12 Karakter Film Ikonis Leonardo Dicaprio

leonardo dicaprio best movie of all time

Leonardo DiCaprio mungkin baru memenangkan satu Piala Oscar, tetapi ia telah menghidupkan ragam karakter yang membuat sosoknya tak lekang zaman.

Leonardo DiCaprio bermain peran sejak usia 6 tahun. Wajahnya hadir sebagai figuran anak dalam sebuah episode serial televisi Romper Room (1979). Meski debutnya dimulai akhir tahun ’70-an, aktor berdarah keturunan Jerman, Italia, dan setengah Rusia tersebut baru benar-benar mendapat perhatian publik pada awal era ’90-an. Adu perannya bersama Robert De Niro untuk film This Boy’s Life pada 1993 menuai pujian para kritikus film. Di tahun 1994, DiCaprio meraih nominasi Academy Awards pertama atas perannya sebagai penderita sindrom gangguan mental dalam What’s Eating Gilbert Grape? (1993).

Dari 28 judul film yang telah ia bintangi, Leonardo DiCaprio mengoleksi 248 nominasi berbagai ajang penghargaan; Academy Awards, BAFTA Awards, Golden Globe, Critic’s Choice, Screen Actor’s Guild, dan setiap ajang penghargaan di industri perfilman. 100 piala penghargaan mengukir nama besarnya, termasuk satu Piala Oscar yang—akhirnya—ia menangkan di tahun 2016.

Setelah lebih dari tiga dekade dan kini usianya hampir menuju setengah abad, kharisma Leonardo DiCaprio di layar lebar tidak surut. Empat film baru, termasuk satu limited series, yang sedang dalam proses produksi menanti untuk dirilis. Dua judul di antaranya, Killers of the Flower Moon dan Don’t Look Up dijadwalkan premier tahun 2021. Selagi kita menunggu karya terbarunya, kami kembali mengulas 12 karakter film ikonis Leonardo DiCaprio yang mengantarkannya sebagai salah satu bintang Hollywood terbaik sepanjang masa.

Jack Dawson — Titanic (1997)

Photo courtesy Paramount Pictures/20th Century Fox

Anda tidak bisa membicarakan karakter ikonis Leonardo DiCaprio tanpa memulainya dengan Jack Dawson. Tokoh utama dalam narasi perjalanan kapal Titanic itu masih merupakan karya monumental sang aktor yang paling populer. DiCaprio yang kala syuting filmnya masih berusia 23 tahun menghidupkan karakter Jack dengan jiwa kebebasan, sikap optimis setinggi langit, sedikit perilaku sembrono dan berani ambil risiko. Sebuah kemasan ideal yang—hingga hari ini—memetakan standar racikan “laki-laki idaman” di setiap film romantis.

Jordan Belfort — The Wolf of Wall Street (2013)

Photo courtesy Paramount Pictures/Universal Pictures

Jordan Belfort merupakan salah satu karya brilian Leonardo DiCaprio dalam pembangunan biopik. Ekspresinya menipu secara alami. Anda tidak akan pernah menyadari—walau mengetahui figur yang ia perankan penuh skandal di kehidupan nyata—bahwa ia sebenarnya bermain antagonis lewat seorang narsistik yang menganggap dunia sebagai tempat bermain di mana ia penguasanya. Plus, geraknya harmonis bersama Jonah Hill. DiCaprio juga memperlihatkan aksi komedi fisik yang mumpuni.

Hugh Glass — The Revenant (2015)

Photo courtesy 20th Century Fox

Perannya sebagai Hugh Glass mengantarkan Leonardo DiCaprio menerima Piala Oscar di tahun 2016. Akhirnya, setelah sederet performanya termasuk di The Wolf of Wall Street gagal memikat hati para juri Academy Awards. Karakter di film The Revenant tersebut minim dialog. DiCaprio memukau lewat bahasa tubuh yang merefleksikan beragam emosi.

Arnie Grape — What’s Eating Gilbert Grape? (1993)

Photo courtesy Paramount Pictures

Sebagai Arnie, Leonardo DiCaprio—yang terbiasa tampil lepas—mampu menunjukkan pengendalian diri sembari tetap berakting secara natural. Aksinya sebagai laki-laki dengan disabilitas kepribadian dengan emosi meledak-ledak secara apik mengimbangi sang tokoh utama yang diperankan Johnny Depp. Performanya pun diganjar nominasi Academy Awards untuk kategori Best Supporting Role di tahun 1994.

Jim Carroll — The Basketball Diaries (1995)

The Basketball Diaries, film autobiografi tentang figur Jim Caroll besutan Scott Kalvert, menawarkan formula drama remaja klasik. Seorang pemuda dengan karier menjanjikan sebagai atlet basket yang jatuh terpuruk akibat kecanduan heroin. Namun, setiap keangkuhan, rasa acuh, emosi tak terkendali, kesedihan, dan kemarahan yang ditunjukkan Leonardo DiCaprio untuk membangkitkan jiwa tersesat Jim Carroll terasa nyata.

