Kisah Kepemimpinan CEO Rajawali Property Group, Shirley Tan.

Perbincangan dengan petinggi perempuan di Rajawali Property Group tentang upaya mengembangkan salah satu perusahaan properti terbesar di Asia Pasifik.

Salah satu perusahaan pengembang dan pemilik properti terbesar dan paling berpengaruh di Asia yang terus bergerak memperluas pertumbuhannya. Rajawali Property Group (RPG) merupakan anak perusahaan Rajawali Group yang bergerak di bidang investasi dan pengembangan real estate. Rajawali Group sendiri merupakan investor bisnis terkemuka yang mencatat kesuksesan dalam berbagai bidang industri; perkebunan, pertambangan, infrastruktur, transportasi, media, serta hotel dan properti. RPG memiliki sederet portofolio bernilai lebih dari USD1 triliun berupa hunian, perhotelan, dan gedung perkantoran. Termasuk di antaranya The Westin Langkawi, The Laguna Bali, Four Seasons Hotel Jakarta, The St. Regis Bali Resort, The St. Regis Langkawi, dan yang segera hadir yakni The St. Regis Jakarta dan The Residences at The St. Regis Jakarta.

Selama lebih dari 30 tahun, Rajawali Property Group mengukuhkan posisinya sebagai pemain besar dalam ranah investasi real estate dan manajemen aset. Sebagai pelaku bisnis, RPG menciptakan prinsip-prinsip jangka panjang serta melakukan upaya-upaya yang berdampak positif terhadap keberlangsungan hidup manusia. Melalui investasi properti, perusahan ini mendukung komunitas lokal dan memperkuat ekonomi masyarakat. Dalam jajaran board of directors, Shirley Tan menempati posisi Chief Executive Officer selama empat tahun terakhir. Ia telah berkarier selama 18 tahun di bidang pengembangan dan investasi di Asia, Eropa, dan Timur Tengah. Di bawah kepemimpinannya, Rajawali Property Group bertumbuh secara signifikan melalui pendapatan dan pengembangan dalam berbagai kerja sama strategis dan global.

Shirley Tan dibesarkan oleh keluarga pebisnis dan kultur kerja masyarakat Tionghoa. Meski demikian, ia  tidak pernah punya keinginan untuk menjadi pengusaha atau pemimpin di sebuah perusahaan. Ia mulai memasuki industri perhotelan dengan berkarier di Banyan Tree Singapura. Kemudian terlibat dalam pengembangan hotel-hotel di Tiongkok, termasuk di Shanghai, Lijiang, dan Guiilin. Satu dekade berada di industri perhotelan, Shirley Tan ditemui oleh pengusaha sekaligus pendiri Rajawali Property Group, Peter Sondakh, yang kemudian mengajaknya bergabung. “Alasan utama saya menerima tawaran ialah karena perusahaan ini memiliki visi tersendiri untuk mengeliminasi kemiskinan dengan menciptakan lapangan pekerjaan lewat pembangunan hotel,” ujar Shirley Tan saat kami temui di Jakarta.

Apa yang meyakinkan Anda untuk terlibat dalam industri properti dan hunian mewah?

“Salah satu langkah strategis untuk membangun perekonomian di Indonesia ialah dengan mendatangkan wisatawan ke Indonesia. Sebuah upaya globalisasi yang memungkinkan setiap orang bertemu dengan warga dunia lainnya. Selain itu, industri perhotelan menciptakan banyak kesempatan dan membuka beragam lapangan pekerjaan di Indonesia. Bagaimana tidak, keramahtamahan yang menjadi ‘DNA’ masyarakat Indonesia menjadi spirit yang menggerakkan industri ini. Menciptakan peluang kerja, mengembangkan bisnis, sekaligus memajukan destinasi wisata di Indonesia. Ketiganya dilakukan pada saat yang sama.  Saya menyukai industri ini sebab di dalamnya tercipta begitu banyak momen istimewa dari sebuah hunian atau perhotelan. Relasi yang kian erat, ikatan cinta yang semakin kuat. Bisnis properti dalam segmen ini sangatlah menantang. Ekspektasi konsumennya amat tinggi. Segala hal terbaik diinginkan oleh mereka yang berselera tinggi. Bahwa semua hal dengan predikat unggul mesti terjadi. Dan untuk menciptakan satu momen sempurna, dibutuhkan banyak elemen dan keterlibatan pihak-pihak terkait. Ada desainer interior, dekorator, chef, butler, customer service, dan masih banyak lagi. Tidak ada satu orang yang sangat penting dan yang lain menjadi tidak penting. Dunia hospitality bergerak dalam kolaborasi.

Jika saya mengingat masa kecil dulu, cita-cita saya ialah mampu menjadi jalan keluar dari permasalahan dunia. Saya ingin menjadi jembatan yang menghubungkan kelas antarmanusia, berada di antara kelas ekonomi bawah dan atas. Dulu saya pikir, kebahagiaan itu hanya milik mereka yang punya harta. Namun seiring saya dewasa, saya menyadari bahwa setiap orang bisa menciptakan kesenangannya masing-masing. Saya pernah menemui orangorang yang memiliki properti dan hunian mewah di berbagai belahan dunia. Namun ternyata tidak sepenuhnya bahagia. Saya ingin berperan dalam menciptakan rasa senang lewat pelbagai properti hunian yang kami hadirkan.”

