Refleksi Tahun Baru: Jangan Jadi “Normal”, Jadi Lebih Tangguh

resolusi tahun baru 2022

Kita semua sedang berjalan sebagai penyintas pandemi. Semoga panduan yang diberikan oleh HERMAWAN KURNIANTO ini mempermudah dan meringankan langkah- langkah Anda.

Pandemi Covid-19 telah menjadi life-changing event. Berbagai aspek kehidupan manusia telah berubah, dan bisa jadi banyak di antaranya tidak akan kembali ke kondisi seperti sediakala. Bekerja atau belajar dari rumah, serta melakukan pertemuan virtual dengan sahabat atau keluarga yang semakin jamak terjadi membuktikan bahwa terkoneksi tanpa berinteraksi secara fisik telah resmi menjelma sebagai suatu kelaziman.

Di sisi lain, kita juga ditempa oleh rasa kehilangan. Mulai dari kehilangan kehangatan berkomunikasi secara tatap muka, hingga kehilangan orang tercinta yang menjadi korban keganasan Covid-19. Yang terakhir ini tentunya sangat mengoyak emosi dan mental. Pandemi memaksa kita untuk berkonfrontasi dengan sisi diri yang paling rapuh. Mendorong kita melampaui batas-batas zona kenyamanan. Kesehatan raga dan jiwa begitu tertantang dan terkuras.

Aniuta (RAD Models Management) for ELLE Indonesia December 2021 photography Zaky Akbar styling Sidky Muhamadsyah fashion Zara (kemeja), H&M (atasan aksen pita & rok) makeup Aditya hair Kano

Dari awal tahun 2020 hingga saat ini, kita masih belum berhenti berjuang menghadapi pandemi, walaupun dengan skala intensitas yang fluktuatif. Memasuki penghujung tahun 2021, kasus positif Covid-19 di Tanah Air sudah jauh lebih menurun dibandingkan pada masa PPKM Darurat Juni-Juli 2021 silam yang ketika itu kondisi sedang parah-parahnya. Membaiknya keadaan diiringi pelaksanaan vaksinasi yang makin digencarkan secara masif. Namun dalam situasi yang melegakan ini bukan berarti protokol kesehatan (prokes) tidak lagi berlaku. Tidak ada kata usai untuk selalu waspada akan risiko yang mengintai.

Dan new normal menjadi sebuah terminologi yang, entah kenapa, seperti mengaburkan batasan antara optimisme dan pesimisme. Bagi mereka yang memandang penuh harapan, new normal adalah sebuah fase “a light at the end of the tunnel”. Inilah saatnya untuk keluar dari pengapnya dan kelamnya “terowongan”, dan menghirup udara kebebasan yang menyegarkan. Sementara bagi mereka yang masih belum bisa lepas dari belenggu kecemasan, ketakutan, dan kesedihan, new normal dipandang tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik. Ini hanyalah fase ‘penghiburan’ yang semu dan terasa dipaksakan.

Aniuta (RAD Models Management) for ELLE Indonesia December 2021 photography Zaky Akbar styling Sidky Muhamadsyah fashion Sean Sheila (celana), Studio Moral (mantel motif kulit ular & blus) makeup Aditya hair Kano

Dengan adanya beragam pandangan terhadap pandemi ini, tidak ada yang tidak setuju bahwa hidup harus terus berjalan. Selama mesin waktu belum ditemukan untuk kembali ke waktu sebelum pandemi dan mencegahnya terjadi, maka meratap dan menyerah seharusnya bukanlah pilihan jalan yang ditempuh. Kehidupan setelah pandemi adalah sebuah keniscayaan, for better or worse. Kalau memang kembali ke kondisi normal atau mungkin ke kondisi sebelum pandemi adalah suatu kemustahilan, maka berpikir dan bersikap lebih realistis membuat segalanya menjadi lebih masuk akal. Ubahlah ekspektasi untuk membuat keadaan menjadi lebih baik, sekecil apa pun itu.

