Liliana Tanoesoedibjo Memaknai Perempuan Berdaya

elle indonesia interview - liliana tanoesoedibjo interview

Sosok perempuan yang bukan hanya meraih kesuksesan dalam berbisnis, melainkan juga berdedikasi tinggi pada upaya pemberdayaan perempuan.

Liliana Tanoesoedibjo dikenal sebagai sosok perempuan karier yang berpenampilan modis dan elegan, sekaligus seorang filantropis yang berdedikasi tinggi dengan memegang nilai-nilai kehidupan yang baik. Perempuan kelahiran Surabaya 15 Maret 1967 ini memiliki kecintaan yang besar pada bidang desain, kecantikan, dan mode. Tahun 1987, ia menyelesaikan pendidikan Professional Nail Technician. Tahun berikutnya, 1988, ia meraih gelar Diploma Professional Cosmetician. Keduanya dari Versailles Academy of Make-up Arts, Esthetics, Hair di Ottawa, Kanada. Pada tahun yang sama, ia juga mempelajari hat making dan accessories di RR L’Academie Des Couturiers Canadiens. Tahun 1989, Liliana turut memperoleh gelar Diploma Fashion Designer dari Richard Robinson L’Academie Des Couturiers Canadiens, Ottawa, Kanada. Tidak berhenti di situ, ia juga menyelesaikan pendidikan Fashion Merchandising di ICS Canadian Limited.

Kini Liliana menjabat sebagai Komisaris PT MNC Investama Tbk. Ia juga menduduki posisi Komisaris di berbagai perusahaan; MNC Studios International, PT Rajawali Citra Televisi Indonesia, MNC Pictures, MNC Travel & Services, dan MNC Land Tbk. Ia turut menjadi Direktur Utama di PT MNC Animasi, Prima Persada Nusantara, dan Global Star Harvest. Selain itu, Liliana juga menjadi Pemimpin Umum di organisasi Miss Indonesia dan Pembina di Jalinan Kasih MNC Peduli. Namanya tak bisa dipisahkan dari Hary Tanoesoedibjo, sosok suami yang telah hidup bersamanya lebih dari 33 tahun. Ibu dari lima orang anak ini menjadi satu dari sekian banyak perempuan yang berhasil menjalankan perannya dengan baik sebagai istri, ibu rumah tangga, sekaligus perempuan karier. Ia mampu menjalankan bisnis secara profesional dengan baik. Namun juga berhasil memelihara kodratnya sebagai istri dan ibu yang menanamkan nilai-nilai moral dalam keluarga sekaligus menjaga komitmennya untuk senantiasa memberdayakan kaum perempuan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan seiring cita-cita Liliana, yakni menjadi sosok yang bermanfaat bagi keluarga, lingkungan, dan bangsa.

Anda memiliki latar belakang pendidikan di bidang mode dan kecantikan. Sejauh mana ketertarikan Anda pada kedua bidang tersebut?
“Sejak kecil, saya sangat suka menggambar. Seni dan estetika menjadi sesuatu yang menarik dan rasanya sudah menyatu dalam diri saya. Saya pun memutuskan untuk menekuni studi di bidang mode, aksesori, dan seni tata rias wajah. Kecintaan pada mode itu lah yang membuat saya meluangkan waktu untuk mendirikan label tas Livelt. Well, I like to create something. Pada dasarnya, saya termasuk seseorang yang tidak bisa diam. Saya selalu ingin menciptakan sesuatu yang berbeda. Dan bidang mode adalah sarana yang tepat untuk menyalurkan kreativitas. Dalam mendesain tas Livelt, saya selalu memadukan unsur fungsi dan desain harus saling melengkapi dengan menciptakan desain-desain tas yang eksklusif, klasik, dan abadi. Saya memakai bahan kulit eksotis dengan memberikan sentuhan spesial pada buckle yang diproduksi di Italia. Tahun lalu, Livelt diluncurkan di Paris, Prancis. Rencananya tahun ini, Livelt dihadirkan di Jakarta. Mudah- mudahan semuanya lancar. Sebagai pencinta mode dan seni, saya sangat senang bisa mengembangkan kreativitas dalam bidang desain melalui sebuah karya yang dapat menembus pasar internasional.”

