Merayakan Hari Buku Nasional Lewat 5 Buku Inspiratif

Simak buku favorit sejumlah figur publik untuk menemani perayaan Hari Buku Nasional.

Hari Buku Nasional merupakan sebuah perayaan untuk memperingati pentingnya budaya membaca. Di Indonesia, perayaan Hari Buku Nasional diperingati setiap tanggal 17 Mei. Pada tahun 2002, Abdul Malik Fadjar, Menteri Pendidikan Republik Indonesia saat itu, mencetuskan dan memilih 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional, karena tanggal tersebut bertepatan dengan berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, yakni 17 Mei 1980. Penetapan Hari Buku Nasional bukan tanpa alasan, tujuannya agar diharapkan dapat menumbuhkan budaya literasi, terutama minat membaca serta menulis di kalangan masyarakat Indonesia.

Sebab membaca bukanlah hobi belaka tanpa makna. Membaca merupakan aktivitas untuk memperluas wawasan, mempertajam gagasan, sekaligus meningkatkan kreativitas. Maka tak heran apabila tingkatan minat baca seseorang dapat menentukan tingkat kualitas wawasan seseorang.

Dalam rangka merayakan pentingnya budaya membaca, simak sejumlah rekomendasi buku dari sosok figur publik berikut.

The Mastery of Love, karya Don Miguel Ruiz – Amanda Rawles

“Usai membaca The Mastery of Love, hubungan antara diri saya dengan orang-orang di sekitar rasanya semakin berkualitas dan meningkat secara drastis. Buku ini telah membangunkan saya dari ketidaksadaran akibat terjebak dalam ketakutan dan kekhawatiran. Sesuatu yang membawa saya pada emosi dan tindakan negatif. Membaca buku ini, saya jadi mulai memahami apa itu cinta sebenarnya dan bagaimana kita kerap kali keliru mengartikan cinta dengan rasa takut. Buku The Mastery of Love mengajarkan saya bahwa hanya dengan menyadari sekaligus mempraktikkan karakteristik-karakteristik cinta, maka saya segera dapat menguasainya,” – Amanda Rawles

Diterbitkan tahun 1999, The Mastery of Love karya Don Miguel Ruiz memaparkan keyakinan dan asumsi berdasarkan rasa takut yang merusak cinta dan menyebabkan penderitaan dalam hubungan manusia. Buku ini menggunakan berbagai kisah untuk menyalakan pesan penting yang ingin diangkat oleh penulisnya. Tentang bagaimana manusia menyembuhkan luka emosi, menemukan kembali kebebasan dan kegembiraan, serta mengembalikan semangat keceriaan sebagaimana hal tersebut signifikan dalam hubungan cinta antarmanusia.

You create your own dream of heaven; no one can create it for you,” sebagaimana tertulis di The Mastery of Love halaman 167. Don Miguel Ruiz menegaskan, bahwa kebahagiaan hanya bisa datang dari dalam diri sendiri. Saat kita menyadari bahwa tidak ada orang lain yang bisa membuat kita bahagia dan bahwa kebahagiaan merupakan akibat dari cinta diri sendiri, maka saat itulah kita telah sampai pada titik penting; memahami dan menguasai cinta.

Manuscript Found in Accra, karya Paulo Coelho – Mikha Tambayong

“Buku ini membuka cakrawala pengetahuan dan pemikiran saya terhadap nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai dari berbagai era, bahkan relevan dengan masa sekarang. Manuscript Found in Accra menguak pelajaran penting tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Sesuatu yang ditulis Paulo Coelho dengan apik sehingga dapat dipahami bahkan diterapkan pada pemikiran orang-orang dari berbagai agama. Kalimat demi kalimatnya pun mengena di hati, sangat membekas di pikiran saya,” – Mikha Tambayong.   

Terbit di tahun 2013, Manuscript Found in Accra bagai rangkuman sebuah kitab berisi filosofi kehidupan manusia. Novel ini mengambil sudut pandang seorang narator tanpa nama yang bertemu anak dari seorang arkeolog Inggris, Sir Walter Wilkinson. Pada 1974, Sir Walter menemukan manuskrip yang ditulis dalam Bahasa Arab, Ibrani, dan Latin. Manuskrip ini kemudian diketahui berasal dari Accra, sebuah kota di luar wilayah Mesir.

Setiap bab dalam buku ini memaparkan persoalan yang hadir lewat dialog antara The Copt, seorang Yunani, dengan warga Yerusalem di Accra. Mulai dari permasalahan cinta, keindahan, rasa takut, keberuntungan, hingga kesetiaan dan masa depan, seluruhnya dikupas dan menyeret kita untuk memahami hal-hal esensial dalam hidup secara lebih mendalam.

The Purpose Driven Life, karya Rick Warren – Daniel Mananta

“Saya menemukan tujuan hidup setelah saya membaca buku ini. Buku yang sudah saya baca sebanyak lima kali, dan sekarang sedang membacanya kembali untuk keenam kalinya.” – Daniel Mananta

Terbit tahun 2007, The Purpose Driven Life merupakan buku yang akan membantu Anda memahami pertanyaan-pertanyaan esensial yang filosofis, seperti misalnya, mengapa Anda hidup. Buku ini juga menyingkap persoalan tentang rencana Tuhan yang sesungguhnya luar biasa. Rick Warren mengajak kita memasuki suatu perjalanan spiritual selama 40 hari, yang akan mengubah jawaban dan pemahaman Anda atas pertanyaan paling penting dalam hidup: Untuk apa saya ada di sini?