Bisa jadi kita melupakan atau tidak menyadari bahwa belum lama ini kita menjadi sangat peduli terhadap orang-orang di sekitar yang sebelumnya mungkin kita acuhkan. Kita lebih banyak menghabiskan waktu bersama pasangan dan buah hati di rumah. Kita lebih memerhatikan kesehatan fisik dan mental. Kita menjadi lebih bisa mengapresiasi hal-hal sederhana yang sebelumnya luput dari perhatian kita. Kita menemukan kembali sisi diri yang selama ini mungkin terpendam. Kita membuktikan bahwa diri kita sesungguhnya lebih kuat dari apa yang dibayangkan. Kita bisa beradaptasi dalam situasi yang sulit, sekaligus mampu untuk bangkit dari keterpurukan.

Aniuta (RAD Models Management) for ELLE Indonesia December 2021 photography Zaky Akbar styling Sidky Muhamadsyah fashion Louis Vuitton (mantel, rok mini, tas Coussin dan face shield) makeup Aditya hair Kano

Berikut langkah-langkah yang patut Anda terapkan untuk membuat kehidupan setelah pandemi menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.

Aturan 80%

Ada ungkapan yang berpijak pada ajaran Konfusius, yaitu hara hachi bu, yang kerap diterjemahkan menjadi “Makanlah hingga Anda kenyang 80%”. Orang-orang yang tinggal di Pulau Okinawa mempraktekkan prinsip ini dengan mengonsumsi makanan yang mengandung sekitar 1.800 kalori per hari. Hasilnya, jumlah penderita kanker, penyakit jantung, dan demensia di pulau tersebut jauh lebih rendah dibandingkan mereka yang tinggal di Barat. Banyak penduduk Okinawa yang usianya lebih dari 100 tahun.

Aniuta (RAD Models Management) for ELLE Indonesia December 2021 photography Zaky Akbar styling Sidky Muhamadsyah fashion Sean Sheila (mantel), H&M (celana kulit) makeup Aditya hair Kano

Sementara itu, di Barat, orang-orang cenderung berpegang pada prinsip mendorong diri hingga ke batas maksimum, bahkan melampauinya. Menginjak pedal gas dalam-dalam, dan mengerahkan segenap tenaga untuk mencapai titik 110% (karena 100% belumlah cukup). Ingin menjadi serba lebih dalam beragam aspek kehidupan; finansial, karier, hubungan, dan kesehatan.

Para psikolog berpandangan bahwa tekanan- tekanan akibat pandemi memicu orang-orang untuk melihat kembali nilai-nilai yang mereka anut dan mengevaluasi apakah kehidupan yang dijalani telah selaras dengan keyakinan serta aspirasi mereka. Hal ini memunculkan sebuah peluang untuk kembali ke awal, mengatur ulang, dan secara sadar memilih gaya hidup yang lebih tidak riuh dan lebih berkelanjutan. Keinginan untuk “live hard” beralih menjadi keinginan untuk “live well”.

Tetap Terhubung dan Lebih Fleksibel

Ternyata, mengurus anak di rumah sambil berjibaku dengan pekerjaan kantor adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Namun lambat laun, jam kerja menjadi lebih fleksibel seiring dengan semakin terbiasanya orangtua mengatur jadwal meeting di antara jam sekolah virtual dan jam makan anak-anak.

photography DIEGO LORENZO styling CHERYL TAN for ELLE Indonesia April 2020

Kita sudah bisa menerima kenyataan bahwa kita memang tidak bisa menjadi manusia yang sempurna, yang sedemikian hebatnya mampu menjalankan peran sebagai orangtua dan pekerja secara bersamaan tanpa cela. Hal terpenting adalah keluarga yang menghabiskan lebih banyak waktu bersama secara fisik, yang mengingatkan kita betapa tak ternilainya hubungan ini.

Sementara itu, kata “kantor” telah mengalami redefinisi menjadi kamar tidur, ruang tamu, teras, atau kedai kopi. Kita menyadari bahwa kita bisa bekerja lebih efektif dan produktif dengan membuat pekerjaan mengikuti kondisi yang kita jalani, bukan menyesuaikan kehidupan kita dengan ritme pekerjaan.

Kesehatan Mental: Prioritas Di Atas Segalanya

elle indonesia - photography thomas sito - styling sidky muhamadsyah - mental health
Cynthia Ockenden (Wynn), Michelle Ramli (The A Team), (Julia (2 Icons) for ELLE Indonesia September 2019 photography Thomas Sito styling Sidky Muhamadsyah

Pandemi menciptakan dampak yang berbeda- beda bagi tiap individu. Isu self-care menjadi kian mengemuka, yaitu memberikan lebih banyak ruang dan kesabaran dalam menghadapi kelemahan diri. Ada yang melakukannya dengan cara menulis, berjalan kaki, atau berendam dalam bathtub. Dan self-care tidak lagi dipandang sebagai bentuk memanjakan diri, tetapi lebih sebagai suatu upaya untuk bertahan dalam situasi yang sulit.

