberatkan romantisisme dalam lirik setiap lagu. Personalitas kerap memantik daya cipta. “Saya ini orang yang cukup pemalu dan tertutup. Lirik ialah salah satu tempat di mana saya bisa nyaman berbicara,” katanya. Ketika menyanyikan beberapa lagu lama yang ditulis berdasar pengalaman pribadi, Raisa tak berkilah jka terkadang ia dapat terbawa suasana. “Seolah perasaan itu kembali merasuki pikiran saya,” ujarnya tergelak.

Tidakkah itu menggangunya? Raisa kemudian mengingat sebuah kutipan—milik seorang penyair, David Jones—bunyinya, “Adalah berkat sekaligus kutukan untuk dapat merasakan segalanya dengan sangat mendalam.” Adakalanya ia memerintahkan diri untuk acuh, namun dengan begitu sama artinya menyangkal diri sendiri.

raisa interview elle indonesia oktober 2019
Busana: Tibi–Jade Boutique (atasan), Prada (celana).

Raisa belajar memelihara setiap rasa yang menyentuh indra. “Seiring pendewasaan diri, saya semakin mengenal pribadi dan mampu mengontrol emosi secara lebih positif sebagai alat berkarya,” jawabnya. Ibarat amunisi yang tersimpan dalam senjata siap pakai, perasaan tersebut dapat meledakan inspirasi setiap kali ia ingin mencipta lagu atau harus menyanyi di atas panggung.

“Suami saya pernah heran bagaimana saya bisa sangat lepas di hadapan 50.000 orang dan pendiam kalau di depan lima orang. Saya pikir, itu karena efek mengenakan sepatu hak tinggi membuat saya menyelam ke dalam karakter lebih kuat,” cerita Raisa setengah tertawa.

Pada kenyataannya, berdiri di atas panggung hampir seperti remedi diri dari elemen negatif. “I feel liberated everytime I get on stage. Saya seperti menggenggam kekuatan. Saya dapat membuat penonton merasakan apa yang saya inginkan,” lanjutnya. Menghadapi ribuan orang yang—ia tahu—mencintainya, seolah membuat Raisa sadar bahwa ia pantas berada di tempatnya.

Pengakuan terhadap diri sendiri mendorongnya untuk keluar dari zona nyaman berkarya. Tahun 2013, ia putuskan mandiri dengan mendirikan label musik Juni Records. Dari seorang penyanyi, Raisa menjajal kemampuan sebagai produser. Namun, jangan bayangkan ia duduk dalam ruangan layaknya bos, dan menilai karya para musisi. “Mungkin sesekali memberi masukan kalau mereka memperdengarkan demo lagunya, tetapi saya enggak akan berusaha mengubah apa yang telah mereka kerjakan sepenuh hati.”

raisa interview elle indonesia oktober 2019

Perubahan juga nyata terasa pada beberapa lagu terakhir Raisa. Ia mengolah lirik yang tidak lagi berfokus soal asmara, seperti di lagu Nyawa dan Harapan. Kolaborasinya bersama disjoki Dipha Barus pada akhir tahun 2018 silam, menunjukkan bahwa vokal lembutnya yang selama ini lekat dengan musik pop beraliran R&B atau orkestra megah, juga serasi mengiringi elemen synth yang menghentak.

Ia tidak khawatir ditinggalkan pendengar. “Tidak ada jaminan formula tetap untuk sebuah lagu dapat diterima pasar. Jadi, kenapa tidak kita coba saja. Saya percaya pada kemampuan, telinga, serta penilaian saya. Di luar itu semua, saya percaya para pendengar saya,” katanya optimis.

Sikap percaya diri itu pun tumbuh semakin kuat dalam dirinya seiring status barunya sebagai seorang ibu. Saya menyimaknya bercerita tentang kesulitan beradaptasi di beberapa minggu awal melahirkan. Raisa sempat mengalami baby-blues karena kelelahan yang luar biasa. “Terlepas dari kebahagiaan tak terhingga yang diberikan seorang anak kepada seorang ibu, pengalaman melahirkan terlalu absurd. Saya rasa setiap ibu baru wajar melaluinya, disadari atau tidak. Bayangkan, yang semula semua orang memanjakan Anda saat hamil, tiba-tiba Anda bertanggung jawab penuh mengerjakan seluruh aspek kehidupan seorang manusia.”

Raisa bersyukur pengalaman itu tidak berangsur lama. Perjuangannya mengajarkan ia satu hal, “Enggak ada satu orang ibu yang tahu apa yang mereka lakukan dengan anak pertama. Kami menebak-nebak dan berusaha bertahan dengan melakukan yang terbaik.”

Untuk alasan tersebut, ia tidak mengunggah apa pun perihal mothering. Dengan cara itu, ia tidak membiarkan dirinya terpengaruh dikte orang lain, atau membuat orang lain menjadikannya patokan. “Saya tidak mau upload foto selfie habis menyusui dan terlihat fabulous,” kata Raisa sembari mengibas rambut panjangnya yang hitam dan lebat sebelum melanjutkan. “Padahal, saya menangis karena tertatih saat awal menyusui. Saya tidak ingin ibu lain memikirkan realita yang berbeda.”

raisa interview elle indonesia oktober 2019
Busana: Self Portrait–Jade Boutique

Jika ada ibu yang rajin mengunggah foto dan video kegiatan sang anak, hal itu tidak berlaku pada Raisa. Bukan berarti ia berusaha menyembunyikan sang anak, sama sekali tidak. Ia kerap membawa puterinya bepergian, bahkan sesekali mengajaknya turut serta bekerja. “Saya dan Hamish sadar tidak lagi memiliki kemewahan atas privasi ketika memutuskan menjalani profesi kami. Tapi, Zalina masih memilikinya dan saya enggak akan mengambil hak itu sampai ia bisa menjawab sendiri keinginannya.”

Menjadi ibu merupakan tanggung jawab berat, dan menjadi seorang ibu yang bekerja butuh upaya ekstra keras. Sejak mulai lebih aktif bekerja, Raisa menitipkan urusan menjaga sang putri kepada keluarga. Tidak menjadi yang pertama melihat perkembangan anak, bukan sebuah persoalan. Satu prinsipnya, ia harus kenal anak sendiri. “Hari ini anak saya sudah bisa makan dengan tangannya sendiri!”

Raisa mengambil ponselnya dan menunjukkan rekaman video sang anak yang sedang makan. Parasnya bersemu haru. Raisa tidak menyesali keputusannya kembali bekerja. Dengan bekerja membuatnya bahagia, dan itu adalah utama. “Rasanya kalau saya senang, saya menjadi ibu yang lebih baik.” ujarnya tersenyum mengakhiri obrolan seiring panggilan untuk memulai pemotretan.

DOC. ELLE Indonesia; photography CHRIS BUNJAMIN styling ISMELYA MUNTU assistant styling GHINA RIZQI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.