Nilai Lebih (Tak Terduga) Bapak Rumah Tangga

stay home dad - elle indonesia

Titel ‘bapak rumah tangga’ mungkin bukan sesuatu yang dicita-citakan pasangan Anda. Tetapi apakah mungkin menjadi petualangan hidup yang membahagiakan? Oleh HERMAWAN KURNIANTO.

Film Incredibles 2 sungguh mengesankan. Tidak hanya menghasilkan 182,7 juta dolar Amerika di minggu pertama penayangan yang membuatnya mencetak rekor sebagai debut terbaik bagi sebuah film animasi, namun juga mendapat respons positif dari penonton serta pujian dari kritikus. Selain kelucuan dan keseruan yang tersebar di sekujur dialog dan adegan, film ini menyodorkan sebuah social commentary yang menggelitik. Dikisahkan bahwa Bob Parr (Mr. Incredible) harus menjalani peran baru sebagai stay-at-home dad, dan titik ini menjadi elemen konflik yang turut menggerakkan cerita. Pixar Animation Studios yang memproduksi Incredibles dan Incredibles 2 bukanlah studio film sembarangan.

incredibles 2
Photo courtesy Pixar

Film-film keluaran Pixar, seperti Toy Story, Finding Nemo, Up, dan Inside Out tidak hanya bergelimang dengan pencapaian artistik dan teknologi film animasi, tetapi juga cerita yang menyentuh dan relevan dengan realitas yang tengah terjadi. Bukanlah tanpa alasan apabila penulis skenario, sutradara, dan produser Incredibles 2 akhirnya bersepakat memasukkan unsur stay-at-home dad atau bapak rumah tangga ke dalam bangunan cerita. Bisa jadi ini berkaca pada kenyataan bahwa fenomena bapak rumah tangga memperlihatkan peningkatan tren.

Menurut data dari Pew Research Center, jumlah ayah di Amerika Serikat yang tinggal di rumah dan merawat anak meningkat dari 1,1 juta di tahun 1989 menjadi 2 juta di tahun 2012. Sementara di Inggris, dari data yang dipublikasikan di harian The Telegraph, jumlah bapak rumah tangga juga menunjukkan kecenderungan peningkatan, meski fluktuatif dan relatif stabil, dari 240 ribu orang pada Mei-Juli 2014 ke angka 262 ribu orang pada Januari-Maret 2017.

Tinggal di Rumah… Bahagia?

elle indonesia photography HONG JANG HYUN styling LEE JAE HEE
photography HONG JANG HYUN styling LEE JAE HEE dipublikasikan dalam ELLE Indonesia edisi November 2019

Kecenderungan yang terjadi di Amerika Serikat dan di Inggris tentu tidak bisa menggeneralisasi kondisi yang terjadi di dunia. Di Indonesia dan negara-negara Timur lainnya, yang tidak bisa dipungkiri masih menggenggam budaya patriarki dengan kuat, peran ayah sebagai kepala rumah tangga sekaligus sebagai pemain utama dalam urusan mencari nafkah masih begitu mengemuka. Namun, hal ini perlu dibenturkan dengan data valid mengenai jumlah bapak rumah tangga di Tanah Air dari tahun ke tahun, yang sayangnya hingga kini belum tersedia.

Peran sebagai bapak rumah tangga bisa terjadi dalam beberapa skenario. Pertama, bisa jadi tadinya sang ayah bekerja, kemudian karena satu dan lain hal (misalnya perusahaan gulung tikar) ia diberhentikan dari pekerjaannya sehingga harus tinggal di rumah. Akhirnya yang bertugas menafkahi keluarga adalah sang ibu. Atau bisa juga, ayah yang tadinya bekerja terpaksa harus berada di rumah karena mengidap satu penyakit tertentu, sehingga tidak mampu lagi bekerja dan mencari nafkah.