Menurut Anda, bagaimana perkembangan tren industri properti di Indonesia?

“Bisnis properti di Indonesia akan semakin bergairah di masa mendatang karena properti merupakan salah satu bentuk investasi jangka panjang. Selain karena negeri ini juga memiliki pelayanan terbaik dan opsi destinasi istimewa yang menarik untuk dikunjungi. Tentu ada tantangan, tapi saya yakin jumlah wisatawan di Indonesia akan semakin meningkat. Ini didukung oleh pembangunan infrastruktur di berbagai daerah di Indonesia yang tentunya semakin memperlebar akses. Ke depannya, Indonesia akan memiliki semakin banyak pilihan dalam berbagai segmen. Kultur yang inklusif harus diterapkan dengan mengedepankan keragaman dan menerima segala bentuk perbedaan pendapat. Kami juga secara suka cita menyambut generasi millennials sebagai konsumen penting dalam industri ini. Hunian seperti apa yang mereka inginkan. Apa yang mereka butuhkan ketika mencari tempat tinggal. Bagaimana kami membuat properti yang terintegrasi dengan teknologi. Rajawali Property Group ingin menjadi solusi. Kami siap mendengar segala aspirasi dan bergerak semakin dinamis.”

Sebagai CEO Rajawali Property Group, Anda kini menangani Four Seasons Hotel Jakarta dan proyek St. Regis Jakarta. Apa alasan di balik keputusan ini?

“Keduanya adalah brand terbaik yang meletakkan standar sangat tinggi terhadap kualitas dan pelayanan konsumen. Merek The St. Regis didirikan oleh John Jacob Astor IV dengan komitmen untuk menyediakan pengalaman yang berbeda dari yang lain pada 35 hotel dan resor mewahnya yang tersebar di berbagai negara. Kami ingin menepati komitmen brand ultra mewah tersebut pada semua tamu yang disajikan sesempurna mungkin oleh butler service khas The St. Regis. Sementara Four Seasons mengedepankan pelayanan terbaik dalam skala internasional. Cara mereka melayani selalu selangkah lebih maju. Saya merasa bangga sekaligus terhormat bisa bekerja sama dengan brand hotel premium terbaik.”

Walau terjadi dinamika perekonomian di Indonesia, apa yang meyakinkan Anda untuk merealisasikan proyek ini?

“Ada beragam tantangan dalam setiap usaha bisnis. Namun, saya selalu yakin bahwa permintaan itu akan selalu ada. Orang-orang yang menginginkan lebih dari sekadar hunian. Mereka mencari gaya hidup terbaik, hubungan yang bermakna, dan keistimewaan yang tak pernah berakhir. Pada 2020 mendatang, The St. Regis Jakarta akan membuka pintunya. Dan saya optimis perekonomian Indonesia akan terus membaik dari sebelumnya.”

Anda adalah pemimpin tertinggi perempuan di Rajawali Property Group. Menurut Anda, apakah menjadi perempuan artinya memudahkan jalan?

“Pertanyaan yang menarik. Saya beruntung bekerja sama dengan orang-orang yang respek terhadap perempuan. Menjadi perempuan artinya kita memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan efektif dalam lingkup profesional. Tentu ada banyak ‘tembok’ yang mesti diruntuhkan. Namun ada satu hal yang mesti dipahami, bahwa saya tidak pernah punya ambisi untuk menjadi chief executive officer. Yang saya tahu, saya hanya senang untuk mempunyai andil dalam setiap upaya yang berdampak positif bagi banyak orang. Apapun yang saya kerjakan didorong oleh hasrat untuk menciptakan perubahan dan menjadikan hidup seseorang jadi lebih baik. Jika dalam proses upaya tersebut diperlukan aspek-aspek kemampuan leadership, maka saya tak ragu melakukannya.

Saya menduduki posisi CEO saat usia 39 tahun. Tidak terhitung jumlah orang yang meragukan saya. Bahkan menganggap sepele. Saya harus bekerja puluhan kali lebih keras untuk memenangkan sebuah kepercayaan. Sehingga orang-orang menilai kepantasan itu datang dari kemampuan kerja dan karya, bukan dari hal-hal lain. Sebagai perempuan, ketidakpercayaan itu kadang datang dari dalam diri sendiri. Ada kalanya saya harus terus-menerus meyakinkan diri bahwa saya memang pantas berada di titik ini. Perempuan sering disangka tak bisa memimpin karena kerap kali berpikir emosional tanpa pertimbangan rasional. Setiap hari saya terus melatih diri agar mampu mengedepankan akal sehat ketimbang asumsi tak beralasan. Namun lagilagi saya beruntung sebab di Indonesia, secara perlahan tapi pasti, perempuan mulai menunjukkan taringnya. Kita punya menteri-menteri perempuan terbaik. Tidak sedikit pula pebisnis perempuan yang mendobrak segala batasan. Bagi saya, apa yang penting bukanlah seberapa prestisius jabatan kita, tapi seberapa jauh kita mampu melangkah untuk mewujudkan mimpi-mimpi positif yang berdampak baik bagi kehidupan manusia.”

 

 

styling: Sidky Muhammadsyah

photography: Michael Timothy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *