10 Seniman dan Fotografer Perempuan Bicara Asa

perspective art and photography

Sejumlah fotografer perempuan dan seniwati Indonesia menerjemahkan pemahamannya tentang mimpi dan kaum perempuan.

Ada banyak perempuan terlahir dengan setumpuk mimpi dan cita-cita, namun merasa tidak layak untuk mengejar apa pun dalam hidupnya. Padahal definisi perempuan berdaya tidak pernah berubah: mereka yang berani menentukan jalan hidup dan berambisi untuk mengejar segala hasrat. Para fotografer perempuan dan seniwati Tanah Air membuat karya istimewa yang khusus diciptakan dan dipublikasikan pertama kalinya untuk edisi ulang tahun ke-12 majalah ELLE Indonesia.

talita maranila artwork for elle indonesia
Ascension (I), 2017 by Talita Maranila

Talita Maranila membuat karya berjudul Ascension (I) pada tahun 2017 dan perdana dipublikasikan untuk ELLE Indonesia. Objek bunga dan bulan yang menafsirkan siklus yang dilewati perempuan di setiap periode waktu. Lukisan ini menempatkan perempuan bak bumi pertiwi yang melindungi, menciptakan, memberi tanpa batas, dan bertumbuh tiada akhir.

Fotografer Nicoline Patricia Malina memotret sosok perempuan dalam karya berjudul Women are Goddess yang menampilkan perjuangan perempuan untuk bisa mendapat tempat di dunia. Nicoline berangkat dari peristiwa hidup dan perjuangannya sendiri sebagai salah satu fotografer perempuan di Indonesia yang kerap kali mesti melewati banyak batasan dan aturan.

Fotografer Irene Iskandar menampilkan karya Pride of Purple sebagai perwujudan sosok perempuan yang indah, anggun, dan sarat harapan.

Arahmaiani Di Antara Gunung & Samudra artwork for elle indonesia
Di Antara Gunung & Samudra (2020) by Arahmaiani

Arahmaiani, seniman Indonesia berskala internasional, menempatkan perempuan berdiri tegap di lautan dengan latar gunung berapi dan hutan. Melalui karya Di Antara Gunung & Samudra, ia menekankan pentingnya perempuan memiliki keberanian sekaligus kemampuan bernalar.

Lewat karya Journey, Yohan Liliyani mengedepankan signifikansi keberanian lewat pemakaian warna merah terang sebagai simbol sifat berani yang diperlukan dalam perjuangan meraih mimpi dan ambisi.

Seniman Rega Ayundya Putri mempertanyakan makna rahim bagi perempuan. Apakah memiliki anak adalah sebuah berkah, kewajiban, atau tuntutan sosial? Dengan atau tanpa anak, bukankah setiap perempuan ‘mengandung’ mimpi dan ambisi yang berbeda-beda? Melalui karya berjudul Primal, Rega menyampaikan gagasan bahwa setiap perempuan adalah ‘ibu’, ibu dari anak-anak yang dibesarkannya, mimpi-mimpi yang dijalaninya, sekaligus karya dan kontribusi yang diciptakan perempuan semasa hidupnya.

Natasha Lubis menciptakan karya bertajuk Dance Me to The End of Love yang mengeksplorasi tema tarian sebagai simbol atas proses aktualisasi diri, melambangkan keberanian sekaligus kerentanan perempuan dalam bentuk karya seni.

Fotografer Sury Thoeng menunjukkan keanggunan perempuan yang terasa feminin sekaligus misterius. Seniman Ika Vantiani menyorot persoalan budaya patriarkis yang membuat perempuan mesti meredam dan meredupkan keinginan dan cita-citanya.

Sementara itu Ines Katamso hadir lewat karya Morphogenesis sebagai perenungannya atas esensi makhluk hidup. Ia meyakini bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan selain urusan biologis. Menurutnya, distingsi di antara keduanya adalah sebatas isu sosial.

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.