Skenario lainnya yakni ayah memang memilih berkarier sebagai pekerja non kantoran atau freelancer, seperti penulis, fotografer, desainer grafis, atau sutradara, sementara ibu memiliki pekerjaan tetap di sebuah kantor. Kalau skenario pertama dan kedua yang terjadi, yaitu status stay-at-home dad bukan karena keinginan diri sendiri, maka dampak psikologisnya kurang lebih seperti yang dialami Pak Bob di film Incredibles 2. Dia merasa lemah, clueless saat harus mengurus anak-anaknya di rumah, insecure dan merasa iri dengan istrinya Helen (Elastic Girl), serta harga dirinya sebagai laki-laki dan pemimpin rumah tangga habis tergerus.

stay home dad
Image iStock

Dalam sebuah penelitian yang dimuat di Journal of Aging and Health, tim peneliti yang telah mempelajari hampir 1.100 pasangan suami istri selama tiga dekade, menemukan masalah kesehatan pada lelaki yang istrinya menjadi pencari nafkah utama. Para lelaki tersebut merasa gagal dan bisa dibuat merasa tidak mampu oleh temantemannya, keluarga, atau bahkan oleh istri dan anak-anaknya sendiri. Akibatnya, mereka cenderung mencari pembuktian maskulinitas lewat cara-cara yang merusak diri, seperti merokok, minum alkohol, atau mengonsumsi makanan yang tidak sehat. Kondisi berbeda terjadi pada skenario ketiga, yakni para suami yang dengan sadar memilih pekerjaan yang memungkinkannya untuk lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama anak.

Pilihan ini tentunya telah melewati diskusi dan perdebatan yang berujung pada kesepakatan dari pihak suami dan istri. Laki-laki merasa memiliki kehidupan terbaik karena menjalani pekerjaan yang sangat ia nikmati dengan bonus tak ternilai berupa ikatan emosional tinggi dengan buah hati. Pada sisi lain, sang istri memberikan dukungan dan keikhlasan penuh kepada pasangannya atas pilihan hidup yang ia ambil. Ditambah penerimaan dari keluarga dan lingkungan sekitar.

Apapun skenarionya, kebahagiaan merupakan hal yang tak bisa ditawar. Berdamai dengan diri sendiri sangat penting dilakukan oleh bapak rumah tangga. Komunikasi dan keterbukaan tentang berbagai hal, mulai dari hubungan, keuangan, urusan domestik, pengasuhan anak, hingga masa depan keluarga, akan meluruhkan hambatan dan masalah yang ada. Jika kondisi internal keluarga yang melibatkan Anda dan pasangan telah terkendali, maka Anda berdua akan lebih kuat dan andal dalam menghadapi tekanan dan serangan dari eksternal. Suara-suara sumbang yang nyaring di luar sana akan lebih mudah dibungkam.

Nilai Lebih (Tak Terduga) Bapak Rumah Tangga

elle indonesia photography HONG JANG HYUN styling LEE JAE HEE
photography HONG JANG HYUN styling LEE JAE HEE dipublikasikan dalam ELLE Indonesia edisi November 2019

Menurut penelitian yang dilakukan Dr. Kyle D. Pruett, ahli psikologi anak dan keluarga di Amerika Serikat, bayi berusia 7-30 bulan lebih responsif terhadap sentuhan sang ayah. Pengasuhan anak oleh ayah bermanfaat untuk perkembangan fisik, kognitif, emosi, dan tingkah laku anak. Anak menjadi lebih seimbang emosinya, lebih cerdas dan percaya diri. Selain kedekatan dengan buah hati, menjadi bapak rumah tangga juga dapat memunculkan sisi lain. Dari rutinitas nine to five yang menimbulkan kejenuhan dan stres, kini pasangan Anda menemukan penyegaran dari segala kebosanan dan meluangkan lebih banyak waktu untuk hal-hal yang ia sukai. Bukan tidak mungkin bahwa ternyata pasangan Anda memiliki bakat terpendam dalam meracik makanan, yang bisa menjadi potensi untuk mendulang rezeki baru.

Kini dengan adanya bapak rumah tangga, hadir pula waktu luang sehingga Anda dan pasangan dapat menikmati lebih banyak quality time. Mengurus rumah dan anak bukan berarti mengikis maskulinitas, tetapi justru mampu meletupkan sisi sensitif dan romantis yang meredup atau mungkin tidak pernah terlihat. Mr. Incredible, dengan perubahan statusnya menjadi stay-at-home dad, tetap tidak melunturkan kehebatan dan elemen coolness yang tersemat dalam dirinya. Begitu juga dengan pasangan Anda. Ia adalah sosok hero dengan caranya sendiri bagi keluarganya. Happy husband, happy wife, happy family, happy ending.

Artikel ini pertama kali terbit di majalah ELLE Indonesia edisi Oktober 2018 dengan judul ‘Daddy’s Home‘.

Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.