Silvia Halim: Memimpin Konstruksi MRT Jakarta

Profile Silvia Halim mrt jakarta - elle indonesia - styling SIDKY MUHAMMADSYAH photography MICHAEL TIMOTHY - writer rianty rusmalia

Silvia Halim ingin berperan dalam kemajuan negeri melalui sistem transportasi yang berdampak pada kehidupan manusia dengan mengepalai proyek pembangunan MRT Jakarta.

Silvia Halim merupakan satu-satunya perempuan di tengah jajaran pimpinan PT. Mass Rapid Transit Jakarta (MRT Jakarta). Ia adalah Sarjana Teknik Sipil, Nanyang Technological University di Singapura. Lulus kuliah, ia mencetak pengalaman 12 tahun berkarier sebagai Project Manager di Land Transport Authority (LTA), Singapura. Kemudian pada Agustus 2016, Silvia ditunjuk sebagai Direktur Konstruksi MRT Jakarta.

Seluruh pekerjaan konstruksi MRT Jakarta, setiap fase hingga tahap-tahap selanjutnya, berada di bawah pengawasan Silvia sebelum akhirnya diserahkan kepada Agung Wicaksono (Direktur Operasi dan Pemeliharaan MRT Jakarta).

Ia memimpin lima divisi: Project Management Office Division, Engineering Division, Project Management for Construction 1 Division, Project Management for Construction 2 Division, dan Project Management for Railway System Division. Sebagai Direktur Konstruksi, Silvia bertanggung jawab memastikan pembangunan MRT dilaksanakan sesuai jadwal, memenuhi kualitas, tepat budget, patuh pada aturan keselamatan kerja pembangunan, serta terselesaikan dengan baik. “Ketertarikan pada bidang transportasi publik muncul saat saya bekerja di Singapura. Di sana saya melihat bagaimana sistem transportasi beserta kelayakan fasilitas dapat berdampak besar pada kehidupan seseorang. Sebagai lulusan Teknik Sipil, tanpa ragu, saya ingin berperan dalam perubahan kota Jakarta,” ujar Silvia Halim saat kami temui di depo Lebak Bulus, stasiun pertama MRT Jakarta.

Profile Silvia Halim mrt jakarta - elle indonesia - styling SIDKY MUHAMMADSYAH photography MICHAEL TIMOTHY - writer rianty rusmalia

Bagaimana status perkembangan konstruksi sipil MRT Jakarta per bulan Mei 2018?
“Progres pekerjaan sipil mencapai 93,5%. Untuk sistem railway, kemajuannya ada di angka 87% per bulan Mei. Jalur MRT Jakarta membentang 10 kilometer dari Lebak Bulus hingga Jalan Sisingamangaraja. Dari rute tersebut terdapat tujuh stasiun layang yakni Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja. Sementara konstruksi bawah tanah (underground) MRT Jakarta membentang sekitar 6 kilometer. Terdiri dari jalur terowongan dengan enam stasiun bawah tanah yakni: Stasiun Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran Hotel Indonesia. Nantinya, MRT Jakarta akan beroperasi setiap hari mulai jam 5 pagi dan terakhir jam 12 malam. Saat jam sibuk, kereta akan datang setiap 5 menit sekali.

Kami sedang mempercepat seluruh pembangunan MRT, terutama semua pekerjaan di atas tanah. Sebab Agustus mendatang, Jakarta menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Pemerintah telah menginstruksikan agar kami mempercepat penyelesaian pekerjaan di atas tanah, terutama di sepanjang Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin. Untuk harga tiketnya belum ditentukan karena masih mempertimbangkan banyak aspek, yakni ekspektasi jumlah penumpang, biaya operasi dan pemeliharaan, penanggulangan aset, serta kesediaan warga untuk membayar ada di harga berapa.”

Dalam pembangunannya, MRT Jakarta bekerja sama dengan pihak mana saja?
“Kami banyak melakukan koordinasi dengan instasi-instasi pemerintah. Pembangunan MRT Jakarta berhubungan dengan Kementerian Perhubungan, Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Dinas Bina Marga DKI Jakarta, serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Mereka adalah pihak-pihak yang menaungi semua fasilitas publik dan setiap hendak membangun sesuatu harus melalui persetujuan mereka. Kami juga berkoordinasi dengan perusahaan air dan listrik. Serta bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara keseluruhan. Yang tidak kalah penting, koordinasi dengan warga dan pemilik bisnis di sekitar proyek MRT. Karena tentu pembangunan ini mengganggu ketenangan mereka. Kami harus mengabarkan apa-apa yang tengah kami kerjakan, agar mereka tahu perkembangannya.

