Seluk-beluk Kripto Sebagai Opsi Investasi

Seiring kemajuan teknologi, dunia investasi turut mengalami perkembangan. Perencana dan ahli keuangan, SAFIR SENDUK, memaparkan soal kripto sebagai opsi aset dan investasi.

Kalau Anda pernah terbang dan duduk di jendela pesawat lalu mendarat di Singapura di malam hari, Anda pasti akan kagum dengan banyaknya lampu yang memenuhi kotanya. Sekarang bayangkan apa yang terjadi sekitar 1,5 abad lalu ketika listrik dan lampu belum ditemukan, orang-orang harus mengandalkan obor untuk penerangan. Sekarang kita melihat lampu di mana-mana dan listrik adalah hal biasa. Pesawat juga demikian. Kalau Anda sudah lahir di akhir tahun 1800-an dan mengatakan ke orang-orang bahwa Anda baru saja terbang dari Semarang ke Batavia misalnya, Anda pasti ditertawakan. Mana mungkin orang bisa terbang, katanya. Sekarang, tahun 2021, penerbangan dan bepergian adalah hal yang normal.

Sebelum tahun 1990, kalau Anda ingin tahu profil suatu perusahaan yang lokasinya di Amerika misalnya, Anda harus menelepon mereka via interlokal dan meminta mereka untuk mengirimkan profil perusahaan dalam bentuk brosur untuk dikirimkan via pos ke Indonesia untuk Anda pelajari. Mulai tahun 1992-an, Anda cukup mengirimkan email, dan mereka akan mengirimkan profil perusahaan mereka via lampiran di email. Sekitar tahun 2000, Anda cukup membuka web mereka. Sejak 2010, Anda bisa melihat profil sebuah perusahaan langsung dari ponsel genggam karena internet sudah bisa diakses via browser.

Teknologi juga memasuki dunia investasi. Dulu, investasi hanya ada dua macam: Investasi Berwujud (seperti emas, properti atau barang koleksi), dan Investasi Kertas (seperti deposito, saham, obligasi atau reksa dana). Dengan adanya teknologi, Anda bisa punya deposito via internet banking, membeli saham via aplikasi di ponsel genggam atau membeli emas tidak lagi secara fisik, tapi secara digital lewat aplikasi jual beli emas. Teknologi membuat Anda bisa membeli Investasi Berwujud dan Investasi Kertas secara digital langsung lewat laptop atau telepon genggam.

Namun sejak 2009, teknologi internet dunia mengalami revolusi yang luar biasa dahsyat. Kini telah muncul teknologi internet tingkat lanjut yang bernama blockchain. Secara prinsip, blockchain adalah teknologi internet tingkat tinggi dimana dua pengguna internet bisa saling berhubungan langsung tanpa menggunakan server atau perantara.

Saat ini, kalau Anda mengirimkan sesuatu lewat email kepada seseorang, maka sebetulnya email Anda (beserta lampirannya bila ada), akan ‘disalin’ oleh server atau kantor pusat pengelola email tersebut, dan orang yang Anda kirimi email tersebut menerima ‘salinannya’ saja. Contoh, Anda dan teman Anda sama-sama memakai Gmail. Ketika Anda mengirim email beserta lampiran ke teman Anda; maka server Google akan menyalin email dan lampiran yang Anda kirim, kemudian teman Anda menerima hanya salinannya.

Contoh lain, ketika Anda mengirimkan uang via mobile banking ke teman Anda sebesar Rp500 ribu, misalnya Anda berdua sama-sama pengguna Bank A, maka perintah transfer dari m-banking Anda akan diterima oleh server di kantor pusat bank tersebut, kemudian yang dia lakukan adalah mendebit (mengurangi saldo) di rekening Anda, dan mengkredit (menambah saldo) di rekening tujuan Anda. Tidak ada uang yang betul-betul terkirim.

Jadi, email yang Anda kirim sebetulnya hanya disalin. Uang yang Anda kirim sebetulnya tidak betul-betul terkirim, hanya permainan debit dan kredit saja. Ini bisa terjadi karena internet zaman dulu belum menjadi Internet of Asset, tapi masih menjadi Internet of Information, yaitu internet yang fungsinya hanya untuk melihat informasi. Dan lucunya, teknologi internet seperti inilah yang masih dipakai hingga sekarang di kebanyakan bank di Indonesia.