Apa yang melandasi pemikiran Anda untuk mendirikan Miss Indonesia?
“Tahun 2005, pihak organisasi Miss Asean mengajak kerja sama dan ingin menayangkan program acaranya di stasiun televisi RCTI. Karena itu, mereka meminta kami untuk mengadakan Miss Indonesia agar bisa dibawa ke ajang internasional Miss Asean. Saat itu, saya tidak punya pengalaman dalam bidang kontes kecantikan, tetapi tawaran tersebut terasa menarik karena pada dasarnya saya menyenangi segala sesuatu yang berhubungan dengan estetika dan kecantikan. Namun, saya berpendapat bahwa cantik saja belum terasacukup. Harus ada tujuan besar yang mengikutinya supaya bisa punya makna. Saya mau sesuatu yang berbeda dan lebih dari sekadar cantik. Maka, tahun 2005, untuk pertama kalinya Miss Indonesia diadakan melalui proses penyeleksian ketat dalam rangkaian audisi di mana pemenangnya melanjutkan perjalanan ke Miss Asean.
Namun Miss Asean ditiadakan pada 2006. Tahun 2005, saat Miss Indonesia melakukan kunjungan ke Aceh pasca terjadinya Tsunami, saya berkesempatan menemui Julia Morley, pendiri ajang kontes kecantikan Miss World. Ia tertarik dengan Miss Indonesia dan mengajak tim kami untuk mengikuti ajang Miss World di tahun 2006. Sejak itu, kami selalu mengirim Miss Indonesia ke ajang Miss World. Saya sangat tertantang untuk bisa menjadi penyelenggara Miss World di Indonesia. Akhirnya, tahun 2013, Miss World pertama kali diadakan di Bali. Suatu pencapaian bagi kami untuk bisa mengadakan acara berskala internasional yang memberikan dampak positif bagi pariwisata dan budaya Indonesia.”

Lewat ajang tersebut, perempuan seperti apa yang hendak diciptakan?
“Miss Indonesia merupakan ajang pencarian perempuan Indonesia yang tidak hanya mengutamakan kecantikan, tapi juga karakter, kecerdasan, dan tujuan yang lebih besar. Bahwa selain cantik, perempuan mutlak harus pintar serta mampu memberikan kontribusi positif kepada kehidupan masyarakat di sekitarnya. Para pesertanya terpilih dari 34 provinsi di Indonesia untuk menjalani serangkaian tahapan karantina selama 14 hari di mana mereka memperoleh pembekalan diri, pengasahan bakat, dan pemenuhan kriteria ‘MISS’yakni Manner, Impressive, Smart, dan Social. Kriteria ini menjadi srandar dan acuan bagi Miss Indonesia untuk menciptakan perempuan-perempuan yang berperilaku baik, memiliki integritas, berwawasan luas, sekaligus memiliki kepedulian untuk membangun kehidupan sosial yang baik. Kepedulian atas sesama selalu dilakukan oleh Miss Indonesia melalui program MNC Peduli dan program sosial organisasi Miss World yakni Beauty with a Purpose. Saya sangat antusias dan merasa tertantang untuk menjadikan perempuan sebagai sosok yang tidak hanya menjaga kecantikannya, tapi juga tidak mengabaikan kecerdasan, kesantunan, dan kepedulian terhadap sesama.”

Bagaimana Anda melihat peran kecerdasan dalam diri perempuan?
“Kecerdasan itu sangat penting. Terutama bagi kaum perempuan. Sebab perempuan adalah sosok pendidik yang meneruskan banyak nilai dan pemikiran kepada generasi muda. Perempuan kerap melakukan transfer ilmu dan pengetahuan. Baik kepada anak-anaknya, maupun terhadap lingkungan sekitarnya. Karena itu, perempuan tidak bisa tidak pintar. Kecerdasan seorang perempuan menentukan banyak hal dalam hidup kita. Jika perempuan terdidik, maka generasi penerus bangsa pun ikut terdidik.”

