Semangat Juang HR Rasuna Said di Jalur Nasionalisme

Perempuan Minang yang tak pernah putus menggelorakan perjuangan dan gigih melawan kolonial.

Jalan HR Rasuna Said adalah salah satu jalan utama di kota Jakarta sekaligus pusat bisnis bersama dua distrik lainnya: Sudirman dan Thamrin. Gedung perkantoran, hotel bintang 5, kantor kementerian, hingga kedutaan besar bermacam negara ada di wilayah HR Rasuna Said. Barangkali tidak ada orang yang tidak tahu nama jalan ini. Namun tahukah Anda siapa si pemilik nama tersebut? HR Rasuna Said adalah pahlawan nasional Indonesia, perempuan yang gigih memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. Sosok ini tidak bisa diabaikan begitu saja mengingat konsistensi dan kegigihannya yang luar biasa sebagai penentang penjajah, politikus ulung, sekaligus ulama perempuan yang lantang berani.

Kritis Sejak Remaja

Hajjah Rangkayo Rasuna Said lahir 14 September 1910 di Desa Panyinggahan, Maninjau, Agam, Sumatera Barat. Ayahnya, Haji Muhammad Said, seorang tokoh pergerakan di Sumatera Barat. Rasuna menempuh pendidikan dasar di Sekolah Desa, dekat Danau Maninjau. Sebenarnya sebagai seorang anak keluarga terpandang, ia bisa saja mengecap pendidikan di sekolah Belanda. Namun Rasuna memilih sekolah agama. Rasuna melanjutkan pendidikan di Pesantren Ar-Rasyiddiyah. Ia satu-satunya santri perempuan di pesantren tersebut. Rasuna Said kemudian pergi ke Padang Panjang dan masuk Madrasah Diniyah Putri yang didirikan oleh Rahmah El Yunusiyah, salah satu tokoh emansipasi perempuan di Sumatera Barat. Didirikan pada tahun 1023, madrasah ini merupakan sekolah khusus perempuan pertama di Indonesia. Rahmah El Yunusiyah sendiri adalah pendukung gerakan Soematra Thawalib yang dipengaruhi pemikiran Mustafa Kemal Ataturk, tokoh nasionalis Islam dari Turki. Dari gurunya inilah Rasuna Said mulai tertarik politik dan menerjunkan diri ke wilayah pergerakan aktivis.

Rasuna melanjutkan sekolah di lembaga pendidikan Thawalib. Sekolah ini khusus mengajarkan aspek teoretis dan filosofis dari ajaran agama Islam. Keterampilan pidato Rasuna ia dapatkan dari Haji Udin Rachmany, pendiri lembaga pendidikan Thawalib yang berpola pikir progresif. Selama 2 tahun, ia melatih Rasuna soal keterampilan berbicara di depan umum dan kemampuan berdebat yang baik. Kedua hal ini penting dimiliki seseorang yang ingin terlibat gerakan politik.

Rasuna memulai karier di dunia politik dengan berkecimpung di Sarekat Rakyat pada 1926. Ia diangkat menjadi sekretaris di Sarekat Rakyat cabang Sumatera Barat saat usianya baru 16 tahun. Rasuna Said kemudian berkecimpung di Soematra Thawalib. Tahun 1930, Soematra Thawalib melahirkan PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia). Rasuna Said jadi salah satu perintisnya. Bersama PERMI, Rasuna kerap menyampaikan orasi yang isinya mengecam pemerintah kolonial. Ia terlihat tidak pernah takut menyuarakan pendapat. Tidak jarang Rasuna dipaksa turun dari podium akibat dianggap terlalu keras bersuara. Pada Oktober 1932 Rasuna berpidato di Payakumbuh di depan para perempuan anggota PERMI. Dalam orasinya, ia membahas langkah yang bisa diterapkan perempuan anggota partai untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Pemerintah geram melihat aksi Rasuna dan menangkapnya atas dasar menyebar ujaran kebencian di depan publik. Ia diadili dan dijatuhi hukuman 15 bulan penjara di Semarang dengan dakwaan spreekdelict karena sering berorasi menentang pemerintah. Rasuna adalah perempuan Indonesia pertama yang dipenjara karena tuduhan ujaran kebencian.