Kini, blockhain mengubah itu semua. Dengan blockchain, Anda bisa mengirimkan aset kepada orang lain, tanpa perantara, dan aset itu betulbetul terkirim. Tidak hanya sekadar debit-kredit saja. Anda mau kirim uang sebesar Rp10 juta dari Indonesia ke Amerika. Yang harus Anda lakukan adalah mengonversi uang Rp10 juta Anda ke mata uang yang diterima di blockchain (prosesnya tidak sampai 1 menit dan bisa dilakukan di sebuah aplikasi di ponsel genggam Anda), kemudian mengirimkan mata uang tersebut ke teman Anda di Amerika (tentunya dia harus menggunakan blockchain yang sama), dan dalam waktu 5-10 menit dia sudah menerimanya di aplikasi dompet di telepon selulernya. Setelah itu, teman Anda hanya perlu mengonversi lagi mata uang tersebut ke mata uang lokalnya, yang juga bisa dilakukan tidak sampai 1 menit. Total proses pengiriman aset tersebut tidak sampai 30 menit, tanpa perantara.

Mata uang yang diterima di blockchain tersebut disebut dengan nama mata uang kripto. Nama ini diambil karena proses komunikasi di dalam blockchain menggunakan bahasa yang disebut kriptografi, dan mata uang yang digunakan di dalam blockchain untuk saling mengirimkan aset tersebut disebut dengan nama cryptocurrency atau Mata Uang Kripto. Sedangkan mata uang kripto pertama yang digunakan pada blockchain, yang juga menjadi blockchain pertama di dunia, adalah Bitcoin.

Jadi, Bitcoin adalah mata uang yang digunakan di dalam teknologi internet tingkat tinggi bernama blockchain yang bisa digunakan oleh dua orang di dalamnya untuk saling mengirimkan aset, tanpa perlu perantara. Apa pun uang Anda, konversikan dulu ke dalam Bitcoin, lalu Bitcoin itulah yang dikirimkan. Selanjutnya, si penerima cukup mengonversikan Bitcoin itu ke dalam mata uang lokalnya.

Saat tulisan ini dibuat, sudah ada banyak sekali merek blockchain di pasaran. Selain blockchain Bitcoin menjadi yang pertama, ada juga blockchain merek Etherium, Cardano, Solana, Elrond, dan banyak lagi. Setiap blockchain tersebut punya mata uangnya sendiri-sendiri. Etherium misalnya, nama mata uangnya ETH. Cardano, namanya ADA. Solana, nama mata uangnya SOL. Elrond, nama mata uangnya EGLD. Tentunya antara satu blockchain dengan blockchain yang lain saling bersaing untuk menjadi yang terbaik, dan apa yang mereka lakukan adalah berebut menawarkan diri kepada para pengembang aplikasi agar pengembang aplikasi bersedia membuat aplikasi di blockchain mereka.

Ada dua hal yang sudah kita ketahui: blockchain sebagai jaringan teknologi internet, dan aplikasi yang menggunakan blockchain sebagai basis di mana aplikasi itu berada. Saat ini, ada banyak aplikasi yang menggunakan blockchain sebagai internetnya, tidak lagi menggunakan internet zaman ‘dulu’. Anda pun bisa mencari berbagai referensinya dengan mudah melalui Google.

Yang menarik, mata uang kripto bisa dijadikan sarana berinvestasi. Tanpa perlu mengirimkan uang atau aset ke luar negeri sekalipun, Anda bisa membeli Bitcoin atau mata uang kripto lain untuk sekadar investasi. Harapannya, ketika di masa datang pengguna aplikasi berbasis blockchain semakin banyak, nilai Bitcoin dan teman-temannya akan semakin meningkat.

Apa yang membuat kita mempertimbangkan mata uang kripto sebagai investasi? Pertama karena ini adalah teknologi. Teknologi internet (apalagi yang tingkat tinggi seperti blockchain) membuat seseorang bisa memiliki aset atau investasi tanpa perlu fisik, atau kertas. Sama seperti Anda punya Gopay, OVO atau ShopeePay. Mereka tidak ada bentuk fisiknya dan tidak bisa dicetak di kertas, tapi mereka ada secara digital. Begitu juga dengan mata uang kripto. Tidak ada fisiknya dan tak bisa dicetak di kertas, tapi ada secara digital. Yang menarik, mata uang kripto tidak berada di bawah negara tertentu dan tidak dimiliki oleh lembaga tertentu. Memiliki mata uang kripto ibarat Anda menjadi bank bagi diri Anda sendiri. Dan teknologi, di masa depan, akan makin meluas adopsi atau penggunaannya apabila banyak orang merasa ada banyak kegunaan dari teknologi tersebut.

