Tatjana Saphira: Belajar Utamakan Introspeksi Bukan Emosi

tatjana saphira interview elle indonesia november 2019

Komentar negatif di media sosial membuat Tatjana Saphira sadar bahwa ia tidak bisa membuat semua orang senang.

Sepulang Tatjana Saphira dari kota New York, usai menyaksikan gelaran Tory Burch untuk musim spring/summer 2020 dalam perhelatan New York Fashion Week, kami bertemu di Jakarta. Saya menemuinya di suatu restoran di Kemang, Jakarta Selatan. Ia datang mengenakan pakaian kasual: celana denim biru dan atasan berpotongan longgar. Rambut digerai seadanya, tanpa riasan berlebih di wajahnya.

Saya segera bayangkan obrolan kami akan jauh dari kesan formal yang kaku. Beberapa saat setelah saling menanyakan kabar, datang satu gelas jus stroberi miliknya dan satu gelas kopi milik saya. Kami lantas sama-sama meletakkan handphone di atas meja dalam keadaan terbalik.

tatjana saphira interview elle indonesia november 2019

Apa yang menarik dari kaum muda? Kerap tersirat semangat yang berkobar dan energi yang melimpah seiring mereka mengutarakan isi pikirannya. Generasi yang tak mau ketinggalan ambil peluang. Bergerak dinamis lewat aksi-aksi kreatif.

Kendati kita semua tahu, menjadi anak muda tidak selalu mudah. Menjadi yang diharapkan punya karier gemilang di masa depan, berharap suara dan aksi kita didengar serta diapresiasi, memilih mana yang baik untuk kehidupan dan diri sendiri, serta menemukan siapa dan apa yang cocok untuk kita.

Namun kini, tidak sedikit perempuan berusia muda yang menyimpan bakat-bakat baru dan bergerak menciptakan tren yang relevan dengan zaman. Yang tidak hanya memunculkan popularitas, tapi juga mewujudkan inspirasi. Sebagian kesan yang saya peroleh setelah menemui Tatjana Saphira.

Perempuan kelahiran 21 Mei 1997 ini mengawali karier sebagai model video musik dan berbagai tayangan iklan di televisi sebelum menjajal seni peran. Nama Tatjana kian melejit sejak eksistensi pertamanya di dunia perfilman.

Ia kemudian tercatat masuk nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik di acara Indonesia Box Office Movie Awards 2016 untuk perannya di Negeri Van Oranje. Tahun 2016, bersama aktor Tio Pakusadewo dalam I Am Hope, Tatjana menjadi nominasi Pasangan Terbaik di ajang Indonesia Movie Actor Awards 2016. Untuk perannya di Sweet 20, Tatjana meraih piala Pemeran Utama Wanita Terfavorit di Indonesia Movie Actors Awards 2018.

Rangkaian peristiwa hidup yang terdengar begitu menyenangkan. “Namun jangan keliru, perjalanan saya tidak selalu mulus dan ringan. Sebagaimana manusia lainnya, ada kalanya saya ‘ditekan’ lewat berbagai komentar negatif yang agresif. Tapi saya belajar untuk mengutamakan introspeksi ketimbang emosi,” ujar Tatjana.

tatjana saphira interview elle indonesia november 2019

Saat duduk di bangku sekolah menengah, ia menerima ejekan dan cemooh dari teman-temannya akibat kemunculan Tatjana di industri hiburan Tanah Air. Ia enggan menanggapi

“Komentar negatif itu bukan mustahil masuk ke hati dan pikiran. Tentu lah kita tersentak, marah, dan ada kalanya sedih. Namun saya pegang kendali. Mereka bebas untuk berbicara, tapi saya juga berhak untuk diam. Saya lebih ingin membuktikan kapasitas lewat perbuatan,” ia berkata dengan raut wajah serius.

Lewat jalur perfilman, Tatjana aktif berkarya melalui sejumlah peran yang ia mainkan di berbagai judul film. Tahun ini, ia ikut berperan di Hit & Run (2019), film action comedy yang diperankan oleh Tatjana bersama Joe Taslim, Jefri Nichol, dan Yayan Ruhian. “Ini pengalaman pertama saya melakukan adegan berkelahi. Ada satu babak di mana saya bertarung melawan Joe Taslim. Seru sekali dan saya banyak belajar,” kisah Tatjana.

