Irwan Mussry: Investasi Jangka Panjang Lewat Barang Mewah

irwan musry - elle inirwan musry - elle indonesia september 2019 - jacky suharto - sidky muhamadsyahdonesia september 2019

Irwan Mussry berbicara tentang konsistensi mengembangkan Time International sebagai kurator sekaligus perusahaan pemegang lisensi berbagai merek mode dan gaya hidup di Indonesia.

Irwan Mussry hendak membeli sebuah jam tangan di ahun 1980-an. Namun, saat itu di Jakarta, ia tidak mendapat pelayanan yang baik dan merasa citra merek jam tersebut tidak direpresentasikan dengan tepat oleh distributornya. Melalui pengalaman itu, Irwan melihat adanya peluang bisnis yang kemudian menjadi awal mula dari pendirian Time International pada 1965.

Perusahaan ini mengawali jejaknya sebagai pusat pelayanan dan distributor, sebelum akhirnya tahun 1984 menjadi perusahaan pemegang lisensi yang dimulai dari produk jam tangan Gucci kemudian diikuti TAG Heuer pada 1989. Tahun 1999, perusahaan ini membuka butik pertamanya, The Time Place, di Plaza Senayan, Jakarta.

tag heuer - bella hadid
Photos: DOC. Tag Heuer

Kini, Time International dikelola oleh generasi kedua dan berdiri kokoh sebagai kurator sekaligus perusahaan pemegang lisensi berbagai merek mode dan gaya hidup di Indonesia. Terdapat lebih dari 50 merek dan 110 toko retail berada di bawah naungan Time International. Di antaranya yakni Rolex, TAG Heuer, Chopard, Cartier, Chanel, Fendi, Berluti, Diesel, Fossil, Tory Burch, Valentino, Innisfree, Laneige, REDValentino, dan lainnya.

Bagaimana kisah Anda memulai bisnis?
“Suatu hari, saya ingin membeli jam tangan. Tetapi tidak memperoleh servis yang memuaskan. Baik soal pengetahuan produk, maupun cara menangani barangnya. Di situ saya melihat adanya peluang untuk model bisnis yang mengutamakan servis di industri ini. Saya percaya bahwa integritas dan respek merupakan fondasi yang penting untuk brand dapat tumbuh dan berkembang. Generasi pertama Time International mengawali perusahaan ini sebagai service centre untuk reparasi maupun pemeliharaan jam tangan untuk beberapa merek di tahun 1960-an. Dengan bergabungnya saya sebagai generasi penerus, kami mulai menjual dan mendistribusikan merek-merek internasional. Dimulai dengan meraih kepercayaan untuk menjadi distributor resmi jam tangan Gucci dan TAG Heuer. Dari basis usaha ini, kami berkembang lebih jauh menjadi ‘retailsentris’ di mana saat ini kami memiliki lebih dari 110 toko dan terdapat 50 lebih merek, serta pusat servis resmi untuk jam dan leather goods.”

chanel collection - elle indonesia october 2019
Photography IFAN HARTANTO styling ISMELYA MUNTU
Busana seluruhnya koleksi CHANEL

Apa strategi Anda sehingga konsumen mendapat produk sesuai karakternya?
“Pendekatan personal merupakan hal yang penting untuk memastikan produk yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Baik dari ukuran, warna, dan aspek lainnya. Terutama merek-merek fashion di mana pembelian barang dilakukan enam bulan lebih awal pada setiap koleksi atau musim. Hal ini ditekankan lewat berbagai kurikulum yang dikelola tim ‘Learning and Development’ di perusahaan kami. Tujuannya adalah ketika siapa pun yang membeli dan mengenakan produk dari kami, tidak hanya berhenti di situ, tetapi mereka akan mengingat kami. Caranya bagaimana? Tentu lewat servis. Melalui sistem dalam bentuk pelatihan dan pengajaran. Selain memahami spesifikasi produk, Anda harus menangani berbagai karakter manusia dan menciptakan interaksi lewat kemampuan sosial yang mumpuni. Saya tahu ini terdengar klise, namun itulah prinsip kami. Servis memberikan nilai lebih kepada produk apa pun yang ditawarkan. Anda harus meletakkan karakter serta hati Anda dalam setiap interaksi perdagangan. Dalam perdagangan barang mewah, sangat penting untuk memahami dan memenuhi apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen, selain selalu menjaga integritas setiap merek. Industri ini pun nyatanya tidak mengenyampingkan nilai kejujuran. Apresiasi untuk membeli dan memakai sebuah barang harus benarbenar datang dari diri sendiri, bukan didasarkan kepada penilaian orang lain.” Barang mewah punya nilai investasi jangka panjang. Namun di sisi lain, bisnis harus berjalan dan penjualan mesti meningkat.