Alasan kedua, beberapa mata uang kripto dicetak terbatas. Bitcoin misalnya, hanya dibuat sekitar 21 juta keping digital. Dengan jumlah yang terbatas, sementara penggunaannya (diharap) makin meluas di masa depan. Bisa dibayangkan akan jadi berapa harganya di masa depan. Walaupun tentunya, karena ini digital, Anda tidak harus memiliki 1 koin Bitcoin secara utuh, tapi bisa memiliki secara pecahan saja, misalnya 0,001 Bitcoin. Misalnya, saat ini Bitcoin bernilai sekitar Rp700 juta, berarti dengan Rp700 ribuan Anda bisa punya sebesar 0,001 Bitcoin.

Kapan sebaiknya Anda mulai untuk punya mata uang kripto? Bagi saya, hari ini juga. Mengapa demikian? Karena di masa depan, saya percaya akan ada banyak sekali aplikasi berbasis internet yang berpindah dari menggunakan internet model lama ke blockchain. Yang kedua adalah akan ada banyak sekali aplikasi yang mulai menerima pembayaran tidak menggunakan Rupiah, USD, atau mata uang negara, tapi pembayaran berupa aset kripto. Tanpa perlu menyebut nama aplikasinya, saya sendiri telah memanfaatkan aplikasi yang menerima pembayaran berupa aset kripto. Di Indonesia sendiri, saat ini, masih melarang pemanfaatan aset kripto sebagai alat pembayaran di gerai belanja offline ataupun tokotoko Indonesia yang memiliki web dan aplikasi di telepon seluler.

Saya tidak ingin Anda melanggar larangan tersebut. Tapi Anda bisa melakukan transaksi di web luar Indonesia, atau aplikasi di luar Indonesia yang sudah bisa diakses di Indonesia. Tidak bertransaksi pun tidak apa-apa, karena Anda bisa berinvestasi saja di dalamnya. Kalau untuk menggunakannya sebagai alat pembayaran, hanya lakukan di aplikasi atau web yang berbasis hukum di luar Indonesia, karena aplikasi atau web asal Indonesia masih dilarang. Itulah mengapa pemerintah Indonesia lebih suka tidak menyebutnya mata uang kripto, melainkan aset kripto. Di Indonesia, untuk saat ini kripto hanya bisa dijadikan aset investasi, bukan ditujukan sebagai mata uang. Walaupun dari penjelasan di atas, kita tahu bahwa penyebutan ‘mata uang’ lebih mengarah kepada mata uang di dalam blockchain, bukan di negara Indonesia.

Alasan ketiga kenapa Anda harus berinvestasi sekarang ke mata uang kripto adalah karena penggunanya belum banyak. Dibanding 5-10 tahun lalu penggunanya saat ini sudah lebih banyak, tapi dibanding jumlah penduduk dunia, masih sangat sedikit yang berinvestasi ke aset kripto. Dengan memiliki dari sekarang, Anda punya kesempatan membeli di harga yang masih sangat murah. Memang harus diakui, dalam waktu pendek, harga aset kripto naik turun cukup kencang. Tapi dalam jangka panjang, harganya meningkat.

Di mana Anda bisa membeli kripto? Saat ini, di Indonesia baru ada 12-13 bursa yang diakui negara untuk bisa membeli aset kripto, di mana Anda bisa membeli Bitcoin dan teman-temannya, mulai dari Rp100 ribu. Asalkan, saran saya, kalau Anda punya pekerjaan utama, tidak perlu trading, tapi cukup berinvestasi untuk jangka panjang. Ada banyak orang yang trading di kripto. Tapi kalau Anda punya pekerjaan lain yang dianggap lebih penting, sebaiknya Anda cukup berinvestasi. Lupakan harganya dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, kita harapkan harganya meningkat.

Sejak dulu saya selalu mengatakan ada dua macam investasi: investasi pada Aset Berwujud, dan investasi pada Aset Kertas. Sekarang dengan adanya teknologi digital, mari kita tambahkan Aset Digital sebagai salah satu jenis investasi yang potensial. Saya memahami, bahwasanya tidak, atau barangkali belum, semua orang bisa menerima keberadaan investasi yang tidak berbentuk fisik atau kertas (bentuk digital). Tapi jangan pernah menolak perkembangan teknologi, karena kita tidak akan pernah tahu teknologi akan membawa kita ke mana. Sama seperti dahulu, pun tidak semua orang bisa menerima penemuan teknologi listrik, lampu, pesawat terbang, robot, bahkan internet dan ponsel genggam. Namun jika kita bersedia mencoba menikmatinya, hidup akan semakin mudah dan efisien.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.