Diskriminasi Perempuan di Kantor, Masih Terjadi?

diskriminasi perempuan di kantor

Diskriminasi perempuan di tempat kerja bisa mendera, dari bentuk verbal sederhana hingga kesenjangan pendapatan atau kesempatan. Hermawan Kurnianto mengungkapkannya.

Tempat kerja menjadi seperti rumah kedua. Sebagai rumah untuk aktualisasi diri dan berkarya, kenyamanan menjadi salah satu faktor kunci selain sejumlah uang yang masuk ke rekening Anda setiap bulannya. Tidak hanya kenyamanan dalam melakukan dan menyelesaikan tugas.

Lebih dari itu, kenyamanan dalam mendapatkan dan menikmati hak-hak yang sudah sepatutnya Anda dapatkan. Dan “Anda” yang dimaksud di sini adalah dalam konteks yang lebih luas, yakni kaum perempuan.

Menurut laporan bertajuk Women in the Workplace 2018 yang dibuat oleh Randstad US dan menyurvei lebih dari 700 laki-laki dan perempuan di Amerika Serikat, hampir 25% karyawan perempuan tidak yakin bahwa mereka digaji secara adil–dibandingkan karyawan laki-laki.

Berlaku di Seluruh Dunia

diskriminasi perempuan di tempat kerja

Di Amerika Serikat, perempuan menerima sekitar 79 sen untuk setiap satu dolar yang diterima oleh laki-laki, dan kesenjangan menjadi lebih parah bagi perempuan dengan kulit “berwarna”. Hasil survei juga menunjukkan bahwa setengah dari karyawan perempuan akan berhenti dari pekerjaan, apabila mereka mendapati rekan kerja lawan jenis memperoleh penghasilan yang lebih besar.

Selanjutnya, konfirmasi (atau mungkin penyangkalan?) mulai bersahutan. “Saya baik-baik saja.”, “Lingkungan kerja saya sangat mendukung perkembangan karier saya.”, “Tidak ada kesenjangan antara karyawan laki-laki dan perempuan.” Kalau memang itu benar adanya, well, that’s great! Tetapi kalau Anda merasa tidak yakin, Anda tidak salah.

Menurut International Labor Organization, dalam dua dekade terakhir, hanya ada sedikit kemajuan dalam hal partisipasi perempuan di dunia kerja dan kesenjangan penghasilan antara dua jenis kelamin. Di sebagian besar wilayah dunia, para perempuan tetap belum mendapatkan hak mereka sepenuhnya. Bekerja dengan penghasilan rendah, kurangnya akses pendidikan, dan memiliki keterbatasan dalam mengambil keputusan.

Di Inggris, berdasarkan temuan Market Inspector, karyawan perempuan menerima bonus kurang dari setengah yang diterima karyawan laki-laki. Dari tingkatan karier, untuk posisi junior, perempuan mendominasi sebanyak 69% dibandingkan laki-laki sebesar 31%. Naik ke peran senior management, keadaan berbalik hampir 180 derajat. Laki-laki menguasai sebanyak 65%, sementara perempuan sebesar 35%.

Namun menariknya, perusahaan-perusahaan dengan lebih banyak perempuan yang menempati jajaran direksi memiliki hasil investasi dari modal yang lebih tinggi 66%, hasil investasi dari saham yang lebih tinggi 53%, dan tingkat penjualan yang lebih tinggi 42%.

Lalu, apa yang terjadi di negara kita? Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, pekerja perempuan rata-rata menerima sekitar 80% dari upah yang diterima pekerja laki-laki.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan masih mendapati banyaknya kasus pelanggaran hak pekerja perempuan, seperti hak cuti haid yang dipersulit, tidak diberikan hak untuk memberikan ASI atau memerah ASI di tempat kerja, diberhentikan karena hamil, dan lainnya.

Bentuk Diskriminasi Perempuan di Kantor

diskriminasi perempuan di tempat kerja

Diskriminasi perempuan dalam dunia kerja pun terjadi dalam bentuk yang berbeda-beda. Hal-hal berikut mungkin pernah atau bahkan sering terjadi di lingkungan kerja Anda, namun Anda tidak menyadarinya, atau kalaupun iya, Anda mungkin menganggapnya sebagai sesuatu yang sifatnya ‘taken for granted’.

1) Pembatasan kesempatan

Meski saat ini bukan hal yang asing lagi untuk mendapati perempuan-perempuan menempati posisi penting dan strategis dalam perusahaan, kesulitan mendapat promosi lantaran Anda dianggap kurang mampu mengemban tanggung jawab yang lebih besar dengan berbagai alasan yang cenderung diskriminatif, masih mungkin terjadi.

Misalnya, penundaan promosi dengan alasan Anda dianggap tidak bisa mengemban tanggung jawab yang lebih besar karena ada tanggung jawab yang lain, seperti sedang hamil atau baru memiliki anak.

