10 Buku Inspiratif Tentang Perempuan dan Kesetaraan

Sebagaimana petuah bijak pun turut berkata bahwasanya buku adalah jendela dunia, berikut ELLE mengurasi buku-buku yang mengupas tantangan hidup sebagai perempuan dan perjuangan meneguhkan kesetaraan.

R.A Kartini, figur perempuan Indonesia yang berpikiran modern pada masanya hingga menjadi salah satu perempuan inspiratif sampai hari ini, faktanya tidak bisa jauh dari buku. Budaya pingitan yang dialami Kartini saat remaja, memaksanya berdiam diri di rumah sehingga waktu luangnya banyak dihabiskan dengan membaca buku-buku modern kiriman sang kakak, Raden Mas Panji Sosrokartono. Kartini juga memanfaatkan kotak bacaan langganan ayahnya yang berisi buku, koran, dan majalah baik dari dalam maupun luar negeri. Bacaan bertema sosial, politik, hingga sastra itu membantu Kartini menemukan jawaban atas kegelisahan dan pertanyaan yang telah muncul di kepalanya.

Merayakan semangat juang Kartini untuk terus berdaya, ELLE mengurasi 10 buku inspiratif yang mengupas tantangan hidup sebagai perempuan dan perjuangan meneguhkan kesetaraan. Plus sebagaimana petuah bijak turut berkata bahwasanya buku adalah jendela dunia.

Troublemakers In Trousers

Oleh Sarah Albee, ilustrasi karya Kaja Kajfez

Selama berabad-abad, dinamisme perempuan kerap dipandang sehalus bahan kain roknya. Alhasil, budaya kesenjangan gender yang telah mengakar di masyarakat itu menjauhkan perempuan dari kesempatan untuk bebas bekerja dan memimpin. Troublemakers in Trousers menyoroti 21 figur perempuan yang karena alasan krusial berpretensi menjadi laki-laki; berpakaian serupa laki-laki dan bertindak maskulin. Mendobrak batas yang ditetapkan oleh masyarakat demi mewujudkan ambisi.

Confidence Culture

Oleh Shani Orgad dan Rosalind Gill

Di balik ingar-bingar budaya kepercayaan diri yang lantang disuarakan kepada masyarakat, Orgad dan Gill berpendapat bahwa gagasan tersebut secara tidak proporsional ditujukan kepada perempuan. Tanpa bermaksud menentang semangat perempuan untuk percaya diri, Confidence Culture digarap dengan mengelaborasi ide dan praktik yang membentuk kultur tersebut. Sorotan kritis atas pemanfaatannya oleh budaya pop turut disajikan.

She Speaks: The Power of Women’s Voices

Oleh Yvette Cooper

Perempuan sejatinya adalah orator ulung. Tak terhitung berapa banyak figur perempuan yang telah menggerakkan hati dunia pada perubahan dengan inteligensi kata-kata mereka. Dalam She Speaks, Cooper memperkenalkan serangkaian pidato sosok-sosok kritis nan inspiratif; seperti Boudica hingga Greta Thunberg, Margaret Thatcher, dan Malala; dan mendemonstrasikan betapa kuat dan persuasifnya suara perempuan.

Kitab Kawin

Oleh Laksmi Pamuntjak

Lewat buku ini, kita dipertemukan oleh beragam figur perempuan: seniman paruh baya, instruktur yoga, pekerja toserba, karyawan, hingga ibu-ibu sosialita. Dari rumah-rumah kelas menengah atas Jakarta, kota kecil di daerah pedesaan Jawa Tengah, atau pedalaman Pulau Buru. Setiap orang memiliki permasalahan kehidupannya sendiri-sendiri. Ada yang berselingkuh sebab suaminya ‘dingin’ di tempat tidur, dan karena sang suami berpoligami. Ada yang ‘disodor-sodorkan’ ke laki-laki lain oleh suaminya demi kepuasan sang suami, dan ada pula yang dihajar oleh suaminya di hadapan orang banyak. Laskmi Pamuntjak menarasikan kisah tentang jiwa-jiwa yang buncah, kesepian dan telantar, serta tubuh-tubuh yang terpasung dan disakiti, sekaligus daya juang jiwa-jiwa memberontak dan merdeka, dan yang berani merumuskan ulang hukum-hukum perkawinan bagi diri mereka sendiri.