Bagaimana Anda memosisikan diri sebagai perempuan pebisnis?
“Dulu, ada anggapan bahwa perempuan pebisnis itu jauh dari sikap elegan. Rasanya mustahil bagi perempuan untuk powerful di tempat kerja, tapi tetap bisa berpenampilan anggun dengan high heels. Kini, semua asumsi itu lenyap seiring kemajuan zaman dan perkembangan yang dilalui kaum perempuan. Kini perempuan dapat berkarya di tempat kerja dan berkontribusi aktif sekaligus memerhatikan penampilan dan kecantikan. Bagi saya, dalam cara berpakaian di tempat kerja, penting untuk menjadi diri sendiri dengan kenyamanan dan kerapian. Kita tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa penampilan yang rapi dan enak dilihat membuat kepercayaan diri segera meningkat. Sebagai pebisnis, penting pula untuk mengutamakan kesantunan dalam setiap situasi. Ketenangan dalam berpikir dan bertindak untuk kebaikan selalu memancarkan energi positif yang dapat membawa kita pada banyak hal-hal baik.”

Menurut Anda, apa kekeliruan dalam memahami konsep ‘perempuan kuat’?
“Ketika kita bicara soal perempuan kuat, banyak orang sering menyamakan kekuatannya dengan sesuatu yang ‘heartless’. Tanpa hati, tidak peka, dan cenderung arogan. Perempuan menunjukkan kekuatannya tidak dengan cara-cara demikian. Perempuan kuat adalah perempuan yang tahu caranya menempatkan diri. Baik di kantor, di lingkungan bermasyarakat, maupun di rumah. Keberadaan perempuan semestinya memberikan ketenangan dan kenyamanan kendati di situasi sulit. Keberdayaan dan kekuatan perempuan ditunjukan lewat keberanian dalam mengambil keputusan. Tidak hanya diam di zona nyaman, tapi juga bangkit saat terjatuh. Dan sebagai istri, kekuatan perempuan ditunjukkan lewat kesetiaan untuk mendampingi dan mendukung pasangan dalam situasi apa pun. Ia tidak berada di belakang laki-laki untuk direndahkan, tapi juga tidak di depan untuk ditinggikan. Perempuan berada di samping untuk disetarakan dengan menjadi kawan kerja.”

Bagaimana gaya kepemimpinan Anda?
I must set a good example. Saya selalu meyakini bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik, maka diperlukan karakter-karakter baik yang menjadi contoh bagi bawahan dan orang-orang di sekitarnya. Tidak hanya mampu berkomunikasi dengan baik, tapi juga bisa menyelesaikan masalah secara bijak. Saya juga enggan menunda pekerjaan. Setiap pekerjaan harus diselesaikan di hari yang sama. Saya juga senang turun langsung ke lapangan untuk melihat pekerjaan secara detail. Selain itu, saya berusaha memelihara pribadi yang selfless dan rendah hati. Dengan begitu, saya dapat membuat keputusan dan menyelesaikan masalah dengan cara- cara yang profesional tapi juga bernilai baik.”

Bagaimana Anda menerapkan nilai dan didikan kepada kelima anak Anda?
“Saya selalu menekankan pentingnya pendidikan pada kelima anak saya. Apa pun yang mereka hendak lakukan di masa depan, mereka harus punya latar pendidikan yang baik. Tak hanya itu, mereka juga harus mengutamakan integritas sebagai landasan dari seluruh perilaku baik. Selain juga penting mendidik mereka agar mendekatkan diri kepada Tuhan dan menjauhi segala pergaulan yang buruk. Anak-anak saya juga harus gigih dalam hal apa pun dan pantang menyerah bahkan dalam kondisi sulit sekalipun. Jika menyerah sebelum memulai, maka artinya kalah sebelum bertarung. Saya ingin mereka belajar dari setiap kesalahan yang terjadi, menguatkan mental, dan pada akhirnya menjadi manusia yang kuat.”

photography AGUS SANTOSO styling SHAMIRA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.