Pembatasan kesempatan juga bisa terjadi pada saat Anda sedang mencari pekerjaan. Persyaratan bahwa Anda harus berstatus lajang atau tidak akan menikah dalam waktu dekat untuk bisa diterima di sebuah perusahaan adalah sebuah bentuk diskriminasi.

 What to do: cara yang paling ampuh untuk menghadapi hal ini tidak lain adalah menunjukkan kemampuan terbaik Anda, atau bahkan mengungkap potensi diri yang lain dan belum banyak diketahui orang. Sanggup menyelesaikan pekerjaan sebelum jatuh tenggat waktu, mengajukan inisiatif brilian, dan menampilkan kapabilitas yang melampaui peran dan fungsi Anda, akan membuahkan apresiasi lebih dan nilai tambah sebagai modal untuk mendapatkan promosi.

2) Stereotip

Stereotip bisa terjadi pada saat proses wawancara kerja. Misalnya Anda melamar ke bagian kreatif, namun malah ditawari ke posisi sekretaris, hanya karena Anda berpenampilan menarik atau memang karena perempuan lebih identik dengan tugas-tugas administratif.

Bentuk-bentuk stereotip lainnya bisa jadi kerap Anda temui secara verbal, misalnya “Pekerjaan ini sebaiknya diserahkan kepada saya, karena ini pekerjaan laki-laki.”, “Kamu kalau mengambil keputusan pasti pakai perasaan.”, “Jangan lembur karena pulang malam itu tidak baik bagi perempuan.”, atau “Kamu akan sulit berkomitmen penuh untuk pekerjaan karena kamu harus mengurus anak.”

What to do: penulis dan penggagas komunitas Feminist Fight Club, Jessica Benett, membagikan tip untuk menangkal stereotip. Jika perempuan menerima pandangan merendahkan ketika sedang berinteraksi dengan kolega lawan jenis, Jessica menyarankan untuk menggunakan data dan statistik untuk menyerang balik dengan “karate verbal”. Misalnya apabila Anda diremehkan karena sedang hamil, Anda bisa menjawab, riset menunjukkan bahwa seorang ibu dapat mengerjakan sesuatu lebih cepat dan efisien dibandingkan orang-orang tanpa anak.

diskriminasi perempuan di tempat kerja-2

3) Aturan berpakaian

Kalau Anda pernah ditegur atasan karena penampilan dan dandanan Anda kurang menarik, sementara rekan kerja laki-laki Anda tidak memiliki keharusan untuk terlihat lebih atraktif, ada kemungkinan tempat kerja menilai karyawan perempuan lebih dari penampilannya, sementara laki-laki dilihat dari kinerjanya.

What to do: tidak bisa disangkal bahwa penampilan memiliki poin tersendiri dalam dunia kerja. Tetaplah berpenampilan atraktif, namun Anda harus membuktikan bahwa isi kepala, kecekatan, dan kemahiran berkomunikasi berskala mumpuni dapat lebih memukau orang-orang yang duduk mendengarkan presentasi Anda di ruang rapat.

4) Suara yang tidak didengar

Coba perhatikan kembali kondisi rapat di tempat kerja Anda. Jika Anda atau sesama rekan kerja perempuan mengeluarkan pendapat atau usulan, namun seringkali tidak diindahkan, apakah karena apa yang dikemukakan tidak relevan, atau hanya karena disampaikan oleh perempuan? Misalnya Anda mengemukakan gagasan, kemudian rekan kerja laki-laki melontarkan ide yang tidak “nyambung” namun justru itu yang diterima, maka ada sesuatu yang salah.

What to do: jangan ragu untuk terus bersuara. Bagaimanapun juga, menyampaikan pendapat lebih baik ketimbang berdiam diri. Akan jauh lebih baik apabila pendapat yang dikemukakan memiliki argumentasi yang kuat. Kalaupun akhirnya pendapat Anda belum dapat diterima, mungkin Anda hanya belum beruntung, tapi setidaknya Anda telah berkontribusi.

 

Dalam menghadapi diskriminasi di tempat kerja, langkah pertama yang perlu Anda lakukan adalah meyakinkan diri bahwa Anda berharga dan berdaya, serta berhak mendapat tempat setara. Isu kepercayaan diri perlu lebih dulu dientaskan. Tidak ada salahnya Anda untuk lebih “sombong” dan mempromosikan diri sendiri.

Mematahkan diskriminasi tidaklah semudah menekan tombol backspace di keyboard komputer kantor, namun dengan membuka mata orang sekitar untuk lebih peka terhadap isu diskriminasi dan ketidakadilan, Anda telah melakukan langkah nyata untuk menciptakan perubahan di lingkungan kerja.

(Foto: Freepik.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.