Selain itu, proyek pembangunan MRT Jakarta dibiayai Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta dana pinjaman Pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA). Oleh karena
itu MRT Jakarta menggunakan konsultan, kontraktor, dan produk-produk dari Jepang, termasuk kereta MRT. Kerja sama ini juga memungkinkan kami melakukan ‘transfer of knowledge’ dalam pembuatan terowongan, stasiun bawah tanah, teknologi kereta, dan sistem operasi sehingga MRT Jakarta beroperasi tepat waktu dengan frekuensi tinggi serta perjalanan singkat. Nantinya, dari Lebak Bulus ke Bunderan Hotel Indonesia memakan waktu 30 menit saja,”

MRT hendak mengatasi kemacetan. Sebelumnya, kita punya Transjakarta dan transportasi online yang terlebih dulu hadir sebagai upaya mengatasi macet. Apakah MRT juga menjalin kerja sama dengan moda transportasi yang telah ada? Bagaimana sinergi antara MRT dengan Transjakarta dan transportasi online?
“Upaya mengatasi kemacetan harus dilakukan dari berbagai pendekatan. Tidak bisa hanya dari satu aspek. Salah satu solusi kemacetan yakni dengan menyediakan transportasi publik. Transjakarta, transportasi online, bahkan termasuk Light Rail Transit (LRT), kami semua saling terintegrasi dan bersinergi. Misi kami sama, agar warga Jakarta mau menggunakan transportasi umum. Karena itu, sistemnya harus ‘well interconnected’ sehingga seseorang begitu ke luar dari rumah langsung naik transportasi umum sampai ke titik tujuan. Bisa naik ojek online, MRT, lalu jalan kaki atau kembali naik ojek online.

Ini perlu didukung pemerintah melalui kebijakan- kebijakan yang mendorong masyarakat agar naik transportasi umum. Misalnya, peraturan electronic road pricing (ERP) yang tengah dimatangkan sistemnya oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. ERP penting karena bisa membuat orang berpikir dua kali sebelum menggunakan kendaraan pribadi ketika masuk kawasan tertentu. Jika tidak ada kebijakan seperti ini, tidak heran warga Jakarta masih senang naik kendaraan pribadi ketimbang transportasi umum. Bulan Mei lalu, MRT Jakarta juga telah menandatangani kesepakatan dengan pihak Go-Jek Indonesia untuk bekerja sama dalam aspek Non- farebox Business (sumber penghasilan di luar tiket. Misalnya retail dan food and beverage) dan mobile payment. Kami bersinergi untuk mengembangkan bisnis di area stasiun, depo MRT, termasuk wilayah di sekitar stasiun. MRT Jakarta mengetahui apa yang dilakukan dan disediakan transportasi online untuk masyarakat dan kami sama-sama ingin mendukung penggunaan transportasi umum.”

Selain kesiapan transportasi, yang juga penting yakni mengubah perilaku masyarakat agar beralih memakai MRT sehari-hari. Apa tantangan dan upaya- upaya spesifik menuju misi tersebut?
“Pertama soal jaringan. Pada fase pertama, MRT baru menyentuh separuh dari ‘north south line’ Jakarta. Dari Lebak Bulus menuju Bundaran Hotel Indonesia, Thamrin. Kami ingin menerapkan interkonektivitas sehingga MRT menjangkau seluruh daerah Jakarta. Fase kedua yakni rute ‘east west line’, dari Bundaran Hotel Indonesia menuju Kampung Bandan, Jakarta Utara. Desainnya sedang dirampungkan, rencana groundbreaking dimulai Desember 2018. Tantangan berikutnya yakni menjadikan MRT transportasi yang dapat diandalkan (tepat waktu dan bergerak cepat), nyaman (fasilitas AC, eskalator, lift, toilet, dan terintegrasi dengan moda transportasi lainnya), serta aman saat di dalam stasiun maupun dalam kereta.”

Bicara soal keamanan, bagaimana MRT Jakarta melakukan antisipasi terhadap bencana banjir dan gempa bumi serta isu keamanan, misalnya kriminalitas dan terorisme?
“Aspek keamanan artinya bicara soal teknik. Untuk mengatasi gempa, kami mendesain struktur bangunan agar bisa tahan pada getaran gempa setara 8 skala ritcher, dengan dinding dan tiang bangunan lebih tebal. Terhadap banjir, kami mendesain struktur pintu masuk stasiun bawah tanah berukuran sekitar 30 cm – 1 meter lebih tinggi dari kawasan sekitarnya. Lalu ada ‘water level sensor’ di koridor MRT Kali Krukut dan Kanal Banjir Barat, membuat Standar Operasional Prosedur, pemasangan CCTV di dalam kereta dan stasiun, serta bekerja sama dengan pihak kepolisian dalam penanganan keamanan.”

Masalah transportasi publik erat kaitannya dengan persoalan perilaku dan gaya hidup manusia. Apa yang jadi perhatian utama MRT Jakarta terhadap isu mengubah perilaku dan gaya hidup dalam bertransportasi?
“Paling penting ialah mendorong kebiasaan jalan kaki. Sepanjang Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin, MRT Jakarta dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang menata jalur pedestrian. Jalur pejalan kaki sangat penting agar kita nyaman menuju stasiun terdekat. Sebab tidak bisa hanya menyediakan stasiun dan keretanya, tetapi juga harus memperhatikan kondisi di sekitar dan menuju stasiun. Kami juga mengembangkan kawasan di sekitar stasiun dimana area ini akan dilewati sangat banyak orang dan perlu ditunjang jalur pedestrian serta interkonektivitas antar gedung. Dengan membenahi secara menyeluruh, diharapkan warga Jakarta punya kebiasaan jalan kaki dan mau menggunakan MRT.”

styling SIDKY MUHAMMADSYAH photography MICHAEL TIMOTHY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.