Bagaimana Anda menyeimbangkan dua hal ini?
“Jika seseorang memandang produk sebagai investasi, kami akan berbagi informasi finansial mengenai investasi produk tersebut. Apa nilai lebihnya dan bagaimana market-nya. Namun, daya beli konsumen mengalami regenerasi lewat hadirnya berbagai macam tipe pelanggan. Kami mengakomodasi kebutuhan dan keinginan konsumen yang diiringi perubahan produk dan perkembangan tren. Karena demikian, Time International tak hanya bergerak dalam penjualan barang mewah, tetapi juga produk-produk dari merek lifestyle, di antaranya yakni Urban Icon yang mewadahi Fossil, Liebeskind, Skagen, dan masih banyak lainnya.”

chanel collection - elle indonesia october 2019
Photography IFAN HARTANTO styling ISMELYA MUNTU
Busana seluruhnya koleksi CHANEL

Indonesia merupakan salah satu negara yang berperan penting dalam bisnis barang mewah. Apa tantangan dalam memaksimalkan potensi tersebut?
“Perkembangan positif dalam sektor penjualan barang mewah di Asia Tenggara berdampak baik bagi bisnis kami. Hal ini diikuti berbagai tantangan seperti keadaan ekonomi, perubahan kurs mata uang, situasi politik, perubahan peraturan impor, kebijakan sistem perpajakan barang mewah, proses registrasi produk, dan lainnya. Kendati demikian, kami selalu optimis sekaligus tetap melakukan yang terbaik. Berbelanja di luar negeri bukan sesuatu yang salah. Yang kami upayakan ialah mengimbangi dalam hal produk, servis, harga, serta pengetahuan tim. Strategi lain ialah merek-merek di bawah naungan Time International meluncurkan produk untuk pertama kalinya di Indonesia atau menawarkan produk yang hanya dibuat untuk Indonesia. Bagaimana pun, kita tidak bisa mengubah kenyataan bahwa Fendi berasal dari Roma dan Chanel berawal di Paris. Kami berupaya menghadirkan barangbarang dari penjuru dunia di Indonesia dengan tetap mengedepankan pelayanan yang prima.”

red valentino - elle indonesia october 2019
photography ANDRE WIREDJA styling ISMELYA MUNTU
Busana seluruhnya koleksi REDValentino

Seperti apa perkembangan pasar barang mewah di Indonesia?
“Tahun 2011-2014, tingkat konsumsi dan penjualan barang mewah tumbuh secara signifikan di Indonesia. Potensi pasar barang mewah juga terlihat di Surabaya dan Bali di mana akhirnya kami membuka sejumlah gerai toko di dua daerah tersebut. Tahun 2014 bisa dibilang puncak bisnis perusahaan di mana kami membuka cabang kedua butik Cartier, serta membuka gerai pertama Tory Burch di Jakarta. Konsumen kami nyaris 100% orang Indonesia. Dan 60% di antaranya adalah pelanggan baru. Artinya, ada pertumbuhan luar biasa dari segi ketertarikan dan keinginan. Biasanya rata-rata per bulan jumlah konsumen baru, yakni 10-15%. Bisnis ini berjalan cukup stabil. Angka penurunan pasti ada, namun tidak signifikan. Dari segi internal, Time International kini memiliki lebih dari 1.000 karyawan yang awalnya hanya 4 orang. Tentu tim sebanyak ini adalah salah satu pertanda bahwa bisnis kami berkembang dengan cukup baik. Dari sisi bisnis, tolok ukur yang pasti adalah angka. Namun aspek internal menurut saya menjadi kunci utama. Perusahaan ini tidak akan berarti apa-apa tanpa keberadaan tim hebat di belakangnya. Tanpa karakter dan integritas, bisnis ini semata-mata hanya dunia glamor yang penuh kesenangan. Apa artinya fashion dan lifestyle tanpa disertai kejujuran? Perusahaan ini berupaya menyeimbangkan kedua aspek tersebut. Melakukan pekerjaan profesional, with a beautiful soul. ”

