Happy Salma: Renungan Tengah Pandemi

elle indonesia fashion photography ifan hartano - styling ismelya muntu - guest editor Happy Salma

Rasa takut ternyata tak seluruhnya membuat manusia jadi beku dan bisu. Kekacauan situasi membuat kepedulian itu kian meningkat.

Sejak pandemi Covid-19 menyerang warga dunia, kecemasan dan kewaspadaan tinggi dirasakan oleh jutaan orang. Termasuk Indonesia. Bagi saya, ketakutan selalu membuat manusia menjadi bisu. Dibekukan oleh bayang- bayang yang menakutkan. Dalam hal ini wabah yang mampu menjangkiti manusia tanpa batas sejak awal tahun ini. Ketakutan tersebut nyatanya menyerang pada semua orang tanpa kecuali, termasuk saya dan keluarga serta teman-teman.

Kecemasan dan ketakutan telah mengubah banyak hal dalam hidup. Terutama pada apa-apa yang sebelumnya tidak berarti. Dulu, pertanyaan “Apa kabar?” kerap kali dianggap lontaran basa-basi yang diucapkan sekadar sebagai etika dalam pergaulan. Kita bahkan tak benar- benar memerhatikan apa jawaban dari pertanyaan tersebut. Namun kini, di tengah krisis ekonomi dan ancaman tingkat tinggi pada kesehatan kita, kalimat “Apa kabar?” menjadi bentuk sikap berempati yang kita tunggu jawabannya.

elle indonesia fashion photography ifan hartano - styling ismelya muntu - guest editor Happy Salma
photography IFAN HARTANTO

Rasa takut ternyata tak seluruhnya membuat manusia jadi beku dan bisu. Kegelisahan turut membawa kita pada rasa ingin tahu terhadap apa yang
terjadi pada hidup orang lain. Diam- diam saya merasa lega, rasa takut tidaklah membuat saya lantas pergi menyelamatkan diri sendiri. Kekacauan situasi membuat kepedulian itu kian meningkat. Bukan hanya bertanya kabar, melainkan bersiap untuk mendengar keluh kesah yang konon dapat menjadi ringan apabila diceritakan pada orang lain.

Sebagai seseorang yang selama ini menggeluti dunia film dan teater, situasi sekarang membuat saya merasa bak di tengah kisah fiksi. Bedanya kali ini drama mencekam penuh ketakutan itu berlangsung di dunia nyata. Akibat wabah, cerita khayalan yang dulu terasa mustahil kini betul-betul terjadi. Manusia diminta menjaga jarak dan menjauhkan diri dari kerumunan. Kita takut bertemu orang dan segan menyentuhnya. Kita dipaksa untuk berteman dengan kesendirian. Termasuk kisah-kisah heroik yang kita simak dari perjuangan dan pengorbanan para tenaga kesehatan di seluruh dunia.

elle indonesia fashion photography ifan hartano - styling ismelya muntu - guest editor Happy Salma
photography IFAN HARTANTO

Mendadak semua orang merasa harus mengambil peran. Mulai dari orang biasa, hingga pengamat politik, ahli ekonomi, pemuka agama, pakar kesehatan, hingga artis kenamaan, semuanya membuat “panggung”-nya sendiri. Alih-alih suatu kesalahan, hal ini justru harus dilakukan demi menyelamatkan hidup banyak orang. Setiap orang harus menyuarakan pikiran dan perasaannya serta merespons situasi gawat ini dengan cara-cara yang baik.

Pandemi Covid-19 telah membatalkan banyak rencana saya. Produksi teater yang telah disiapkan sejak dua tahun lalu terpaksa ditunda. Pertunjukan monolog musikal Inggit Garnasih semestinya berlangsung 18 April silam. Akibat gerak-gerik virus penyakit yang kian menakutkan, saya memindahkan jadwal pertunjukan menjadi 22 Agustus mendatang. Itu pun saya masih pesimis, setidaknya hingga hari ini, belum ada alasan untuk bisa optimis monolog musikal Inggit Garnasih bisa pentas pada 22 Agustus. Kami di Titimangsa Foundation sesungguhnya tak ingin menghitung risiko.

elle indonesia fashion photography ifan hartano - styling ismelya muntu - guest editor Happy Salma
photography IFAN HARTANTO

Namun saya tidak mungkin terus berdiam. Dalam berkesenian, keterbatasan selalu menantang kemampuan para pelakunya. Yang saya bayangkan saat ini ialah melakukan sandiwara radio yang bersumber
dari karya-karya sastra Indonesia. Teknologi komunikasi yang membuat kita kini hidup tanpa sekat dan batas. Memudahkan segala bentuk kerja
sama dan melancarkan percakapan antarmanusia. Tentu bukannya tak
ada halangan. Secanggih-canggihnya internet dan teknologi masih belum bisa mengalahkan kemudahan komunikasi tatap langsung. Namun dengan kesungguhan, rasanya rencana apapun bisa terlewati.

Di balik segala kekisruhannya, situasi saat ini nyatanya juga menyimpan kebaikan. Saya bisa mengambil jarak dari banyak hal yang selama ini mengelilingi saya. Dari jarak itulah saya dapat menyeleksi setiap urusan yang harus dipikirkan. Saya juga jadi mampu menemukan kebahagiaan dari apa yang selama ini mungkin terlupakan ataupun tertunda. Meluangkan waktu untuk bermain bersama anak atau berbincang dengan sahabat mengenai hal-hal kecil yang menyenangkan. Sesuatu yang acapkali terlewat begitu saja.

photography IFAN HARTANTO

Saya menyadari, betapa sulitnya kita mengontrol banyak hal dalam keterbatasan. Namun dari keterbatasan itulah saya justru banyak belajar untuk bisa menikmati kesederhanaan dan merespons ketidakpastian dengan positif. Saya merasa sekali bahwa diri ini pun jadi lebih “imun” dari segala yang tidak terduga. Dan yang terpenting, saya belajar berdamai dengan keadaan. Indah juga rasanya. Memahami bahwa hidup ternyata amat sederhana asal kita tahu caranya bersyukur pada apa pun yang memberi kita kesempatan.

Images as seen in Fashion Well ELLE Indonesia August 2020“Overture
photography IFAN HARTANTO styling ISMELYA MUNTU styling assistant GHINA RIZQI photograpy assistant INDRA PERMANA, NORMAN FIDELI model SOFIA – RAD MODEL makeup TANYYA MAHARDHIKA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.