Dengan berfokus pada kesehatan mental, maka akan membantu diri kita untuk terus bertumbuh, mengenali diri secara lebih baik, berani menghadapi hal yang terus menghantui pikiran, dan melakukan self improvement. Bicara mengenai kesehatan mental, hal terpenting yang harus diterapkan adalah mengomunikasikannya, baik dengan orang- orang terdekat maupun kalangan profesional yang mampu menanganinya.

Kemungkinan dari Ketidakmungkinan

elle indonesia photography HONG JANG HYUN styling LEE JAE HEE
photography HONG JANG HYUN styling LEE JAE HEE for ELLE Indonesia November 2019

Kondisi terisolasi di rumah dalam jangka waktu yang lama memaksa kita untuk mencoba hal-hal baru. Yang tadinya dianggap kemustahilan ternyata bisa berubah menjadi kemungkinan, dan ini membuat kita memperoleh perspektif yang berbeda mengenai kemampuan kita.

Membuka katup-katup peluang baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dari sekadar mencoba, kemudian berlanjut menjadi hobi baru, hingga dalam beberapa kasus akhirnya tidak hanya berakhir sebagai hobi tetapi juga mendatangkan penghasilan yang menjanjikan.

Anda Tidak Sendirian

Pandemi Covid-19 menjadi musuh kita bersama sebagai warga dunia. Membuat kebersamaan terasa jauh lebih erat dan hangat. Kita merasa semakin bersyukur bahwa kita tidak sendirian. Membantu orang lain yang membutuhkan menjadi suatu kebahagiaan tersendiri yang benar-benar menenteramkan jiwa.

elle indonesia des 2019-Styling SIDKY MUHAMADSYAH photography ZAKY AKBAR
Vara (RAD Models) for ELLE Indonesia Desember 2019 photography Zaky Akbar styling Sidky Muhamadsyah

Hidup berdampingan dan saling menguatkan satu sama lain mempertegas satu hal yang mungkin sudah mulai kita lupakan: memaknai keberadaan kita di muka bumi dengan tidak hanya mengeksplorasi potensi diri, tetapi apa yang bisa kita lakukan dengan potensi tersebut untuk merangkul sesama.

Menyembuhkan Planet Bumi

Kalau ada yang bertanya sekaligus menantang, “Hal positif apa yang timbul dari pandemi Covid-19?”, maka salah satu jawabannya adalah kesehatan bumi yang membaik. Seiring dengan banyaknya penerbangan yang dibatalkan dan pembatasan mobilitas masyarakat, terjadi penurunan tingkat emisi karbon global, yang membantu memperbaiki kualitas udara di lebih dari 80% negara di seluruh dunia.

Dalam World Air Quality Report tahun 2020 yang dirilis oleh QAir, emisi yang terkait dengan perbuatan manusia turun signifikan di masa pandemi. Terdapat 65% kota-kota global di dunia memiliki kualitas udara yang lebih baik di tahun 2020 ketimbang tahun 2019. Sejumlah 84% negara yang berpartisipasi dalam polling pun melaporkan peningkatan kualitas udara.

Luna M (POP House) for ELLE Indonesia December 2021 photography Olga Rubio Dalmau styling Sylvia Bonet

Meski nantinya kita akan kembali naik pesawat untuk menikmati liburan yang tertunda, atau menggunakan moda transportasi publik untuk pergi dan pulang dari tempat kerja, sepertinya kita tidak akan melupakan sensasi menyenangkan ketika kita mengayuh sepeda bersama teman-teman. Kita tidak akan meninggalkannya begitu saja.

Pandemi juga menunjukkan kepada kita bahwa meeting atau konferensi tetap dapat berlangsung dengan baik, efektif, dan efisien tanpa membutuhkan tatap muka. Waktu yang tadinya dihabiskan untuk melakukan perjalanan, kini dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat, termasuk tetap berada dekat dengan orang-orang yang kita cintai. Sebagai bonus, tentu saja membantu bumi kita untuk menjadi semakin nyaman untuk dihuni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.