Usai Hit & Run, sutradara Joko Anwar mengumumkan Tatjana Saphira didaulat untuk memerankan Mustika, salah satu karakter dari Bumilangit Cinematic Universe; rumah produksi bagi 1.000 lebih tokoh superhero Indonesia.

“Bang Joko Anwar dan para produser Bumilangit mengatakan bahwa Mustika adalah perempuan yang berada di wilayah abu-abu. Berdiri di batas antara baik dan buruk. Perempuan yang lahir dari keluarga perampok profesional, lalu bertemu karakter karakter lain yang membuat ia melakukan hal-hal tak terduga dan akhirnya menjadikan Mustika sebagai sosok yang istimewa,” ujarnya.

tatjana saphira interview elle indonesia november 2019

Kita masih harus menanti hingga 2-3 tahun mendatang untuk menyaksikan Mustika tampil di layar lebar. Sambil menunggu, Tatjana tengah bersiap untuk proyek film lainnya. Bergenre horor thriller, Tatjana kembali melakukan sesuatu di luar zona nyaman.

“Saya tidak pernah mau terlibat dengan hal-hal yang mistis dan horor. Saya cukup penakut sebetulnya. Tapi, jika saya hanya nyaman di genre film tertentu, maka saya tidak akan berkembang. Setelah membaca naskahnya dan mengetahui siapa saja yang terlibat di film ini, rasanya tidak sabar untuk ikut ambil bagian dan mengeksplor sisi-sisi lain dari diri saya.”

Di film tersebut, Tatjana memerankan perempuan yang dibayangi kejadian buruk di masa lalu. Peristiwa yang menimbulkan trauma pada dirinya. “Sutradara memberi pesan agar saya ‘mengosongkan’ pikiran. Selain menonton banyak film sebagai referensi, saya coba menggambarkan situasi yang berangkat dari pengalaman sendiri,” ujar Tatjana.

Setelah sebelumnya ia bergelut dengan isu kepercayaan diri, seperti apakah ia sekarang? Masih kah ia terganggu dengan penilaian orang lain atas dirinya?

“Belakangan saya menyadari, saya tidak bisa bikin semua orang senang. Telinga kita tidak bisa diatur untuk hanya mendengar aplaus dan menerima sanjungan. Apa pun yang saya lakukan, selalu ada tanggapan subjektif dan kritik tanpa landasan. Karenanya, saya perlu selektif menyaring apa yang perlu dipikirkan dan apa yang tidak,” ungkap Tatjana sambil kembali menyesap jus.

tatjana saphira interview elle indonesia november 2019

Banjir komentar di media sosial kian kali memperkeruh situasi. Setiap orang memiliki akses untuk menjangkau semua orang. Merasa mudah melempar ujaran ke seseorang yang mungkin tidak kita kenal dekat.

“Yang paling penting saat ini bukan bagaimana orang lain bisa menyukai saya. Tapi bagaimana saya bisa menerima diri sendiri. Saya masih belajar dan berjuang dalam ‘the journey of self-love’. Tentu tidak mudah dan butuh waktu. Namun, jika saya tidak mencintai diri sendiri, maka apa yang dapat saya harapkan dari orang lain? Sebab saya yakin, kita hanya bisa berfungsi sepenuhnya sebagai manusia jika kita mencintai diri sepenuh hati dan menerima apa pun dengan lapang dada,” ujarnya.

Kematangan usia mengubah konsep berpikir Tatjana pada apa yang disebut bahagia. Popularitas dan prestasi ia terima tanpa besar kepala. Sesekali menunduk demi menyelami artinya rendah hati. “Setiap orang melakukan perjuangan dalam hidupnya. Pun demikian halnya saya, berjuang untuk menerima dan mencintai diri sendiri,” katanya.

