Mengapa Kita Mengunggah Sesuatu Ke Internet?

Sebuah pertanyaan yang perlu kita renungkan sejenak sebelum jari menekan tombol ‘post’. Menikmati teknologi secara bijak dapat dimulai dengan pertanyaan ‘mengapa’. Oleh ALAMANDA SHANTIKA.

Banyak keresahan yang terjadi saat teknologi muncul. Seperti kemunculan berita-berita Artificial Intelligence atau robot yang akan menggantikan manusia.

Saya sebagai pelaku yang ikut andil dalam perkembangan teknologi tidak jarang ditanya, “Bagaimana nasib kasir di supermarket jika semua supermarket sudah digital? Kasihan mereka nanti tidak punya pekerjaan lagi” atau “Bagaimana nasib customer care jika sudah ada chatbot yang bisa menjawab semua pertanyaan pelanggan? Mereka harus ke mana?” atau bahkan pertanyaan seperti, “Jika nanti yang mendiagnosa penyakit sudah bisa digantikan dengan robot, artinya anak saya lebih baik tidak kuliah kedokteran?”

Well, jawaban saya, “Kita tidak bisa memegang bumi lalu menghentikan dia berputar kan?” Analogi ini mengarah kepada kondisi bahwa kita tidak bisa mengontrol apa yang terjadi di luar diri kita, salah satunya perkembangan teknologi. Perkembangan di dunia teknologi terjadi sangat cepat. Kita tidak bisa menyuruh mereka berhenti berinovasi. Kitalah si pengguna yang mampu menguasai keadaan dan diri sendiri untuk memutuskan, how we react to something?

work from home - di rumah aja - elle indonesia - photography diego lorenzo - styling cheryl tan - 00
photography DIEGO LORENZO styling CHERYL TAN

Sama halnya dengan kemunculan media sosial. Tanpa kita sadari, banyak perubahan perilaku yang terjadi ketika teknologi dan media sosial hadir. Kita pergi jauh dari rumah bukan lagi untuk menikmati keindahan alam atau menyimak sejarah suatu daerah. Namun, kita sibuk berfoto yang tentunya untuk kita unggah di akun media sosial lalu menanti notifikasi likes dari para followers. Dan saat satu notifikasi muncul, ada hasrat tak terbendung untuk masuk ke platform dan memeriksa bagian notifikasi. Akhirnya, berasal dari satu likes kita menghabiskan lebih dari 30 menit untuk menjelajah linimasa kita. Itulah perilaku kita sehari-hari.

Saya sebagai pelaku sekaligus pencipta dunia teknologi, dalam berbagai buku teori konsumen digital, bahwa memang itulah yang terjadi, mengubah perilaku manusia tanpa manusia itu sendiri sadari. Yang perlu kita waspadai, manusia sebaiknya tidak hidup seperti ‘zombie’ yang kehilangan jiwa di dunia dan tidak sadar pada diri sendiri. Kesadaran manusia serta persoalan emosi dan perasaan adalah sesuatu yang tidak pernah diajarkan di sekolah. Kita hanya diajarkan untuk melatih otak, tetapi melupakan wilayah emosi dan perasaan. Dua hal yang mendasar pada kemanusiaan seseorang yang amat berperan dalam mengarahkan kecenderungan perilaku seseorang.

elle indonesia- new normal - photography alexander saladrigas - styling jenny kennedy
photography Alexander Saladrigas styling Jenny Kennedy

Sekarang, saya ingin membawa Anda kembali menyadari dan merasakan, sesungguhnya apa emosi dan pikiran kita saat tangan kita tengah bergegas mengunggah foto atau kalimat di jagat internet. Tanyakan pada diri sendiri, ‘Why we post something?’. Apakah supaya eksistensi kita terjaga baik? Agar kita terlihat punya hidup yang menyenangkan dan terlihat tanpa cela? Untuk membentuk persepsi orang lain tentang diri kita? Supaya kita tidak dianggap ‘tidak punya’ dan ‘tidak keren’? Agar kita dibanjiri pujian dan atensi yang harus kita akui hal itu berdampak positif pada kondisi batin?

Semua asumsi yang sebetulnya menjauhkan kita dari makna kebahagiaan diri sendiri. Sebab pada akhirnya, we value others opinion more than our opinion, feelings, and happiness.

Kebahagiaan adalah tentang bagaimana menjalani hidup dengan cara kita sendiri. Menjadi merdeka untuk mengekspresikan perasaan, berbicara kebenaran, dan menciptakan hidup sepenuhnya atas kehendak diri sendiri.

Let’s give up yourself living in other people’s expectations. Express not to impress.

Tulisan ini pertama kali diterbitkan dalam artikel ‘Opinion’ majalah ELLE Indonesia edisi November 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.