Lisa Jackson: Sosok Andal di balik Kesuksesan Apple

Insinyur andal sekaligus ahli matematika. ELLE berbincang dengan ‘senjata rahasia’ Apple, Lisa Jackson.

Sosok perempuan yang berkontribusi atas perannya terkait isu lingkungan, kebijakan, inisiatif sosial, sekaligus Wakil Presiden Apple. Lisa Jackson bertanggung jawab langsung kepada Tim Cook, CEO Apple. Sejak bergabung di perusahaan Apple pada 2013, ia telah menciptakan tiga bidang prioritas untuk persoalan lingkungan yang berkelanjutan. Pertama, terkait perubahan iklim dan transisi energi bersih di seluruh fasilitas. Kemudian soal penggunaan energi secara lebih efisien. Dan ketiga, melestarikan sumber daya. Tentang cara kerja daur ulang dan penggunaan bahan terbarukan serta upaya untuk memastikan bahwa bahan dalam produk aman bagi para pengguna dan pembuatnya.

Lisa Jackson turut memimpin kemitraan pendidikan di perusahaan sekaligus menangani urusan aksesibilitas produknya. Ia memastikan bahwa siapa pun dapat menggunakan produk Apple. Perempuan ini juga bertanggung jawab atas pemberian filantropi, inisiatif kesetaraan, dan keadilan rasial perusahaan.

ELLE berkesempatan untuk berbincang dengan sosok pemimpin tangguh ini tentang upayanya dalam mendorong lebih banyak perempuan untuk mengejar karier di bidang sains, mengenai usaha untuk membuat suaranya didengar, soal tanggung jawab dalam menjadi panutan, tentang kesempatan bekerja dengan Barack Obama, dan bagaimana kehidupannya yang ‘tak pernah santai’.

Dulu saat remaja, apa yang menjadi ketertarikan Anda?

“Saya dibesarkan di New Orleans, sejak kecil sangat menyukai matematika dan sains. Dulu di sekolah bisa dibilang saya cukup bagus dalam mengikuti pelajaran, malah bisa dibilang saya kutu buku. Saya juga sudah tertarik pada isu lingkungan. Saya menyadari suatu kenyataan bahwasanya planet ini berada di titik kritis, sesuatu yang ironis mengingat kondisi kita saat ini sebagai generasi muda. Selain itu, tinggal di New Orleans membuat saya dikelilingi oleh musik sepanjang waktu sehingga musik jadi gairah yang cukup besar.”

Apakah ada suatu peristiwa di masa kecil yang akhirnya membuat Anda ingin mengabdikan diri untuk melindungi planet ini?

“Saya ingat waktu itu ada penelitian yang menyatakan bahwa Sungai Mississippi, yang merupakan sumber air minum untuk New Orleans, memiliki ratusan karsinogen, yakni bahan kimia penyebab kanker di dalamnya. Hal itu benar-benar memengaruhi saya. Kala itu tahun 1970-an, orang-orang berbaris untuk menunjukkan kepedulian pada persoalan polusi udara dan air. Kejadian tersebut berdampak pada saya sebagai seorang anak-anak yang tinggal di Pantai Teluk dengan air tidak jernih.”

Apakah Anda pernah merasa bahwa bakat Anda berbeda dari anak-anak lainnya?

“Sekolah menengah adalah masa ketika banyak perempuan mulai berpikir bahwa mungkin jika terlalu pandai matematika, maka laki-laki tidak akan menyukai kita. Seolah ada tekanan sosial untuk ‘mengecilkan’ kecerdasan perempuan. Saya menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah khusus perempuan. Dan harus saya sampaikan, bahwa saya bisa menjadi diri sendiri di lingkungan tersebut dan tidak perlu memusingkan tentang tekanan sosial. Ketika Anda menjadi perempuan, berkulit hitam, dan menguasai sains serta matematika, maka Anda akan melihat diri Anda sebagai satu-satunya yang unik di kelas.”

Apakah Anda pernah merasa ada batasan dalam ambisi?

“Saya tidak berpikir demikian. Di keluarga kami ada tradisi bahwa Anda diharapkan pergi ke sekolah dan belajar dengan baik. Suatu waktu ayah mengirimkan saya surat. Ibu saya bekerja sebagai asisten administrasi. Bagi ayah dan ibu, semua yang mereka kerjakan adalah agar anak-anaknya bisa memperoleh pendidikan dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Sebab pendidikan adalah tangga menuju kualitas hidup yang lebih baik.”

Siapa inspirasi terbesar Anda?

“Dokter anak saya adalah seorang perempuan. Sosok pertama dari ranah sains yang berinteraksi dengan saya, yang akhirnya membuat saya tumbuh dengan berpikir bahwa dokter juga bisa seorang perempuan, sama halnya seperti dokter laki-laki. Hal itu mengarah pada gagasan bahwa penting untuk melihat sosok panutan di setiap langkah hidup karena Anda tidak dapat membayangkannya jika Anda tak pernah melihatnya.”

Bagaimana pengalaman Anda tentang Princeton, sebagai seorang perempuan dengan kulit berwarna di tahun 1980-an?

“Pendidikan Princeton dalam hidup dan karier saya tidak bisa dinilai dengan angka. Tempat yang sulit bagi saya saat itu, karena saya datang dari New Orleans. Di sini, di kota bagian selatan, mayoritas kulit hitam, sangat berbeda dengan adegan preppy tahun ‘80-an di Princeton. Saya ingat waktu liburan musim semi, orang-orang akan bermain ski di Pegunungan Alpen. Dan saya tidak punya cukup uang untuk pulang. Namun itu adalah hadiah yang luar biasa. Dan saya pikir apa yang telah dilakukan Princeton baru-baru ini adalah penting; untuk mencoba membuka pemikiran dan kampusnya kepada orang-orang yang merupakan mahasiswa generasi pertama yang tidak memiliki kesempatan, karena pendidikannya adalah jalan terbaik.”

Apakah menurut Anda ada lebih banyak yang harus dilakukan untuk mendorong anak perempuan mengejar pendidikan di bidang sains?

“Sangat banyak. Kita harus berinvestasi pada anak perempuan dan orangorang kulit berwarna karena sains dan ilmu teknik sangat penting di masa depan. Salah satu alasan saya senang berada di Apple bukan hanya karena sains dan teknik, tetapi juga humaniora. Di dalamnya termasuk seni dan musik. Hal-hal yang membuat kita menjadi manusia. Dan itu membuat kami istimewa. Namun di Universitas Tulane, saya salah satu dari dua perempuan yang ada di kelas. Hal yang sama di Princeton, saya biasanya satu-satunya orang kulit hitam di kelas Teknik Kimia. Anda juga harus melihat siapa profesornya. Terkadang profesor membawa caracara berpikir lama. Orang-orang yang muncul pada masa ketika jurusan teknik nyaris seluruhnya laki-laki dan hampir semuanya berkulit putih. Maka kita harus terus memastikan bahwa pendidikan teknologi dapat terjangkau bagi semua orang. Saya sangat ingin menjadi seperti Dr. Wexler, dokter anak saya. Bagi saya, dia seorang panutan. Kami ingin mengungkap suatu kesalahpahaman dalam sains dan ilmu teknik. Bahwa tidak apa-apa menjadi seorang ilmuwan sekaligus menyukai dunia mode dan memakai riasan wajah. Sebab kita tak harus masuk ke dalam ‘kotak’ apa pun.”

Apa yang membuat Anda yakin bahwa karier di bidang lingkungan adalah pilihan yang tepat?

“Di Universitas Tulane, saya belajar teknik kimia. Semuanya tentang proses. Untuk menciptakan sesuatu dari semua bahan kimia yang berbeda memerlukan proses. Dan selalu ada tanda panah di dalam proses itu. Ke arah sini dan ke sana. Dan ada panah yang keluar dari halaman. Itu sebetulnya ada panah yang terbuang. Artinya Anda mengirimkan ke arah atmosfer, ke dalam air, atau menuju tempat pembuangan akhir. Anda tahu, sebagai seorang insinyur, ada tanggung jawab besar untuk memikirkan materi yang keluar dari halaman sebagai produk yang akan dijual. Saya memasuki gagasan tersebut. Dan mirip seperti seorang dokter, jangan lakukan sesuatu yang membahayakan.”

Apa tantangan terbesar dalam karier Anda?

“Saya diberkati dengan kemampuan untuk memecahkan masalahmasalah teknik dan sains. Sehingga tantangannya bukanlah persoalan teknis, tapi lebih kepada soal komunitas. Dalam peran yang saya jalani, saya harus bekerja sama dengan komunitas sehingga mereka percaya bahwa saya hadir untuk mempertimbangkan kepentingan mereka, bukan kepentingan kelompok ataupun pemerintah. Saya bekerja selama 20 tahun untuk sebuah Badan Perlindungan Lingkungan di Washington DC dan New York. Saya kemudian menikah dan memiliki anak. Saya bekerja sangat dekat dengan lokasi World Trade Center saat peristiwa 11 September. Pengalaman menakutkan itu membuat saya memutuskan bahwa saya ingin lebih dekat dengan anak-anak saya. Saya memutuskan mengambil pekerjaan apa pun yang dapat saya lakukan, tetapi dekat dengan rumah. Seorang mentor perempuan berkata pada saya waktu itu, ‘Mengapa perempuan selalu memutuskan untuk menurunkan standarnya hanya karena mereka ingin memprioritaskan keluarga mereka. Lakukan keduanya. Prioritaskan keluarga dan dekat dengan mereka, tetapi Anda juga harus mendapatkan promosi di pekerjaan. Anda benarbenar hebat dalam apa yang Anda kerjakan’. Saya kemudian memutuskan pindah ke New Jersey dan akhirnya menjalankan Environmental Protection Agency (EPA) di New Jersey.”

Dan saat itulah Anda bertemu Barack Obama. Bisakah Anda ceritakan tentang pengalaman bekerja dengannya?

“Pada waktu itu Barack Obama adalah seorang senator. Saya tengah bersaksi di depan Komite Lingkungan Senat tentang pentingnya tidak mengebor di lautan air bersih dan saya ingat dia ada di sana. Dan tiba gilirannya dia menanyakan pertanyaan-pertanyaan tajam kepada saya. Saya kemudian memperkenalkan diri. Dia masih mengingat saya ketika kami bertemu lagi beberapa tahun kemudian. Saya sangat terkesan dengan reaksinya tersebut. Sehingga ketika saya memiliki kesempatan untuk bekerja dengan tim transisi dan dia meminta saya untuk menjadi Administrator EPA, saya bahkan tidak berpikir dua kali untuk menjawabnya. Barack Obama adalah orang yang luar biasa dan brilian. Dia menetapkan standar tinggi untuk dirinya dan para stafnya.”

Setelah Anda mencapai banyak hal, apa yang terus memotivasi Anda?

“Tujuan hidup dan keyakinan bahwa apa yang saya lakukan benar-benar penting. Saya merasakan semangat untuk melindungi lingkungan itu akan selalu ada dalam diri saya. Saya bekerja untuk sebuah perusahaan dan seorang atasan CEO yang berprinsip bahwa mereka ingin memimpin perusahaan yang dapat mengubah lintasan masa depan seputar iklim di sekitar sumber daya dan material. Hal itu membuat saya ingin terus maju. Saya merasa kita semua memiliki tanggung jawab untuk mewariskan planet yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.”

Seperti apa gaya kepemimpinan Anda?

“Saya berusaha menjadi orang yang kolaboratif. Saya sepenuhnya mengabdi pada ide bahwa tim yang beragam sangat penting untuk sebuah kesuksesan. Di Apple, kami memiliki tim yang sangat beragam. Seorang manajer yang hebat mendapat sebagian besar kepuasannya dengan melihat orang lain melakukan pekerjaannya dengan baik. Saya mencoba untuk tidak menerapkan ‘micromanage’ di dalam tim saya. Saya juga ingin menjadi pemimpin perempuan yang bisa menjadi panutan bagi para karyawan perempuannya, sekaligus mendorong para perempuan agar tidak takut dalam menyuarakan pendapatnya.”

Anda mencapai puncak dalam industri yang didominasi laki-laki kulit putih. Apakah Anda pernah merasakan tekanan dalam menjadi panutan? Dan apakah beban yang menyertai itu adalah sesuatu yang dengan senang hati Anda tanggung?

“Ya, saya senang menanggungnya. Saya tidak ingin menganggapnya beban, tapi tanggung jawab. Saya percaya bahwa Anda harus membuka pintu dan kemudian membiarkannya terbuka bagi seseorang untuk mengejar Anda. Saya suka ketika Wakil Presiden Kamala Harris berkata, ‘Saya yang pertama, tetapi saya tidak akan menjadi yang terakhir’. Saya berada pada titik di mana saya tidak mengkhawatirkan konsekuensi dalam menjadi seseorang blak-blakan. Bukannya kasar, tapi saya rasa pendapat saya penting karena memberi perspektif yang berbeda dari orang lain.”

Apakah Anda salah satu contoh orang sukses yang punya kebiasaan bangun pagi hari?

“Saya bangun pukul 5.30 atau 6 pagi. Saya suka bangun lebih awal karena saat itu adalah waktu paling tenang. Biasanya saya mengawali hari dengan berolahraga. Jika sedang berada di Apple Park, saya akan memesan smoothie dengan daun teh hijau untuk sarapan. Saya menggunakan jam tangan Apple Watch dengan Fitness+ yang saling berkolaborasi.”

Bagaimana cara Anda mengatasi stres?

“Berolahraga membantu saya menenangkan batin, selain juga berdampak baik bagi tubuh. Sebelum pandemi, saya melakukan pilates dan kini tetap melakukannya di rumah. Pilates membuat saya merasa kuat sekaligus melatih kemampuan fokus saya.”

Bagaimana kepedulian Anda terhadap lingkungan terwujud dalam kehidupan sehari-hari Anda?

“Pertama, soal transportasi dan bagaimana kita berkendara. Saya memilih tinggal di kota agar dapat menggunakan transportasi umum dan berbagi tumpangan. Kedua, tentang apa yang kita makan. Saya bukan vegan, tetapi pola makan nabati sangat penting. Dan ketiga, memikirkan di mana kita tinggal dan bagaimana kita memperoleh sumber energi. Rumah saya memiliki panel surya. Saya masih memakai kompor gas alam, namun kini sedang berpikir untuk mengubahnya jadi kompor induksi. Tidak semua orang mampu melakukan peralihan gaya hidup tersebut. Namun setiap orang dapat mengubah cara mereka bertransportasi dan mengonsumsi makanan, dengan memperhatikan jejak karbon mereka sendiri.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.