tory burch - elle indonesia october 2019
Photography ZAKY AKBAR styling SIDKY MUHAMADSYAH
Busana: FENDI (turtleneck di model kiri; seluruh koleksi di model kanan)

Anda turut membuka gerai Innisfree dan Laneige. Apa sebabnya Anda melakukan diversifikasi ke merek non-fashion?
“Time International memasuki dunia kecantikan sejak membuka gerai Chanel Fragrance and Beauty di Plaza Indonesia pada 2013 silam. Innisfree dan Laneige memang memiliki target konsumen dan pasar yang berbeda, namun di situlah kami memahami betapa menariknya industri ini dengan berbagai peluang yang ada. Time International sendiri menyebut dirinya sebagai ‘curator and cultivator of leading brands’. Kami sengaja tidak secara spesifik menyebut ‘fashion brands’ atau ‘timepieces brands’ yang artinya dari aspek visi pun kami tidak ingin membatasi jenis produk ataupun industri. Kami menyambut baik segala bentuk peluang untuk tumbuh dan berkembang. Diawali dengan memilih jenis produk, memastikan model bisnis, kemudian menganalisis seperti apa market-nya melalui proses yang cermat dan tepat untuk dapat mengambil keputusan yang terbaik. Yang artinya, membutuhkan proses yang cermat dan tepat dalam menentukan setiap keputusan.”

Puluhan tahun menekuni bisnis secara konsisten. Apa yang memotivasi Anda?
“Orang-orang yang bekerja di perusahaan ini adalah motivasi saya. Puluhan tahun saya datang ke kantor setiap hari, kini saya tetap merasakan kegembiraan yang sama seperti saat memulainya. They don’t work for me, I don’t work for them. We work with each other. Untuk menjadi pintar, Anda tentu harus bersama orang yang pintar. Saya sangat menghargai kecerdasan dan kemampuan seluruh karyawan. Bukan hanya intelektualitas, tetapi juga kepribadian. Mereka bekerja keras sepenuh hati, menjaga integritas, kreatif tanpa batas, dan selalu ingin berkembang. Setiap hari, selalu ada hal baru yang saya pelajari dari generasi yang lebih muda ini. Sebagai pebisnis sekaligus pemimpin, tidak ada yang memotivasi saya selain mereka.”

fendi - elle indonesia october 2019
Photography ZAKY AKBAR styling SIDKY MUHAMADSYAH
Busana: FENDI, TORY BURCH

What’s next for you?
“Pertanyaan menarik tapi sulit dijawab. Saat ini saya tengah dalam proses menuju masa depan. Salah satu yang pasti, saya ingin melihat lebih banyak orang-orang yang ‘bersinar’ sehingga saya bisa belajar dari mereka. Saya sendiri selalu bersyukur dengan keberadaan orangorang di sekitar saya. Perkembangan bisnis kami yang bermula dari nol sepenuhnya didukung oleh kerja tim yang baik.”

Bagaimana gaya kepemimpinan Anda?
“Semakin banyak mendengar, semakin baik kemampuan seseorang dalam berbisnis. Jika diibaratkan sebuah orkestra, daripada menjadi konduktor, saya lebih suka menjadi drummer yang bertugas menjaga tempo musik sehingga pemain violin dan selo menjadi ‘bersinar’. Saya ingin menciptakan karyawan berjiwa ‘entrepreneur’ yang menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan melakukan hal-hal yang berdampak positif. Penting bagi seorang pemimpin untuk memastikan bahwa apa yang ia lakukan dapat membuat karyawan dan anggota timnya menjadi pemimpin di masa depan.”

Photo: DOC. ELLE INDONESIA
Irwan Musry photo by JACKY SUHARTO styling SIDKY MUHAMADSYAH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.