Makna Rasa Dalam Setiap Hubungan

elle indonesia february 2020-modern love-photography zaki akbar - styling ismelya muntu - production ayu novalia

Di era di mana batasan tidak lagi eksis untuk segala hal, ELLE melalui kacamata 12 individu mencoba mendefinisikan kembali makna rasa yang—lewat berbagai cara—kita sebut cinta dan dalam beragam bentuk hubungan.

Butuh waktu lima detik—beberapa lebih— bagi masing-masing orang menempatkan sudut pandangnya ketika menjawab pertanyaan sederhana yang membuka diskusi kami di sela-sela sesi pemotretan bersama ELLE: apakah itu cinta?

Topik ini sesungguhnya bukan bahasan baru. Selama berabad-abad, tema cinta menginspirasi ragam bentuk karya sastra, tampil memanjakan mata lewat layar sinema, atau merayu telinga dengan kalimat pujangga diiringi melodi yang merangsang segenap emosi jiwa. Walau begitu, subjeknya senantiasa menjadi pembicaraan yang kian tak ada habisnya.

Kami duduk bersama pasangan suami istri Marsha Timothy dan Vino G. Bastian; pasangan sahabat sekaligus rekan bisnis Chicco Jerikho dan Rio Dewanto; dua kakak beradik, Noorani Sukardi Soeprapto dan Adinda Sukardi serta Aqsa Aswar dan Aero Aswar; dua keluarga, Gading Marten dan Gempita; dan Widi Wardhana bersama kedua anak perempuannya, Katyana Wardhana dan Katrina Wardhana.

“Kalau kata Bono, love is the highest law. Cinta adalah kekuatan, semangat, sesuatu yang membuat kita merasa lebih positif dalam segala hal. Ketika bertindak atas cinta kemudian gagal, Anda tidak bersedih, Anda belajar,” ujar Chicco Jerikho. “Cinta adalah tentang apa yang kita rasakan,” kata Aero Aswar. Rio Dewanto memandang cinta sebagai, “perasaan yang organik, bertumbuh seiring interaksi dan bukan suatu paksaan.” Dan Gading Marten bersepakat, “bahwa cinta merupakan bentuk rasa yang terus-menerus berkembang seiring perjalanan hidup.”

“Cinta itu kompleks dalam berbagai alasan, tetapi pada akhirnya cinta itu sebenarnya sederhana,” kata Adinda Sukardi. “Cinta tidak bersyarat,” tutur Marsha Timothy. “Tidak bersyarat, sebagaimana kasih seorang ibu,” disebutkan Widi Wardhana. Lalu, Noorani Sukardi Soeprapto berujar, “Cinta adalah sebuah komitmen, terkadang berarti pengorbanan, dan sebuah pilihan. Pilihan tentang bagaimana menjalani hidup berdasarkan cinta yang Anda miliki untuk diberikan pada orang lain. Tetapi saya menemukan bahwa cinta merupakan salah satu kata yang terlalu sering digunakan sehingga membuatnya sedikit kehilangan arti.”

Di tengah menulis, selagi teringat perkataan Noorani, saya mulai menghitung berapa banyak kata cinta yang tersurat dalam artikel ini. Banyak, hingga sejenak saya pun kehilangan gagasan pribadi akan maknanya. Mungkin, karena alasan tersebut cinta tetap menjadi topik besar dalam kehidupan manusia.

Cinta bertumbuh kembang seiring zaman tanpa terpaut usia atau terkungkung dalam satu wujud kasat mata. Pada akhirnya, sifatnya relatif bagi setiap individu dan di dalam setiap hubungan. Terlebih di zaman di mana manusia bisa sangat mudah menemukan manusia lainnya; bertemu tanpa perlu bersentuhan, bahkan dengan orang-orang di luar jangkauan. Seolah Anda tidak lagi butuh alasan untuk berinvestasi dalam suatu hubungan.

Baca wawancara eksklusif masing-masing pasangan bersama ELLE dalam special feature ELLE Indonesia Februari 2020: Love Issue. Telah terbit.

photography ZAKI AKBAR styling ISMELYA MUNTU makeup & hair ENGELINE INEZ, YOSEFINA YUSTIANI, ADITYA, AILEEN, ANGGI MAULANA video FICKAR HAJAR production AYU NOVALIA

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.