Yang Perlu Diperhatikan Saat Memilih Asuransi Jiwa

Fransisca Emi, CFP, Financial Trainer QM Financial, memaparkan mengapa penting memiliki asuransi demi menciptakan hati yang tenteram.

Salah makan seharga Rp20.000 berujung tagihan rumah sakit Rp20 juta. Ini yang terjadi pada rekan saya, sebut saja namanya Bunga. Beberapa bulan lalu, masih di tengah situasi pandemi Covid-19, Bunga dilarikan ke IGD karena muntah-muntah dan diare. Tagihan rumah sakit selama beberapa hari ia dirawat mencapai lebih dari Rp20 juta! Untung saja Bunga punya asuransi kesehatan. Dia tak perlu mengeluarkan uang sedikit pun untuk membayar biaya perawatan. Bayangkan apabila situasinya berbeda. Jika tidak memiliki asuransi, selain memikirkan cara agar bisa lekas pulih, Bunga juga harus mengkhawatirkan urusan biaya perawatan rumah sakit. Bukannya tenang fokus agar sembuh, ia malah bingung sendiri ketika uangnya tak cukup untuk bayar biaya pengobatan. Dalam situasi ini, memiliki asuransi cukup ampuh untuk memberikan ketenangan hati.

Mengapa memiliki asuransi itu penting?

Hidup selalu penuh dengan risiko dan ketakpastian. Belajar dari pengalaman Bunga, salah makan tidak seberapa mengakibatkan munculnya tagihan rumah sakit yang besar. Bunga telah mengalihkan risiko membayarkan biaya pengobatan pada perusahan asuransi dengan membayarkan premi setiap bulan. Tanpa asuransi, Bunga perlu menguras tabungan yang sudah susah payah dikumpulkan, untuk membayarkan tagihan rumah sakit.

Sayangnya, masih banyak dari kita yang belum terlindungi oleh asuransi seperti Bunga. Data dari OJK menyebutkan bahwa densitas asuransi pada Febuari 2021 mencapai Rp1,73 juta per tahun atau Rp145 ribu per bulan. Densitas asuransi menggambarkan pengeluaran per penduduk selama setahun untuk asuransi. Apa yang bisa kita lakukan dengan Rp145 ribu per bulan? Satu kali order makanan online untuk keluarga atau mungkin satu kali kunjungan belanja ke minimarket dekat rumah? Jumlah yang tidak terasa berat untuk dibelanjakan, bukan? Kemudian berapa harga yang rela Anda bayar untuk mendapatkan ketenangan?

Secara umum asuransi dibagi menjadi dua kategori: asuransi jiwa yang memberikan perlindungan pada jiwa atas risiko kematian; dan asuransi umum yang memberikan perlindungan atas kerugian, misalnya asuransi kerusakan untuk kendaraan dan asuransi kebakaran untuk rumah. Di artikel ini kita memfokuskan pembahasan pada asuransi jiwa.

Jenis asuransi jiwa yang perlu dimiliki?

Maggie Jones (Titanium Management) for ELLE Indonesia September 2021 photography Si Melber styling Olga Kasma

Setidaknya, ada dua jenis asuransi terkait jiwa yang perlu kita miliki. Pertama, asuransi kesehatan untuk semua orang tanpa terkecuali; mulai dari bayi, orang dewasa, hingga orang lanjut usia. Asuransi Kesehatan memberikan perlindungan akan biaya berobat. Sebab itulah ada baiknya semua orang paling tidak terdaftar di program BPJS Kesehatan. Terdapat pula asuransi kesehatan khusus untuk penyakit kritis yang fungsinya mengalihkan risiko biaya berobat jika pihak tertanggung terdiagnosa penyakit kritis. Uang pertanggungan bisa digunakan untuk membiayai berobat penyakit kritis, membiayai perawatan lanjutan, menggantikan penghasilan yang hilang karena tidak bisa bekerja, serta mencegah risiko kehilangan aset.