Usai Penjara dan Masa Kemerdekaan

Bebas dari penjara, Rasuna kembali ke Sumatera Barat untuk melanjutkan studi dan memulai gebrakannya di dunia jurnalistik. Ia mendirikan majalah Raya yang bertujuan menginspirasi kaum muda Minang agar terus berjuang melawan segala bentuk penjajahan. Peredaran majalah Raya sempat mendapat intimidasi dari pemerintah. Sebagian anggotanya merasa takut dan tidak berani meneruskan pembuatan majalah. Rasuna lantas pindah ke Medan dan mendirikan Menara Poeteri, majalah yang membahas peran perempuan dalam Islam dan nasionalisme.

Setelah Indonesia merdeka, Rasuna terlibat dalam Panitia Pembentukan Dewan Perwakilan Nagari, yang melahirkan Dewan Perwakilan Sumatera tahun 1946. Tahun 1947, Rasuna menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat di Republik Indonesia Serikat. Karier politiknya semakin bersinar tatkala Presiden Sukarno menunjuknya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung. Ia dipercaya untuk duduk di kursi penasehat pemerintah. Konon dikabarkan bahwa Sukarno sangat mengagumi kepiawaian Rasuna dalam berpolitik.

Selain aktif berpolitik, Rasuna Said juga turut andil dalam pembangunan pendidikan di Sumatera. Ia rutin mengajar dan banyak terlibat dalam pendirian sekolah-sekolah, seperti Sekolah Thawalib, Sekolah Thawalib Putri, Kursus Pemberantasan Buta Huruf, dan Kursus Putri di Bukittinggi. Ketika di Medan, Sumatera Utara, Rasuna juga mendirikan lembaga pendidikan khusus perempuan bernama Perguruan Putri.

Panutan dan Inspirasi HR Rasuna Said

Perjuangan Rasuna Said agaknya berbeda dengan R.A. Kartini yang menganggap kemerdekaan perempuan artinya bebas dari pingitan dan kungkungan adat yang menyiksa. Bagi Rasuna, perempuan Indonesia harus memikirkan gagasan berkebangsaan. Ia berpendapat, Indonesia tidak akan pernah bisa merdeka jika para perempuannya masih terbelakang. Perempuan di Indonesia wajib berpikiran maju dan cerdas. Soal relasi penikahan, Rasuna Said juga berbeda pilihan dengan Kartini. Kartini menerima perjodohan yang sebenarnya tidak ia hendaki. Demi rasa hormat pada orangtuanya, Kartini bersedia dinikahkan dengan Bupati Rembang yang pernah kawin tiga kali, kemudian membuka sekolah khusus anak-anak perempuan di kompleks kantor bupati milik suaminya. Rasuna Said tidak demikian. Bagi Rasuna, pernikahan tidak seharusnya memasung kebebasan perempuan.

Panutan dan inspirasi bagi Rasuna Said adalah dua seniornya yang sama-sama perempuan pejuang asal Minangkabau: Rahmah El Yunusiyah dan Siti Rohana Kudus. Rasuna Said mengikuti jejak perjuangan yang dilakoni dua sosok teladannya itu. Mulai dari pendidikan untuk perempuan, politik, hingga jurnalistik. Dari Rahmah, Rasuna mendapat banyak pengetahuan tentang bagaimana mengelola sekolah perempuan. Sementara dari Rohana Kudus, Rasuna Said belajar mengenai masalah-masalah yang dihadapi perempuan. Rohana Kudus adalah pendiri sekolah Kerajinan Amai Setia di Kotogadang yang mengajarkan keterampilan kepada anak-anak perempuan. Selain itu, ia juga salah satu jurnalis perempuan pertama di Indonesia yang lantas diikuti pula oleh Rasuna. Rasuna Said pernah menjadi redaktur majalah Suntiang Nagari dan menerbitkan surat kabar mingguan Menara Poeteri.

Pada 2 November 1965, tepat hari ini 55 tahun yang lalu, HR Rasuna Said meninggal dunia di Jakarta. Ia wafat dalam usia 55 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pada 13 Desember 1974, pemerintah menetapkan Hajjah Rangkayo Rasuna Said sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia karena dianggap konsisten memperjuangkan nasionalisme, ajaran Islam, dan kesejahteraan perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.