Kita kerap kali melihat persoalan ‘self-love’ sebelah mata. Seolah bukan isu penting dan tidak genting. Dari pengalaman mewawancarai beberapa orang, saya tahu bahwa mencintai diri sendiri bukanlah perkara sepele. “Jangan dikira saya selalu berdiri tegap tanpa gentar. Tak terhitung saat-saat saya meragukan diri sendiri. Begitu cemas dan takut atas penilaian orang lain,” ungkapnya.

tatjana saphira interview elle indonesia november 2019

Beberapa tahun terakhir, Tatjana memiliki masalah dengan kulitnya. “Persepsi paling lazim adalah cantik itu berkulit putih cerah dan mulus tanpa cela. Betul, yang demikian memang menarik, tapi kenyataannya mustahil semua orang harus mencapai standar tersebut. Kebiasaan orang-orang pula untuk menyapa kita sambil mengomentari fisik. Cara berbasa-basi seperti ini rasanya harus dihilangkan. Karena bukan hanya tidak ada gunanya, tapi justru membuat lawan bicara kecil hati. Sebagian mungkin sekadar bercanda, tapi percayalah, ada banyak hal lain yang bisa dijadikan bahan gurauan selain fisik orang lain,” kata Tatjana sambil tersenyum. Saya, tanpa keraguan sedikit pun, selalu menyepakati mereka yang meletakkan kebajikan di atas kecantikan.

Di usia yang kian matang, Tatjana mengartikan ulang kata ‘kuat’ dan ‘cantik’. “Perempuan begitu menarik ketika mereka nyaman dengan dirinya sendiri. Yakin dengan apa yang ia inginkan dan punya ambisi untuk mewujudkan apa pun yang ia mau. Tak terhentikan oleh apa pun,” kata Tatjana lantang. Katanya, ia senang melihat kehebatan dan kemajuan perempuan dari masa ke masa. Perempuan secara nyata mulai melepas ketergantungannya dari orang lain.

“Saya bahagia sekaligus termotivasi melihat kini perempuan menunjukkan ‘taring’-nya. Memperkaya diri lewat edukasi. Tidak hanya melalui sekolah formal, tapi juga dengan gemar baca buku yang kini dilakoni banyak perempuan. Sudah saatnya kita meluaskan pikiran dan mengasah kepekaan agar lebih peduli pada isu-isu sosial di masyarakat. Dan yang tidak kalah penting ialah dukungan dari sesama perempuan. Ketimbang saling menjatuhkan, perempuan semestinya saling memberdayakan. Karena hanya dengan cara tersebut, kita para perempuan bisa jauh lebih tangguh.”

Kali pertama bertemu Tatjana setahun silam, kami banyak bicara soal film. Kini ia justru sangat antusias mengungkap rencana dan cita-cita hidup sekaligus berbagi perspektifnya tentang perempuan berdaya. Bahwa ia begitu terinspirasi dan tergugah semangatnya ketika menyaksikan para perempuan berani menunjukkan sikap dan melawan penindasan lewat cara-cara yang elegan. Menentukan pilihan dan jalan hidupnya sendiri, serta menolak aturan-aturan yang justru melemahkan kaum perempuan.

“Tidak ada yang melarang Anda untuk jadi perempuan berkarier atau ibu rumah tangga. Namun jangan menghakimi mereka yang ingin punya kebebasan finansial, yang mau mengutamakan karier sebelum punya anak. Perempuan sekarang punya kemerdekaan untuk memilih. Kendati kebebasan masih jadi barang langka bagi perempuan-perempuan di luar kota besar yang minim informasi dan sedikit pengetahuan. Dan satu-satunya cara untuk memerdekakan perempuan adalah dengan edukasi,” jelas Tatjana.

Ia kemudian membocorkan rencana. Tahun 2020 mendatang, Tatjana akan melanjutkan studi. Sesuatu yang telah lama ia nanti. “Saya ingin memaknai hidup dan meraih makna tersebut lewat sejumlah rencana dan cita-cita. Dan keinginan untuk menyelesaikan kuliah selalu menggebu di hati. Saya sangat mencintai dunia fi lm, tapi juga tak ingin mengabaikan hal-hal yang bisa membuat saya menjadi lebih cerdas dan bermanfaat bagi banyak orang,” tutup Tatjana.

Photo: DOC. ELLE Indonesia; photography RADITYA BRAMANTYA styling ISMELYA MUNTU makeup ESTER KWON wardrobe TORY BURCH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.