ROAR!: A Collection of Mighty Women

Oleh Ashley Longshore

Kumpulan potret artistik sosok negarawan legendaris, seniman, serta figur perempuan terkenal. Menampilkan wajah dari segenap lapisan masyarakat, mulai dari Marie Curie, Maya Angelou, Ibu Teresa, Peggy Guggenheim, Ibu Negara Michelle Obama, Greta Thunberg, Ratu Elizabeth II, Cleopatra, Rosa Parks, Frida Kahlo, Josephine Baker, Amanda Gorman, dan bahkan Lynda Carter sebagai Wonder Woman.

Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam

Oleh Dian Purnomo

Menyoroti budaya kawin tangkap yang ada di Sumba lewat pengalaman dari banyak perempuan yang menjadi korbannya. Magi Diela salah satunya; mimpinya membangun Sumba kandas lantaran fokusnya terbagi saat harus melawan orangtua, seisi kampung, dan adat yang ingin merenggut kemerdekaannya sebagai perempuan. Ia diculik dan dijinakkan seolah binatang. Ketika budaya memenjarakan hati Magi yang meronta, dia harus memilih sendiri nerakanya: meninggalkan orangtua dan tanah kelahirannya, menyerahkan diri kepada si mata keranjang, atau mencurangi kematiannya sendiri. Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam mengkritisi budaya yang memandang perempuan sebagai objek, tak punya pilihan, dan tidak boleh memiliki kebebasan.

Men Without Women

Oleh Haruki Murakami

Men Without Women berisikan koleksi dari tujuh cerita; Drive My Care (yang telah diadaptasi ke dalam layar lebar nomine Foreign Features Film Oscar 2022), Yesterday, An Independent Organ, Scheherazade, Kino, Samsa in Love, dan Men Without Women sebagai penutup sekaligus tesis dari kumpulan kisahnya, merefleksikan bahwa terkadang hilangnya satu perempuan berarti hilangnya semua perempuan. Dibumbui humor yang telah mendefinisikan seluruh karyanya, Haruki Murakami menyajikan kepiawaian pengamatannya untuk menanggung kehidupan orang-orang yang, dengan cara masing-masing, menemukan diri mereka sendiri.

Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan

Oleh Ester Lianawati

Bagaimana rasanya menyelidiki jiwa sendiri? Ketika momen itu akhirnya benar-benar datang, ketika kita dihadapkan untuk melihat jauh ke dalam diri, kita menemukan masalah yang tak pernah kita acuhkan sebelumnya. Menyelidiki diri bukan proses yang nyaman. Kita diajak untuk kembali menghadapi luka-luka yang pernah kita alami, yang kita coba sembunyikan dengan plester hanya agar tidak terlihat, padahal sama sekali tak menyembuhkan. Ester Lianawati mengelaborasi pengamatannya terhadap rangkaian persoalan kompleks yang dihadapi para perempuan. Hasil penyelidikan diri ini ia tulis memadukan teori psikologi dan feminisme.

Joan is Okay

oleh Weike Wang

Weike Wang menarasikan ketakpastian eksistensial menjadi seorang minoritas di negara adidaya. Joan menjadi tokoh utama kisahnya dalam novel ini. Joan adalah seorang dokter ICU berusia tiga puluhan di rumah sakit kota New York yang sibuk, sekaligus putri dari keluarga Tionghoa yang datang ke Amerika Serikat demi mengadu kehidupan bagi anak-anak mereka. Terkadang Joan bertanya-tanya di mana akarnya yang sebenarnya: di rumah sakit, di mana jas putihnya membuatnya merasa dibutuhkan, atau dengan keluarganya, yang mencoba membentuk hidupnya dengan harapan budaya dan sosial mereka sendiri. Joan Is Okay menyentuh pelbagai hal yang menggemakan naluri: menjadi etnis keturunan; menemukan suara seseorang dalam budaya yang dominan; menjadi perempuan di tempat kerja yang didominasi laki-laki; sekaligus tetap mandiri dalam keluarga yang ‘ketat’.

Klara and the Sun 

oleh Kazuo Ishiguro

Dilatari waktu di mana dunia tengah diselimuti pandemi, di mana vaksin menjanjikan keselamatan tetapi kenyataan ribuan kematian setiap hari tetap ada. Dalam Klara and the Sun, Kazuo Ishiguro melihat dunia modern kita yang berubah dengan cepat melalui mata seorang narator yang tak terlupakan untuk mengeksplorasi pertanyaan mendasar: apa artinya mencintai?

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.