Mengetahui tujuan Tuhan mengapa Dia menciptakan Anda sejatinya akan mengurangi tingkat stress, membantu memfokuskan energi Anda, menyederhanakan keputusan-keputusan, memberi makna pada hidup, dan yang paling penting, mempersiapkan diri kita untuk menuju kekekalan.

Bumi Manusia, karya Pramoedya Ananta Toer – Hannah Al Rashid

“Buku yang saya baca ketika berusia 14 tahun. Usai membacanya, untuk pertama kalinya saya bangga menjadi orang Indonesia. Lewat Bumi Manusia, saya membaca ketidakadilan yang dialami orang Indonesia. Ada banyak hal dalam buku ini yang sangat menarik, terutama karakter Nyai Ontosoroh yang amat inspiratif. Dan sebagai anak keturunan Indonesia dan Eropa, saya sangat related dengan karakter Annelies, terutama soal krisis identitas yang dialaminya. Bumi Manusia merupakan salah satu buku yang sangat mengena di hati saya.” – Hannah Al Rashid

Sastrawan Eka Kurniawan, yang menulis buku tentang Pram, mencatat bahwa Tetralogi Buru merupakan upaya Pramoedya Ananta Toer untuk menjawab pertanyaan: apa itu menjadi Indonesia.

Pramoedya Ananta Toer kerap mengalami ketidakadilan di zaman Orde Baru. Ia diasingkan ke Pulau Buru, Maluku, tanpa proses pengadilan. Penulis ini kemudian menjadikan masa pembuangannyaꟷdari Agustus 1969 hingga November 1979ꟷsebagai momentum untuk berkarya. Kendati dilarang menulis, Pram tetap mampu menyusun rangkaian naskah yang kelak menjadi karya masterpiece-nya. Di tempat buangan itulah Bumi Manusia tercipta. Seri pertama dari empat novel yang terangkai dalam “Tetralogi Pulau Buru”. Tiga seri lainnya berjudul Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Keempat novel ini berkaitan tapi juga bisa dibaca sendiri.

Alkisah di pergantian abad 19 ke 20, terdapat sosok Minke, pemuda Jawa terpelajar yang tengah menempuh pendidikan HBS (setingkat SMA). Suatu hari ia diajak kawannya berkunjung ke sebuah rumah besar bak istana. Di rumah itu ia bertemu Nyai Ontosoroh, perempuan Jawa usia 30-an yang menjadi istri simpanan laki-laki belanda bernama Herman Mellema. Perempuan ini punya dua anak, salah satunya Annelies. Minke jatuh hati pada Annelies, pun sebaliknya. Mereka kemudian menikah namun hukum menentang pernikahannya. Keduanya lantas berpisah.

Dalam versi filmnya, alur cerita lebih mengeksplorasi sisi romantis dan barangkali penonton dibuat tersipu dengan gaya pacaran Minke dan Annelies. Namun sesungguhnya yang ingin disampaikan Pram bukanlah kisah cinta Minke dan Annelies, melainkan penderitaan rakyat jajahan serta perlawanan terhadap kesewenang-wenangan penguasa. Berbagai tragedi sekaligus rasa muak dan marah pada penguasa yang sewenang-wenang yang hanya bisa didapatkan apabila membaca novelnya.

Elon Musk: Tesla, SpaceX, and the Quest for a Fantastic Future, karya Ashlee Vance – Arifin Putra

I’m a big fan of Elon Musk. Dia adalah ‘modern day Iron Man’, tipe orang yang memiliki mimpi dan akan melakukan segala cara untuk mewujudkannya. Lewat buku ini, saya jadi banyak tahu isi kepalanya Elon Musk. Sudut pandang dan cara berpikirnya seperti apa. Bagi saya sendiri, buku biografi itu selalu menarik sebab kita bisa belajar banyak dari kehidupan orang lain. Baik dari kesalahannya, maupun keberhasilannya. Mengetahui masa kecilnya, memahami perjalanannya dari masa muda, menyelami perjuangan dia dalam membangun kesuksesan. Termasuk mengetahui bagaimana seorang Elon Musk menghadapi berbagai problem dan mencari jalan keluarnya. Saya sangat terinspirasi dari buku ini. Saya mendapat banyak ilham dan informasi baru, dan selalu menarik untuk menyimak perjalanan orang-orang sukses.” – Arifin Putra

Kesuksesan SpaceX dan Tesla telah menjadi saksi kegilaan Elon Musk dalam berbisnis. Namun tak banyak yang tahu bagaimana pengorbanan Musk dalam mewujudkan semua impiannya. Buku karya Ashlee Vance ini secara lengkap bercerita mengenai semua hal itu. Ashlee mencoba menggambarkan bagaimana masa kecil Musk sangat membentuk karakter kerasnya dalam memimpin perusahaan-perusahaannya. Tak jarang bahkan keputusan-keputusan yang diambil kerap menyakiti hati orang-orang di sekitarnya. Ashlee Vance membagi penulisannya ke dalam 11 bab yang menceritakan berdasarkan kronologi, mulai dari masa kecil Musk, perjalanan pembuatan startup pertamanya, hingga kesuksesan SpaceX, Tesla, dan SolarCity.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.