Tata Ruang Modern Arsitektur Gaya Belanda

villa rinjani - domus living studio - elle oktober 2019 - elle decor indonesia

Desainer interior dari tim Domus Living Studio, mengungkap idenya meremajakan interior rumah tua gaya kolonial menjadi hunian sarat estetika kontemporer.

Lawas bukan berarti usang. Ketika diminta memugar interior Rumah Rinjani di Malang, Jawa Timur, modernitas dijunjung tinggi oleh desainer interior sekaligus pendiri Domus Living Studio, Severiano. Prinsip kebaruan ditampilkan paralel dengan wajah autentik hunian gaya Belanda.

Rumah seluas 2.437 m2 yang terdiri dari tiga bangunan itu seolah berpijak di antara dua masa. Nuansa lampau tersurat lewat garis rancang arsitektur era kolonial pada dua bangunan di depan yang merupakan kediaman utama serta rumah tamu.

villa rinjani - domus living studio - elle oktober 2019 - elle decor indonesia
Komposisi warna dalam rumah sengaja dominan rona-rona netral seperti putih, cokelat, hingga abu-abu agar menghasilkan suasana teduh dan lebih tenang.

Pemugaran arsitektur memang tidak mengubah bentuk asli bangunan. Arsitek Hidajat Endramukti yang menangani konstruksinya hanya mengganti beberapa elemen, seperti atap, lantai, kusen jendela dan pintu, yang usang termakan zaman menggunakan bahan material aktual.

Sementara itu, paviliun di lahan belakang menonjol secara kontemporer dengan fasad kaca. “Gagasan untuk mendirikan bangunan ini baru muncul di tengah proses renovasi sehingga desainnya sengaja kami rancang berbeda, lebih modern sesuai hasil diskusi dengan pemilik,” kata Severiano.

Aliran kehidupan abad 21 kian terasa kental di dalam rumah. Ragam furnitur berdesain eklektik yang diimpor langsung dari berbagai negara Eropa mengisi setiap sudut ruangan sejalan masa.

Beberapa di antaranya dibuat khusus, seperti kabinet kayu sepanjang 5.5 meter dengan cermin raksasa untuk menyimpan LED layar datar di living room kediaman utama. Futurisme turut dihadirkan oleh penempatan ranjang yang diberi pencahayaan pada bagian bawah di setiap kamar tidur.

Walau suasana yang dibangun begitu kontemporer, kesan klasik itu masih menyelimuti sudut-sudut rumah. “Agar selaras dengan arsitekturnya,” kata Saveriano. Nostalgia masa lalu hidup lewat karya seni berlatar tradisional dan furnitur model klasik, seperti tempat duduk panjang serupa gamelan. Beberapa furnitur juga mengadaptasi tema ukiran khas Jawa.

Sentuhan alam tidak hanya berpusat pada taman di lahan belakang. Pot-pot tanaman berukuran kecil ditempatkan di setiap sudut rumah hingga menjadi aksentuasi segar dalam beberapa furnitur.

Nuansa elegan maksimal pun segera tertangkap mata. Sebagian besar dinding rumah diselimuti kertas dinding gambar pepohonan yang dilukis tangan hasil pesan langsung dari De Gourmey di UK. Cara ini sekaligus efisien dalam meremajakan bahan material sepuh tembok rumah.

Photography FERNANDO GOMULYA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.