Howard Hughes — The Aviator (2004)

Photo courtesy Warner Bros. Pictures/Miramax Films

Leonardo DiCaprio bergerak secara natural ketika memerankan seorang pria yang berantakan. Tetapi penampilannya sebagai Howard Hughes dalam film biopik bertajuk The Aviator besutan Martin Scorsese sulit untuk dipahami dengan hanya menonton sekali. Kala itu, ia masih mencoba melepaskan diri dari gambaran bintang drama romansa, pasca Titanic dan Romeo + Juliet. Faktanya, di titik ini DiCaprio mempertegas diri sebagai aktor yang telah matang. Kepiawaian mengajak penonton masuk ke dalam realitas Hughes yang menemukan kegagalan hingga menghancurkan hidupnya sungguh mengoyak emosi.

Frank Abagnale Jr. — Catch Me If You Can (2002)

Photo courtesy DreamWorks Pictures

Frank Abagnale, Jr. mengungkap kekuatan akting Leonardo DiCaprio. Anda dapat melihatnya menyelami karakter seorang pilot, dokter, hingga pengacara, sebelum akhirnya berubah menjadi penipu jenius yang merampok puluhan bank di berbagai negara bagian Amerika Serikat. DiCaprio memulai pembangunan karakternya dengan sikap angkuh, kemudian membawanya tenggelam dalam paranoia dan obsesi manik untuk menjadi seseorang yang bukan dirinya.

Rick Dalton — Once Upon A Time… In Hollywood (2019)

Photo courtesy Sony Pictures

Ketika Anda mengira Leonardo DiCaprio tidak jenaka, aksinya sebagai Rick Dalton dalam Once Upon A Time… In Hollywood membantah persepsi tersebut. Sungguh menyenangkan melihatnya mabuk di kolam renang, dan menangis seperti remaja puber kepada Brad Pitt. Terlepas dari narasi fiksi karakternya, Anda seolah dibuat berandai, apakah Leonardo DiCaprio sedang merepresentasikan dirinya sendiri lewat karakter tersebut? Rick Dalton adalah seorang idola remaja yang tengah di ambang kehilangan pamor seiring usia, dan mencoba tetap relevan zaman.

Romeo Montague — Romeo + Juliet (1996)

Photo courtesy 20th Century Fox

Sebelum era Titanic dimulai, Leonardo DiCaprio telah lebih dulu menaklukan romansa legendaris sepanjang masa. Tahun 1996, ia menjelma sebagai pangeran keluarga Montague yang terbuai akan ide tentang cinta. Peran Romeo memang bukan sebuah kebaruan. Karakternya telah diadaptasi di berbagai versi narasi film serta drama teater, dan dimainkan sederet aktor pendahulunya. Yang membuat Leonardo DiCaprio berbeda? Alih-alih mengadaptasi kharisma pujangga favorit ciptaan Shakespeare, ia memberikan personanya menjadi simbol modern narasi tragis Shakespeare tentang cinta.

Teddy Daniels — Shutter Island (2010)

Photo courtesy Paramount Pictures

Teddy Daniels memperlihatkan kekuatan Leonardo DiCaprio bermain peran kompleks. Ia menjelajahi seni psikosis demi menginterpretasi seorang lelaki yang mengurung diri dari realitas mengerikan atas jati dirinya. Tedy mengajak penontonnya pergi ke dasar paling bawah yang ditapaki seseorang saat jatuh dalam depresi. Penampilan DiCaprio menyampaikan semua kesedihan yang menggerogoti hidup Teddy.

Amsterdam Vallon — Gangs of New York (2002)

Photo courtesy Buena Vista Distribution

Gangs of New York menandai kolaborasi pertama antara Leonardo DiCaprio dan Martin Scorsese. Di sini ia mengisahkan seorang imigran dari Irlandia yang melawan pemimpin geng terkenal, Bill Cutting (diperankan oleh Daniel Day-Lewis) untuk membalas dendam sang ayah di tengah kekacauan kota New York di tahun 1860-an. Meski aktingnya dibayang-bayangi, bahkan mungkin tertutup oleh pesona Daniel Day-Lewis, DiCaprio pada akhirnya mampu memberikan sikap brutal seorang pemuda yang diselimuti amarah.

Richard — The Beach (2000)

Photo courtesy 20th Century Fox

The Beach garapan sutradara Danny Boyle mungkin bukan salah satu favorit kritikus. Kita bicara tentang penyuntingan yang terasa kasar, dan kalimat berputar di setiap dialognya. Dengan segala kekurangan tersebut, penampilan Leonardo DiCaprio masih cukup meninggalkan kesan. Ia merefleksikan jiwa muda yang bebas, melakukan perjalanan ‘satu tiket’ ke surga terpencil di pantai di Thailand. Bukankah itu hal gila yang mungkin dilakukan oleh siapa saja di usia 20-an?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.