Kedua, asuransi jiwa untuk pencari nafkah utama keluarga. Asuransi jiwa memberikan perlindungan atas risiko kehilangan penghasilan karena tidak bisa bekerja atau karena meninggal dunia. Dalam hal ini, yang jadi persoalan bukan tentang lajang atau menikah, tapi apakah kita punya tanggunggan atau tidak. Jika ada orang lain yang kesulitan makan atau sekolah saat kita tidak punya penghasilan, maka artinya kita memenuhi syarat sebagai pencari nafkah utama keluarga dan membutuhkan perlindungan asuransi jiwa.

Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama lebih dari 1,5 tahun mengingatkan kita tentang betapa pentingnya memiliki asuransi jiwa. Berdasarkan data dari Satgas Penanganan Covid-19 per 20 Juli 2021, diketahui ada 11.045 anak menjadi yatim piatu, yatim, atau piatu. Bayangkan apa yang akan terjadi pada masa depan anak-anak ini jika mereka tidak memiliki sejumlah dana yang cukup untuk melanjutkan kehidupan dan pendididikan.

Perlu diperhatikan saat pilih asuransi

Saat membeli asuransi, kita sedang mengalihkan risiko. Maka saat memilih asuransi, tanyakan hal ini pada diri sendiri: risiko apa yang ingin saya alihkan? Apakah saya akan mengalihkan risiko membayar biaya perawatan kala sakit, atau risiko menyiapkan biaya hidup untuk keluarga yang ditinggalkan, jika sampai tutup usia terlalu cepat? Karena fungsinya sebagai pengalihan risiko, ada biaya jasa berupa premi yang harus dibayar. Jadi, wajar jika preminya hangus, meskipun sebagian orang ada yang merasa sayang kehilangan uang. Itulah mengapa sekarang banyak tersedia produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi.

andini effendi opinion elle indonesia
Salvita Decorte for ELLE Indonesia December 2018 photography Enzo Orlando styling Gisela Gabriella

Ada begitu banyak opsi produk asuransi, mulai dari yang tradisional hingga yang dikaitkan dengan investasi. Bagaimana memilih asuransi di tengah banyaknya alternatif?

Pertama, cek terlebih dahulu apa yang kita butuhkan. Misalnya kita memerlukan perlindungan rawat inap jika sakit.

Kedua, seperti apa tingkat kenyamanan yang diinginkan? Apakah jika nanti sakit mau dirawat di kamar dengan satu atau dua tempat tidur?

Ketiga, periksa kemampuan membayar premi, maksimal 10% penghasilan setahun. Jika jumlah penghasilan dalam satu tahun adalah Rp100 juta, maka maksimal premi yang mampu dibayarkan adalah Rp10 juta. Saat memilih asuransi, kita perlu mencari keseimbangan antara kebutuhan, kenyamanan, dan kemampuan membayar.

Tanyakan hal yang sama saat memilih asuransi jiwa. Yang kita butuhkan adalah sejumlah dana yang bisa digunakan keluarga untuk melanjutkan hidup saat pencari nafkah utama meninggal dunia. Maka, kita perlu mencari tahu berapa jumlah dana yang dibutuhkan keluarga yang akan menunjukkan berapa jumlah uang pertanggungan yang dibutuhkan. Perhitungan sederhananya bisa didasarkan pada kalkulasi dana untuk bertahan hidup selama 10 tahun.

Jika pengeluaran per bulan sebuah keluarga sebesar Rp10 juta, maka jumlah uang pertanggungan yang dibutuhkan = Rp10 juta x 12 bulan x 10 tahun = Rp1,2 milliar. Jika pencari nafkah utama meninggal dunia, dana ini bisa digunakan untuk membayar biaya hidup rutin. Sebagian dana juga bisa diinvestasikan untuk mencapai target dana pendidikan anak. Mengingat hidup terus berjalan, kebutuhan kita akan proteksi pun perlu dicek secara berkala.

Maka, sudah tahu asuransi apa saja yang Anda butuhkan dan berapa premi yang mampu Anda bayarkan saat ini? Mari lengkapi rencana keuangan kita dengan proteksi. Kendati hidup serba tak pasti, memiliki asuransi akan membawa ketenangan hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.